
Di lorong rumah sakit dua pria gagah menjulang tinggi tengah membicarakan sesuatu, Amir dan Nathan sedang berbicara serius mengenai Dania.
"Maaf Komandan tapi bagaimana mungkin bisa anda menyia-nyiakan Dania?" tanya Amir dengan formal, Amir bekerja di rumah sakit tentara sekaligus menjadi tentara.
"Ini bukan urusan kamu, sebaiknya kamu bekerja saja." Nathan bicara sambil menepuk-nepuk bahu Amir.
"Komandan saya ingin bicara sesuatu...," amir mengutarakan niatnya akan satu hal mengenai Dania.
"Apa yang mau kamu bicarakan katakan saja," kata Nathan sambil terus berjalan beriringan bersama Amir melewati lorong rumah sakit, menuju kamar Dania.
"Say--Say--S-Saya Mau--Ma--ma---" belum sempat Amir menyelesaikan kalimatnya Nathan menyingkirkan tubuh Amir lalu sosok itu memasuki tubuh Nathan, seketika pria berusia paruh baya itu tak sadarkan diri.
Amir hampir menjerit tatkala melihat sosok yang memasuki tubuh atasannya, wajahnya wanita tubuhnya penuh darah aromanya juga seperti bangkai.
Pria itu hampir muntah saat mencium sosok yang merasuki tubuh atasannya. saat memegang tangan atasannya berusaha mengeluarkan mahkluk itu.
Amir mendapat penglihatan mengenai sosok ini, seorang wanita melahirkan dan sengaja dibunuh oleh kekasih gelapnya. Lalu tangan dokter itu terbalut sarung tangan menerima suap berupa uang lembaran berwarna merah jika di total menjadi sepuluh juta.
Tapi apa tujuannya wanita ini dan bayinya dibunuh dan siapa oknum dokter yang berani melakukan hal sekotor itu, sungguh biadab kelakuannya.
Setelah mendapatkan penglihatan itu Nathan tersadar dan kepalanya terasa pusing, "saya tadi kenapa?" tanya Nathan menatap bawahannya.
"Tadi ada Qorin yang masuk ke dalam badan anda," jawab Amir lalu memapah Nathan menuju kamar Dania.
Ya, setiap manusia memiliki jin Qorin dalam tubuhnya. Tidak ada yang namanya arwah gentayangan karna roh manusia saat meninggalkan raga atau tubuhnya sudah pergi kepada penciptanya.
Jadi Jin Qorin itu adalah jin yang mengikuti manusia dari lahir sampai ajal menjemput, jadi wajar jika tahu kisah hidup manusia tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kamar rawat inap VVIP tempat Dania di rawat dengan baik, di samping brankar rumah sakit terlihat Satria tengah melaksanakan solat isya sedangkan Dania tengah asyik membaca novel.
Saat menyadari kehadiran ayahnya dan Dokter Amir, gadis berusia 15 tahun itu langsung menutup bukunya dan menaruhnya di nakas samping brankar.
"Papa! Bang Amir!" sambut Dania dengan senyuman manis, Amir dan Nathan mendekat lalu bicara dengan Dania.
__ADS_1
Dania langsung menyalami keduanya lalu setelah Satria menyelesaikan salatnya mereka berdua keluar, "Satria ayo keluar." Amir memegang tangan Satria seolah mengisyaratkan sesuatu, mungkin saja itu isyarat bagi tentara.
Dania mulai terdiam tatkala melihat ayahnya meski keduanya sudah berbaikan tapi tetap saja ada rasa malas dalam dirinya, karena sejak dulu Dania tak pernah dekat dengan sang ayah.
Sepertinya Nathan tak pernah tahu cara mendekati apalagi bermain dengan anak perempuan, Nathan hanya tahu cara mendidik anak laki-laki dengan ketangguhan berbeda dengan anak perempuan yang menurutnya cengeng dan tak bisa apapun hanya mengandalkan laki-laki.
"Dania kamu mau makan apa?" tanya Nathan dengan duduk di sebelahnya menggunakan kursi dari rumah sakit, Dania menatap ayahnya tak percaya yang barusan ayahnya katakan.
"Ti-tidak," jawab Dania singkat dengan Nada terbata-bata.
Dirinya amat heran dengan ayahnya kenapa menawarkan makan biasanya saat sakit seperti ini hanya sekedar bertanya apa sudah makan atau minum obat, jawabannya mau ya atau tidak tetap saja mulut Nathan hanya mengeluarkan satu kata 'oh'.
Tapi hari Ini Nathan menawarkan makanan membuat Dania heran sebenarnya apa yang terjadi dengan ayahnya hari ini, "ah hari ini papa menyuruh abang kamu bawa bubur ini enak banget. Papa suka makan di kantin tempat papa bertugas...mau papa suapi?" tawarnya membuat Dania menggelengkan kepala tanda tak percaya.
