Three Siblings Indigo

Three Siblings Indigo
Berdamai Dengan Papa


__ADS_3

Mia senang akhirnya diizinkan menginap sampai hari minggu, jadi mereka bisa menyelesaikan PR mereka yang menumpuk Mia membawa pakaian dan beberapa buku untuk belajar.


Sesampainya di rumah Dania langsung keringat dingin ia ingin bicara dengan ayahnya yang sedang bersama teman Perwiranya, “Nia gua takut banyak perwira.” Dania menjelaskan memang apa yang salah mereka juga punya hati dan kebaikan.


“Papa,” panggil Dania yang masih dengan seragam sekolahnya.


“Ada apa?” tanya Nathan dengan ketus lalu para Perwira teman Nathan menatap kedua gadis berseragam SMP itu dengan menunduk. Dania menjilat bibirnya agar tidak kering dan menyelipkan rambutnya di telinga.


Tangan Dania meremas kerudung yang tadi di pakainya karena ini jum’at. “Mia-Mia teman Nia mau nginep disini sekalian ngerjain tugas yang numpuk,” ujar Dania dengan tergugup.


“Terus?!” tanya Nathan dengan ketus melipat tangannya di dada.


“Sekalian ngajarin Rendy, aku tadi udah beli seragaman buat Rendy.” Nathan menatap putrinya lalu mengangguk.


“Ya boleh, bagus ada teman. Nanti malam Papa mau dinas hanya semalam juga Satria jadi selain Bi Jum kamu juga di temani.” Dua gadis berseragam itu langsung tersenyum dan lega lalu segera masuk kamar.


Teman-teman kesatuan Nathan hanya menanyakan hal itu, “aku tidak permasalahkan dia mau berteman dengan siapa bagiku tidak ada anak haram.” Nathan bicara sambil mengeluarkan sebatang rokok.


“Bagus jadi nanti malam kita rapat buat pembagian tugas kamu ke Bandung,” jelas salah satu Jendral seangkatan Nathan.


“Ya aku akan sekolahkan putriku di sana, lagi pula jika nilainya kurang cukup aku punya orang dalam di tambah Dania pintar dalam matematika.”


Nathan berencana memasukan putrinya di SMA negeri 5 Bandung, tapi lagi pula sebentar lagi Dania lulus dan mulai wisuda. Nathan sengaja memasukannya ke sekolah itu agar putrinya mengetahui jati dirinya yang sebenarnya.


Di kamar Mia meletakan tasnya lalu mereka keasyikan di kamar, tak lupa mereka mengajak Rendy. Anak itu menyalami Mia lalu mereka berbincang sambil minum yang diantarkan Bi Jum.


“Makasih ya Bi,” ucap Dania.


Mereka berbincang satu sama lain, lalu Mia mengatakan jika nanti SMK ia mau di Cipanas Bogor kampung halaman Ibunya lagipula selain toko karpet di Cipanas ayahnya juga akan menjadi Manager di Café aljazzera di puncak.


“Gua rencananya mau sekolah di SMK Al-Irsyad Cipanas,” jelas Mia.

__ADS_1


“Terus warung makan nyokap lu gimana?” tanya Dania.


“Soal itu Nyokap gua mau buka warung kopi ama Kelola toko karpet di Cipanas,” jelas Mia sambil mencari jawaban di internet.


Rendy sedang asyik memainkan ponselnya sambil tiduran di paha Dania, “gua pegang janji lu sekarang lu minta maaf ama bokap lu.” Dania berpura-pura ke dapur dengan di antar Mia. Saat menuruni tangga ia masih melihat ayahnya berbincang dengan teman tentaranya.


Di dapur Dania berteriak pada ayahnya, “Papa!! Papa sini dulu sebentar!!” panggil Dania. Matanya memberi kode pada Bi Jum untuk memberikan kopi buat teman-teman ayahnya dan Mia bersembunyi di balik tembok.


“Apaan lagi sih bocah satu ini!!” ucap Nathan kesal.


Berjalan menuju dapur lalu ia menatap putrinya dengan marah sambil melipat dadanya di depan, “ada apa kamu teriak-teriak?!” kata Nathan dengan kesal. Tanpa babibu lagi Dania memeluk ayahnya lalu Nathan heran sebenarnya putrinya salah makan atau kerasukan mahluk.


“Aku minta maaf papa, aku salah!” mendengar itu Nathan langsung melepas paksa pelukannya lalu memegang kedua pundak putrinya ia menggoyang-goyangkan tubuh putrinya.


“Kamu-Kamu-kamu Dania ‘kan?” tanya Nathan sambil menguncang-guncangkan tubuh Dania.


“Ini aku Papa, kalo aku kerasukan apa badan aku keras?” tanya Dania.


