The Witness

The Witness
Bab X


__ADS_3

Hujan melanda kota Manado saat matahari sudah tidak menampakkan diri. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh saat air yang turun semakin deras. Halte bus, warung-warung sampai gerai sudah terpenuhi. Berbeda dengan orang lain yang mencari tempat berteduh, Denada malah berjalan dengan santai di bawah rintik hujan membiarkan sekujur tubuh basah dan kedinginan. Salah satu hal yang tidak di ketahui orang, berjalan di bawah hujan deras membuat gadis itu tenang.


Pikirannya terlalu sibuk memikirkan kejadian siang tadi saat sebuah mobil berhenti di depannya dengan lampu sorot yang menyilaukan pandangan.


"Lo gila?"


Hanya dua kata yang keluar dari mulut Maddie saat mendapati Denada yang dengan santainya berjalan di cuaca seperti ini. Denada hanya mengacuhkan gadis kaya itu dan melanjutkan perjalanan saat lagi-lagi mobil keluarga Blake menghalanginya.


"Get in. Gue antar lo pulang."


"No thanks."


Penolakan Denada tentu sangat membuat Maddie emosi, tapi sekuat mungkin dia mencoba untuk tidak membentak bahkan memaki Denada yang sangat berani menolak ajakannya.


"Lo masuk sekarang atau gue ikut lo kehujanan. Pilih mana?"


Denada menggerutu kesal sebelum membuka pintu dan masuk. Maddie tersenyum penuh kemenangan melihat Denada menuruti keinginannya meski harus di ancam. Pemilik netra hazel itu langsung menutup kaca mobil dan membersihkan cipratan air sia.


"Harus di ancem dulu?" Maddie berujar santai dengan pandangan yang kini melekat pada ponsel pintarnya. "Jalan Pak Yon."


"Daya tahan tubuh lo lemah. Kehujanan dikit langsung sakit." Denada membalas dengan datar.


"Gue tahu." Maddie tersenyum miring, "Lo pikir gue bener-bener akan keluar di cuaca kayak gini? Hanya untuk main hujan sama lo?


"Mau lo apa sih?" Denada mulai meninggikan suaranya kesal pada Maddie.


"Sorry."


Denada hanya bisa melotot mendengar Maddie meminta maaf, yang tentu sangat langka terjadi, namun Denada tidak mau Maddie menyadari itu dan memutuskan kembali berkutat dengan pikirannya.


Sepanjang perjalanan mereka berdua diam. Permintaan maaf Maddie membuat situasi sangat canggung.


Hampir sampai di depan rumah Denada, Maddie meneliti tempat itu dengan seksama. Tidak ada yang berubah dari tempat itu, semua sama seperti beberapa tahun lalu, tepatnya terakhir kali Maddie menginjakkan kaki di rumah tersebut.


"Tante Mala ada?"


"Enggak."


Seketika Maddie teringat perbincangan tadi dengan Gavin. Perbincangan saat mereka memutuskan untuk menjaga harak dengan Richard Hartono, termasuk Leon.


"Jalan terus Pak Yon."


"Eh?" Denada menatap Maddie keheranan.


"Di rumah ada Gavin. Kita bisa movie marathon sambil ngemil. Nanti gue minta Bi Foni mengganti seprei di kamar tamu."


Pandangan aneh Denada masih saja ia tunjukkan pada Maddie seiring setiap kata yang keluar dari mulut Maddie sangat tidak biasa. Pertama permintaan maaf dan sekarang ajakan menginap.


"Kepala lo kebentur di mana?" Sarkasme Denada sangat menohok hingga Maddie hanya bisa tersenyum masam.


"Gue gak mungkin biarin lo sendiri di rumah dengan cuaca kayak gini. Ada psikopat yang berkeliaran kota, and as much that i don't like you, i don't want you dead either." Maddie menoleh ke Denada, "Lo bisa pake baju-baju gue. Kita masih 1 ukuran kan?"

__ADS_1


********************************************


"Bi tolong bikinan teh panas 3 ya. Satunya di kasih ke Pak Yon." Maddie menyahut sembari melepas sendal di balik pintu.


"Ada lagi non?"


"Panaskan air lebih, kita mau bikin mie ceplok."


Bi Foni muncul dari dapur masih dengan celemek yang menggantung, "Bibi bisa bikin sekalian."


"Gak perlu bi." Tolak Maddie halus.


Bi Foni menoleh ke arah Denada, sambil membungkuk pelan, "Selamat malam non Inka."


"Selamat malam bi." Denada membalas penuh senyuman pada wanita berambut sebahu itu.


Maddie mengajak Denada masuk kamarnya, menyediakan air hangat untuk dia mandi, sekaligus pakaian untuk dia kenakan. Sambil menunggu Maddie memutuskan mengunjungi adiknya di kamar sebelah.


"Gavin!"


