
Penyebab kematian ibu Leon sangat membuat Maddie penasaran. Leon bilang meninggal karena sakit sedangkan Chester memberikan petunjuk lain. Saat tiba di sekolah Maddie segera mencari Denada. Dan beruntungnya dia Leon belum sampai. Gadis itu memasuki kelas 12 IPA dan duduk di depan Denada.
"Denada gue mau bicara sama lo."
Tidak berniat menyapa, jemari Denada menari lincah di atas ponsel pintarnya.
"Denada."
"Denada Inka Winstone."
Denada membuang napas kasar dan beranjak, keluar kelas tapi Maddie mencegatnya. Dengan kesal dia terpaksa menghadapi Maddie di depan kelas.
"Lo kenapa cuekin gue?"
"Lo kenapa deketin gue?" Balas Denada angkuh. Meski hubungan mereka sudah membaik, tapi itu tidak merubah perasaan Denada. Dia masih tidak mau terlalu dekat dengan penyandang Blake itu.
"Ada yang mau gue tanyain. Penting."
"Paan?" Denada membuang napas kasar.
"Kita gak bisa bicara di sini."
"Yaudah."
Saat Denada berbalik Maddie menarik tangan Denada dan memberi tatapan serius.
"I mean it Denada. Sepenting itu."
Lagi-lagi Denada di buat diam. Dia bingung dengan tingkah Maddie yang akhir-akhir ini berubah.
"Entar pulang sekolah gue harus bantu Tante Mala masak. Anaknya masuk rumah sakit dan gak ada yang anterin makanan."
Maddie mengangguk mantap dan berlalu. Maddie berubah. Denada menyukai itu. Dia tidak lagi membully satu murid pun, nilai Maddie juga sudah lebih baik dari sebelumnya.
********************************************
Maddie melempar tas asal kala memasuki rumah minimalis Denada. Gadis itu mengikat tinggi rambutnya, dan mengeluarkan ponsel, mengetik sesuatu di sana dan menyusul Denada ke dapur.
Memang tidak sebesar dapur di kediaman Blake, tapi cukup untuk 2 orang bolak-balik di sana. Dapur bernuansa biru muda itu bersih dan rapih. Tidak ada piring kotor, tempat sampah kosong bahkan kompornya mengkilap.
Denada yang sudah mengganti pakaian mulai mengeluarkan beberapa bahan dari kulkas, mengeluarkan pisau serta telenan dan mengenakkan celemek.
"Lo mau bikin apa?" Tanya Maddie.
"Ayamnya mau di goreng dan di sous, sayurnya mau di cah dan tempenya di goreng tepung." Jelas Denada sambil menunjuk semua bahan yang tertata rapih di meja dapur.
"Gue bagian goreng ayam dan tempe." Maddie menoleh dengan dua alis terangkat "Kamar lo masih sama kan? Gue mau pinjem kaos."
__ADS_1
Maddie berlalu menaiki tangga meninggalkan Denada yang mencibirkan mulut. Belum 1 jam dan Maddie sudah membuat Denada kesal.
Di tengah kegiatan memasak kedua pelajar itu Denada mengingat tujuan utama Maddie datang ke rumah.
"Lo mau tanya apa?"
Maddie yang baru mengingatnya mengangkat tempe yang sudah masak dan mengganti dengan ayam. Dia mencuci tangan dan mendekat pada Denada yang sedang menghaluskan bawang. Aroma daging ayam yang sudah di laburi garam dan bawang putih mulai menyapa indra penciuman
"Tante Devi dan Om Richard kakak beradik kan?"
Denada memberi tatapan malas pada Maddie, "Topik ini lagi?"
"Penting."
"Iya." Jawab Denada malas.
"Udah berapa lama sejak kematian Tante Devi?"
"6 tahun lalu kalo gak salah."
"Kejadian Om Jim juga 6 tahun lalu." Gumam Maddie pelan, "Lo tahu gak penyebab Tante Devi meninggal?"
Denada melepas pisau dan meletakkan kedua tangan di pinggang, "That's way out of my line. Lagian lo kenapa sih?"
"Penasaran. Soalnya kejadian Om Jim beberapa tahun lalu memakan beberapa korban dan entah kenapa bokap gue sempat singgung soal Tante Devi. Gue rasa nyokapnya Leon salah satu korban."
"Itu bukan urusan kita, Mads. Ada polisi. Itu tugas mereka. Dan gue yakin Will gak mau lo kepo-kepoin masa lalu ayahnya." Kata Denada, "Oh and FYI, Tante Devi meninggal karena kecelakaan."
Setelah itu keduanya diam. Tidak ada lagi yang bercerita tentang kasus Jimmy Adhicandra. Keduanya telaten dengan tugas masing-masing. Meski begitu Maddie masih di liputi penasaran.
