The Witness

The Witness
Bab XXII


__ADS_3

Sudah hampir 2 minggu Richard Hartono mengenakan seragam oranye dengan borgol di tangan. Entah apa yang merasuki Maddie hingga ia ingin mengunjungi pria itu. Kini tampilannya jauh berbeda. Rambut hitam yang dulu di gunting rapih kini habis di gunting. Maddie sudah duduk di bangku panjang menunggu sosok Richard yang tengah di periksa sebelum di izinkan bertemu gadis 17 tahun itu.


Ruangan pertemuan mereka sangat sepi mengingat lagu natal tidak lama lagi menggema di sebagian besar kota. 3 meja panjang dengan masing-masing 2 bangku kosong. Mesin minuman serta cemilan di balik pintu masuk pun terlihat penuh. Maddie bisa menyumpulkan bahwa sedikit orang datang mengunjungi para tahanan.


"Aku sudah menduga."


Itu kata-kata yang pertama yang keluar dari bibir pecah-pecah Richard saat duduk menghadap Madelline Blake.


"Apa?" Maddie mengangkat satu alis bingung.


"Kamu orang pertama yang akan mengunjungi Om, Maddie."


Tidak ada raut ketakutan yang Maddie tampilkan. Selain ada 3 polisi dalam ruangan, kenyataan bahwa Richard Hartono di tahan karena pembunuhan tidak membuat Maddie takut, setidaknya untuk saat ini.


"Aku punya banyak pertanyaan."


Richard Hartono memeluk dua tangan depan dada sembari tersenyum, "Om tahu. Sayang sekali kita hanya punya 30 menit."


"30 menit lebih dari cukup." Maddie melipat dua tangan di atas meja, menatap Richard Hartono datar, "Kenapa Om membunuh mereka?"


"Fun." Balas Richard Hartono singkat, tanpa reaksi.


"Tapi Sophie tunangannya Om."


"Jauh lebih menarik. Karena dia mempercayai Om 100%." Richard Hartono lagi-lagi membalas dengan nada datar.


"Apakah Om melecehkan Denada?"


"Tidak. Dia bahkan tidak termasuk dalam daftar korban." Kali ini Richard Hartono menekan kata-katanya. Mendengar kata 'melecehkan' sangat tidak nyaman untuknya.


"Lalu kenapa Om menculik Denada? Kenapa Om menyiksa dia?"


"Om sendiri yang harus turun tangan."


Maddie menggeleng dengan airmata yang perlahan membasahi wajah cantiknya.


"Dia percaya sama Om. Dia menghormati Om. Dia sangat peduli sama Om. Kenapa Om tega menyiksa Denada.." Kini Maddie meluapkan semua rasa yang ia tahan. Dia tidak mau menangis di rumah sakit dan tidak mau menangis di depan Will. Di hadapan Richard dia meluapkan semua emosinya.


"Apakah kamu pernah di perhadapkan dengan 2 pilihan Maddie? Antara kamu yang bertindak atau melihat orang lain bertindak?" Richard berkata dengan tidak melepas netra cokelatnya pada putri Chester dan Olivia, "Dengar Maddie. Ini akan menjadi pertemuan terakhir kita, jadi ingat baik-baik percakapan kita ini. Percaya apa yang kamu lihat. Lupakan yang sudah kamu tahu."


Maddie hanya memberi tatapan bingung sembari membersihkan airmata, "Aku tidak mengerti."


"Ingat semua kecurigaan yang pernah kamu simpulkan. I'm not the bad guy, Madelline. But i have to be one." Richard membuang napas pelan, "Kadang kala kita berperan sebagai korban untuk memiliki alasan membenci pelakunya."


"Aku masih tidak mengerti."


Mulut Richard mengatup tapi sebelum satu kata yang keluar seorang petugas polisi datang dan langsung memasang kembali borgol di tangan Richard.


"Waktu kalian sudah habis."


Richard berdiri, kembali di periksa sebelum di tuntun kembali dalam sel saat Maddie kembali menarik pria itu kasar.

