The Witness

The Witness
Bab XVIII


__ADS_3

"Lo kenal?" Tanya Will penasaran.


"Iya. Vivi juniornya Sophie di kampus."


"Sophie Gunawan?"


"Iya."


Will menghentikan gerakannya. Dia melepas piring dan menatap Maddie, "Kebetulan banget ya? Mereka meninggal dengan cara yang sadis dan mungkin juga oleh orang yang sama."


"Iya, tapi- Om Richard." Maddie menyadari sesuatu. Tapi netra hazelnya malah melirik Will yang juga menatapnya. Gadis itu menutup mulut rapat.


"Siapa?"


"Enggak kok." Maddie tersenyum canggung, "Makanan lo udah abis? Gue ambil air minum bentar ya."


Maddie mencari alasan untuk menenangkan pikirannya. Yang di katakan Will tadi masuk akal. Mereka semua kenal dengan sosok dosen ramah yang hobbynya berkebun itu. Mereka juga meninggal dengan cara mengenaskan. Apakah ini suatu kebetulan lagi?


"Tenang Maddie.. tenang.. ini mungkin suatu kebetulan. Kebetulan yang aneh.. tuangan serta pacar baru Om Richard bisa meninggal kurang dari 2 bulan." Maddie tertawa canggung, "Lo overthink Mads.. iya.. overthink.."


Maddie segera berbalik dan mencoba menghilangkan fakta baru yang ia dapat. Fakta di mana Richard Hartono sangat sangat mencurigakan, punya hubungan dengan 2 korban, tapi entah kenapa tidak pernah di curigai. Ia ingin melaporkan semuanya pada polisi, tapi gadis itu terlalu takut. Takut jika Richard memang pelakunya, dan takut kalau Richard bukan pelakunya, maka ia akan menjadi korban selanjutnya.


Pemilik surai hitam panjang itu hendak duduk saat Will menariknya ke tengah-tengah sporthall.


"Maddie.. dance with me."


Lagu Celline Dion I Believe, terdengar menyelimuti sekolah, mengundang siapapun yang ingin berdansa untuk maju dan menikmati setiap melodi romantis. Will pun tidak ingin melewatkan kesempatan yang ada.


"Pesta Halloween ada dansanya?" Tanya Maddie yang kini berdansa mengikuti irama.


"Hanya 2 lagu dan Pak Kepsek akan mulai dengan pembagian hadiah untuk Para Tamu, M&B's dan Ketua Osis." Will mengatur beberapa helai rambut Maddie, "Plus kita di larang dansa kek gini, tapi beberapa murid mengacuhkannya."


"I can see that." Balas Maddie sembari mengedarkan pandang, beberapa anggota osis terlihat berjalan mengelilingi lingkaran dansa, menjadi pengawas para murid lain yang jaraknya terlalu dekat.


"Leon sama Denada juga dansa." Kata Will tanpa mengalihkan pandang dari netra hazel Maddie, "Aturannya hanya gak terlalu dekat, karena anggota osis akan secepat mungkin melerai kalo kedapatan terlalu dekat."


"Udah kepikiran mau kuliah atau kerja?" Tanya Maddie yang mulai salah tingkah. Sangat ingin mengalihkan topik agar ia bisa menetralkan perasaannya.


"Gue maunya kuliah sambil kerja. Gue gak mau setelah lulus nanti, gue masih harus minta uang jajan sama mama." Balas Will, "Lo sendiri?"


"Kuliah."


"Di mana?"


"NAFA."


Will mengangkat satu kening, "Itu di mana?"


"Singapura. Gue masih harus pilih antara Jurusan Desain Pershiasan atau Fotografi."


"Wow."


Will tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya. Membayangkan Maddie kuliah di tempat elit sudah ia duga, tapi tidak di luar negeri.


"Lo sendiri di mana?"


"UPH, Fakultas Ilmu Komputer." Will menjawab dengan tersenyum.


"Tangerang?" Nada keterkejutan juga tak lepas dari mulut Maddie.


Will mengangguk, "Gue rencananya kerja di rumah makan tante gue di sana, sekaligus kuliah."


"Itu bagus." Gumam Maddie.


"Tapi gue bisa kok jaga hubungan jarak jauh."


"Hm?" Maddie menatap Will bingung.

__ADS_1


"Gue bisa ldr-an."


"Ha?"


