The Witness

The Witness
Bab V


__ADS_3

Selembar kertas yang menampilkan wajah Sophie Gunawan sudah di sebar dengan harapan mahasiswi 22 itu segera di temukan. Maddie mengambil salah satu copy dan menatapnya penuh kebingungan. Pemilik netra hazel itu membaca semua kata yang tertera sampai pada 3 nomor telefon yang bermaksud untuk di hubungi jika mendapat informasi.


"Kepolisian Setempat, Ruth Manampiring Dan Richard Hartono." Baca Maddie pelan.


Melihat nama Richard di sana menimbulkan perasaan aneh. Penduduk Kota Manado sudah heboh dengan kabar menghilangnya salah satu orang terkenal dan anehnya tidak ada seorangpun yang melihat dia. Bagaimana bisa seseorang seterkenal Sophie bisa menghilang tanpa kabar?


"Permisi."


Maddie berbalik dan mendapati seorang perempuan kira-kira berusia lebih tua darinya. Dia memakai kaos biru dan celana jeans panjang. Buku besar, serta tas laptop yang di genggam membuat Maddie langsung mengira bahwa dia ini seorang mahasiswi.


"Hm?"


"Lo kenal?" Tanya Perempuan berambut sebahu itu.


"Iya.. Dia tunangan sama tetangga gue."


"Richard?"


Dengan mantap Maddie mengangguk.


"Kenalin gue Vivi. Mahasiswi di Del La Salle."


De La Salle


"Kenal Sophie dong?"


"Dia senior gue."


Rasa penasaran Maddie dalam kasus ini cukup besar. Dia memutuskan mengajak Vivi duduk di warung gorengan terdekat dan bercerita sambil makan.


"Kalian dekat?"


Vivi tersenyum tipis sebelum menggeleng, "Dia gak kenal sama gue."


"Orangnya gimana di kampus?"


"Kayak anak orang kaya biasanya. Sombong dan gak mau bergaul sama anak-anak lain. Tapi orangnya baik kok. Lingkungannya aja yang membuat dia kayak gitu."


"Dia punya musuh gak atau seseorang yang enggak suka sama dia?"


"Menurut gue banyak yang enggak suka. Wajar sih, dia cantik, terkenal, selebgram kedua di kota yang bisa collab sama Artis besar. Banyak deh alasannya."


"Iya juga sih."


Sambil makan gorengan Maddie sesekali melirik Vivi. Kata perempuan asing itu ada benarnya. Sophie sudah cukup terkenal hingga membuat banyak orang iri. Termasuk selebgram pertama di kota. Selebgram yang sejak awal tidak pernah menyukai Sophie Gunawan.


********************************************


"Caroline Rose Sumual tidak bersalah."


"Gue mengerti kenapa gue bisa jadi tersangka. Dan sesuai permintaan polisi, gue juga bersedia di mintai keterangan. Satu minggu sebelum Sophie di nyatakan menghilang, gue berada di luar kota. Ada foto dan video yang bisa mendukung perkataan gue, juga 20 orang staf dan 150 orang dari meet and greet."


"Padahal Caroline adalah orang yang cukup masuk akal untuk menyakiti Sophie." Komentar Chester yang baru menyaksikan wawancara Caroline.


"Berdoa saja semoga Sophie tidak apa-apa. Kasihan Ruth dan Richard." Balas Olivia sembari mengelus tangan sang suami.


Maddie yang melihat itu tidak bereaksi. Caroline adalah orang yang punya banyak alasan untuk menyakiti Sophie, terlebih lagi karena iri. Tak menutup kemungkinan bahwa ada orang lain juga yang iri karena kesuksesannya. Pertanyaan sekarang adalah apakah selama satu minggu menghilang selebgram itu masih hidup?


 ********************************************


*"Seluruh siswa-siswi SMA kelas 12, harap berkumpul di sporthall."*


Suara Pak Kepala Sekolah menggema melalui speaker. Satu per satu para senior sudah keluar dan berkumpul per kelas, menunggu Kepala Sekolah turun. Semua mengira bahwa mereka akan mendapat pengumuman tentang ujian mereka bulan depan, namun kenyataannya tidak. Mereka malah di suruh berkelompok dan mengerjakan tugas.


