
Di sebuah tempat dengan rimbunnya pohon seperti hutan belantara Rendy tengah di berdiri seolah jin yang bernama Nyai Sundari itu menyihirnya, Di tengah hutan belantara Rendy keringat dingin wajahnya ketakutan tatkala melihat para bangsa jin yang menari.
Rendy keringat dingin melihat bangsa lelembut ini menari satu sama lain, semakin Rendy berkeringat aroma harum tercium dari tubuhnya karena Rendy berdarah manis hangat yang di senangi mahkluk halus tak semua orang memiliki darah seperti Rendy termasuk yang berkemampuan indigo.
Nyai Sundari mendekati Rendy yang tanpa busana, “kamu harum sekali Le.” Nyai Sundari menempelkan jarinya lalu kukunya berupah menjadi panjang seperti pisau dan menggores pelipis Rendy.
Area pelipis Rendy mengeluarkan darah dan Nyai Sundari mengambil setetes darah Rendy di jarinya lalu menjilatnya, “kamu manis sekali Le.” Nyai Sundari meminum setetes darah Rendy.
Rendy melihat para bangsa lelembut menari di belantara gunung kawi, Rendy ketakutan juga tubuhnya kedinginan karena cuaca di gunung kawi sangat dingin juga berkabut. Di tengah dinginnya belantara suara gamelan bersahutan dan para lelembut mulai menari.
Di gunung kawi ini adalah hari dimana semua pemuja pesugihan menyerahkan sesajen dan tumbal, bagi bangsa lelembut sesajen adalah makanan mereka dan juga tumbal pantas saja mereka berpesta di tambah mereka mendapatkan anak berdarah manis hangat seperti Rendy Abimana Rejaya.
Rendy melihat tubuh Nyai Sundari menari meliuk dengan lihai tak lama wajahnya berubah menjadi tengkorak, tubuhnya masih berkulit dan berdaging tapi wajahnya hanya tulang menari bersama bangsa lelembut lainnya.
“Ya tuhan tolong aku,” batin Rendy ketakutan.
Bocah berumur 10 tahun itu hanya bisa pasrah tapi tak lama ia merasa ada yang mengintai mereka, saat menoleh ke samping beberapa pasukan kompeni meminta Rendy pada mereka. “Enak saja ingin meminta anak itu! Susah payah kami mencari manusia berdarah manis hangat untuk tumbal!!” maki salah satu lelembut.
“Serahkan anak itu atau desa kalian akan di bakar oleh Juffrouw Victoria!” ancam salah satu kompeni berwujud lelembut juga.
__ADS_1
“Serahkan Dania pada kami,” pinta Nyai Sundari dengan jari lentiknya masih setia memegang selendang.
****
Di rumah keluarga Rejaya Dania dan Mia masih setia membaca kitab suci, sedangkan Nathan melakukan kebatinan untuk mengembalikan putranya. Saat membaca Al-Quran Dania merasa mendapatkan penglihatan dimana Rendy berada.
Mereka sejenak berhenti untuk minum tanpa sengaja mulut Dania mengucapkan sesuatu yang membuat Mia merasa heran, “gunung Kawilarang.” Mia menatap sahabatnya lalu menepuk pundak sahabatnya.
“Dania apa maksud lo?” tanya Mia.
“Mia, ternyata adek gua ada di gunung Kawilarang.” Sontak ucapan Dania membuat Mia membulatkan matanya ia tak menyangka apa yang di katakan sahabatnya, “ada cara gak buat menyelamatkan Rendy?” tanya Mia masih memeluk Al-Quran di dadanya.
“Apa?” tanya Mia.
Dania membisikan sesuatu pada Mia lalu kedua gadis yang berusia 15 tahun itu mengangguk, Dania mengambil bawang putih dari dapur lalu di taruh di mangkuk dan membakarnya dengan lilin.
Dania mengisyaratkan kepada Mia untuk menjaganya lalu Dania berbaring di lantai dengan aroma bawang putih yang di bakar dan minyak panas. Ternyata yang ke gunung kawilarang bukan arwahnya Dania melainkan Altarnya.
“Lepaskan adik saya!” perintah Dania memakai pakaian khas tahun 1920 dengan wajah Victoria.
__ADS_1
“Oh ini toh yang namanya Victoria,” ujar Nyai.
Dania melihat sebuah bola api melayang dan mengenai bangsa jin di sana para pasukan kompeni tiba-tiba menghilang, dan ia melihat bola api itu perlahan membakar satu-persatu lelembut termasuk Nyai Sundari.
Dan Dania melihat bola api itu mengenai Rendy dan membawanya kembali, Rendy terbaring di lantai kamar Nathan yang tengah kebatinan bersama dengan Amir. Tubuh Rendy tanpa busana terbaring di hadapannya Nathan dengan di kelilingi dupa dan kemenyan.
“Astagfirullah Rendy!” teriak Dokter Amir lalu mendekati Rendy yang tubuhnya kedinginan seperti terkena hipotermia, Dokter Amir langsung melakukan perawatan kepada Rendy putra dari komandannya.
Nathan masih setia dengan semedinya entah apa yang sebenarnya Nathan cari, Amir juga tak berani menganggu Nathan. Pria itu langsung menolong Rendy mengangkat tubuh Rendy lalu membaringkannya di kasur kamar Nathan, tubuhnya memucat bocah berusia 10 tahun itu di beri penanganan oleh Dokter Amir.
Nathan masih setia bersemedi dan tak membuka matanya, Dania melihat para prajurit Belanda memberi hormat padanya sebelum menghilang dan perlahan Altar Victoria kembali ke dalam tubuh Dania.
Dania terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya, Mia yang dari tadi masih setia membaca kitab suci memberikan air doa kepada sahabatnya untuk di minum. Mia memberikan sebuah kain untuk mengelap darah yang tercecer di lantai keluar dari mulut Dania.
“Mia...Rendy udah balik,” kata Dania dengan tubuh yang lemas.
“Yaudah lu masih lemes sini gua bantu lu rehat,” ucap Mia.
#BERSAMBUNG
__ADS_1