Will terkekeh. Dia mengamit tangan Maddie dan menatap gadis itu lekat, "Lo mau gak jadi pacar gue?"


"Iya."


Tak butuh waktu lama untuk Maddie membalas. Dia melotot kemudian menutup mulutnya menyadari dia menjawab pertanyaan Will secepat kilat. Dan itu sangat memalukan mengingat volume suaranya pun bisa di dengar murid sekitar.


"Beneran? Thanks Mads." Will menarik Maddie dalam pelukan dengan senyuman lebar yang tidak berniat ia lepas. Maddie pun tersenyum tipis dan membalas pelukan laki-laki yang kini sudah berstatus jadi pacar.


Hingga tarikan seseorang memisahkan mereka. Maddie menatap gadis yang ia kenali sebagai adik kelas itu tajam.


"Sorry Kak Maddie, Kak Will. Tapi udah dapat perintah dari Kak Gerald." Balas adik kelas itu gugup. Ia berlari kecil menjauh sebelum Madelline Blake mengamuk dan menjadikannya korban.


"Terlalu dekat." Bisik Will.


Keduanya hanya tertawa dan meneruskan dansa hingga lagu berakhir. Maddie sangat bahagia. Sempat berpikir ia akan sendiri hingga duduk di bangku kuliah, sama seperti perkataan Zoe, tapi tidak. Will tidak melepas tangannya hingga sampai di tempat duduk. Leon dan Denada menghilang entah kemana, Maddie mengedarkan pandang, berniat memberi tahu Denada tapi sosok berpakaian hitam itu tidak kelihatan.


"Cie yang udah jadian."


Maddie menoleh dan malah mendapati Zoe dan Alis yang kini duduk manis di tempat Leon dan Denada. Maddie membuang napas kasar. Bisa-bisanya di momen bahagia kedua sosok tak berperasaan muncul.


"Slamat ya Madelline, William." Zoe berkata dengan melirik Will dari kepala sampai kaki, sembari tersenyum miring, "Kalian pasangan paling memukau. Yang satu anaknya gak mau tahu, yang satunya.. well.. anaknya Jim The Killer."


Sudah cukup. Maddie menampar Zoe cukup keras hingga menarik perhatian semua undangan pesta. Netra hazel Maddie memancarkan amarah.


"Jangan sekali-kali lo bicara kek gitu lagi!"


Maddie tidak perduli ia kini sudah menjadi pusat perhatian. Semua kegiatan terhenti karena amukan Maddie.


"Jaga mulut lo! Lo gak tahu apa-apa tentang Will sama keluarganya!"


Gadis bersurai panjang itu terus berteriak sembari menunjuk-nunjuk Zoe yang tidak terlihat takut sedikit pun, beda dengan Alis yang memilih menjauh.


"Mau di sangkal apa lagi? Bokapnya emang pembunuh!" Teriak Zoe.


Will kembali memeluk Maddie dari belakang, mencegahnya untuk menyerang Zoe. Tapi Afrian Blake sudah berdiri di tengah mereka.


"Zoe dan Madelline. Ke ruangan saya sekarang."


Will melepas Maddie dengan lega. Will tersenyum tipis mengetahui Maddie masih membela dirinya meski kenyataan sudah di depan mata. Ayahnya memang seorang pembunuh. Maddie tahu. Tapi gadis itu mengesampingkan kenyataan dan tetap menerima Will.


********************************************


Kira-kira satu jam Maddie keluar dari ruangan Afrian di susul Zoe dan pria berambut uban tersebut. Pesta sudah selesai dan kini Will masih duduk di tempat yang sama, menunggu sang pacar dengan memeluk tas selempang Maddie. Masih ada beberapa murid, sebagian besar anak asrama, serta beberapa guru yang berkeliaran.


"Are you ok, Will? Mulut Zoe memang harus di ******. Tenang aja, gue pastikan dia meminta maaf secepatnya."


Will hanya membalas dengan tersenyum.


"Yang di bilang Zoe ada benernya. Bokap gue emang pembunuh."


"Yang jahat dia, bukan lo." Balas Maddie. Dia sudah cukup puas dengan beberapa orang yang menghalangi dia untuk dekat dengan Will karena ayahnya. Maddie ingin egois. Dia sudah terlanjur menyukai Will.


"Gue antar lo pulang."


Maddie tersentak. Dia mendadak teringat bahwa ia datang bersama dengan Denada, yang tidak ia lihat sejak dansa yang pikirannya sudah fokus pada Will.


