
Di ruangan Dokter Amir mengintrogasi hantu AnnaMarie yang melakukan hal itu, ternyata tujuannya yang tak lain adalah memaksa agar Dania dan Louis mau menikah.
"Kamu jin yang menyerupai orang yang sudah mati!" kata Jendral Hussen.
"Ik memang Qorinnya rupanya je cukup cerdas juga," ujar Annamarie yang masih dikunci oleh Amir dan Hussen.
"Jadi apa tujuan kamu juga menganggu Satria?!" tanya Amir dengan menahan emosi.
"Ik tak ingin ada yang menyaingi anak ik disini," ujarnya sambil menahan rasa sakit.
Jendral Hussen ingin membakar mahkluk ini tapi dicegah oleh Amir karena dirinya ada hal yang harus di selesaikan, "kamu tahu soal ini?" tanya Jendral tapi Amir hanya menjawab jika ada masalah keluarga.
Rupanya Amir benar-benar menjalankan kewajibannya sebagai seorang putra bagi Nathan dengan memendam rahasia keluarga dan rahasia kesalahan yang dilakukan oleh mendiang istri atasannya tersebut, yakni Nadia Sabrina.
"Sebelum itu kamu akan saya kurung di cincin saya lalu akan saya benam kamu di dekat masjid," ujar Amir lalu memasukannya ke dalam cincin batu akik berwarna hijau.
Saat mahkluk itu di masukan warna batu cincinnya berubah menjadi warna merah darah, karena wanita itu semasa hidupnya selalu menumbalkan orang untuk bersekutu dengan iblis.
Amir membawa cincin itu di gantungan lalu Mayor Jendral Hussen Siregar membuat Rajah menggunakan tinta dari Mekkah di sebuah kertas, untuk membungkus cincin itu.
setelah selesai membuat tulisan rajah Mayor Jendral membungkus cincin akik batu merah darah itu dengan kertas rajah, lalu membungkusnya dengan plastik hitam agar tulisannya tidak luntur saat terkena air hujan. "Kubur ini di dekat masjid semoga kekuatan jin ini akan lenyap, dan syukur-syukur jinnya masuk islam."
Mayor Jendral bicara sambil terkekeh tapi hatinya penuh dengan harapan semoga saja, setelah mendengar kalimat itu Mayor Jendral melihat jam tangannya sudah waktunya makan siang dan istirahat.
Para prajurit baru sedang di masjid mengambil wudhu dan melaksanakan solat untuk yang Non-muslim sedang makan tapi wajah mereka masih menggunakan cat saat makan. Mereka akan menguburnya nanti saat jam latihan selesai agar tak ada satupun yang bertanya apalagi curiga.
*********************************************
Dania terbangun saat melihat ayahnya dengan khusyu membaca kitab suci, gadis itu hanya memperhatikan ayahnya. Dania bertanya-tanya sejak kapan ayahnya menjadi lebih dekat dengan agama, saat tengah melamun tiba-tiba ada seseorang yang masuk.
Mata Dania berkaca-kaca tatkala siapa yang datang dia adalah bibinya Defani dan neneknya yang datang untuk menjaganya, "kalian datang." Nathan menyelesaikan membaca kitan suci dengan mengucapkan, "sadaqallahul azim." lalu mencium kitab suci itu.
Nathan menyalami mertuanya, yap dia adalah ibu dari mendiang Nadia. "Nak udah kerja saja dengan tenang biar saya dan Defani yang menjaga Dania," ucap nenek Dania.
"Iya Bu," balas Nathan lalu memakai kembali seragam dinasnya.
Setelah kepergian Nathan yang rupanya sangat terburu-buru menju kesatuan Naggala karena mendengar kabar jika putranya terluka saat menjalankan tugas, "ada saja tuh anak satu." Nathan bergumam sambil berjalan lalu tanpa sengaja dirinya menabrak seseorang.
"Maafkan saya," ujarnya.
__ADS_1
Nathan yang terburu-buru hanya bisa mengucapkan kata maaf karena dirinya sangat menghawatirkan anaknya, entah dapat hidayah darimana anak-anak yang dulunya sangat tak di sukai kini amat dikhawatirkan dan yang dilimpahkan kasih sayang hanyalah Rendy.
Sesampainya di kesatuan rupanya Satria diliburkan selama seminggu, karena dari caranya berjalan yang sudah begitu parah. Betisnya masih diperban dirinya berjalan dengan dibantu oleh para juniornya yang merasa hormat.
"Satria?!" panggil Nathan sambil mendekati putranya.
"Papa," ucap Satria melihat ayahnya.
"Kok bisa kamu kena keramik terus sampai robek betis kamu?" tanya Nathan dengan khawatir, "yaudah kamu ke mobil papa masih sejam lagi papa tugas."
Satria di gopoh menuju mobil dinas milik Nathan dengan susah payah, "Oh ya tunggu papa di mobil, papa ada urusan sebentar." Satria hanya mengangguk karena dirinya tak mau mencari masalah dengan ayahnya, karena dirinya sudah cukup di bikin masalah hari ini.
Di mobil Satria membuka kaca mobil agar tak panas, tapi kesialan rupanya tak berhenti sampai hari ini. "Aduh!" keluh Satria saat ada sesuatu dilempar ke pipinya membuat pipinya menggelembung seperti orang sakit gigi.
"Woy kurang asem lu ya!" makinya kepada mahkluk berwujud anak kecil dengan wajah hitam dan retak seperti kaca yang retak, anak kecil itu hanya tertawa lalu menghilang setelah menjahili Satria.
