
Dania masih terjebak dalam tubuh Victoria anak hantu hasil cinta mendiang ibunya dengan hantu Belanda, Dania senang lantaran disini ia di manja oleh Hanson.
Berbeda jauh dengan perlakuan Nathan padanya, Hanson jauh lebih mencintainya di bandingkan Nathan. Dania menatap ke cermin dengan ukiran antik di pinggirannya, tangannya tengah memegang sisir matanya menatap cermin.
Tak lama ada suara Hanson memanggilnya dengan suara lantang tapi masih dengan kasih sayang, "lieve! lieve!" ujar Hanson dengan langkah kaki menuju kamar putrinya.
"Jaa Papa," jawab Dania dalam tubuh Victoria meletakan sisirnya di meja yang menyatu dengan cermin.
"Oh sangat cantik seperti mawar," puji Hanson kepada Victoria.
"Kom, Ik akan bertemu dengan kolega ik dan memperkenalkan je."
Dania bicara pada ayahnya, "Papa dimana mama?" tanya Dania pada ayahnya.
Hanson memegang kedua pundak Victoria, mata mereka saling menatap sungguh Dania tak pernah di perlakukan seperti ini oleh Nathan.
"Nadia sedang bersama teman-temannya," ucap Hanson.
Tangan Victoria di sentuh dengan lembut lalu digandeng oleh Hanson, Dania menyadarkan dirinya jika ini hanyalah ilusi. Ini tidaklah nyata dirinya terlahir karena kesalahan mendiang ibunya, dengan menikahi hantu Belanda waktu seusianya.
Lalu dari hubungannya itu lahirlah dua orang anak, Victoria sebagai anak pertama yang menjadi dirinya dan Jason anak kedua yang menjadi Satria kakaknya.
Kenapa Victoria memilih lahir kedua karena Victoria masih menimbang dirinya jika terlahir menjadi Inlander(pribumi), jadi Jason lah yang lahir dulu karena yang paling dekat dengan Nadia.
Memang pepatah benar adanya jika cinta pertama anak laki-laki adalah ibunya, dan cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya.
Dania dalam diri Victoria memakai gaun biru dengan terusan coklat mengenakan topi yang lebar, dirinya masih melamun saat dirinya duduk di sebelah ayahnya yang tengah menyetir mobil klasik, saat tengah melamun tiba-tiba sang ayah menggoyangkan tubuhnya dengan lembut lalu mengatakan sudah sampai tempat yang dituju.
Victoria dengan mata birunya menatap rumah yang terbilang megah di zaman itu, dirinya lalu tersadar dari lamunannya saat Hanson mengandeng tangannya menuju ke dalam.
Saat di depan pintu keluarlah pria dengan tubuh gempal perawakannya eropa, dan dengan kumis yang tebal. menyapa Hanson dalam bahasa Belanda.
"Goedemiddag, kolonel Van Buthjer. Hoe is de reis?" tanyanya sambil berjabat tangan.
(Selamat siang, Kolonel Van Buthjer. Bagaimana perjalanannya?)
"Ook goedemiddag, meneer Russell. Het was een plezierreis, want een bezoek aan jou is een eer voor mij." Hanson menuju membuat keduanya tertawa bersama lalu Hanson memperkenalkan putrinya.
(Selamat siang juga, Tuan Russell. Itu adalah perjalanan yang menyenangkan, karena mengunjungi Anda adalah suatu kehormatan bagi saya.)
__ADS_1
Dania yang mengerti langsung membukukan kakinya seperti yang sudah di beritahu oleh ibunya cara tata krama lalu mengulurkan tangannya untuk di kecup oleh Menner Russell.
"Victoria Alexandra Van Butjer!" suara Bariton itu membuat mereka bertiga menoleh ke arah pintu, Dania membulatkan matanya karena sedikit tak percaya siapa yang dia lihat.
Keringat dinginnya juga mulai keluar membasahi tubuhnya, ia sungguh tak percaya siapa yang ia lihat. Pria berusia belasan dengan bibir tipis kemerahan, alis berwarna pirang dan rambut coklat pirang menatapnya.
Berjalan gagah dengan menggunakan kemeja putih, dipadukan rompi coklat dan celana coklat senada juga dengan topi khas kompeni.
"Introductie van deze mijn zoon, zijn naam is Hans Russell." Victoria mengulurkan tangannya, berjabat tangan Hans merasakan sarung tangan yang dikenakan Dania basah menandakan gadis ini sangat gugup dang canggung.
(Perkenalkan ini anakku, namanya Hans Russell.)