"Paan?" Sahut Gavin sembari membuka pintu kamar. Rambut remaja 14 tahun itu berantakan dan tidak mengenakan kaos saat bertemu dengan Maddie.


"Bantuin gue bikin mie ceplok. Kasian Denada kedinginan." Setelah mengatakan itu Maddie berbalik, menuruni tangga membiarkan Gavin yang memanggilnya.


"Pake kaos. Mau pamer apaan? Sixpack aja masih khayalan." Sindir Maddie.


"Inka maksud lo? Dia di sini?" Gavin tidak mengindahkan sindiran Maddie. Dia malah fokus pada nama yang di sebutkan sang kakak.


Maddie menyodorkan beberapa bungkus mie pada Gavin dengan sebuah gunting, dan dia berkutat dengan peralatan makan serta telur dan daun bawang untuk di campur.


"Sejak kapan lo perhatian sama Inka?"


"Shut up Gavin!" Maddie mengumpat.


Gavin hanya merespon dengan tawa mendapati ia bisa membuat sang kakak emosi mengenai hubungannya dengan Denada yang sepertinya akan membaik.


Beberapa menit kemudian Denada turun, masih dengan rambut di gulung handuk. Ia mengenakan hotpants putih serta kaos merah yang pas di badan. Aroma vanila, khas Maddie tercium saat dia mendekat.


"Ada yang bisa gue bantu?" Tanya Denada saat dia memasuki dapur mewah keluarga Blake.


Maddie menyodorkan beberapa piring serta sendok dan garpu, "Atur ini di meja."


Seporsi mie ceplok, kecap serta cabe hijau sudah di atur di atas meja kayu. Gavin sudah duduk di sana, setelah mengatur gelas dan sebuah teko kaca berisikan air minum.


"Makan aja. Gue mau ajak Bibi dan Pak Yon."


Sepeninggalan Maddie, Gavin mulai mengambil mie dan mendekat pada Denada.


"Kakak gue ngancem lo?"


"Hah?" Denada tidak mengerti maksud Gavin.

__ADS_1


"Lo di sini pasti di ancem kan? Atau dia bully lo lagi?"


"Maksa tepatnya." Sahut Denada.


"Mereka udah makan dan sekarang mau pulang." Kata Maddie. Dia pun ikut mengambil piring dan mengambil mie.


"Ok Maddie, jelasin alasan sebenarnya Inka di sini." Gavin menyahut dengan nada memerintah yang membuat Maddie memutar bola mata malas.


"Gue ketemu dia di jalan, kehujanan dan kedinginan. Di rumahnya gak ada orang, jadi gue maksa dia nginep. End of story."


Singkat padat jelas. Maddie tidak mengatakan apapun dan tidak berniat mengeluarkan sepatah kata, terlebih mengenai alasan dia mengajak Denada.


"Ok jadi kita mau nonton apa?" Maddie mengalihkan cerita. "Gak asik kalo abis makan kita langsung tidur."


"Mission Impossible, Tom Cruise." Jawab Gavin cepat.


"No." Balas Maddie cepat.


Gavin hanya mendengus kesal, "Gue gak mau love story. Jijik nonton sama lo berdua."


"Harry Potter?" Saran Denada.


"Deal."


********************************************


Maddie, Gavin dan Denada menonton Harry Potter bagian ke 7 & 8 hingga tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam.


"Harus ya Fred meninggal?"


"Sial. Nangis lagi gue."


"Udah selesai." Kata Gavin datar, "Fred sudah mati 50 kali setiap kali kita nonton Deathly Hollows. Dan 50 kali juga kalian menangis."


Setelah selesai, Denada memutuskan mengumpulkan sisa cemilan mereka dan membersihkan meja sebelum masuk tidur. Saat Denada menuju ke dapur untuk membuang rumput, Gavin mendekat pada Maddie.


"Mads, lo mau cerita masalah 'itu' ke Inka?"


Maddie menggeleng tegas, "Kita belum tahu pasti."


"Trus kenapa Inka di sini?"


Masih dengan berbisik mata Maddie tidak lepas dari arah dapur, takutnya Denada muncul secara tiba-tiba dan memdengar percakapan mereka.


"Udah 2 minggu dan psikopat itu belum menyerang. Kalo memang psikopat itu Om Richard, Denada pasti jadi target. Dan cuaca malam ini sangat membantu situasi tersebut." Jelas Maddie, "Tante Mala gak ada dan Leon juga gak ada Denada lebih aman di sini."


Saat Denada keluar dari dapur tiba-tiba suara ketukan terdengar. Maddie, Gavin maupun Denada saling menatap dengan mata melotot. Semua ketakutan. Chester dan Olivia Blake tidak berada di rumah karena urusan bisnis di luar kota. Pak Yon serta Bi Foni juga sudah pulang ke rumah masing-masing.


"Siapa yang bertamu jam 12 tengah malam?"


********************************************

__ADS_1


__ADS_2