"Langsung saja, Saya akan membagi kalian dalam kelompok, dua murid IPA dan dua murid IPS akan mewawancarai seseorang dengan profesi polisi, dokter, guru atau dosen, pedagang dan CEO atau manager."


"Permisi Pak, tapi apakah ini ada hubungannya dengan ujian akhir?" Tanya Bella, ketua kelasnya Denada.

__ADS_1


"Tugas ini merupakan nilai tambahan ujian akhir sekolah." Jelas pria beruban itu, kemudian melempar pandangan ke arah wali kelas, "Silahkan ambil absen murid dan saya akan membuat kelompoknya."


..


"Kelompok Lima. Leon Aswangga, Denada Winstone, William Adichandra dan Maddeline Blake. Silahkan berkelompok."


Setelah nama keempat siswa itu di baca mereka segera berkelompok dan jelas salah satunya menggerutu kesal. Siapa lagi kalau bukan Madelline Blake. Bukan hanya karena satu kelompok dengan dua manusia yang paling tidak ia senangi, tapi karena ia sadar bahwa dia juga harus mengharapkan bantuan mereka untuk nilai tambahan ini.


"Satu orang dari kelompok kalian harus mencabut jenis profesi apa yang harus kalian wawancarai."


"Will." Panggil Maddie lalu mengisyaratkan teman kelasnya itu untuk maju.


..


"Dosen." Kata Will yang baru sampai dengan sebuah kertas di tangan.


"Gampang. Om gue dosen." Celetuk Leon cepat.


"Minggu depan tugas harus di kumpulkan."


Tak berniat mendengar percakapan teman-teman sekelompoknya, Maddie segera meraih tas dan berdiri memeluk tangan depan dada,menghadap Leon, Denada dan Will.


"Kita pergi sekarang."


Will yang paham akan hubungan ketiga orang lainnya, mencoba memberi saran untuk Maddie.


"Kita belum punya pertanyaan Mads. Kita bisa membahas-"


"Gue punya. Ayo." Balas Maddie kukuh.


"Kita mulai besok atau lusa. Masing-masing harus siapkan pertanyaan dan-"


"Kita harus mulai hari ini." Maddie memotong cepat saran Will yang membuat emosi Leon timbul.


"Jangan egois lo, kita masih harus mempersiapkan materi dan pertanyaan. Gue, Inka sama Will juga harus mempunyai pertanyaan atau setidaknya materi untuk presentasinya." Susah payah Leon mencoba jelaskan tanpa berteriak di hadapan satu sekolah. Gestur Leon jelas menunjukkan itu, tapi tak di indahkan.


 ********************************************


"Om Richard!"


"Lo panggil Paman lo, Om?" Will merasa heran dengan panggilan Leon untuk Pamannya sendiri yang terbilang tidak cocok. Richard Hartono adalah sepupu sang ibu, namun karena kedua orangtua sudah bercerai dan Leon memilih tinggal dengan ayahnya, maka Richard juga menjadi salah satu orang yang tidak di senangi Ayahnya.


"Om Richard dan bokap gue gak akur. Udah terbiasa karena mereka sering berkelahi dan bokap gak mau gue panggil dia Paman."


"Dia belum pulang." Kata Maddie setelah dari tadi menutup mulut.


"Kita bisa balik besok." Saran Denada cepat.


"20 menit lagi Om Richard pulang. Kalian bisa menunggu di rumah gue." Maddie segera berbalik dan berjalan ke arah rumahnya saat suara Denada terdengar.


"Antar aku pulang Leon."


Pemilik netra hazel itu tersenyum miring dan berbalik lagi menatap Denada.


"Kenapa Denada? Rumah gue terlalu kecil ya untuk lo? Atau lo enggak mau nilai tambahan untuk ujian akhir?"


"Kita punya waktu Maddie. Besok kita bisa balik lagi." Bujuk Will.


