
Siang tepatnya pukul 10.00 pagi, Dania tengah sibuk memilih pakaian karena ia dan Mia sahabatnya mau healing melepas penat karena untuk ujian, Dania tengah memilih kemeja lengan pendek dengan celana kulot rambutnya dibiarkan terurai.
Tak lupa di bibirnya menggunakan lip tint dan wajahnya di pakaikan bedak tipis-tipis setelah siap dirinya menggunakan tas selempang, saat berjalan melewati anak tangga untuk menuju rak sepatu dirinya melihat teman-teman kesatuan kakaknya berkunjung.
Dan neneknya membantu dua pelayan mengantarkan makanan, "nenek aku mau ke cafe dekat taman lembah gurame ama Mia." Dania pamit kepada neneknya, "bawa duit gak kamu?' tanya neneknya kepada cucunya.
"Bawa kok nek, ini 150 ribu cukup kok." Dania bicara tapi neneknya menambahkan menjadi 200 ribu lagi.
Satria yang melihat itu langsung menyeletuk, "curang Dania dikasih duit kalo aku gak pernah sama sekali! apa Dania cucu perempuan!" ucap Satria dengan rasa iri.
Dania hanya pergi ke rak sepatu menggunakan sepatu sekolahnya lalu menuju taman lembah gurame tempat ketemuannya dengan Mia.
Tubuhnya sudah lebih baik hanya saja sedikit sakit di bagian perut dirinya, sebentar lagi sampai di taman lembah gurame hanya dengan jalan kaki beberapa langkah tapi tinggal 10 langkah lagi dirinya tanpa sengaja mendengar klakson mobil dengan keras.
Suara klakson mobil itu membuat Dania menyingkir dan membiarkan mobil itu lewat, tapi hal tak di duga terjadi. Pengendara mobil memberhentikan mobilnya di samping Dania.
Gadis itu hanya terus melangkah kakinya tanpa peduli siapa di dalam mobil tersebut, tapi entah mengapa mobil itu terus mengikutinya kemanapun dirinya melangkah maju ataupun mundur sampai seorang pria berusia sama sepertinya keluar dari mobil.
Tangan seorang pemuda keluar membuka pintu mobil, kakinya melangkah keluar. Terlihat sosok pria menggunakan Hoddie biru dan celana jeans dengan potongan rambut yang rapi, berjalan ke arah Dania.
"Siapa ya?" tanya Dania yang menelisik dari atas sampai bawah, tapi pemuda itu menatap Dania lalu tersenyum.
"Lu gak tahu siapa gua, tapi gua kenal siapa lu." Pria itu menaik turunkan alisnya mencoba merayu Dania, tapi Dania hanya menggelengkan kepala menatap aneh pemuda yang ada di hadapannya.
Saat ingin melangkah tangannya di tahan oleh pria itu, "lepasin gua!" maki Dania dengan tatapan tak suka.
"Dania Anindita Rejaya," ujarnya membuat Dania menatapnya dengan membulatkan mata.
"Lo-lo tahu nama gua!" ujar Dania membeo, "Ya gua tahu nama lo." Merasa aneh dan takut terjadi sesuatu Dania menghempaskan lengannya lalu pergi menjauh.
Saat terus berjalan mobil laki-laki misterius itu tetap menguntit sampai Dania masuk ke taman lembah gurame dan memilih sembunyi.
"Dimana tuh cewek," kata Aksa dalam hatinya, "coba ke sana aja deh."
Dirasa aman gadis itu memutuskan untuk keluar dan melihat Mia di depan taman yang kepanasan, "Mia!" ujar Dania.
"Lu udah lama disini?" ujar Dania.
"Baru nyampe," balas Mia.
__ADS_1
"Yaudah ayo kita ke Cafe itu langganan kita," ajak Dania.
"Oh ok," ujar Mia jalan beriringan di samping Dania.
Dua gadis itu ke Cafe dengan interior memanjakan mata, mereka berbincang satu sama lain. "Gimana Om Abdellah?" tanya Dania.
"Baba sehat cuman dia lagi ke Pakistan buat bisnis," ujar Mia.
"Cie dibawain oleh-oleh nih," ledek Dania.
"Apaan dibawain, gua disuruh-suruh iya." Mia menyeruput kopinya lalu menatap sahabatnya.
"Hush gak boleh gitu," ujar Dania.
Saat keduanya berbincang ditengah keramaian cafe, tiba-tiba tamu tak diajak datang. Siapa lagi kalo bukan Aksa dan Louis.
"Lu pada maunya apa sih? gak ada udahnya ganggu hidup kita!" ujar Dania dengan jengkel.
"Gua udah ngomong dari awal, kalo gua mau jadi pacar sekaligus calon suami lu," aku Louis.
Hal itu membuat Dania memutarkan bola matanya malas karena terus menghadapi si bule nyasar, "eh bule nyasar gua kasih tahu ya kalo lu itu bukan selera gua!" tunjuk Dania.
