The Witness

The Witness
Bab XIII


__ADS_3

"Penemuan mayat seorang perempuang menggemparkan Malalayang. Jenazahnya sudah di bawa ke rumah sakit RSUD Malalayang untuk di autopsi."


Madelline mengawali pagi di kelas dengan menonton berita di ponsel. Berita tentang penemuan mayat lagi di kota Manado. Sungguh sangat jarang terjadi kasus seperti ini, dan kasus kali ini sungguh mengerikan. Polisi pun sudah mulai mengeluarkan perintah agar tidak lagi beraktifitas apalagi seorang diri di atas jam 10 malam.


"Hei."


Maddie terkejut kala seseorang memukul mejanya. Maddie melepas headset dan menatap sosok itu kesal.


"Kaget bego." Ujar Maddie ketus.


William malah tertawa dan duduk di samping Maddie. Laki-laki itu tidak lagi menyembunyikan kedekatan mereka, dan pagi ini dia membawa sepotong roti, dan menyuapi Maddie. Gadis menerima itu dengan lahap.


"Tegang amat. Lagi ngapain?"


Maddie menelan rotinya sebelum bercerita. Dia menatap Will serius, "Penemuan mayat di Malalayang."


"Semoga itu tubuhnya Angelina." Sahut Will yang di balas tatapan tak senang oleh Maddie. "Lebih baik di temukan daripada enggak kan?"


Maddie hanya bisa menggeleng. Tidak percaya Will seenteng itu tentang kasus ini. Kasus yang sedang ramai di bicarakan. Kasus yang membuat Kota Manado trending topik di berbagai sosial media.


"Lo gak penasaran sama kasus ini?" Tanya Maddie penasaran yang hanya di balas dengan gerakan bahu.


"Kita gak bisa bikin apa-apa."


Mrs Linda masuk dengan tangan penuh buku. Dia meletakkan tasnya di kursi lalu meletakkan tumpukkan buku itu di atas meja. Para murid kelas 12 IPS pun berlari kecil, ke tempat duduk masing-masing.


"Selamat pagi. Keluarkan buku kalian dan tugas berada di halaman 58." Mrs Linda berkata, "Bella, tolong bagikan ini ke teman-teman yang lain."


"Tugas berapa Mrs?" Tanya seorang murid setelah masing-masing sudah mendapatkan buku.


"Tugas 3. Kalian akan berkelompok 4 sesuai dengan deretan tempat duduk, dua depan dua belakang."


Maddie yang duduk paling belakang pun hendak memanggil dua teman yang duduk di depannya saat Zoe dan Alis mengusir mereka. Keduanya kemudian duduk menghadap Maddie yang juga menatap mereka kesal.


"Hai Maddie."


"Ternyata kita sekelompok ya?"


Kekehan Zoe dan Alis mampu membuat Maddie emosi. Dia mengepalkan tangan di bawah meja, mencoba meluapkan emosinya pada genggaman tangan. Tapi belum lama Zoe dan Alis di sana, Will tiba-tiba duduk di samping Maddie.


"Gue di sini." Katanya cepat dan segera mengeluarkan buku catatannya.


"Lo di depan Will."


Cara Alis mengusir Will secara tidak langsung membuat Will tersenyum miring. Dia menatap Alis dan Zoe bergantian.


"Sintia gak masuk kan? Maddie sendiri dan kelompok gue kelebihan 1 orang karena si Greg yang juga duduk sendiri." Will menyenderkan punggung, "Lo berdua di kelompok sebelah. Mereka kekurangan orang loh. Mau gue bilang ke Mrs Linda?"


Ancaman Will berhasil membungkam mulut Zoe dan Alis. Dua gadis itu kemudian mengeluarkan buku tulis dan tidak lagi bercerita. Maddie bernapas lega karena Will bisa menutup mulut mereka. Maddie menatap Will dengan mulut terbuka, mengucapkan terimakasih tanpa suara, yang di balas anggukan.


"Kalian punya waktu 30 menit sebelum kita akan membahas ini bersama."


Kata kelompok seperti tidak berarti di meja Maddie. Maddie serta Will saling membantu dan menjelaskan, tanpa mau mengajak Zoe dan Alis yang juga sekelompok.


"Kalian kok dekat ya?" Tanya Zoe, "Maddie udah ngomong apa aja?"


"Paling juga PHP." Sambung Alis.


Maddie maupun Will tidak menanggapi tanggapan dua sosok di depan mereka. Dan itu membuat Zoe serta Alis jengkel. Mereka terus bercerita hingga Zoe teringat sesuatu.


"Iya ya. Mana mungkin Maddie mau sama William. Bukan tipe dia banget."


"Jelaskan kenapa nama gue bukan tipe Maddie?"


Tepat. Will termakan umpan Zoe dan Alis mulai mengerti maksud Zoe. Gadis itu tersenyum miring, sedangkan Maddie terlihat penasaran akan apa yang mau di katakan Zoe.


