Three Siblings Indigo

Three Siblings Indigo
Ketua Geng Bule Jatuh Cinta


__ADS_3

Hari ini minggu Dania menghabiskan waktu bersama sahabatnya juga Rendy, mereka bersama sedangkan Rendy tengah asyik menonton kartun. Dania dan Mia menyetel musik dengan menggunakan headset.


Karena PR sekolah mereka sudah selesai mereka menyetel lagu sambil membicarakan Instagram geng bulu yang followers nya sudah sampai jutaan karena beli. Tentu saja karena rata-rata dari mereka orang berduit semua.


“Dania kemaren si Billy DM gua!” curhat Mia kepada Dania.


“Terus lu bales?” tanya Dania kepada sahabatnya.


“Ya kagak lah,” ujarnya.


“Bagus, kalo bisa lu block aja tuh si rambut batu bata merah!” ungkap Dania yang kesal sambil menunjukan jempolnya ke arah hidungnya Mia.


“Apaan sih lo! Iri idung lo kagak mancung tarik pake vakum biar mancung!” ledek Mia.


“Dih kurang asem lu pinokio!” ucap Dania.


“Yaudah lu block aja tuh si rambut merah,” saran Dania sambil minum.


“Udah lagian gua capek masa dia calling gua jam satu malem, kebangetan bat.”


Dania tertawa sambil makan camilan, “hahaha ngapain tuh dia calling lu lewat IG?” tanya Dania tertawa. “Gua tanya ngapa lu calling gua jam 1 malem? Gua tanya gitu. Tahu gak kata dia apa?” ucap Mia.


“Ngomong apa si Billy?” tanya Dania kepada sahabatnya.


“Katanya Gabut minta gua ceburin ke lava tuh si rambut merah,” ungkap Mia yang kesal karena merasa terganggu.


“Jangan nanti berubah jadi kaya lavagirl ‘kan rambut dia merah,” kata Dania tertawa.


“Bang*e lu!! Dia mah bukan lavagirl nanti yang ada kaya banci jalanan!” maki Mia.


Rupanya Mia kesal karena setiap hari geng bule selalu menghina dan mencaci makinya dengan sebutan anak haram, tak ada yang berani membela kecuali para guru karena murid takut dengan geng bule.


Dania dan Mia menghabiskan waktu tapi tiba-tiba Pak Subroto mengatakan jika ada tamu seorang laki-laki katanya mengaku teman dari Dania. “Hah siapa Pak? Perasaan saya gak pernah punya teman laki-laki,” ujar Dania.


“Yaudah biar saya ke luar gerbang aja,” ucap Dania lalu menarik tangan Mia seolah mengajak.


“Siapa ya?” tanyanya kepada Mia.


“Emang siapa?” tanya Mia.

__ADS_1


“Kagak tahu asli, gua ‘kan maennya ama lu mulu kalo kagak maen ama lu maennya ama Niken.” Dania yang sudah sampai depan gerbang masih terus bicara sambil menatap sahabatnya.


“Mia napa muka lo?” tanya Dania melihat wajah Mia diam membeku seolah takut, bingung dan kesal.


“Mia lo kagak ke surupan setan budeg ‘kan?” tanya Dania lagi.


“Astagfirullah gua kok curiga jangan-jangan memedinya ada di depan gua,” batin Dania.


Louis bersama Billy berdiri di hadapannya dengan memakai jacket penampilan keduanya nampak mempesona dan cool tapi satu hal, Dania sama sekali tidak tertarik dengan dua orang di hadapannya ini.


“Mau apa lo berdua?” ucap Dania dengan nada yang ketus.


“Gua mau ketemu sama my wife,” sahut Louis.


“Siapa?” tanya Dania ia mengira si pirang akan mengincar Mia.


“Dania Anindita Rejaya,” kata Louis dengan percaya diri.


“Heh!! Makin kagak waras lu!! Kena panas makin kagak simetris!!”  maki Dania sambil berkacak pinggang menunjuk si sombong dengan telunjuknya.


“Aku tidak waras karena cinta,” ujar Louis nadanya mengikut Haji Roma Irama.


Sekarang giliran Billy yang berpuisi selayaknya Romeo kepada Juliet, “Dania sebanyak apapun bunga di taman tapi hanya ada bunga yang mekar yaitu dirimu.” Billy berceloteh seperti itu sedangkan Mia hanya tertawa terbahak-bahak mendengar keduanya.


