
Undangan mewah yang terbungkus sampul berwarna Rose Gold menjadi bahan cerita para penghuni sekolah. Bentuk undangan yang mereka terima transparan dan bahan untuk membuat undangan itu kaca imitasi dari Singapura yang di pesan langsung oleh gadis cantik itu. Dengan memamerkan senyuman manis dia berjalan menuju sporthall dengan sebuah tas kecil berisikan beberapa undangan lain. Tim basket sekolah menjadi tamu Maddie selanjutnya.
"Ini untuk seluruh anggota tim basket?"
"Tentu. 10 orang kalo gak salah, benar?" Balas Maddie.
"Mewah banget undangannya."
Di tengah percakapan dengan para pemain basket, netra hazel Maddie malah menangkap Denada dan Leon yang tertawa di samping sporthall. Maddie mengambil bola basket dari tangan seorang anggota tim dan melempar benda bulat berwarna jingga itu hingga mengenai tangan mungil seseorang. Masih dengan senyuman manis dan tak bersalah, Maddie menuju ke arah Denada dan Leon.
"Sorry ya gue gak liat lo, Denada."
"Seriously Maddie?" Sahut Leon datar.
"Maaf Leon, gue gak liat pacar lo saat melempar bola." Maddie melirik si pemilik surai hitam panjang dengan wajah tanpa dosa, "Tangan lo enggak luka kan, Denada?"
"Ok first of all, tangan dia nggak kenapa-kenapa. Second of all, sejak kapan lo berhenti manggil dia Inka?"
"Ask her. Sejak kapan Denada?" Maddie membalas dengan penuh penekanan saat mengatakan 'Denada'.
Tanpa berniat membalas Denada malah menarik Leon untuk pergi. Tapi lagi-lagi Maddie mencegah dengan berdiri di hadapan mereka.
"Tunggu dulu dong.. kalian lupa ya besok ulang tahun gue?"
"Buat apa di inget? Enggak penting juga." Balas Leon sarkas.
Maddie berdecih sembari memeluk dua tangan depan dada, "Denger ya Leon, kalo bukan karena paksaan papa, gue nggak mungkin undang pacar lo. Jadi ini ada satu undangan untuk kalian berdua. Romantiskan?" Dengan terpaksa Denada meraih undangan mewah tersebut dan langsung meninggalkan Maddie.
********************************************
Marry's Bakery merupakan sebuah toko kue langganan keluarga Blake yang kini di percayakan keluarga untuk menyediakan kue ulangtahun serta beberapa cemilan untuk pesta Maddie. Pemilik surai cokelat gelap itu langsung menuju meja tepat di samping jendela dan segera di layani dengan kurang lebih 10 jenis kue untuk di pilih rasanya.
Pemandangan jalan yang ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang menjadi plihan Maddie untuk menikmati berbagai kue tersebut. Kamera ponsel mahal siap mengambil gambar cantik saat dua buah nampan stainless di letakkan di hadapannya. Gadis itu sangat menikmati waktu santai ini hingga sesosok tak asing berhasil mencuri perhatiannya. Di depan sebuah toko bangunan Richard Hartono keluar dengan tas kresek hitam berukuran besar serta sebuah papan kecil dalam genggaman. Terlihat sangat normal, tapi tidak untuk Maddie, terutama saat seorang gadis belia datang dan memeluk tangan pria itu mesra.
"Itu bukan Sophie."
********************************************
Kejadian sore tadi saat seorang perempuan bergelayut manja di tangan Richard Hartono sangat mengganggu pikirannya. Kenyataan bahwa tetangga berprofesi sebagai dosen itu berada di publik bersama perempuan lain, yang bukan Sophie, tunangannya, membuat Maddie sangat penasaran. Setelah di pikir-pikir sudah hampir satu bulan sejak terakhir dia melihat Sophie. Apakah mereka putus? Maddie mengusap wajah kasar. Bingung kenapa dia sendiri sangat ingin tahu hubungan orang yang jelas bukan keluarga atau temannya. Ingin menghilangkan pikiran aneh ini, Maddie memutuskan mengeluarkan teleskop untuk melihat keindahan langit malam.
__ADS_1
"Liat bintang lagi non?"
Suara Bi Foni terdengar dari dalam kamar membuat si gadis menoleh dengan satu kening terangkat.
"Saya di suruh nyonya untuk bawain teh hangat."