"Lo emang kaya dan ganteng. Tapi ayah lo mantan-"


"Cukup!" Bentak Maddie.

__ADS_1


Seluruh penghuni kelas sontak mengalihkan pandang ke arah Maddie, Zoe, Alis dan Will. Zoe terkekeh. Rencananya berhasil.


"Madelline Blake." Teguran Mrs Linda membuat Maddie menunduk.


"Maaf Mrs." Kata Maddie.


"Tolong hargai jam mengajar saya. Saya tidak akan mentoleransi murid-murid yang tidak menghargai waktu saya." Guru berbadan langsing ini sudah berdiri dari tempatnya dan menatap Maddie tajam.


Pemilik netra hazel itu hanya bisa menunduk dan meminta maaf lagi, "Aku mengerti. Aku minta maaf Mrs Linda."


"Sekarang nomor 2 Mads."


Bisik Will. Dia menyodorkan pulpen pada Maddie dan menunjukkan penjelasan nomor berikutnya di buku yang di bagikan sebelumnya. Maddie pun menurut dan melanjutkan kegiatannya yang lagi-lagi di ganggu Zoe.


"Yaudah, diem aja. Faktanya udah di depan mata Will. Lo udah nembak? Atau sekedar ungkapin perasaan lo?"


"Itu bukan urusan kalian." Balas Will datar, tanpa mengalihlan pandang dari buku.


"Kalo iya, dan lo di tolak atau bahkan belum di kasih jawaban, the problem is you. Not Mrs Perfect always winning."


Will tertohok. Dia melirik Maddie singkat, lalu kembali menulis. Kali ini perkataan Zoe mampu membuatnya bungkam selama jam pelajaran.


********************************************


"Will."


Panggil Maddie lembut.


"Hm?"


"Kantin yuk."


"Gue udah makan." Balas Will singkat. Matanya tidak terlepas dari ponsel pintarnya.


"Gue mau ke kantin. Mau titip sesuatu? Cemilan? Atau air?"


"No thankyou."


Maddie hanya membuang napas pelan dan meninggalkan kelas. Sepanjang perjalanan Maddie menggerutu kesal.


"Zoe sialan. Mulut ember."


Kaki bersepatu hitam menuntun sang pemakai tiba di kantor kepala sekolah. Dia mengetuk sekali sebelum mempersilahkan diri masuk. Ia melirik Afrian Blake yang tengah sibuk mengetik di laptop, dan melempar tubuhnya di atas sofa empuk berbahan beludru di ujung ruangan.


AC ruangan membuat setidaknya pikiran gadis itu adem.


"Maddie."


Suara bariton adik dari Chester Blake menyapa pemilik netra hazel itu. Dengan malas ia menatap pria beranak 3 itu dengan dua alis terangkat. Sungguh kejadian di kelas membuat perasaannya tidak enak pada Will.


"Kamu sudah dengar pengumuman polisi?"


Afrian menutup laptop, dan beranjak dari kursi empuknya di balik meja, dan mengambil tempat di depan Maddie. Ia melepas kacamatanya dan mengeluarkan sebatang rokok. Asap perlahan keluar kala ujung puntung telah menyala. Aroma mentol pun bisa Maddie cium.


"Kawasan bebas rokok paman. Itu auran mu." Sindiran Maddie membuat Afrian terkekeh. Ia memang membuat aturan itu, tapi khusus murid. Bukan guru, itu katanya.


Maddie memperbaiki posisinya, duduk menghadap Afrian, "Pengumuman tentang jam keluar malam? Sudah."


Afrian mengangguk. Ia menghisap rokok itu dan memangku kaki yang di balutkan celana kain hitam. Pria itu menatap Maddie serius.


"Paman tahu kamu sering keluar dan pulang lewat jam 9 malam. Sebaiknya kebiasaan mu itu di hilangkan." Kata Afrian, "Paman sudah bicara dengan Papa kamu. Dan dia akan mencari security khusus untuk rumah kalian."


Maddie mendesah pelan. Dia tahu kasus ini mempengaruhi keamanan Kota, tapi tidak terpikirkan hingga menyewa seorang security di rumah kawasan elit, yang juga masuk keluar perumahan tersebut harus melalui cctv dan satpam.


"Ini karena Sophie dan Angelina kan?"


"Bukan hanya mereka." Balas Afrian cepat.


Maddie mengangkat satu kening, "Tapi di berita Sophie dan Angelina merupakan perempuan-perempuan yang menghilang dan di temukan meninggal."

__ADS_1


Afrian mendekat, dan melirik pintu masuk sebelum bercerita, "Sophie dan Angelina merupakan 2 dari 6 korban. Karena mayat mereka di temukan langsung oleh masyarakat."


"6 korban?"