********************************************
Pulang dari rumah Denada, Maddie mengajak Gavin menemaninya beli buku di toko buku sekaligus singgah beli roti di toko roti Singapore. Gavin sempat bertanya kenapa kakaknya tidak mengajak Zoe atau Alis tapi tidak di tanggapi.
"Zoe sama Alis mana? Kok udah jarang main ke rumah?" Tanya Gavin saat mereka sedang mengantri.
"Gak temenan lagi." Balas Maddie.
"Kalo Zoe dan Alis bukan teman lo lagi, dan Inka juga bukan. Trus teman lo siapa?"
Maddie terdiam dan melirik Gavin singkat sebelum membalas, "Will."
"Papa marah lo temanan sama dia."
Maddie mengangkat bahu tak acuh, "Gak perduli."
"Bokapnya seorang kriminal, Mads."
__ADS_1
Netra hazel Maddie memancarkan amarah. Dia sudah cukup menahan emosi sejak orang-orang mulai menyuruh dia menjauh dari Will karena kesalahan ayahnya.
"Gue temenan sama anaknya, bukan bokapnya."
Gadis itu menekan setiap kata. Dengan volume suara yang hanya bisa di dengar oleh Gavin, Maddie memperjelas bahwa dia tidak mau lagi di tegur karena berteman dengan William.
"Ok fine." Balas Gavin, "Tapi lo harus berhati-hati. Gue denger nyokapnya Leon meninggal karena Om Jim."
Maddie yang hendak menaruh buku yang mau di beli di meja kasir mendadak berhenti. Dia menoleh ke arah Gavin dengan mata melotot sebelum dia meletakkan buku tersebut, dan membayar tanpa mengambil uang kembalian, menarik Gavin secepat mungkin keluar dari toko buku. Kedua anak Chester itu perlahan berjalan ke toko roti Singapore dan mulai bercerita.
"Maksud lo Tante Devi korban Om Jim 6 tahun lalu?"
"Iya. Katanya ada 6 korban, dan Tante Devi merupakan korban terakhir." Kata Gavin setengah berbisik.
"Kata siapa?"
"Papa. Gue gak sengaja dia bicara sama mama tadi di halaman belakang."
Maddie menggeleng. Dia menerima 2 informasi berbeda dalam kurun waktu 1 hari. Pikirannya kacau.
"Itu gak mungkin. Nyokapnya Leon meninggal karena kecelakaan."
Gavin mengangkat satu kening, "Kata siapa?"
"Denada. Dia bilang sih gitu."
"Aneh."
Ya, Maddie tahu. Aneh. Tidak mungkin Chester Blake bohong dan tidak mungkin juga Denada berbohong. Dia hanya mengatakan apa yang di ceritakan Leon.
Aroma cokelat serta roti yang baru di keluarkan dari oven memenuhi ruangan tersebut. Maddie serta Gavin pun mulai mengambil nampan dan memenuhi alas tipis itu dengan berbagai macam roti.
"Kalo memang Tante Devi korban Om Jim, dan Will serta Leon tahu, kenapa mereka temenan?" Gavin bertanya, "Gak salah juga sih, tapi kalo mama di bunuh orangtua temen gue, gue marah. Gue gak mau lagi temenan sama dia, liat mukanya aja gue gak sudi."
"Iya juga sih."
Mau menghindari kenyataan tapi fakta sudah nampak jelas. Jimmy Adhicandra memang pembunuh berdarah dingin, dan masuk akal jika Leon tidak mau berteman dengannya. Tapi sekarang baik Leon dan Will berteman dekat.
"Tapi kalo Tante Devi bukan korban, dan nyokapnya Leon memang meninggal karena kecelakaan, kenapa Papa bilang kita gak perlu tahu tentang kematiannya Tante Devi?"
Pertanyaan berturut-turut Gavin cukup mengundang rasa penasaran. Kenapa? Itu pertanyaan utama dalam kasus mencurigakan ini.
"Kok ada yang ganjil ya? Denada bilang lain, papa juga bilang lain. Gue gak mungkin nanyain ke Will atau nyokapnya siapa korban Om Jim 6 tahun lalu."
"Lo juga gak mungkin tanya Leon. He hates you." Gavin benar. Meski hubungan Denada dengannya mulai membaik, Leon masih membencinya.
Maddie hanya bisa berharap. Berharap semua kebenaran akan terungkap secepat mungkin. William dan Leon merupakan dua orang terlibat sebuah rahasia besar. Entah mereka menyadari itu atau tidak, tapi orang terdekat mereka berbahaya.
__ADS_1
********************************************