The Witness

The Witness
Bab XI


__ADS_3

"Nyokap bokap lo kali." Balas Denada semampu mungkin untuk tetap tenang.


"Mereka gak akan ketuk pintu." Balas Maddie cepat.


"Denada, lo sembunyi di sana." Titah Gavin kemudian mengalihkan pandang pada Maddie, "Gue buka pintu, lo sembunyi di belakang pintu." Gavin mendekat lalu berbisik, "Ada pisau di bawah sepatu futsal gue."


Sebagai satu-satunya laki-laki di rumah, Gavin harus bertindak. Dia memberanikan diri untuk membuka pintu. Setelah melihat siapa yang mengetuk mata Gavin melebar. Jemari yang masih memegang tangan pintu mengisyaratkan Maddie untuk mengintip di cela siapa tamu mereka.


"Ah, selamat malam Gavin." Richard Hartono tampil dengan tersenyum di depan pintu kediaman Blake.


Gavin tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Mulutnya mengatup tapi tidak tahu apa yang mau dia katakan.


"Om bangunin kamu ya?" Tanya Richard masih dengan tersenyum. Senyum yang cukup menyeramkan mengingat dia bertamu jam 12 malam di saat Gavin dan Maddie mencurigainya sebagai seorang psikopat.


"Ada perlu apa ya om tengah malam harus ke sini?"


"Oh iya, orangtua kalian titip ini." Richard Hartono merogoh saku celana dan mengeluarkan beberapa anak kunci yang di gantung bersamaan, "Om baru sampai dari kampung. Sebenarnya Olivia menitipkan kunci itu kemarin siang tapi Om lupa."


"Di kasih besok juga bisa kok Om." Balas Gavin yang heran alasan Richard mengetuk pintu tengah malam hanya untuk kunci titipan orangtuanya.


"Om pikir kalian mungkin perlu." Balas Richard sembari menyodorkan kuncinya, "Kalau begitu om pergi dulu. Selamat malam Gavin."


Secepat kilat Gavin menutup dan mengunci pintunya. Maddie membuang napas lega dan Denada keluar dari tempat persembunyiannya.


"Ini gak masuk akal." Ujar Maddie.


"Positive thinking aja. Kalian mungkin perlu kunci itu selama orangtua kalian di luar kota." Balas Denada "Udahlah, gue ngantuk."


Denada segera naik tangga, menuju kamar tamu yang sudah di sediakan khusus untuknya, meninggalkan Gavin dan Maddie yang masih setia di tempat, berkutat dengan pikiran mereka.


------------------------------------------------------------------


Saat matahari baru menunjukkan diri, Maddie memutuskan untuk jogging bersama Denada. Kejadian semalam membuat Maddie kepikiran sampai harus minum obat untuk tidur. Beruntung dia tidak lupa memasang alarm agar bisa bangun pagi. Kini dua gadis itu duduk di pinggir hotel Grand Puri yang cukup jauh dari perumahan Maddie, dan memesan bubur ayam.


"Bang, bubur ayam 2."


"Siap."


Maddie duduk berhadapan dengan Denada yang baru melepaskan headset, dan memperbaiki rambut panjangnya.


"Makasih."


Denada hanya melempar tatapan datar, "Lo bilang makasih dan sorry kurang dari 24 jam. Lo yakin gak sakit?"


"Gue gak pernah-


"Gue gak mau bahas tentang itu." Potong Denada cepat.


"Kita bahas tentang Leon deh."


Gerakan Denada terhenti. Ia menatap Maddie penuh arti, "Kenapa Leon?"


"Gue udah gak punya rasa sama dia, jadi jangan khawatir." Maddie membalas dengan nada santai, "Jadi udah sedekat apa lo sama keluarganya?"


"Lumayan." Denada mengambil handuk kecil yang ia bawa, dan membersihkan sisa keringan di dahi, "Gue ketemu bokapnya dua kali, gue sering hang-out bareng Om Richard, gue juga pernah di ajak ke makam Tante Devi dan tahun lalu gue ke rumahnya Leon, Tante Ranny, di situ keluarga besarnya ada."


"Ini buburnya."


Cerita mereka terpotong kala pesanan mereka datang.


"Makasih."


Maddie berdoa, sebelum mengambil sendok dan menghancurkan kerupuk udang, sembari menaburnya di atas bubur, "Ceritain hubungan Om Richard dan Bokapnya Leon."


