The Witness

The Witness
Bab IV


__ADS_3

Lagu Selamat Ulangtahun di iringi tepuk tangan menggema dalam kediaman mewah Blake. Rumah di kawasan perumahan elit itu di penuhi dengan balon dan bunga mahal bernuansa Rose Gold, sesuai permintaan Madelline. Para tetangga, rekan kerja Olivia dan Chester serta teman-teman Maddie terlihat melayani diri sendiri dengan makanan yang tersedia. Gavin pun terlihat tak peduli dengan keadaan sekitar, dan menaruh beberapa kue serta permen di mangkuk dan berlari menuju kamar, berniat menyembunyikannya dari sang kakak.


"Selamat ya Mads."


Suara bariton yang tak asing terdengar di samping Maddie. Di sana Dennis tampil dengan kemeja denim berpadu kan dengan celana panjang hitam. Senyum menghias wajah menampilkan deretan gigi putihnya.


"Thanks Dennis."


"Lo keliatan cantik banget malam ini."


"As usuall." Balas Maddie penuh percaya diri.


Tak biasanya dia menyukai pujian Dennis, tapi malam ini berbeda. Dress selutut berwarna rose gold dengan belakang yang terbuka membuat Maddie berasa seorang putri. Rambut panjangnya di ikat tinggi, makeup sederhana serta anting-anting bulat besar menambah daya tarik tersendiri. Wajar saja gadis yang sudah 17 tahun ini di puji.


"Pesta lo keren banget." Puji Andre, temannya Dennis.


"Iya dong, di dekorasi langsung oleh M&B's Party."


"Serius?"


"Iyalah." Maddie membalas dengan sombongnya.


"Selamat ya Maddie."


Senyum Maddie menjadi lebih lebar kala melihat seorang laki-laki berpakaian serba hitam menyapanya. Netra hazel Maddie mulai mengelilingi sekitar untuk mencari seseorang.


"Kris.. you made it." Maddie tersenyum, "Pacar lo mana?"


Kris hanya tersenyum canggung, "Emm.. males?"


"Siapa yang males?" Maddie memancing laki-laki seumurannya ini dengan pertanyaan yang membuat ia sendiri penasaran.


"Gue." Balas Kris, "Zoe memang cantik, tapi agak boring."


Di tengah percakapan mereka, netra hazel Maddie menangkap sosok Denada dan Leon yang baru masuk. Melihat sebuah bingkisan di tangan Denada membuat Maddie penasaran. Gadis dengan polesan bibir berwarna merah itu tersenyum penuh arti. Namun saat meninggalkan Kris sesosok bertubuh jangkung tiba-tiba berdiri di hadapannya.


"Madelline.. Selamat Ulangtahun." Ucap Pria berkepala lima itu sembari menyodorkan sebuah bingkisan.


"Terimakasih. Bagaimana pestanya Om Richard?"


"Luar biasa. Ini kamu yang atur?"


"Aku dapat bantuan dari M&B's Party. Mereka Party Decor terbaik di kota." Maddie memamerkan nama M&B's Party lagi.


"Om lihat teman-teman kamu ada. Kalau Pacar kamu mana?"


Maddie terkekeh pelan, "Aku gak punya pacar Om."


"Itu bagus, lagi pula kamu masih muda. Sekolah dulu baru pacaran."


Tiba-tiba saja Maddie teringat sesuatu. Matanya mengelilingi pesta, seperti sedang mencari seseorang.


"Sophie mana om?"


Richard mengangkat satu kening, "Sophie?"


"Tunangan Om. Dia enggak datang? Sibuk dengan skripsi ya atau photo shoot?"

__ADS_1


"Ahh, Om dan Sophie memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kita. Dia yang masih mahasiswa semester akhir sekaligus selebgram, sulit mengatur waktunya dengan Om yang dosen."


"Hubungan Om dan Sophie gimana? Masih baik atau udah canggung?" Maddie bertanya penuh penasaran.


"Om dan Sophie masih saling menanyakan kabar. Om menelfon dia terakhir lima hari lalu. Kami menghabiskan sore itu melalui telfon."


"Kalau begitu titip salam ku untuk Sophie."


Richard menatap punggung Maddie yang menjauh dengan senyum, "Tentu saja Madelline.. Tentu saja."


********************************************


"Hai Leon, Denada, nice to see you." Sambut Maddie penuh sarkas.


"Happy Birthday Maddie."


Maddie menerima kado pemberian Denada dengan berpura-pura terkejut, "Wow.. Tiffany & Co. KW bukan sih?"


"Ada buktinya di dalam. Bisa lihat sendiri kalo KW atau bukan." Balas Leon datar.


"Let me guess.. Leon yah yang beli?"


"Actually, Inka yang beli. Gue udah larang dia untuk ngeluarin uang lebih dari 100 ribu untuk lo, tapi dia ngotot. I'm just the driver."


Sang pemilik pesta mendengus kasar, "Apa perlu gue balikin ini?"