"Denada mana?"


"Paling udah pulang. Dia tadi kan sama Leon. Leon juga bawa mobil kok."


Maddie mengangguk pelan. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Denada pulang tanpa pamit. Tidak menelfon atau mengirim pesan.


********************************************

__ADS_1


Bunyi ponsel bermerek apel terus berdering hingga membangunkan sang pemilik. Dengan mata sipit dan suara yang serak khas baru bangun, Maddie menjawab panggilan tanpa melihat siapa yang menelfon.


"Halo?"


"Good Morning."


Maddie mengerjap. Ia menyalakan layar dan melihat nama Will tertera di sana. Gadis itu meneguk sedikit air yang selalu di sediakan samping tempat tidur sebelum kembali bercerita.


"Good Morning."


"Gue jemput ke sekolah?"


"Boleh." Jawab Maddie hang suaranya sudah kembali normal.


"Jangan lupa sarapan, hari ini kita ada Pop Quiz."


Maddie menepuk jidat, "Astaga.. gue lupa."


"Kita masih bisa belajar di kelas. Gue jemput jam 7, kita bisa belajar sebelum bel masuk jam 8.15."


"Ok. Gue mandi skarang."


Maddie melompat turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi. Ini hari pertamanya ke sekolah dengan sang pacar. Dia tidak mau terlambat.


Tapi saat mobil Will memasuki pekarangan sekolah, mereka di sambut dengan polisi dan seluruh murid yang berkeliaran di parkiran. Sangat tidak biasa. Maddie segera turun, di susul Will dan menghampiri ketua kelas mereka yang baru selesai bercerita dengan salah satu polisi.


"Kenapa rame gini?" Tanya Will.


"Sejak pesta Halloween tadi malam Denada belum pulang."


Jantung Maddie seakan terhenti. Pikirannya mulai kacau. Denada tidak pulang. Tanpa ia sadari air mata mulai membasahi pipi. Will menyadari itu dan memeluk Maddie. Anak tunggal Jim Adhicandra itu berusaha semampu mungkin untu menenangkan Maddie. Meski sang pacar dan Denada tidak memiliki hubungan yang baik, tapi ia tahu Maddie berusaha keras untuk memperbaiki hubungan mereka. Maddie terpukul. Sangat sangat terpukul.


Netra hazel Maddie menangkap sang Paman yang berjalan memasuki halaman sekolah. Ia berlari ingin bertemu dengan Afrian. Maddie harus mengatakan sesuatu. Sesuatu yang ia yakini bisa membantu para polisi. Dan ia akan mulai dengan Sophie Gunawan.


"Paman."


"Tidak sekarang Maddie."


Afrian menolak Maddie. Dia mempercepat langkah naik tangga, menuju ruangannya saat Maddie terus mengajaknya bicara. Pria tersebut mengacuhkannya hingga Maddie menarik tangan Afrian paksa, dan membuat sang kepala sekolah bertatapan dengannya.


"I'm a witness."


"Apa?"


Perhatian sang paman berhasil ia dapatkan.


"Aku.. aku pikir hilangnya Denada ada kaitannya dengan penemuan-penemuan mayat di kota. Aku tahu sesuatu."


Afrian membawa Denada masuk ruangannya dan membiarkan Maddie menceritakan apa yang ia tahu. Bagaimana pun juga Maddie adalah orang terakhir yang bersama dengan Denada saat pesta.


"Nama kamu siapa?" Tanya seorang pria berpakaian seragam polisi.


"Madelline Blake."


"Baiklah Madelline, nama saya Fajar dan saya akan mewawancarai kamu. Katakan semua apa yang kamu tahu dan kamu ingat. Mengerti?"


Sesi wawancara Maddie berjalan dengan baik. Gadis itu mengatakan semua yang ia ingat, alasan ia mencurigai seseorang dan di mana dia tadi malam saat Denada menghilang.


"Dan kamu mengenal orang yang kamu curigai ini?" Tanya Fajar memastikan.


"Iya." Maddie mengangguk mantap, "Tapi aku gak tahu pasti kalo dia pelakunya. Aku takut kalo aku kasih nama, dan kalian akan menangkap orang."


"Itu sebabnya ada investigasi. Semua informasi, sekecil apapun, akan membantu penyelidikan."


"Namanya Richard Hartono."


********************************************

__ADS_1


__ADS_2