"Sejak awal Om Beren gak pernah dekat sama Om Richard. Di sisi lain Tante Devi sangat memanjakkan Om Richard karena mereka hanya berdua, Orangtua Om Richard dan Tante Devi udah gak ada sejak kecil." Denada mengambil sebuah kerupuk dan mencelupkannya di bubur, "Intinya sejak Tante Devi meninggal hubungan Om beren sama Om Richard jauh lebih parah. Mereka sering beradu mulut sampai melibatkan Leon. Hingga satu saat anjing kesayangan Tante Devi di temukan mati di rumahnya Om Richard."


"Mati?" Tanya Maddie memastikan.


Denada mengangguk, masih dengan mulut penuh dengan bubur, "Gak tahu penyebabnya, tapi yang pasti Om Beren menyalahkan Om Richard. Dan Om Richard mengaku bahwa dia yang membunuh anjing itu."


"Leon gimana?"


"Gak tahu. Ceritanya hanya sampe situ." Balas Denada tak acuh.


"Dan lo percaya?"

__ADS_1


Denada hanya merespon dengan satu kening terangkat.


"Kalo Om Richard yang membunuh anjing itu?"


"Siapa lagi? Dia punya motif kan?" Denada meneguk sedikit air minum sebelum kembali bercerita, "Lagian kenapa lo mendadak kepo?"


"Kita gak punya bahan cerita lain."


Denada menghabiskan buburnya, membawa porsi dan mengeluarkan dompet hitamnya.


"Berapa bang?"


"Sepuluh ribu."


"Gue bisa bayar." Maddie menyahut dengan mulut penuh.


Denada memberi uangnya dan mengambil headset di meja makan, tanpa mengindahkan Maddie yang sudah menggerutu.


"Gue harus pulang. Bajunya nanti gue cuci."


"Lo mau jalan kaki pulang?"


Denada berbalik menatap Maddie datar, "Bukan urusan lo."


********************************************


"Gavin! Madelline!"


Suara Chester dan Olivia menggema kala pasangan itu tiba. Koper dan tas bawaan mereka langsung di angkat Pak Yon sampai ruang tamu, dan Bi Foni lsngsung membuatkan teh panas untuk majikannya.


"How's the flight?" Tanya Gavin dengan pandangan tak lepas dari TV. Laki-laki itu tengah asik dengan PS 5, hadiah ulangtahun ke 14 pemberian Chester beberapa bulan lalu.


"Ugh, tidak baik." Gerutu Olivia. "Papa kamu menumpahkan kopi di jaket Mama. Dan sekarang Mama harus ke laundry untuk membersihkan noda itu secepatnya."


Sembari mendengar umpatan kesal sang istri, Chester berjalan ke arah Gavin dan menenggelamkan kepalanya di balik bantal sofa.


"It's the Drew one." Kata Chester pelan yang mampu membuat Gavin melongo.


"Itu mahal Pa. Pantas aja mama marah-marah." Balas Gavin yang kini mengerti situasinya.


"Kakak kamu mana?" Suara Olivia kini menyapa Gavin.


"Jogging sama Inka." Balas Gavin cepat, tak ingin kena amukan Olivia.


"Inka? Teman SMP Maddie?" Tanya Chester yang kini juga penasaran. Gavin hanya membalas dengan anggukan singkat.


Tak lama kemudian Maddie masuk sembari bersenandung dengan headset yang masih menempel di telinga. Seperti biasa dia melepas sepatu putihnya sebelum memasuki ruang tamu.


"Mama, Papa, udah pulang ya?"


"Baru sampai." Balas Chester, "Si Inka mana?"


Maddie mepempar handuk keringatnya pada Gavin dengan kesal, "Gavin mulut ember."


"Idih." Gavin berdiri dan balik melempar handuk itu pada kakaknya.


"Loh, kenapa emangnya? Mama juga udah lama gak liat dia." Tanya Olivia yang kini menyeruput teh buatan Bi Foni.


"Dia udah pulang." Balas Maddie singkat.


Gavin yang sudah selesai bermain, dan menyimpan kembali benda mahal itu menatap sang kakak, "Jalan kaki?"


"Iya."


"Rumahnya jauh bego." Gavin mengumpat mendapati Maddie tega membiarkan Denada yang berjalan kaki pulang.


"Gavin." Teguran Olivia membuat siswa kelas 3 SMP itu tersenyum canggung dan Maddie yang tersenyum lebar sembari mengejek adiknya.


"Maaf Ma."


********************************************


Sama seperti perjanjian mereka, Gavin memutuskan untuk bermalam di kamar Maddie, sembari mengawas rumah Richard Hartono yang kelihatan dari balkon Maddie. Mereka hanya ingin memastikan Richard pelaku yang sebenarnya atau tidak. Berbagai peralatan sudah di siapkan dua kakak beradik itu. Mulai dari kamera sampai untuk merekam sampai teleskop untuk melihat benat wajah si pelaku.