"Dania...maksudnya Victoria, mijn naam is Victoria." Dania keceplosan menyebut nama aslinya dengan sebutan Dania.
Hans hanya tersenyum dengan miring sebenarnya ia sudah tahu gadis yang diincarnya ada disini. 'Lu disini rupanya nasib memang mujur jodoh tak akan tertukar," batinnya.
"Papa liet me met Juffrouw Van Butjer praten, om elkaar beter te leren kennen." Hanson dam Garrlet tersenyum lebar lalu menganggukkan kepalanya.
(Papa biarkan aku berbicara dengan Nona Van Butjer, untuk lebih mengenal satu sama lain.)
Victoria menatap ayahnya dengan memberikan kode lewat gelengan kepalanya tanda tak setuju, sungguh yang benar saja dirinya harus berkenalan dengan musuh abadinya disekolah yakni, Louis.
Sesampainya di taman belakang rumah keluarga Russell Hans memberhentikan langkahnya lalu membuat Victoria tersentak kaget, "lu mau ngapain!" ujar Victoria sambil meninggikan suaranya.
"Sadar juga lu," ucapnya sambil tersenyum menyeringai.
"Jangan macem-macem atau lu---" belum sempat Victoria menyelesaikan kalimatnya Louis dalam wujud Hans menyelanya.
"Apa hah! lu ngancem gua harusnya gua yang ngancem lu!" tunjuk Hans dengan angkuh, "lu disini cuman anak perwira kalo gua anak pejabat Belanda jadi posisi lu lebih rendah."
Louis bicara seolah-olah bisa memiliki Dania, "apa mau lu?!" ujar Dania yang membenarkan topinya yang kebesaran seolah menyembunyikan rasa takutnya.
"Gua mau lu jadi pacar gua," pinta Hans sambil tersenyum miring.
"Menjijikan cowok harusnya mendapatkan cewek dengan perjuangan bukan dengan paksaan," kata Victoria menatap jijik Hans.
"Lu gak percaya, gua bakal bikin hidup lu miskin saat ini juga."
Victoria mundur tiga langkah tapi di ujung teras tanpa sengaja itu adalah tangga jadi saat ingin terjatuh tangannya di pegang oleh Louis, lalu di tarik ke dadanya.
__ADS_1
Mata mereka saling menatap satu sama lain seolah ada perasaan tapi ini sungguh di luar keinginannya, "Lepasin Gua!" makinya lalu segera berlalu menuju depan rumah tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan Hanson dan Garllet.
"Als we met ze trouwen, zullen uw zaken soepel verlopen." Garllet Russels menyalakan cerutunya sambil menatap koleganya.
(Jika kami menikahi mereka, urusan Anda akan berjalan lancar.)
Dania berhenti lalu dirinya tak sengaja menyenggol vas bunga membuat kedua pria Belanda itu menoleh ke arah Victoria, "ada apa dengan je?" tanya Hanson lalu Victoria melihat Hans keluar dengan memasukan kedua tangannya di kantong celananya.
"Nee papa, ik tadi ingin bermain Piano bersama Hans tapi ik malah ke sasar."
Louis tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Dania, lalu tangannya mencengkram kuat tangan Victoria membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Kom ik akan bermain piano untuk je," kata Louis sambil menarik tangan Victoria dengan sedikit memaksa.
Hans mendudukan paksa Victoria di kursi piano, "lu bisa main piano apa itu cuman alibi doang buat hindari gua?" tanya Hans dengan mengejek.
"Asal lu tahu gua kagak cinta sama lu!" ujar Victoria.
"Widih lu berani ama gua," ujar Hans.
"Dania dengar ya, gua cinta ama lu."
"Lu cinta ama gua karena gua anaknya Mayor jendral Nathan, lu udah bully gua sebenernya mau lu apa ya?!" ujar Dania yang muak dengan Louis.
"Gua udah bilang kalo gua itu mau lu jadi cewek gua," ujarnya.
"Lu playboy, gua gak akan sudi lu jadi pacar gua. Lagian gua udah mau di nikahin ama Dokter Amir kok."
"Secara manusia tapi secara Altar kita bisa nikah."
"Gua gak bakal hormatin lu kalo lu jadi suami gua," tunjuk Victoria.
"Lu berani ama gua!" makinya.
"Hans!" ujar Garllet Russels sambil mendekat.
"Kenapa je membentak wanita, bukankah papa sudah ajarkan bagaimana caranya menghormati wanita."
#BERSAMBUNG
__ADS_1