Sejak awal Dania tak suka dengan Louis karena sikapnya, yang menindas dirinya karena pakaiannya yang sederhana. Tapi semua berubah sejak Louis tahu jika Dania Anindita Rejaya adalah anak seorang Mayor Jendral.
"Tadi gua udah bilang sama lo!" ujarnya.
"Alah modus yang basi, gua tahu lu mau ama gua cuman buat bisnis lu 'kan?" makinya.
"Udah Mia ayo pergi," ajak Dania sambil menarik tangannya.
"Dan Cafe ini suasananya jadi berubah semenjak kedatangan si ular kadut ini!" kata Dania dengan kesal, Mia hanya mengangguk dirinya langsung melempar tatapan mengejek pada Louis.
Dania dan Mia berencana ke mall tapi dengan syarat mereka tak diikutin oleh si dua begundal aneh ini, sampai saat ingin berdiri tangannya malah ditahan oleh Aksa.
Mata mereka saling menatap sampai Aksa melepaskannya secara perlahan, ternyata yang dilihat oleh Aksa adalah leluhur Dania.
Yap, leluhur Dania yang menerornya tempo hari karena membuat Dania masuk rumah sakit, di punggungnya ada cairan getah bening itu pasti karena ulah sesosok wanita kerajaan leluhur dari keluarga Rejaya.
"Bilangin nih ama temen lu yang misteri ini! gak usah ikut usik hidup gua!" tunjuk Dania yang sudah sangat jengkel karena harinya di rusak oleh musuh abadinya.
Aksa memegang dadanya hatinya berdegup kencang saat sedekat itu dengan Dania, dirinya tak mau berbuat keributan karena ini tempat umum.
__ADS_1
"Louis," ujar Aksa menahan Louis agar tak mencari keributan.
Terlihat dari wajah Louis tampak tak terima jika Dania dan Mia ikut melempar cacian padanya, tapi ini semua salahnya juga kalo saja Louis sejak SD tak menindas kedua gadis itu mungkin saja Dania akan bersikap sedikit ramah.
******************
Nathan tengah menjalankan tugas di istana negara karena mendapatkan tugas dari negara tapi seketika saat menjelang magrib bulu kuduknya berdiri, pria yang hampir berusia genap 50 tahun itu merasakan hawa yang tak enak.
Tapi dirinya harus tetap profesional karena ini menyangkut pekerja, malam tiba Nathan masih setia untuk mendampingi pimpinan sampai rekannya menepuk pundaknya.
"Malam Pak Nathan," sapanya.
"Malam juga," sapa Nathan dengan ramah.
"Jadi rencananya mau ikut letingan buat ke puncak?" tawarnya.
"Gak dulu lah, soalnya anak-anak saya di rumah lagi sakit." Nathan bicara sambil minum kopi, dirinya harus pulang malam ini juga karena terus memikirkan anak-anaknya di rumah.
Dania dan Satria yang sedang sakit, dirinya semakin panik tatkala mertuanya menelepon jika Dania bukannya istirahat malah pergi 'hangout' bersama Mia.
Meski di penerawangannya Dania bersenang-senang dan bahagia tapi tetap saja, gadis itu baru saja sembuh. Nathan minum dua cangkir kopi agar dirinya tak mengantuk tanpa gula, demi menyetir di malam hari agar cepat sampai rumah dari Bogor ke Depok.
"Pak Nathan saya juga minta batuan soal anak saya," pinta rekannya dengan logat Aceh.
"Minta tolong apa?" tanya Nathan yang menyeruput kopinya, "ini soal anak saya yang seusia Dania."
Nathan menatap rekannya lalu bercerita jika putrinya juga mendapatkan kemampuan Indigo sebulan yang lalu, dan sejak lahir juga tak menunjukan apapun sampai berusia 15 tahun.
"Yah itu terjadi kemampuan itu selain diturunkan dari leluhur juga muncul diusia tertentu atau sejak lahir," jelas Nathan sambil menyeruput kopinya sampai habis dan hanya tersisa ampas saja.
"Baiklah tugas saya sudah selesai saya harus pulang," ujarnya.
"Mungkin hari sabtu kita akan langsung ke rumah kamu buat memeriksa keadaan putrimu," ujar Nathan.
"Oh baiklah saat pulang dinas berarti," kata rekannya lalu bersalaman satu sama lain.
Nathan masuk mobil lalu dirinya mampir ke sebuah toko kue untuk membeli kue lapis talas Bogor untuk anak-anak dan juga mertuanya, Lapis talas Bogor dan manisan mangga yang kering.
Manisan mangga adalah kesukaannya Rendy, dan kue lapis talas Bogor adalah kesukaan Dania.
Sekarang Nathan mengerti betapa istimewanya Dania, dirinya hanya akan mengajak Dania saat tugas Di Bandung nanti. Rendy dia akan dititipkan kepada mertuanya sampai lulus SD dan akan pindah ke Bandung.
__ADS_1
#Bersambung