__ADS_1


"Apa maksud Om Richard?" Seorang polisi langsung menahan Maddie tapi sebelum Richard menghilang di balik pintu ia menyempatkan diri membalas pertanyaan gadis itu.


"Di mana Leon?"


Senyuman tipis yang di pasang Richard tepat sebelum menghilang di balik pintu membuat jantung Maddie berdetak tak karuan. Ia diam membeku di tempat. Perasaan takut kembali ia rasakan. Gadis itu tidak bisa melepas tatapan dari posisi Richard sebelumnya. Apakah ada yang ia lupakan?


Seketika semua kecurigaannya kembali timbul seperti kaset yang berputar dalam kepala. Leon yang mendadak muncul di Greenhouse saat Maddie hendak meraih sesuatu, darah di kemeja Leon di malam halloween, Leon yang entah ke mana saat acara dansa selesai di pesta halloween, dan kenyataan ibu Leon yang meninggal entah apa penyebabnya. Apakah Leon berbohong saat mengatakan ibunya meninggal karena sakit?


********************************************


Maddie meminta Pak Yon secepat mungkin mengantarnya pulang. Ia harus menanyakan pada Chester dan Olivia apa penyebab kematian Tante Devi. Dengan pelan-pelan ia menelfon Will dan menceritakan semua yang ia perbincangkan dengan Richard Hartono.


"Will lo di mana?"


"Di rumah."


"Siapa yang jagain Denada?"


"Enggak ada. Tante Mala tadi pulang mandi dan gue dapat telfon dari mama di suruh cepat pulang, ada urusan mendadak."


Maddie mulai gelisah. Jika benar yang di katakan Richard, maka kecurigaannya selama ini salah.


"Kita salah Will.. selama ini kita udah di permainkan." Maddie berkata pelan agar tidak di dengar Pak Yon.


"Apa maksud lo?"


"Om Richard bukan pelakunya. Dia mengakui semua perbuatan keji itu karna gak mau pelaku aslinya di tangkap. Om Richard menutupi kejujuran yang amat penting." Maddie mendesah kasar, "Bego banget gue.. astaga.. bego bego."


"Leon pelakunya. Bukan Om Richard, Will. Kita harus berhati-hati. Leon udah tahu semua kecurigaan gue dan ada kemungkinan dia akan mengejar kita semua."


"Gak mungkinlah Mads, Leon cinta banget sama Denada."


"Itu kenapa Om Richard menculik Denada.. karena dia kelemahan Leon adalah Denada."


Maddie kembali teringat percakapannya dengan Leon di rumah sakit.


Flashback


"Apakah dia.. apakah.." Entah bagaimana Maddie akan menanyakan ini. Penyandang nama Blake ini mau tahu, tapi takut, "Apakah Om Richard.. menyentuhnya?"


"Leon hanya tersenyum miring sembari berdecih, "Sebaiknya tidak. Karena jika pria itu melecehkan Inka, gue sendiri yang akan membunuh dia." Leon menoleh ke arah Maddie, "Mungkin lo gak ngerti. Tapi gue sayang banget sama Inka. I wanna fuckin marry her, have children with her.. tapi gue sadar akan kelainan gue. Gue harap dia masih bisa terima setelah tahu semuanya."


"Gue telfon lo lagi."


Maddie mematikan sambungan sepihak dan berkutat dengan pikirannya.


"Leon punya kelainan dan berharap Denada masih bisa menerimanya." Maddie bergumam.


Ia terus mengedarkan pandang ke luar jendela sembari memikirkan apa yang sebenarnya Leon sembunyikan. Terlalu banyak kebohongan yang Maddie terima, itu membuatnya tidak lagi segampang itu percaya orang, meski orang itu dekat.


********************************************

__ADS_1


Sesampainya di rumah Maddie berlari mencari Chester dan Olivia. Ia harus mencari tahu penyebab kematian Tante Devi dan masa lalu keluarga mereka. Dengan napas tergesa, ia menemui Olivia di ruang tamu.


"Ma, Papa mana?"


"Makan siang sama klien. Kenapa?"


