
Antara ayah dan anak itu saling bertatapan di kesunyian malam karena dirinya belum sempat menyampaikan semuanya kepada Hanson, lorong waktu sedang tak stabil semalam Dania terpaksa harus melewati beberapa masa dari revolusi Perancis, jaman Yunani Kuno, dan baru jaman Bondoeng.
Ada sebuah kisah yang Dania harus tahu mengenai masa lalu dan permasalahannya, dirinya harus menyelesaikan beberapa tugas yang harus di selesaikan saat nanti di Bandoeng lewat bimbingan Hanson sang ayah.
Sejahat-jahatnya harimau tak mungkin mau memangsa anaknya juga, "Victoria lieve papa ingin menyampaikan nanti kita akan bertemu di Banten."
"Memang tak jadi ke Batavia?" tanya Dania kepada Hanson.
"Ik di pindah tugas ke Banten karena pemberontakan rakyat Banten," jelas Hanson.
Dania hanya menganggukkan kepalanya, "yaudah papa Hanson bisa pergi sekarang sebelum orang-orang melihat je!" perintah Dania secara halus.
Dania tak bisa tidur dirinya mengambil kotak musik berarsitektur vintage khas Eropa kuno, pemberian mendiang ibunya waktu berusia 13 tahun.
Dania membawa kotak musik ke depan balkon yang menghubung ke kamarnya, di kesunyian malam dengan gorden berterbangan dirinya memutar disisi samping kotak musiknya. Dirinya masih setia berdiri menghadap ke arah purnama yang bertengger di atas langit malam.
Rambutnya yang terurai berterbangan di malam bulan purnama, dirinya memejamkan matanya. Tak lama air mata mengalir keluar dari matanya, "setelah aku tahu beberapa rahasia ini. Diriku berencana pergi ke Jepang untuk bekerja membuka restoran Indonesia," batinnya sambil diiringi alunan musik dari kotak yang di pegangnya.
Alunan musik itu bertema musik klasik yang judulnya Fur elise.
Tak lama ada suara neneknya yang memanggilnya dari luar kamar yang sengaja ia kunci dari dalam, "Dania!" panggil sang nenek.
Dirinya buru-buru menghapus air matanya dan menjawab panggilan itu, "i-iya nenek." Dania membuka pintu kamarnya lalu mempersilahkan neneknya masuk sambil menyalakan saklar lampu.
"Kamu belum tidur?" tanya neneknya.
"Tad-tadi aku udah tidur tapi nenek malah manggil," ucap Dania sambil menatap neneknya.
"Yaudah nenek tidur disini," ujarnya.
"Loh emang nenek gak jadi tidur ama Rendy?" tanya Dania, sang nenek hanya menggelengkan kepalanya.
"Rendy tidur ama abang kamu," jelasnya. Dania hanya menjawab 'oh' saja.
"Yowis ayo turu, kamu harus banyak istirahat." Neneknya bicara dengan logat Jawa.
Dania hanya mengangguk dan menurut, saat itu sudah menunjukan pukul tengah malam. Dania tertidur di sebelah neneknya dirinya hanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar, tak lama matanya terpejam.
Saat terbuka matanya dirinya melihat ke sekitar dengan pakaian tidur terbuat dari satin, dan berbentuk daster putih polos.
dirinya menatap sekeliling ternyata sudah ada di bangunan khas eropa, di telinganya terdengar suara deburan ombak pantai. Dania bangun dirinya meraba tangan dan area tubuh juga wajahnya, ternyata drinya sudah menjadi Victoria.
__ADS_1
Tak lama ada seorang Baboe atau pembantu masuk ke dalam ruangan, "haturnuhun Joffrouw." Dania yang mendengar itu langsung tersentak kaget dan menoleh ke belakang.
"I-iya," ucap Dania dengan canggung.
"Juffrouw mau makan?" tanyanya.
Dania yang dalam wujud Victoria hanya menggelengkan kepala, lalu dirinya bertanya pada Bendide itu. "Dimana papa Ik?" tanya Dania.
"Di depan," ujarnya masih setia dengan wajah menunduk.
Dania segera berganti pakaian kemeja putih dengan kerah berenda dengan kancing berbentuk mawar, dipadukan dengan rok coklat tua, dan rambutnya dibiarkan terurai panjang bergelombang.
Victoria segera bergegas berjalan menuju lorong yang panjang dengan sepatu berdentum kera Karena lantainya hanya terbuat dari campuran semen dan marmer, saat tengah berjalan tiba-tiba Hans menyenggolnya dengan sengaja tapi Victoria malah enggan menanggapi.
Dirinya terus berjalan sampai di sebuah lapangan ayahnya tengah melatih para tentara sambil memegang kertas, "papa!" panggilnya sambil menatap ayahnya.
Berjalan mendekat tapi Hanson malah menyuruh Dania berhenti di sana dirinya dilarang keluar area bangunan. "Ada apa je kesini?" tanyanya.
"Papa ik ingin bicara sesuatu dengan je," ujar Dania menelan salivanya antara takut dan panik.
"Bicara soal apa? bisa nanti soalnya ik sedang sibuk lifste," ujar Hanson sembari membelai kepala Victoria.