“Lu berdua bikin gua darah tinggi ya!!” keluh Dania. “Udah deh atas izin allah lu berdua mending balik karena Abang ama Bokap gua lagi dinas, gak boleh ada orang laki masuk takut fitnah.”


Dania bicara lantaran ia tak mau berurusan dengan si biang rusuh, tak lama Satria pulang sambil membawa Amir dan dua orang anak buah. “Dania temen lu kok gak di suruh masuk,” ujar Satria yang masih dengan seragam militer.


“Bang mereka bukan temen gua!” ucap Dania dengan nada tinggi.


“Emang bukan temen tapi calon Adik Ipar Letnan,” kata Louis dengan nada percaya diri.


“Eh cangkem mu!! Sembarangan calon Adik Ipar!!” maki Dania.


“UDAH!!” lerai Satria.


“Astagfirullah!” teriak Dania sambil menutup wajahnya.


“Sabar Nia...Sabar,” ucap Mia.

__ADS_1


“Gua tempeleng lo!! Sabar mulu, udah kena mental gua.”


Dania di tambah drop dengan ceng-cengan teman Satria yang ke rumah, Dania menangis tanpa air mata di pelukan Mia.


‘Acik! Acik! Acik!’ ucap teman Satria yang rata-rata Tentara di tambah Satria juga ikut-ikutan.


‘Terima aja bule, ganteng, kaya lagi.’


Dokter Amir menimpali dengan ledekan, “Mia masuk kita jalan-jalan aja pusing gua bisa-bisa gula darah gua di mari!” ucap Dania.


Dania masuk dan menyuruh Mia bersiap-siap untuk berjalan-jalan melepas penat, Dania mengajak Mia ke kota Tua dengan mengajak Rendy. “Mau kemana lu pada tanya salah satu teman Satria menatap Mia?” ujarnya.


Tatapan salah satu teman Satria genit kepada Mia karena untuk standar orang Indonesia wajah Mia cukup menarik seperti ke arab-araban. “Eh genit nanti kau di toyor sama Wan Ahmed!” peringat Dania mengajak si Medan bicara.


“Siapa pula Wan Ahmed?” tanyanya.


“Bokap Mia,” sahut Dania.


“Boleh aku minta alamatmu biar ku lamar kau,” ujarnya sambil menarik turunkan alisnya.


“Mia ayo makin spaneng lu disini!!” kata Dania yang menarik Mia, “eh Rendy mana? Bocah gua?!” tanya Dania celingukan.


“Di kamar kali,” kata Mia.


“Astagfirullah dari tadi tuh bocah blom siap?” ujar Dania sambil menepuk jidatnya.


“Yaudah ayo kita samperin,” sahut Mia agar sahabatnya tak semakin kena mental.


Mereka berdua menaiki anak tangga lalu ia melihat di kamar Rendy sedang memakai minyak rambut dan mendadani rambutnya ala-ala Korea, “astafirullah Rendy!! Dari tadi juga!” keluh Dania yang kesal.


“Bentar Kak, gua lagi dandan biar nanti---” kalimat Rendy di potong oleh Dania karena terlalu lama.


“Nanti apa?” tanya Dania, “Di sana adanya Noni Belanda!! Mau lu di bawa ama kuntilanak kaya kemaren!!” ucap Dania.


“Iya elah, subhanallah punya kakak gini amat ya. Satunya bawel satunya tukang kepo nanya mulu kaya wartawan.” Rendy bicara seolah kakaknya sangat bawel.


Mereka akhirnya bersiap-siap menuju Stasiun pondok cina untuk menuju kota tua, Louis dan Billy ikut dalam hati Dania berontak tapi karena ancaman dari geng bule akhirnya mereka boleh ikut.


“Jauh-jauh apa lu!” ujar Dania tak suka dengan Louis bukan tak suka lebih tepatnya benci. Mia bersama Rendy seolah mereka akrab bahkan Rendy bertanya siapa kakak Bule itu. Mia menjawab jika Louis dan Billy adalah anak geng yang brutal di sekolah mereka.

__ADS_1


Hanya orang kaya yang boleh masuk, “Louis mengejar kakak kamu karena kakak kamu anak Jendral dan adiknya Letnan.” Mia menjelaskan kepada Rendy.


Rendy juga setuju dengan pendapat kakaknya mengenai Louis karena Rendy awalnya seneng bisa bareng sama bule siapa tahu di traktir tapi semuanya lebur di gantikan takut.


__ADS_2