Nathan langsung kembali memeluk putrinya hal ini yang di harapkan oleh Nathan lantaran ia amat merindukan momen ini bersama putrinya, “papa tolong maafin aku, aku cuman punya satu orang tua sekarang!” jelas Dania.


“Papa disini, sekarang tidak ada rasa kebencian di antara kita.”


Nathan mengakui kesalahannya dia memaklumi sikap putrinya kepadanya selama ini karena ia sendiri yang mengobarkan api kebencian tapi sekarang api itu sudah padam dengan sendirinya entah pikiran Dania yang dewasa atau karena hal lain tapi Nathan amat bahagia bersama putrinya.


***************


Malam ini Dania sedang mengajari Rendy mengerjakan PR besok anak itu sudah mulai sekolah, sedangkan Mia mengerjakan LKS mencari jawaban. “Ya udah aku biar minta tolong Bi Jum anterin makanan kesini dulu,” ujar Dania beranjak pergi saat menuruni tangga ia melewati kamar Nathan ia melihat ayahnya menggunakan seragam dengan lencana.


“Papa!” panggil Dania mendekati ayahnya.


“Ada apa?” tanya Nathan menatap Dania.

__ADS_1


“Papa mau berangkat malem ini?” tanya Dania kepada Nathan.


“Iya kamu jaga Rendy ya?” pinta Nathan, suara pria keturunan Magelang itu sangat rendah tidak seperti biasanya yang nadanya sedikit tinggi. Nathan menatap putrinya sudah beberapa tahun ini tak pernah saling berbicara dengan putrinya.


“Papa gak makan malem di rumah?” tanya Dania pada ayahnya.


“Ayah makan malem di tempat kerja sebelum rapat ada makan malam,” jelas Nathan.


Nathan berlalu tak lupa ia memeluk lalu mencium putrinya, setelah kepergian Nathan Dania ke dapur ia melihat Bi Jum sedang memasak dan memotong bumbu. “Bi Jum? Masak apa?” tanya Dania.


“Mau masak capcay sosis sama ikan bakar,” sahut Bi Jum.


Tiba-tiba Mia masuk dapur. “Loh lu kok disini?” tanya Dania kepada sahabatnya. “Gua bantuin lu bawain makan malem ke kamar,” pinta Mia pada sahabatnya.


“Kita makan disini aja,” ucap Dania. “Nanti lu panggil Rendy.” Dania bicara pada sahabatnya tak baik jika tamu di suruh memasak. “Gua mau masak gak enak aja,” ujar Mia pada Dania.


“Udah gak usah biar saya saja yang masak Nona berdua lebih baik belajar saja,” ujar Bi Jum kepada dua gadis ini.


Akhirnya dua gadis itu membantu Bi Jum bahkan dua gadis itu juga menyendokan nasi untuk Bi Jumi dan mengajaknya makan malam bersama. “Bibi udah jadi bagian dari keluarga Rejaya makan bareng Bi,” perintah Dania kepada Bi Jum.


“Gua biar panggil Rendy,” lanjut Dania lalu berlalu keluar dari dapur menuju kamarnya yang ada di lantai atas, Dania melihat Rendy sedang bicara dengan hantu anak perempuan berbaju putih.


“Rendy!” panggil Dania mendekati adiknya.


Hantu anak perempuan berbaju putih berwajah seumuran Rendy itu langsung pergi menghilang lantaran melihat kehadiran Dania, saat melihat Dania hantu anak perempuan itu langsung berujar. “Hah Noni Belanda,” ucap hantu anak perempuan itu.


“Rendy siapa dia?” tanya Dania kepada adiknya yang sedang menulis sambil bicara seolah di ajari oleh anak perempuan itu.


“Dia Utari Kak, liat dia pinter ‘kan?” ucap Rendy sambil menunjukan LKS matematika kepada kakaknya, Dania mengecek semuanya ia melihat tak percaya lantaran jawabannya hampir benar semua.


“Utari?” tanyanya. “Yaudah kamu ke bawah makan dulu, nanti kita ngomong lagi!” ajak Dania menaruh buku itu lalu mengajak Rendy turun menuju ruang makan.

__ADS_1


Dania tak mengerti mengapa semua hantu selalu menyebutnya Juffrouw atau Noni Belanda ia amat tak mengerti semua ini, apa ada rahasia yang tersembunyi. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di ruang makan.


Dania mengambil nasi untuk Rendy dan untuk lauknya Rendy mengambilnya sendiri bocah itu amat tak suka sayur, bahkan sayur capcay hanya diambil sayurannya saja. Dania sebagai seorang kakak menyuruh Rendy memakan sayurnya meski itu hanya wortelnya saja.


__ADS_2