Three Siblings Indigo

Three Siblings Indigo
Kemunculan The Black Robe


__ADS_3

Setelah makan malam Dania dan Mia mencuci piring makan masing-masing termasuk punya Rendy, “yaudah Non ke kamar aja belajar biar peralatan dapur saya yang cuci!” ucap Bi Jum kepada majikannya.


“Yaudah makasih ya bi,” seru Mia dan Dania.


Dua sahabat itu menyusul Rendy ke kamar yang sedang belajar, tapi Mia heran melihat Rendy bicara sendiri. “Rendy!” panggil Dania seolah memperingatkan Rendy dan memberi kode pada hantu anak kecil sahabatnya Rendy untuk pergi.


“Itu adek lu ngapa ngomong sendiri,” tunjuk Mia dengan tubuh bergetar.


“Biasa Rendy lagi ngitung gitu pusing,” sanggah Dania berusaha menutupi jati dirinya.


“Oh yaudah Rendy sini kakak bantu,” tawar Mia.


Dania akhirnya bisa bernafas lega melihat Rendy tak berbicara sendiri, Mia memeriksa tugas matematikanya Rendy. “Ini bener semua hebat kamu,” puji Mia.


Dania tersenyum lalu ia mengeluarkan setelan seragam merah-putih dengan Topi dan dasi merah lalu memberikannya kepada Rendy, senin kamu pakai yang seragam satu lagi yang ini biar di cuci dulu ama Bi Jum.


“Lah emang seragamnya dia satu lagi kemana?” tanya Mia.


“Biasa lusuh gara-gara main bola,” bohong Dania.


Dania pergi menaruh seragam Rendy di mesin cuci, setelah melakukan aktivitasnya Rendy tertidur setelah mengerjakan PR nya bocah berumur 10 tahun itu tidur di kasur Dania dan tak berani tidur sendirian.


“oke, jadi jawaban nomer 3 apa gua belom nih?” tanya Dania menanyakan soal IPA tentang zat adiktif kepada Mia.


“Ganja,” jawab Mia coba lu cari di google sama ini halaman 5 pasti ada.


Saat sedang mengerjakan soal PR IPa dan mau selesai tiba-tiba lampu rumah mati. “Loh kok mati,” ujar Dania celingukan lalu menyalakan senter lewat ponselnya.


“Bi Jum!! Bi!!” panggil Dania.


Dania menaruh LKSnya lalu ia ke bawah menuruni anak tangga untuk menemui Bi Jumi, lalu ia melihat Bi Jumi menghampirinya sambil membawa lilin. “Aduh non kayanya ini bakal sampai pagi,” ucap Bi Jum.


“Loh Bi! Perasaan di rumah lain gak mati lampunya kenapa kita mati ya?” tanya Dania.

__ADS_1


“Gak tahu Non coba saya nyalakan saklar lampunya yang ada di belakang,” ujar Bi Jum kepada Dania. Dania bersama Mia mengikuti Bi Jum di belakang menyalakan sakelar lampu. Saat sudah menyala, “Iya Non turun,” ungkap Bi Jum.


“Yaudah kita coba matiin lampu di belakang apa di tempat yang gak di pakai,” Usul Dania kepada Bi Jum.


Mereka bertiga ingin masuk tapi mereka berteriak lalu Mia dan Bi Jumi pingsan sedangkan Dania diam terpaku melihat sosok di depannya, sesosok hitam menggunakan jubah dan selayaknya bayangan dengan kaki mengambang seperti asap.


Soso hitam seperti asap ini membawa pedang di tangannya. Dania melihat sahabatnya dan Bi Jum sudah pingsan apa yang harus dia lakukan lalu sosok itu dari jubah hitam mengeluarkan lonceng di tangan lalu membunyikannya.


“Ikut aku sekarang,” perintahnya menarik tangan Dania. Gadis malang itu hanya pasrah tatkala di ajak masuk ke pusaran waktu. Dania melihat sekeliling ia sangat muak dengan mahluk aneh ini.


“Siapa kamu!?!” tanya Dania kepada jubah hitam itu.


“The Black robe,” sahutnya.


Dania langsung terdiam mengingat siapa sebenarnya The Black Robe, gadis itu berusaha mengingat siapa sebenarnya mahkluk ini namanya seperti pernah dengar dari seseorang tapi siapa. Setelah berpikir dan mengingat Dania langsung ingat The Black Robe itu adalah penghubung antar waktu yang di ceritakan mendiang ibunya.


“Aku ingat lu adalah antar waktu,” ujarnya.


“Apa mau lu?” tanya Dania pada mahkluk aneh ini, lalu mahkluk itu mengeluarkan sebuah boneka wayang terbuat dari keramik berwujud Semar dari tangan kanannya dan boneka Nutcracker di tangan kirinya.