Maddie melempar tubuhnya di lanti dan memegang tangan Olivia erat, "Aku ma nanya sesuatu. Penting. Tapi tolong mama jawab, ya? Ini tentang Tante Devi."


Olivia yang melihat gerak-gerik sang putri, memfokuskan pandang ke arahnya, "Kenapa kamu harus tahu?"


"Inka terbaring di rumah sakit lemah karena Om Richard. Dan Leon masih punya hubungan keluarga dengan pria itu. Leon penyebab utama Om Richard menyerang Inka, ma." Maddie menghapus airmata yang perlahan turun, "Kami pikir kematian Tante Devi yang menyebabkan Om Richard kayak gini."


Olivia paham posisi Maddie. Tapi dia sendiri tidak yakin menceritakan kejadian beberapa tahun lalu, "Tanya aja sama Leon. Mama tidak pantas bicara tentang kasus itu."


"Itu masalahnya ma.. Leon gak ada. Dia ngilang." Maddie memeluk Olivia, "Tolong ma."


"Ini pertama dan terakhir kalinya kita bahas tentang ini, paham? Papa cukup sensitif dengan kasus ini."


"Aku janji."


Maddie melepas pelukan dan duduk memperhatikan sang mama.


"Papa, Tante Devi dan Jim teman baik. Papa dan Jim udah temenan sejak SD dan 10 tahun kemudian Jim mendadak pindah kota, tanpa kabar. Papa dan Tante Devi masih saling mengabari sampai di bangku kuliah. Hingga 1x Devi membawa undangan untuk papa kamu. Undangan pernikahan. Saat itu mereka sudah selesai kuliah. Mama yang saat itu baru pacaran sama papa kamu, di ajak."


"Pernikahan Devi dan Beren cukup mewah. Orangtua Beren ternyata pengusaha. Papa kamu mencari Jim, berharap dia juga ada. Tapi nyatanya tidak. Dan di hari itu juga kita baru tahu kalau Devi punya Kakak, Richard. Mereka memang tidak memiliki nama yang sama karena berbeda ayah. Saat salam sama pengantin, Devi bilang-"


"Devi meminta maaf. Dia mengira pernikahannya bisa menyatukan kami bertiga lagi. Apa kamu tahu kami bertiga selalu bersama, Madelline?"


Tiba-tiba suara bariton Chester memotong cerita Olivia, membuat wanita itu seketika tutup mulut.


"Aku minta maaf pa." Maddie meminta maaf sembari menunduk.


"Selesai pernikahan kami tidak saling kabar. Saat papa dan mama menikah pun Devi tidak tahu ada di mana. Jadi Papa pun tidak mengundangnya. Dan beberapa tahun kemudian polisi mengatakan menenumakn mayat perempuan, tubuhnya sudah.." "Jim membelah isi perutnya, menggunting rambutnya dan membiarkan Devi tanpa busana di bawa pohon, di jalan ring road."


"Jadi Tante Devi benar meninggal karena di bunuh.." Gumam Maddie pelan.


Olivia membelai pundak suaminya, dan memeluk pria itu singkat, "Tidak lama setelah itu Richard pindah ke sini dan Papa kamu membantunya sebisa mungkin."


"Kenapa kamu sangat ingin tahu Maddie?"


Maddie tahu saat ini dia tidak boleh berbohong. Tapi dia pun berpikir orangtuanya tidak perlu tahu kalau dia mengunjungi Richard di penjara dan mengatakan bahwa Leon lah pelaku sebenarnya.


"Leon bilang ke kita, Tante Devi meninggal karena sakit." Maddie bersiri dan meraih tas selempangnya, "Mungkin Leon sendiri gak tahu."


"Leon tahu kok. Richard sendiri yang jelasin semuanya."


"Om Richard berbohong." Balas Maddie cepat. Tentu sekarang dia tahu Richard tidak berbohong.


"Tidak Maddie. Kami ada di sana. Saat itu Leon sudah kelas 1 SMP, dan Richard mengajak kami makan siang di luar, dan dia membawa Leon." Olivia dan Chester kini menatap satu sama lain penuh kebingungan.


********************************************

__ADS_1


__ADS_2