"Yaudah pulang sana.. Tapi jangan salahkan gue kalau gue gak bekerja lebih untuk presentasi ini. Kalian yang menunda bukan gue." Tanpa mengindahkan tanggapan teman-teman lain, Maddie segera berjalan me arah rumahnya.


..


"Bibi."


Suara Maddie menggema di rumah kala memasuki ruang tamu. Dia melepas sepatunya di belakang pintu dan berjalan pelan menuju tangga.


"Iya non?"

__ADS_1


"Buatkan aku Matcha Latte."


Bertepatan dengan itu Leon, Denada dan Will masuk membuat decihan keluar dari mulut sang tuan rumah. Tak berniat menyapa mereka, Maddie kemudian menaiki tangga, menuju kamar.


"Dan teman-teman non?"


Maddie hanya berbalik dan menampilkan wajah datar sebelum kembali menaiki tangga.


"Tanya mereka."


Bibi Foni menuju ke arah 3 remaja yang masib berseragam dengan senyuman lebar saat menyadari bahwa dia mengenal dua orang. Dua orang yang sudah lama tak ia jumpai.


"Den Leon, Non Inka. Apakabar?" Wanita tersebut menyambut penuh hangat.


"Baik bi." Balas Leon tersenyum.


"Mau minum apa?"


"Air putih saja."


Wanita kira-kira enam puluh tahun itu menoleh ke arah Will dengan pertanyaan yang sama.


"Samain aja sama mereka."


Bibi Foni membungkuk sebelum pergi.


"Pembantu Maddie kenal kalian?" Will tidak mengerti kenapa pembantu Maddie nampak mengenal baik kedua teman sekolahnya ini, mengingat Maddie tidak pernah akur dengan Leon maupun Denada.


"Paman gue tetangga mereka dan Inka-"


"Sering ketemu Bi Foni di rumahnya Om Richard." Potong Denada cepat di akhiri dengan senyuman.


..


Selesai menghabiskan Matcha Latte buatan Bibi Foni, Maddie serta yang lain kembali ke rumah Richard di mana pria itu baru saja keluar dari Greenhouse mininya.


"Selamat malam Om Richard."


"Kalian?"


"Kita tahu ini sudah malam, tapi apakah Om punya waktu?" Nada Maddie yang terkesan sopan membuat Will dan Leon cukup terkejut. Beda dengan Denada yang hanya memutar bola mata malas.


"Kita punya tugas sekolah yang mengharuskan mewawancarai seorang dosen. Apakah Om bersedia?" Sambung Maddie.


Pria berambut pendek itu mengangguk sebelum mempersilahkan keempat siswa itu masuk. Aroma kopi mulai tercium di rumah bernuansa cokelat itu. Di atas meja kaca, segelas kopi dan sepiring kue kering sudah tersedia. Di saat Richard sedang mengunyah sepotong kue kering dan meletakkan sepiring lagi untuk empat pelajar SMA itu, suara Will tiba-tiba menggema.


"Ini foto orang hilang itu kan?" Di sana Will nampak memegang sebuah bingkai foto Sophie Gunawan yang tersenyum cantik ke arah kamera.


Dengan tersenyum masam Richard mendekat dan mengambil foto itu dari tangan Will, dan kembali menaruhnya di tempat semula, tepatnya di samping lilin putih dan secangkir mawar merah.


"Dia mantan tunangan Om."


Will yang menyadari kelancangannya segera meminta maaf dan kembali duduk. Mereka semua sudah siap dengan alat tulis menulis dan perekamnya saat bunyi ponsel Richard terdengar.


"Halo?"


"Iya saya Richard."


Gerak gerik pria itu yang mendadak berubah membuat Maddie curiga. Gadis itu berpura-pura mendekati meja Richard, mengambil beberapa kue, bertujuan untuk menguping. Sangat tidak sopan, tapi Maddie tidak perduli.


"Mayat perempuan?"


 ********************************************


FYI ini greenhouse yang di maksud milik Richard Hartono


__ADS_1


semacam rumah kecil yang di kelilingi kaca, berisi tanaman-tanaman.


__ADS_2