The Witness

The Witness
Bab XIV


__ADS_3

"Nomor yang anda tuju sedang sibuk."


"Ayo dong Will.."


"Nomor yang anda tuju sedang sibuk."


Percakapan kemarin dengan Chester Blake membuat Maddie kepikiran William. Sejak tadi malam ponselnya tidak aktif. Dia hanya ingin menanyakan kabar laki-laki itu mengingat Jim Adhicandra kini sudah menjadi tersangka. Dan juga terakhir kali Maddie berinteraksi dengan Will, hubungan mereka tidak baik.


Gadis itu berjalan masuk keluar balkon kamar dengan memegang ponsel pintarnya. Sekarang sudah jam 10 pagi dan Will tidak ada kabar.


"Bodoh amat."


Maddie mengesampingkan ego dan rasa malu. Dia harus bertemu dengan Will. Secepat mungkin dia mengganti pakaian dengan blous tipis berwarna biru, celana panjang model boyfriend, serta sepatu putih. Gadis itu membiarkan rambutnya terurai, tidak lupa mengambil tas selempang hitam, ponsel dan berlari kecil menuruni tangga.


Aroma vanilla mulai meyeruak kala Maddie keluar kamar dan berpamitan pada sang mama.


"Ma aku pergi dulu ke rumahnya Denada. Aku mau pergi sama Pak Yon."


Dengan sedikit berteriak gadis itu berlalu melewati Olivia yang membaca majalah di ruang tamu dan berteriak memanggil Pak Yon.


"Hati-hati ya." Samar suara Olivia terdengar.


Selama perjalanan Maddie terus menelfon Will tapi nomor Will belum juga aktif. Maddie hanya ingin di sisinya melewati semua masa sulitnya. Untuk pertama kalinya Maddie merasa harus berada di sisi seseorang dan itu membuat Maddie frustasi.


Maddie segera meloncat keluar mobil yang belum henti, membuat sopir 50 tahun itu berteriak. Gadis itu nyaris jatuh tapi dia terus berlari dan mengetuk pintu rumah Denada dengan tempo yang cepat.


Pintu di buka dan sang penghuni memberi tatapan heran, "Lo?"


"Ganti baju. Ikut gue." Maddie berbalik menatap sopir yang kini sudah menghentikan mobil, "Pak Yon tunggu bentar ya."


"Maksud lo apaan?"


Maddie balik menatap Denada tajam, "Ganti baju lo dan ikut gue ke kantor polisi."


"Kantor polisi?"


"Gue mau cek keadaan Will."


Jujur. Hanya itu yang bisa Maddie katakan untuk saat ini. Jelas dia tidak berani menemui Will sendiri dan mau di temani. Dan Denada sasarannya.


"Will?"


Pemilik surai hitam panjangbitu mengacak rambut frustasi menanggapi banyak pertanyaan Denada, "Udah deh. Nanti gue cerita di mobil, intinya lo harus ikut gue."


"Kenapa gue?"


Netra hazel Maddie melempar tatapan seakan mengatakan 'oh ayolah' sebelum dia masuk tanpa izin dan melempar tubuhnya di sofa kulit yang di atur di tengah ruangan.


"Karena lo punya Leon, dan Leon bisa bicara sama Will dan gue mau pastikan dia baik-baik aja." Jelasnya yang kemudian mengeluarkan ponsel, mencoba menghubungi Will lagi.


"Ada perlu sama Leon, bukan gue kan? Ajak dia." Denada langsung berbalik, kembali berkutat dalam dapur. Maddie yang melihat itu berlari ke arahnya, dan berdiri di hadapan Denada.


"Gue butuh teman di sana."


Mulut Denada tertutup rapat. Kata teman yang Maddie gunakan membuatnya mengingat masa lalu. Denada hanya mengangguk dan berlalu ke kamar segera mengganti pakaian, sedangkan Maddie yang baru menyadari apa yang dia katakan menepuk jidat.