Saat mau membalas tiba-tiba dirinya kesakitan di kakinya karena mau berjalan keluar, "sialan nih luka!!" runtuknya dengan kesal.
"Aduh Papa lama banget lagi? ngapain sih tuh orang lagi hangout ya?" dumel Satria yang merasakan sakit di pipi kanannya sambil di elus dan betisnya.
***************************
Di ruangan mereka bicara, Jendral Nathan memberi kode kepada Amir agar menutup pintunya dan menyalakan lampu ruangan. "Begini Nathan," ujarnya sebelum melanjutkan kalimatnya Hussen Siregar mendelik kesana kemari lalu mulai bicara.
"Maaf saya bukan bermaksud lancang tapi ada suatu hal yang harus saya katakan," katanya dengan nada serius.
"Katakan saja," ucap Nathan dengan wajah yang tegang.
"Apa Dania dan Satria memiliki Altar dan reinkarnasi dari seseorang." Sontak pertanyaan yang di lontarkan Hussen Siregar membuat Nathan hampir terjengkang karena kaget.
"Apa maksudnya?" tanya Nathan.
"Saya tahu jika seseorang memiliki altar dan ini semua kesalahan masa lalu istri Anda 'kan?" ujarnya.
Nathan hanya menundukkan kepalanya lalu mengangguk, "saya sarankan jaga baik-baik karena bisa membawa keberuntungan. Biasanya anak-anak yang memiliki Altar di awal akan sangat menyusahkan tapi di masa depan akan sangat berharga," jelasnya sepertinya sudah sangat berpengalaman.
"Bagaimana kamu tahu soal itu?" tanya Nathan dengan mengerutkan keningnya, menatap rekan kerjanya yang ia kenal sejak bertugas.
"Karena saya juga memilikinya dan begitu juga putri saya, Annisa Siregar."
__ADS_1
Nathan yang mendengar itu hanya syok dan terdiam, memang benar Dokter Annisa Siregar membawa keberuntungan sekaligus kebanggan, hal ini dibuktikan dengan pengobatan penyakit kelamin yang terjadi di Philadelphia tepatnya di Brazil.
Meski tak berhasil seratus persen tapi hal ini bisa mencegah penyebaran penyakit kelamin, kementrian kesehatan Indonesia dan WHO memberikan penghargaan berupa piagam.
Dan masih banyak lagi kebanggan yang di raih oleh Annisa Siregar sebagai Dokter, "Yah kamu tahu dulu Annisa suka buat masalah di sekolahnya dari TK sampai SMA." Mayor Jendral menyalakan rokoknya agar tidak tegang, sambil menarik nafas dan memberinya pada Nathan.
Mereka berdua merokok tapi tidak dengan Amir yang menolak, karena dokter tahu akan kesehatan terutama efek bahayanya. "Sedangkan Dania hanya membuat masalah sejak SD saja dan Satria membuat masalah hanya dari SMP ama SMA," jelasnya seolah meyakinkan Nathan jika kedua anaknya adalah sebuah keberuntungan dan berkah dari tuhan.
"Saya juga sudah menerima keduanya, Dania dan Satria adalah permata berharga bagiku. Oh ya tadi kamu berdua ngapain ke belakang masjid?" pertanyaan Nathan di jawab oleh Dokter Amir yang sebenarnya terjadi.
Mendengar itu semua langsung membuat Nathan merasa bersalah seharusnya dirinya juga melindungi Satria dan Dania bukan hanya melindungi Rendy, sungguh Nathan meruntuki kebodohannya telah menyia-nyiakan anak-anaknya.
"Baiklah saya permisi waktunya mengantar anak saya pulang," ujar Nathan menyalami atasannya. "Soal pelatihan anak buah untuk dikirim ke Poso kita akan bicarakan dan uji coba malam," ujarnya.
"Setelah saya mengantar anak saya dulu karena latihan masih 30 menit lagi, dan Amir mau ke rumah saya?" tawarnya.
Tapi Amir menggelengkan kepalanya tanda menolak, dirinya hanya ingin ke rumah sakit hanya untuk bersama dengan Dania.
Untuk pelatihan pengiriman ke daerah konflik atau daerah pemberontak adalah tentara yang terlatih dan khusus karena selain untuk sekedar berjaga jika kalo ada musuh yang menyerang juga untuk memiliki tata cara menangani wilayah dengan pemberontak, Nathan kembali ke mobilnya dirinya langsung membulatkan mata melihat pipi anaknya menggelembung.
"Satria kamu kenapa? apa kamu sakit gigi?" tanya Nathan.
"Tadi ada sosok anak kecil lempar sesuatu ke pipi aku, Pah."
"Coba sini!" kata Nathan.
"Aduh Pah! pelan-pelan!" jerit Satria saat ayahnya menarik wajahnya mendekat.
"Sini dulu!" paksa Nathan lalu dirinya mengusap-usap pipi Satria sambil membaca ayat suci lalu melemparkannya kembali keluar.
Tiba-tiba pipi Satria kempes dengan sendirinya dan bisa bicara normal, "yey sembuh! sembuh-sembuh-sembuh-sembuh!" jeritnya kesenangan seperti berteriak kemenangan dalam lomba olimpiade.
"Udah diam papa mau nyetir nanti kamu di rumah jagain Rendy!" ucap Nathan galak.
"Terus di rumah sakit Dania gimana?" tanya Satria.
"Ada nenek ama tante Defani!" jawab Nathan dengan singkat sambil fokus mengendarai mobilnya.
#Bersambung
__ADS_1