
Dania tersenyum ia ingin kakaknya menikahi sahabatnya ia akan menyingkirkan stigma jika gadis Arab hanya boleh menikahi sesama Arab, sekaligus untuk menghilangkan kemampuan indigo yang di miliki keturunan Satria kemampuan yang membuat hidup mereka penuh derita.
“Lo apa-apaan sih!!” maki Satria.
“Dania kaki lo berdarah,” ujar Mia.
“Busset!! sini duduk gua obati dulu,” kata Satria sambil menarik adiknya.
Tangan Satria mengoleskan betadine untuk adiknya di kaki, “Bang dapur berantakan terus kita rapikan malam ini?” tanya Dania.
Satria tersenyum biar nanti gua ama Rizki aja, “apalah kau itu----” belum sempat Rizki menyelesaikan kalimatnya Satria mengisyaratkan lewat telunjuknya. Satria membereskan semuanya dengan di bantu keris miliknya, Satria merahasiakan soal keris itu kepada semua sahabat dan teman-teman kesatuannya bertugas.
Akhirnya Dania dan Mia kembali ke kamar setelah kejadian hari ini, sungguh hari yang menyebalkan sekaligus membuatnya muak serta takut karena hari ini Satria dan Rizki mengerjainya, untuk Bi Jum yang kesurupan dan mampu mengeluarkan kekuatan mahkluk gaib bagi Satria dan Dania hal itu biasa karena sejak kecil keduanya sudah terbiasa.
Tapi bagi Rizki dan Mia ini adalah pengalaman mistis dan pertama kali soal perdukunan, Mia masih diam mungkin ia trauma atas apa yang terjadi di dua hari belakangan ini. “Mia!” panggil Dania.
Mia hanya diam menatap kosong ke depan ia sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata pun. “Mia gua tahu lu takut, tapi gua ngerti perasaan lu__lu kecewa karena gua gak cerita dari awal soal ini sama lu,” jelas Dania sambil menyentuh tangan sahabatnya.
Mia diam sambil meneteskan air mata dan lengannya di perban tadi karena terkena pecahan piring, “hiks_hiks_hiks.” Mia terisak terlihat dari wajahnya gadis berdarah setengah Yaman itu ketakutan.
“Mia!” ujar Dania sambil memeluk Mia yang menangis sungguh ini pengalaman horor terburuk dalam hidup Mia, ia ketakutan. Dania juga bingung harus berbuat apa karena ia tak mengenal rasa takut sejak kecil karena bagi Dania hal itu lumrah sejak kecil, bagi Dania mahkluk gaib itu sama seperti manusia.
“Yaudah lu tidur aja besok mungkin lu bisa ngomong,” ujar Dania sambil membantu sahabatnya tidur besok adalah minggu mereka hanya bisa menjalankan hari mereka dengan hal mistis.
Dania memejamkan matanya ia tahu benar jika kali ini ia akan ke Batavia the black robe yang akan membantunya melewati lorong waktu, tapi kali ini perasaanya tidak enak ia merasa ada sesuatu yang mengintainya setiap saat.
Tanpa Dania sadari di jendela kamarnya ada sepasang mata menyala berwarna merah seperti zamrud merah menatapnya seolah mengintainya, tak lama sepasang mata itu menghilang bagai sebuah cahaya lilin yang mati di tiup angin.
__ADS_1
Dania antara dan tak sadar melihat ke cermin samping kasur ia melihat gadis Belanda sambil memegang kucing angora menatapnya, mengenakan topi yang besar dan gaun klasik. Tapi Dania memejamkan matanya lagi tapi saat ia perlahan kembali terbuka ia melihat seorang penari dari cermin.
Dania langsung membulat ia melihat wajah penari itu ada kemiripan dengan mendiang kakeknya dari pihak ibu. Dari kegelapan samping lemari ia melihat seorang laki-laki bermata sipit memakai seragam menghampiri penari itu yang tengah berias diri.
Kedua tangan pria bermata sipit dengan kulit putih khas Asia Timur memeluk pinggang penari berkulit cokelat itu sambil berkata dalam bahasa Jepang, “Itoshi teru sensō ga owattara kekkon shite Ōsaka de kiraku ni kurasu.” Artinya (Aku mencintaimu. Saat perang usai, menikahlah dan hiduplah dengan nyaman di Osaka.)
*************
Pagi ini Mia menghampiri Dania setelah mandi, gadis itu bicara pada Dania satu hal. Mia bicara ingin memutuskan hubungan persahabatan mereka karena ia sangat takut tapi Mia menyampaikannya dengan cara baik-baik.
“Gua takut,” ujarnya.