__ADS_1


********************************************


Denada mengabari Leon dan meminta pacarnya memeriksa apakah Will ada di rumahnya, atau tidak. Tujuan utama Maddie ialah bertemu dengan Will, bukan ke kantor polisi. Denada berharap Will berada di rumah, masih tidur, tapi nyatanya tidak.


Mobil perak yang di kendarai Maddie dan Denada melaju menuju kantor polisi dengan kecepatan rata-rata. Meski di liputi rasa penasaran, Pak Yon di minta untuk tidak mengatakan sepatah katapun pada Chester dan Olivia. Sempat membantah dan ingin melaporkannya tapi Maddie berhasil membujuk pria itu.


"Pak Yon bisa pulang. Nanti aku telfon lagi kalo udah selesai." Maddie tersenyum, "Makasih gak ngomong sama Mama dan Papa."


Pak Yon membungkuk sedikit sebelum berlari kecil masuk dalam mobil. Netra hazel Maddie pun tak lepas dari kendaraan roda 4 itu sampai motor matic Leon memasuki halaman. Laki-laki berpakaian santai itu melepas helm hitam sebelum menghampiri Denada dan Maddie.


Bersama mereka menghampir beberapa petugas yang tengah berjaga di depan yang lengkap dengan senjata dan rompi.


"Selamat siang." Sapa Denada ramah.


Seorang polisi dengan papan nama Hendro tersenyum sembari melepas ponsel pintarnya, "Selamat siang. Ada perlu apa?"


"Kami ke sini mau cari teman kami. William Adhicandra. Orangtuanya Jimmy Adhicandra, sedang di mintai keterangan."


Nama Jimmy Adhicandra mampu membuat beberapa polisi sekitar menoleh. Nama yang cukup berpengaruh. Maddie mengedarkan pandang dan melihat beberapa polisi mulai bisik-bisik. Tentu karena mereka menyebutkan nama seorang kriminal.


"Teman kalian mungkin di kantin. Karena Jimmy Adhicandra masih di dalam ruangan introgasi." Polisi berbada gemuk itu berdiri, "Kalian bisa lurus dan belok kiri."


"Terimakasih Pak."


Ketiga siswa ini menyadari bahwa kantor polisi terlihat sepi dari luar tapi ramai di dalam. Banyak petugas berseragam mondar-mandir dengan gaya rambut yang sama. Beberapa petugas dengan senjata yang di gantung di pinggang sedang bercengkrama dekat koridor memasuki kantin, dan beberapa orang lain yang hanya mengenakan kemeja batik tengah asik menikmati makanan di kantin. Kantin kantor polisi pun tak kala ramai dengan kantin sekolahan. Terlihat Will seorang diri di ujung kantin, duduk membenamkan kepala di atas meja.


"Will."


Kepala William sontak terangkat mendengar suara Maddie yang menyapa.


Maddie, Denada serta Leon mengambil tempat di meja yang sama dengan Will.


"Kita dengar tentang bokap lo yang di bawa polisi dan kita ke sini mau nemenin lo."


Will terkekeh pelan dan berhasil membuat ketiga temannya memberi tatapan aneh, "Makasih, tapi gak perlu sampai temenin gue di sini. Besok gue sekolah kok."


"Lo udah makan? Kita pesan makanan dan kita makan sama-sama." Maddie mencoba untuk mengalihkan pikiran Will. Dan Will setuju dengan ide Maddie. Makanan.


"Gue dan Leon yang pesan." Denada bersiri sembari melepas tas selempangnya dan menyodorkan tangan pada Maddie dengan telapak tangan terbuka, "Mana uang?"


"Lo pikir gue emak lo?" Balas Maddie asal.


"Lo ajak gue kan? Mana uang."