Sontak ucapannya itu membuat Hanson menghentikan langkah kakinya, dan menatap putrinya. Victoria hanya berjalan mendekat lalu mereka berdua saling bertatapan.
"Papa bisakah ik menjadi manusia seutuhnya?" pinta Dania kepada ayahnya.
Hanson hanya menghembuskan nafas lelah dirinya sudah menyangka ini akan terjadi, "papa ik hanya minta ingin jadi manusia seutuhnya."
"Ik akan izinkan dengan syarat je harus menikah dengan calon suami yang tepat yakni Louis Alejandro," ujar Hanson kepada putrinya.
"Apa!" Jeda "papa dengar ik dan Louis adalah musuh bebuyutan! dari ik SD sampai SMP ik selalu di tindas olehnya dalam wujud Dania!" jelasnya berapi-api karena sudah sangat membenci Louis.
PLAK!
Dengan keras Hanson menampar wajah Victoria, tamparan itu membuat hatinya merasa hancur karena dipikirnya Hanson berbeda dari Nathan.
Tapi jika sudah menyangkut soal kuasa tetap saja buta dan gelap mata, "tega sekali kau menjadikan aku sebagain ambisi untuk mendapat kekuasaan!" ujar Victoria lalu bangkit dan masuk ke dalam.
Victoria kembali ke dalam kamarnya dan menangis sejadi-jadinya, kebencian kepada Hans reinkarnasi dari Louis sudah sangat dalam.
Tak lama dirinya mendengar suara dentuman yang sangat keras, membuatnya berlari ke arah jendela demi melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
Dor! Dor! Dor!
Victoria yang melihat itu langsung membekap mulutnya lalu berlari keluar ruangan, ternyata pasukan pejuang dari rakyat Banten tengah menyergap markas Belanda.
Dirinya berlari keluar meski beberapa pengawal menahan tubuhnya, "jangan keluar Juffrouw sangat berbahaya di luar!" ujar salah satu serdadu berwajah melayu.
Victoria yang tak mau di tahan dirinya berhasil menendang salah satu serdadu dan berlari keluar, berharap jika dirinya tertembak dan berakhir maka dimensinya menjadi Victoria akan berakhir.
Semua dalam keadaan panik, Hanson paling terdepan menjaga keamanan. Saat pelatuk ingin dilepaskan Victoria tanpa sengaja terkena tangannya.
"Argh!" jerit Victoria hal itu membuat Hanson berteriak, "Victoria!" ujarnya berlari ke arah putrinya yang tertembak.
Hanson langsung membopong putrinya dengan berteriak, "Turunkan aku!" ujarnya dengan tubuh meliuk-liuk dan berusaha di turunkan.
Dirinya berpikir akan mati sebagai Victoria agar bisa menjalankan hidup dengan normal sebagai Dania Anindita Rejaya, "je harus tetap hidup! je harus tetap hidup!" ujar Hanson berlari membawa putrinya ke sebuah ruangan darurat.
Dania terus berontak sampai akhirnya dirinya berhasil di obati dan matanya terpejam tak sadarkan diri.
Hanson masih setia menembaki para pejuang itu, ada yang membawa parang untuk melawan Belanda dan hanya saja beberapa pejuang kemerdekaan ada yang memiliki ilmu kebal sehingga sulit di tembak.
Victoria Alexandra Van Buthjer sedang tak sadarkan diri karena kekurangan banyak darah, dirinya tak bisa kembali menjadi Dania karena lorong waktu tengah bermasalah dan sementara the Black robe akan memberlakukan aturan ketat bagi manusia yang memiliki kemampuan supranatural untuk melintasi lorong waktu.
Sosok ibunya datang yakni Nadia Sabrina, saat ibunya datang Dania yang sudah sadar terduduk ibunya mendekat lalu memegang tangannya.
Victoria malah menepisnya lalu membuang wajah, 'Victoria lieve." Nadia berusaha mendekati putrinya.
PLAK!!!
Victoria mengangkat tangannya untuk menampar ibunya, "manusia bodoh! kau bersekutu dengan iblis dan jin demi ambisimu!" makinya menampar sang ibu karena terlanjur muak.
Dirinya tak peduli lagi dengan istilah surga di bawah telapak kaki ibu, karena perbuatan ibunya dirinya dan abangnya yang harus menanggung resiko perbuatan ibunya.
"Kau menamparku!" ujar Nadia yang berdiri.
"YA! KARENA AKU SUDAH MUAK DENGAN SEMUA INI!! JADIKAN AKU MANUSIA SEUTUHNYA TANPA ALTAR!!" ungkapnya karena terlanjur kesal, jujur Dania muak di setiap ajang dirinya harus di bully ditambah dirinya akan di ikrarkan dengan si pembullynya.
"Menjijikan kau memilihnya sebagai suamimu!!" bentak Victoria yang tak suka dengan ambisi dan keserakahan Hanson.
"Mama dengar aku Dania Anindita Rejaya memilih hidup sebagai inlander dan seorang muslim," tegasnya membuat Nadia membekap mulutnya dengan apa yang dikatakan seorang Victoria Alexandra.
"Jika kau dan Kolonel Van Butjer tetap ingin aku menjadi Victoria putuskan perjodohanku dengan si overdomse itu!!" pintanya yang dimaksud adalah Hans Rusells.
#Bersambung
__ADS_1