“Pilih salah satu boneka ini?” ujarnya kepada Dania, gadis itu menatap heran dengan memiringkan sebelah kepalanya.


“Aku tak mengerti maksudnya? Bisa kamu jelaskan,” ungkap Dania yang bingung dan keheranan.


“Ini salah satu calon suami untukmu pilihlah, boneka wayang ini kamu akan mendapatkan pria darah murni Jawa dan yang ini campuran luar Nusantara.”


Dania yang tetap mencintai budayanya sendiri dan tak mengenali seumur hidupnya boneka nutcracker ia langsung memilih boneka wayang yang berwujud Semar.


“Aku pilih kesempatan kedua untuk kau memilihnya, Nak?” ucap si jubah hitam sambil menunjukan sikap kedua calon suami Dania.


“Jika kamu memilih nutcracker maka dengan sifat keberuntungan bagi keluarga dan melindungi rumah, mewakili kekuatan dan kekuatan, melayani seperti penjaga, menjaga keluarga terhadap bahaya dan bertanggung jawab.” Si jubah hitam menjelaskan.


“Dan----boneka Semar itu?” tanya Dania.

__ADS_1


“Semar memiliki sifat yang sederhana, jujur, dan tulus. Tokoh ini juga digambarkan sebagai tokoh yang bijaksana, cerdas, dan berpengetahuan luas. Tak heran kalau Semar menjadi tokoh yang disegani dan dihormati oleh para ksatria.”


The Black Robe atau si jubah hitam menyebutkan calon suami Dania, sebenarnya yang mengikuti Rendy kemarin yang berwujud kucing hitam adalah si jubah hitam yang mengubah wujudnya sesuai janjinya kepada keturunan Mpu kerajaan dulu.


“Bersiaplah duniamu akan segera tiba,” ujarnya lalu menyentuh kuat tangan Dania, matanya melihat sosok si jubah hitam itu hilang tapi tangannya merasa di pegang erat oleh seseorang.


Dania keluar dari pusaran waktu matanya membuka ia melihat dirinya di suatu kamar yang bergaya vintage dengan dekorasi khas kolonial Belanda, Dania merasa ada seseorang masuk itu ternyata ibunya.


“Mama?” ujar Dania.


“Kenapa Liefste, apa butuh sesuatu?” tanya nya lalu membantu Dania duduk.


Dania heran mengapa ibunya memanggilnya dengan sebutan Victoria bukan dengan namanya Dania, juga herannya saat dirinya menatap  ke samping ada cermin. Wajahnya seperti orang bule matanya warnanya biru rambutnya pirang kecoklatan.


“Mama, ini aku Dania.” Gadis itu menyentuh kedua bahu ibunya lalu menguncang-guncangakannya, Nadia mengerutkan keningnya dengan heran mengira putrinya ini sakit dan masih banyak pikiran.


“Mama! Ini aku Dania!! Mama lupa sama anak sendiri!” ucap Dania sambil menangis tak menghiraukan wajah ibunya yang kebingungan.


“Kamu istirahat nanti mama panggil Tante Stevany buat meriksa kamu,” ujar Nadia membiarkan putrinya istirahat.


“Sebenernya gua ada dimana? Gua taku kagak bisa balik lagi,” batin Dania menyampingkan tidurnya dengan air mata yang mengalir.


Dania kebingungan apa yang sebenarnya terjadi dengan hidupnya sebuah rahasia apa yang tersembunyi, mendiang ibunya tak pernah menceritakan apapun padanya sebelum tiada. Hari ini ia senang di beri kesempatan untuk bertemu dengan mendiang sang ibu.


Tapi kenapa ibunya tak mengenalinya. Ada apa sebenarnya ini? Hidupnya berantakan setelah kematian ibunya sekarang ia harus membangun dari nol lagi, sulit untuk bangkit tanpa ibu di tambah ayahnya lebih mementingkan ego dan emosi dibandingkan kebijaksanaan.


Dania berfikir apa yang harus ia lakukan untuk mengetahui rahasia ini. Dania harus menjalankan hidup di sini dengan normal agar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan apa sebenarnya rahasia ibunya yang selama ini belum di ceritakan.


“Ya allah bantu aku, hamba tak tahu apa yang terjadi.” Dania masih menangis ia tak tahu harus apa, Dania merasakan tenggorokannya haus ia bangkit dari kasur untuk menuju dapur saat ini menuju dapur ia mendengar pembicaraan antara ibunya dan pria Belanda dengan pakaian biasa.


“Ik akan di pindah tugas ke Banten karena pemberontakan disana,” ucap Hanson.


“Kita pindah lagi?” tanya Nadia.

__ADS_1


__ADS_2