Maddie berdecih. Ia melirik Denada yang tersenyum penuh kemenangan saat ia tahu Maddie tidak lagi akan melawannya. Satu karena masalah mereka sudah selesai dan dua karena Will. Ya, William Adhicandra.


"Nih."


Denada menerima lembar berwarna merah itu dengan bangga, "Pisang goreng 5 paket, minuman untuk 4 orang, tahu isi 2 paket, nasi ayam untuk Will dan telur rebus untuk Maddie."


"I hate boiled egg." Maddie balas dengan nada tak suka.


Denada malah memamerkan senyum liciknya, "Oh i know."


Maddie hanya bisa melotot tapi Denada tak peduli. Dia menggandenga tangan Leon dan menuju ke tempat pesanan makanan dengan uang pemberian Maddie. Di sisi lain Maddie memanfaatkan situasi ini dengan meminta maaf pada Will.

__ADS_1


"Gue minta maaf."


"Untuk?" Kening Will terangkat.


"Zoe dan Alis."


"Gakpapa." Will memegang tangan Maddie, "I'm just happy you're here."


********************************************


Tepat jam 9 malam mobil silver yang di kendarai Pak Yon memasuki pekarangan rumah. Maddie turun dengan senyum yang tak lepas. Will yang mengatakan senang Maddie ada di sana berhasil membuat gadis itu senang.


Ia memasuki rumah dengan bersenandung saat Olivia langsung menyerbu dengan pertanyaan.


"Dari mana jam segini baru pulang Madelline?" Nada Olivia terdengar marah, "Kamu tahu kan polisi sudah melarang perempuan keluar sendirian malam-malam?"


"Kantor polisi habis itu makan sama Denada dan Leon, lalu pulang."


"Kantor polisi?" Tanya Gavin.


"Aku, Denada sama Leon temenin Will. Kasian dia sendiri nungguin Om Jim yang harus di introgasi berjam-jam."


Chester yang sedari tadi diam membuka mulut, "Maddie, papa tidak suka kamu berteman dengan anaknya Jim."


"Yang bermasalah Om Jim, bukan Will. Aku udah temenan sama Will sejak kelas 1 SMA." Maddie membalas sedatar mungkin. Ia bahkan menatap Chester tak suka.


"Dan papa sudah 10 tahun berteman dengan Jim." Balas Chester lagi.


"Will baik pa."


"Jim juga awalnya baik." Chester tidak mau kalah. Dia terus beradu mulut dengan sang putri.


"Will bukan Om Jim." Maddie menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.


Olivia memegang lengan Chester dan membelainya pelan, "Ches, Maddie benar. Will baik, sopan lagi."


Tatapan Chester beralih pada Olivia, "Aku gak mau kejadian Devi terjadi ke Maddie."


"Devi siapa?" Maddie bertanya.


"Ibunya Leon."


Maddie bingung. Ia sudah melupakan tentang keluarga Leon kala Will mulai mendekatinya. Dan sekarang nama almarhumah ibunya Leon terbawa-bawa.


"Bukannya beliau meninggal karena sakit?"


Itu yang di ketahui Maddie. Meninggal karena sakit. Sakit apa, dia tidak tahu. Denada hanya menceritakan apa yang di cerita Leon padanya.


"Kata siapa?" Olivia balik bertanya penuh heran.


"Dia tidak perlu tahu Liv." Chester berdiri dengan tegap, menatap putrinya lekat, "Intinya Papa gak suka kamu dekat dengan Will. Setidaknya sampai Jim benar-benar terbukti tidak bersalah."


Dengan langkah tegas Chester meninggalkan mereka. Ingatan Maddie kembali berputar saat Denada bercerita tentang keluarga Leon dan hubungan tak baik Om Beren dan Om Richard. Pertanyaan sekarang adalah kenapa Leon memberi tahu Denada kalau ibunya tidak meninggal karena sakit? Tapi di bunuh oleh Jimmy Adhicandra.


********************************************

__ADS_1


__ADS_2