"Taruh saja di meja." Balas Maddie asal.
"Nyonya juga pesan non harus istirahat dan jangan lupa konsumsi vitamin. Oh ya, jam 3 sore besok Mrs Clara akan datang merias non."
"Mama bawel banget." Cibir Maddie, "Iya iya, bilang aku inget semua dan udah mau tidur. Jangan di ganggu lagi ya bi."
"Baik non, saya permisi."
********************************************
Di suatu tempat
Seorang wanita berjalan cepat menuju rumah minimalis bernuansa kuning. Sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di luar membuat ia mempercepat langkahnya. Ketukan terus ia lakukan hingga seorang pria berbadan tegap tinggi membuka pintu.
"Selamat malam Fajar, maaf mengganggu mu malam-malam. Ada yang mau aku bicarakan."
"Teh?"
"Tidak terimakasih." Tolak wanita 50 tahun itu halus.
Fajar mengambil tempat berhadapan dengan wanita berambut sepunggung itu, sembari memeluk tangan depan dada. Jelas dia sangat heran sosok ini bertamu tengah malam dengan keadaan seperti ini.
"Ada apa?"
"Apakah para polisi sedang sibuk?"
"Sudah pasti. Kami selalu sibuk, Ruth."
Ruth mengangguk kemudian menatap Fajar cukup lama sebelum kembali bercerita, "Bagaimana dengan mu?"
"Aku juga punya beberapa tugas. Kenapa?"
Dan saat itu juga Ruth seakan hilang kendali. Dia berlutut memohon sembari menangis meraih tangan Fajar dengan kasar. Fajar segera melepas tangan Ruth dan memberinya tisu, menenangkan wanita itu kemudian di suruh bercerita lagi.
__ADS_1
"Aku mohon luangkan sedikit waktu mu. Aku.. aku tidak tahu harus mencari di mana lagi.. sudah 4 hari dia tidak pulang asrama. Tidak biasanya dia begitu. Aku khawatir.."
"Siapa maksud mu?"
"My Sophie. My sweet, beautiful, lovely daughter Sophie. Kata room-matenya sudah 4 hari dia tidak kembali ke asrama. Dan jelas dia tidak bersama dengan ku."
Fajar mengusap wajah frustasi. Kepolisisan juga sedang menangani kasus pembobolan mesin atm di beberapa tempat di kota Manado. Dan sekarang anak teman lamanya menghilang. Dia meraih ponsel dan segera menelefon kantor.
"Beberapa polisi akan kemari dan menanyakan beberapa informasi yang di perlukan. Cerita semuanya. Nama room-matenya, tempat kuliahnya, aktifitas sehari-hari, nomor telefon, apapun yang bisa membantu untuk menyelidiki kasus ini. Kamu paham Ruth?"
Ruth mengangguk cepat.
"Untuk sekarang aku akan menanyakan beberapa pertanyaan kecil." Fajar kembali meraih ponsel pintarnya, dan merekam pembicaraan mereka. "Kita mulai ya Ruth, apakah Sophie punya pekerjaan?"
"Tidak."
"Apakah Sophie punya masalah dalam keluarga?"
"Tidak sama sekali. Aku dan Fendi memang sudah bercerai, tapi kita masih menjaga hubungan baik untuk Sophie. Setiap dua minggu Sophie akan pergi ke rumah ayahnya dan tinggal beberapa hari di sana sebelum balik lagi bersama aku, lalu ke asrama."
"Bagaimana dengan pacar? Apakah dia memiliki seorang pacar?"
Ruth terdiam sesaat. Tatapannya berubah jadi kosong.
"Ruth?"
Ruth yang melamun kini mengangguk mantap, "Dia sudah bertunangan. Tapi mereka mengakhiri pertunangan itu bulan lalu."
"Siapa dia?"
"Dia seorang dosen di Universitas Ratulangi. Beda kampus dengan Sophie. Namanya Richard. Richard Hartono."
"Berapa lama mereka bertunangan?" Tanya Fajar lagi.
"Beberapa bulan."
Fajar kembali mengangguk, "Kenapa kamu terdiam saat aku menanyakan tentang pacarnya Sophie?"
"Aku baru sadar kalau semenjak putri ku menghilang, Richard tidak mengabari ku." Ruth menyenderkan punggung, "Apakah dia tahu Sophie menghilang?"
__ADS_1
********************************************