"Papa gak sakit 'kan?" tanya Dania menanyakan itu lantaran ayahnya bersikap peduli.
"Papa gak sakit kamu yang sakit kok, malah nanya papa?' jawab Nathan sambil mengernyitkan keningnya.
"Mau papa suapi kamu?" tawarnya.
Sesuap demi sesuap bubur ke mulut Dania, matanya menatap Nathan. Dania tak percaya ayahnya mau melakukan ini, dirinya ingin menanyakan banyak hal tapi diurungkan karena takut jika Nathan akan marah dengan lewat tatapannya.
"Ini minumnya," kata Nathan sambil memberikan botol air mineral kepada Dania.
Hal yang aneh sungguh aneh, yang lebih aneh lagi Nathan mengelap mulut putrinya dengan mengenakan tisu, Dania menatap ayahnya.
"Papa udah aku mau tidur aja," ucap Dania mengakhiri sesi bersama ayahnya.
Nathan membantu Dania berbaring lalu menyelimutinya dengan lembut, Dania berbaring membelakangi Nathan lantaran ia amat heran dengan tingkah ayahnya.
Nathan lalu duduk di sofa sambil memainkan ponselnya untuk membalas pesan dari kesatuannya, Dania belum memejamkan matanya lantaran dirinya masih heran dengan tingkah ayahnya.
Dania ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya mengapa dirinya selalu membayangkan Dokter Amir, 'Dania ngapain coba lu mikirin tuh om-om.' Dania membatin dalam hatinya saat mulai terlelap dirinya sekilas melihat beberapa penerawangan.
Seorang wanita yang kesakitan lantaran ingin melahirkan penuh dengan darah, dibantu dengan orang-orang disekitarnya masuk ke UGD.
__ADS_1
Lalu diam-diam pria berjas hitam dengan sepatu mengkilapnya berjalan dengan percaya diri, ia menyerahkan beberapa lembar uang kepada dokter tersebut.
"Habisi nyawanya dan lakukan apapun yang kamu bisa," ujarnya sambil menyerahkan uang senilai 10 juta rupiah.
Dania membuka matanya lalu posisinya di ubah menjadi telentang lalu dirinya menengadah ke atas, seketika mulutnya terbungkam tatkala terlihat sesosok wanita dengan baju pasien menggantung di langit-langit tepat ia berbaring.
Tubuhnya di penuhi darah, tapi tangannya memegang jabang bayi yang sepertinya masih ada tali pusar yang menyambung ke area sensitifnya.
Dania ingin berteriak tapi mulutnya seolah kelu, ia tak bisa berbuat apapun hingga akhirnya sosok wanita itu membuat ilusi agar Dania melihat kisah hidupnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dania sedang berada di lorong rumah sakit yang gelap gulita tak lama ada sebuah cahaya lampu yang berkedip-kedip, gadis itu yang mengenakan baju pasien menatap wanita yang ada di ujung lorong tengah membelakanginya.
Dania melihat kesana-kemari celingukan tapi tak ada orang jadi perlahan dirinya berjalan mendekat, lalu mulai menyapa wanita itu.
"Permisi Bu!" panggil Dania dengan nada yang santun.
Hal yang pertama membuat Dania mual adalah bau anyir darah yang nampak menyengat, Dania merasa kakinya terkena air tapi kenapa terasa seperti air berlumpur.
Gadis itu yang penasaran melihat ke bawah kakinya. Sungguh di luar dugaan yang dilihatnya adalah genangan darah, dirinya ingin berteriak tapi membekap mulutnya dirinya berjalan mudur perlahan.
Wanita itu membalikan tubuhnya wajahnya seperti wanita normal tapi ada hal yang membuat Dania merasa ngeri, tangan wanita itu mengendong bayi yang masih baru lahir tapi dengan tali pusar yang terhubung dengan area sensitifnya.
Sungguh pemandangan yang mengerikan saat melihat itu Dania mundur perlahan dengan kaki yang masih banjir dengan genangan darah dan lampu lorong rumah sakit yang berkedip-kedip, Dania mundur tapi wanita itu melayang seolah dirinya tak ingin Dania pergi.
Karena ada hal yang mau disampaikan kepada Dania mengenai satu hal, "Nak kemari lah!" panggilnya.
Tapi Dania mundur dan berlari melewati lorong rumah sakit dengan kaki yang tergenang darah.
Sialnya gadis malang tersebut malah terjatuh tepat dihadapannya wanita itu sudah berdiri, "jangan takut ada hal yang mau aku bicarakan." Wanita itu terisak wajahnya pucat dan masih setia menggendong bayi.
"Apa mau kamu?" tanyanya dengan nada menggema di lorong rumah sakit.
Tangan wanita itu menyentuh tangan Dania membantunya berdiri lalu berjalan menuju lorong rumah sakit yang gelap gulita, sepertinya ada pesan yang ingin disampaikan.
__ADS_1
#BERSAMBUNG