Maddie terkejut. Dia hanya tahu Sophie dan Angelina. Tidak tahu ada korban lagi. Padahal dia sudah yakin tetangganya adalah si psikopat itu, tapi setelah mengetahui ada 6 korban dia mulai ragu. Apakah Richard benar-benar terlibat atau hanya kebetulan saja?


"Ada psikopat yang masih berkeliaran di kota dan korbannya perempuan berusia 14 - 30 tahun." Afrian berbicara setengah berbisik, "Dan satu lagi. Paman minta kamu jauhin William Adhicandra."


"Apa hubungannya dengan Will? Aku dan dia udah temenan sejak hari pertama masuk sini."


Tentu saja gadis 17 tahun itu tidak terima. Will dan dia sudah dekat. Will bahkan sudah mengungkapkan perasaannya dan tidak bisa di sembunyikan lagi kalau dia mulai menaruh rasa pada sosok bermarga Rantung itu. Menjauhi Will adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan saat ini.


"Polisi mencurigai ayahnya. Kamu tahu kan dia-"


"Mantan narapidana. Kasusnya.. oh astaga."


Maddie menutup mulut. Teringat kejadian 6 tahun lalu yang juga menggemparkan Kota Manado. Seorang psikopat membunuh 6 perempuan, secara acak. Tubuh mereka pun di letakkan asal, membiarkan masyarakat menemukan tubuh mengenaskan mereka. Dan pelaku saat itu adalah Jimmy Adhicandra. Ayah dari William Adhicandra.


********************************************


Maddie menemukan Olivia di ruang tamu dengan tumpukkan berkas mengitarinya. Wanita berprofesi dosen sekaligus pemilik rumah makan terkenal di Kota itu sibuk menyortir beberapa berkas sembari menulis sesuatu di buku catatan.


Maddie mendekat, mencium sang mama, membiarkan aroma parfum mahal miliknya masuk dalam indra penciuman dan duduk sedikit jauh dari wanita 40 tahun itu.


"Ma, masih inget Tante Indah?"


"Indah Ruata?" Olivia membalas dengan mata yang masih tertuju pada lembar kertas.


"Iya."


"Kenapa emangnya?"


Dengan berhati-hati nemilih kata, Maddie memberanikan diri untuk menanyakan hubungan kedua wanita karir itu.


"Mama kok udah jarang keliatan sama Tante Indah? Biasanya kalian hangout bareng."


Olivia melirik Maddie singkat lalu kembali dengan pekerjaannya, "Rumah Indah jauh. Kita di sini dan mereka di Mapanget." Olivia melepas kacamata serta lembasan kertas dalam genggaman, "Kenapa mendadak tanya?"


"Penasaran aja. Beberapa bulan lalu kan mama dan Tante Indah sering keluar bareng."


Olivia beranjank dan berpindah duduk bersama Maddie. Dia membelai kepala gadis itu dan tersenyum.


"Papa kamu udah larang mama bergaul sama dia."


"Karena Om Jim yang membunuh beberapa orang?"


"Tentu saja." Chester mendadak muncul dengan sebuah laptop, duduk menghadap dua perempuan yang tinggal bersamanya. "Tapi Indah dan William gak tahu apa-apa soal itu. Jim bergerak sendiri. Dan setelah kejadian itu Indah langsung menceraikan Jim dan William masih mengunjungi ayahnya, memaafkannya sebelum.. kamu tahu sendiri." Lanjutnya.


Netra hazel Maddie melotot ke arah Chester, "Dia di hukum mati?"


"Tidak Maddie. 3 bulan setelah masuk penjara Jim mengidap Asma dan sering bolak-balik Rumah Sakit." Jelas Olivia. Maddie sempat mengira ayahnya Will di hukum mati karena tidak pernah terlihat.


"Om Jim sekarang di mana?"


Olivia hanya mengangkat bahu sedangkan Chester membuang napas pelan, "Entah. Dia sudah bebas 2 tahun lalu setelah 5 tahun di penjara dan entah berapa rupiah dendanya." Kata Chester, "Seharusnya dia di hukum 40 tahun penjara, tapi entah apa yang dia lakukan, dia berhasil mengurangi hukumannya dan membayar sangat sangat mahal."


"Dia sudah bebas." Gumam Maddie.


"Kenapa mendadak tanya-tanya tentang Jimmy Adhicandra?" Chester mengeluarkan aura penasaran kala sang putri secara tiba-tiba mau mengetahui kasus 6 tahun lalu.


Maddie gugup. Dia menggeleng kepala tegas, "Enggak kok. Penasaran aja."


"Polisi sudah menetapkan Jim sebagai tersangka dan tadi siang Jim sudah di bawa untuk di introgasi."


Olivia kini menatap suaminya heran, "Tapi kenapa Jim? Apakah karena masa lalunya?"


"Bukan. Polisi menemukan rekaman CCTV di malam saat Angelina masih hidup dan di situ dia terlihat beradu mulut dengan Jim."


********************************************

__ADS_1


__ADS_2