Sudah 1 jam menunggu saat sebuah mobil hitam menepi di depan rumah Richard Hartono. Gavin maupun Maddie sudah memegang teleskop untuk melihat lebih jelas.

__ADS_1


"Itu mobil yang sama yang culik Angelina." Bisik Maddie.


"Om Richard." Sahut Gavin saat melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut.


Terlihat Richard dengan pakaian serba hitam keluar dari tempat pengemudi dan berlari kecil, membuka tempat duduk penumpang, dan seorang perempuan keluar dari sana.


"Itu siapa?" Tanya Gavin pelan.


Maddie malah terkejut melihat siapa yang sekarang berpegangan tangan dengan pria berprofesi dosen itu, "Vivi. Dia kuliah di tempat yang sama dengan Sophie. Gue sempat bicara sama dia saat Sophie menghilang."


Kedua kakak beradik itu terus memantau Richard dan Vivi. Dua orang itu awalnya hanya duduk di muka rumah sembari bercerita, sesekali tertawa. Hingga detik berikutnya Richard menarik dagu Vivi dan mencium gadis itu.


"Ciuman." Maddie berkata pelan namun Gavin masih bisa mendengarnya.


"Mereka pacaran mungkin."


Hal berikutnya adalah ciuman mereka makin menjadi dan rok selutut Vivi kini terangkat. Maddie maupun Gavin segera melepas teleskop mereka dan mematikan kamera.


"Ok. Gue gak perlu lihat lebih." Kqta Gavin cepat.


"Gue juga."


Dengan canggung Gavin menyimpan kembali teleskop yang ia ambil dari lemari Maddie, "Mungkin kita memang menaruh curiga yang terlalu besar."


"Iya." Balas Maddie singkat.


Di kesunyian malam suara panas Vivi mulai terdengar. Gavin dan Maddie makin tidak nyaman hingga Gavin memutuskan untuk keluar dari kamar Maddie.


"Gue gak mau tidur di sini."


Sepeninggalan Gavin, Maddie berusaha untuk tidur, tapi suara Vivi semakin terdengar. Dan Maddie sangat tidak nyaman dan merasa jijik.


"Mana headset gue?"


Dan saat Maddie bingung mencari headset untuk menutup telinganya, Vivi dan Richard Hartono semakin memvesarkan suara mereka. Secepat mungkin Maddie memasang headsetnya di telinga dan memutar lagu, dengan volume penuh.


"Om Richard sialan." Gerutu gadis itu kesal kemudian menutup diri dengan selimut.


********************************************


Lagi-lagi Maddie hampir terlambat untuk sekolah karena tidak bisa tidur dengan nyenyak. Saat dia tengah mengenakan sepatu, suara dari ponsel sang Papa terdengar cukup jelas.


"Mayat perempuan kembali di temukan oleh warga."


"Ini pasti Angelina." Gumamnya.


*"- Atas nama Angelina Tatori. Mayat tersebut sudah di bawa ke Rumah Sakit RSUD Malalayang untuk di tangani lebih lanjut."*


"Selamat Pagi."


Richard Hartono mendadak muncul di rumah dengan sebuah folder merah dalam genggaman.


"Eh Richard, ayo masuk." Ajak Olivia, "Ada apa?"


"Aku izin gak masuk. Semalam alergi aku timbul dan siang ini aku harus ambil obat tambahan." Jelas Richard, "Ini nilai beberapa mahasiswa yang ikut presentasi."


"Kenapa gak telfon aja? Repot kan harus jalan sampai ke sini." Balas Olivia sembari membuka folder pemberian Richard.


"Gak papa." Richard tersenyum, "Entah kenapa aku bisa lupa kalau aku alergi kacang, dan semalam aku makan kue berisi selai kacang."


Chester yang sedari tadi diam, mendadak terkekeh pelan, "Yang di leher itu juga alergi ya Cad?"


Richard yang bingung mendekat pada cermin di atas nakas dekat tempat sepatu, dan mendapati sebuah bekas, -tepatnya bekas Vivi- terpampang jelas.


"Oh astaga." Richard segera menutup bekas itu, "Sebaiknya aku pergi."


Richard pergi secepat mungkin meninggalkan Chester yang sudah tergelak.


"Malu si Richard, Ches." Sahut Olivia sembari menyisir rambut di depan cermin.


"Dianya aja yang gak kontrol." Chester membalas tak acuh.


Di sisi lain Maddie dan Gavin secepat mungkin memasuki mobil dan saling memberi tatapan menjijikan, karena mereka tahu apa yang terjadi semalam, bahkan sebelum sindiran sang ayah.


********************************************

__ADS_1


__ADS_2