"Oh tidak perlu. Itu hanya 5% dari tabungan gue. I'm good with my money, remember? Plus I work for that money."


"Enjoy the party then. Ada Photo Booth di sebelah sana, and it's gorgeous. Kalian bisa membuat pose romantis mengingat kalian berdua pacaran." Maddie pun langsung meninggalkan pasangan itu, dan menuju tempat yang di bahas, yang di penuhi bunga dengan menggandeng Gavin serta kedua orangtua.


********************************************


"Polisi?"


"Ada polisi?"


"Ada apa ini?" Gumam Maddie pelan.


Di saat yang sama Richard Hartono terlihat berbicara dengan polisi dan detik berikutnya salah satu polisi memegang pundak Richard dan mengajaknya keluar.


"Om Richard?" Gumam Maddie lagi.


Di sana Leon berlari menghampiri Richard yang hendak di bawa polisi. Entah kenapa Maddie mendadak melihat ke arah Denada yang kemudian menatapnya juga. Keduanya saling tatap sebelum Leon kembali dan memeluk Inka. Maddie yang masih di selimuti penasaran menuju ke arah mereka.


"Ada apa Leon?" Maddie bertanya kala matanya bertemu Leon yang sudah gelisah.


"Tunangan Om gue menghilang."


Denada menutup mulutnya. Matanya melotot tak percaya, Sophie Jihan Gunawan menghilang.


"Udah berapa lama?" Tanya Maddie tiba-tiba.


"1 minggu."


Maddie seketika terdiam.


"Terus Om Richard mau ke mana?" Tanya Denada.

__ADS_1


"Dia akan di mintai keterangan. Bagaimana pun juga mereka pernah punya hubungan."


Tak lama setelah itu Richard Hartono terlihat menuju ke arah tiga remaja itu dengan gelisah. Sesekali dia mengusap wajah dan membuang napas kasar.


"Madelline, maaf sudah merusak pesta kamu." Richard memegang pundak Maddie yang baru tersadar akan kehadirannya.


"It's ok."


Richard kemudian berpindah ke Leon dan Denada.


"Leon kamu langsung pulang."


"Aku akan ikut Om ke kantor polisi." Sahut Leon.


"Inka pulang sama siapa nanti? Ini sudah malam, gak baik seorang perempuan pulang sendirian malam-malam."


"Aku bisa pulang sama teman-teman sekolah. Leon bisa bantu Om di kantor polisi." Balas Denada merasa tak nyaman di situasi ini.


"Leon yang jemput kan? Artinya Leon juga yang harus mengantar kamu pulang."


Richard menarik Leon sedikit menjauh. Terlihat mereka berdua beradu mulut sebelum Leon akhirnya mengalah dan mengajak Denada pulang. Satu per satu tamu Maddie pun ikut pulang, meninggalkan gadis berulangtahun itu bergeming di tempatnya.


"Non?"


"Non Maddie?"


"Non?"


Maddie tak mengindahkan panggilan Bi Foni. Berpikir majikannya lelah, wanita itu pun meninggalkan Madelline. Tak lama setelah itu pintu yang sudah tertutup kembali terbuka menampilkan Olivia dan Chester Blake.


"Maddie?"


Tak ada balasan.


"Maddie." Chester sedikit berteriak memanggil anak perempuannya yang terlihat melamun. Dan benar saja, Maddie tersadar.


"Papa?"


"Kenapa melamun?"


"Eng-enggak kok Pa. Aku capek aja." Alasan Maddie untuk menghindari kedua orangtuanya cukup masuk akal.


"Tidurlah nak. Besok kamu sekolah."


"Iya Ma."


Dengan sedikit berlari, Maddie membuka aksesoris yang menempel dan mengunci pintu kamar. Dia menyenderkan punggung di dinding kamar dan mengusap wajah frustasi.


"Bukannya Om Richard bilang dia menelfon Sophie lima hari lalu?" Gumam Maddie pelan.


Dia mencoba mengingat betul percakapannya dengan Richard Hartono beberapa jam yang lalu sebelum para polisi datang. Apakah dia salah dengar? Apakah pesta ini terlalu ramai hingga pendengarannya sangat terganggu? Apakah Richard Hartono salah bicara?


"Pasti gue salah dengar." Maddie membuang napas pelan, "Musik tadi terlalu keras, ada kemungkinan besar gue salah dengar.. ada kemungkinan.."


Berusaha melupakan perkataan Richard Hartono, Maddie memutuskan untuk tidur. Tapi saat dia memejamkan mata, suara Richard mengatakan 'lima hari' terus mengiang-ngiang di kepala. Gadis itu tidak bisa tidur tenang mendapatkan fakta bahwa Sophie menghilang di saat yang sama tetangganya berbohong.


"Tapi jika benar Om Richard mengatakan lima hari lalu, dan Sophie menghilang 1 minggu yang lalu, artinya Om Richard berbohong. Tapi kenapa? Apa yang Om Richard sembunyikan?"

__ADS_1


 ********************************************


__ADS_2