“Lu gak perlu takut ini hanya perbedaan, gua janji lu gak bakal ngerasain lagi kejadian kaya gini.” Mia menatap Dania lalu gadis berwajah Arabia itu memeluk Dania sambil menangis.
Juju ria tak mau memutuskan hubungan persahabatan ini karena hubungan persahabatan mereka sudah tiga tahun lamanya, mereka bersama dalam suka dan duka. Mia yang mengalami hinaan karena ia anak terlahir dari luar pernikahan dan Dania yang hidupnya tragis kehilangan ibunya berkelahi sekaligus bermusuhan dengan sang ayah.
Mia masih syok dengan kejadian Bi Jum semalam. Hari ini ayahnya pulang terdengar suaranya seperti memarahi Bi Jum karena sudah berani berniat jahat dengan keluarga rejaya, Bi Jum meminta maaf kepada Nathan.
Suara teriakan Nathan sampai terdengar sampai lantai atas Rendy juga melihat saat ayahnya memarahi ART rumahnya, Rendy melihat warna di atas kepala Bi Jum sekarang itu adalah warna tabiat dan sifat Bi Jum yang sebenarnya.
Jadi selama ini Bi Jum menggunakan pelindung yaitu mustika penari dan selendang pemikat, karena kemampuan Rendy belum sepenuhnya utuh jadi energi belum cukup menembus itu.
“MULAI SEKARANG KAMU SAYA PECAT!!” kata Nathan dengan marah.
“KELUAR DARI RUMAH SAYA DAN INI GAJIMU SELAMA SETAHUN!!” kata Nathan yang memberikan Bi Jum.
Bi Jumi keluar dari rumah dengan berlinang air mata, Nathan terduduk di sofa sambil menutup wajahnya dengan depresi. Nathan melakukan semua ini karena ia tahu Bi Jumi sudah memiliki suami dan anak.
__ADS_1
Dia tak mau wanita itu melakukan kesalahan seperti apa yang di lakukannya dulu kepada mendiang Nadia, Dania ingin menghampiri ayahnya tapi Rendy mencegah kakaknya dengan menahan tangannya.
“Ada apa Ren?” tanya Dania.
“Kak lebih baik jangan deketin papa dulu nanti lu kena marah juga ama papa,” tegas Rendy yang masih setia menahan tangan kakaknya.
Rendy mengetahui situasi dari warna yang ada dalam tubuh ayahnya dan Bi Jum saat ini, sungguh Dania mengangguk dan mengerti karena ia juga sangat percaya dengan kemampuan adiknya.
“Yaudah Rendy lu ke kamar gua sekarang! Di dalam kamar ada Kak Mia,” perintah Dania pada adiknya.
Bocah berumur sepuluh tahun itu mengangguk lalu pergi menuju kamar Dania, sedangkan Dania menuruni tangga setelah ayahnya mengusir Bi Jum. Dania ingin ke dapur berjalan secara diam-diam.
Nathan terduduk di sofa sambil mengusap wajahnya kasar ia menoleh ke samping kiri dan melihat putrinya berjalan diam-diam selayaknya detektif menuju dapur. “Dania!” panggil Nathan membuat Dania menghentikan langkahnya dan diam di tempat.
Pria itu berjalan mendekati putrinya wajahnya penuh amarah tapi dari matanya terlihat jika Nathan sangat tak berdaya dan tak bisa mengendalikan semuanya, “ada apa papa?” tanya Dania menghentikan langkahnya.
Dania takut jika Nathan akan berteriak dan memarahinya, tapi tanggapannya salah mengenai papanya. Nathan membelai kepala putrinya dia hanya bicara sambil memeluk Dania dengan kalimat penyesalan.
“Papa minta maaf kamu harus mengalami hal ini dalam hidup kamu, setelah lulus kita akan pindah ke Bandung kamu akan sekolah di SMA 5 Bandung.”
Setelah itu Nathan melepaskan pelukannya ia menaiki tangga dengan terisak selayaknya orang menangis. “Dania kamu harus menghadapi masalahmu sendiri,” batin Nathan.
Dania menuju dapur untuk mengambil air minum dan roti, tapi saat mengunyah setengah rotinya ia merasa perutnya bergejolak dan ia mengeluarkan isi perutnya di wastafel. Dania terkejut saat ia memuntahkan darah.
Tak lama ia merasa ada yang keluar dari mulutnya dan tersangkut di tenggorokan Dania mengambil dari dalam mulutnya ternyata isinya potongan rambut berwarna putih tidak panjang hanya seperti rambut yang terpotong-potong.
Lalu hidungnya seperti mimisan hal yang aneh yang keluar bukan darah melainkan cairan yang pekat berwarna hitam, Dania langsung menjerit membuat semua orang yang ada di rumah menghampiri gadis itu di dapur.
__ADS_1