Three Siblings Indigo

Three Siblings Indigo
Sebuah Jebakan berupa Lucid Dream


__ADS_3

Gaun putih kelabu terbalut di tubuh Dania, gadis itu berjalan di tengah hutan sambil memegang obor. Saat tengah berjalan tiba-tiba ada anak panah yang menancap di pohon besar.


Melihat hal itu membuat Dania berlari, karena merasa ada seseorang yang mengintainya, di tangannya membawa obor ia genggam dengan erat.


Dania yang lelah berhenti sejenak gadis itu duduk di bawah pohon yang rindang, tangannya merasa terikat lalu ia memberanikan diri menoleh ke samping. Dania berteriak saat tangan kanannya di ikat oleh segulung rambut, ia memperhatikan darimana rambut ini berasal.


Saat di telusuri ia kaget dan takut semua bercampur aduk, sesaat tersadar ia langsung berteriak histeris. Kuntilanak tengah melayang sambil menggunakan rambutnya mengikat Dania, tertawa meski tak ada yang lucu.


Dania takut Karena sosok kuntilanak itu bukan berwajah seperti biasa malah wajahnya tengkorak dan menghitam, di tambah giginya bertaring melingkar, kukunya juga panjang berwarna hitam.


"AAAAAAA!!!" jerit Dania kepada hantu itu, bukan main wajahnya tidak seperti kuntilanak yang biasa ia lihat ini sangat menyeramkan. Kuntilanak itu terbalut daster hitam, Dania yang sudah mulai panik dan ketakutan berusaha melepaskan ikatan rambut itu.


Ia berusaha melepaskannya dengan segala cara namun sia-sia, lalu satu ide tercetus ia menggunakan api yang terdapat di obor akhirnya bisa terlepas, meski tangannya terkena luka bakar.


Gadis itu melanjutkan berlari dengan tangan yang terkena luka bakar ia memegang obornya, dan tangan satu lagi memegang gaunnya yang panjang.


Tapi saat di pertengahan berlari kepalanya terasa sakit, pandangannya perlahan mulai kabur lalu semuanya menjadi gelap.


...****************...


Dania yang masih dengan gaun yang sama ia di baringkan dengan alas altar pemujaan bagi santanik, dan sesaat membuka matanya sedikit ia melihat orang-orang dengan gaun hitam berdansa, dengan memutarinya.


Kepala yang sangat sakit ia paksakan terduduk ia ingin menerobos tapi malah tak bisa, "kalian siapa!" teriak Dania dengan bingung sebenarnya apa yang terjadi.


Saat selesai bicara tiba-tiba semuanya berhenti dan mundur, lalu masuklah seseorang dengan jubah hitam dan tudung hitam di kepalanya dengan di kawal tiga orang menggunakan pakaian yang sama.


Tangannya membawa tongkat berupa bulan sabit perak, saat Dania memperhatikan kakinya ternyata pemimpin yang membawa tongkat bulan sabit itu kakinya tak menapak di tanah.


Orang-orang yang berdansa tadi langsung menyambut nya dengan teriakan-teriakan seperti pemuja, teriakan itu berhenti saat yang tudung hitam itu mengangkat tangan kanannya menyuruhnya berhenti.


"Dobivme devojče, od krvta na sopstvenikot na oltarot." Ucapnya dalam bahasa Makedonia, sambil setia memegang tongkat bulan sabitnya. (Kami mendapatkan seorang gadis, dari darah pemilik altar.)


Dania mengenakan gaun putih kelabu dengan hiasan mutiara, dan rambutnya di kuncir setengah gerai. Dia sama sekali tak mengerti apa yang di ucapkan, wajahnya masih tertutup tudung.

__ADS_1


Dania berasumsi jika dia bukan hanya pemimpin tapi di puja oleh aliran ini, lalu ia terbang sambil membawa tongkat bulan sabitnya.


Wajahnya terlihat menggunakan topeng tengkorak lalu mengangkat tongkatnya, dan terciptalah api mengelilingi Dania yang berdiri di tengahnya.


"O Devi Freja ti ja posvetuvam ovaa devojka, nejzinoto ime e Viktorija Aleksandra Van Butjer." Setelah mengucapkan itu tiba-tiba dari atas gedung yang Dania berdiri dengan Altar di kelilingi api melingkar, terbukalah seperti pintu dua sisi memperlihatkan mata hari.


(Oh Dewi Freya, aku persembahkan gadis ini untukmu, namanya Victoria Alexandra Van Buthjer.)


Dania tak merasa api itu menyentuhnya hanya panas yang ia rasakan, berusaha berteriak pun percuma.


Melihat semua itu ia melihat semua orang memakai topeng dan di ujung ruangan ada Nyai Sundari juga Juminten yang tertawa puas, Dania kesal ia tahu pasti mimpi ini ilusi yang di buat oleh dua siluman itu.


Dania memejamkan matanya ia meminta agar mimpi ini segera berakhir, tapi ia melihat sesosok wanita memakai baju valkirie dengan membawa tombak.


Mengulurkan tangannya lalu menariknya dari altar itu, lalu Dania tersadar dari Lucid Dreamnya.


Dania menoleh ke samping ia melihat neneknya yang dari pihak ibu Amelia Rejaya, "Omah?" lirih Dania menatap neneknya yang sedang menyeduh kopi.


Oma membantu menenangkan Dania yang tertidur menatap langit-langit, ia melihat kedua kakinya di perban di tambah tangannya. Karena kakinya terkena pecahan kaca sampai dalam jadi harus di jahit 2 jahitan.


Memang terkadang gadis atau pemuda yang memiliki Altar harus siap tertimpa kemalangan di tambah dia indigo, Dania tersenyum ia mengingat sesosok wanita yang membantunya keluar.


Menggunakan baju Valkirie, Dania yakin itulah sesosok Dewi Freya yang ada di mitologi Nordik dan di sembah di kalangan Eropa Kuno sebelum agama Kristen datang.


Dania memikirkan lagi sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya, tapi lamunannya hilang saat nenek dan ayahnya berteriak seolah mendebatkan sesuatu.


Dania mendengar jika Neneknya memarahi sang ayah, "kamu benar-benar tega Nathan!!" makinya kepada putranya.


"Ya untuk apa gadis itu selamat!! Dia bukan putriku!! Aku menyesal kenapa dia harus tetap hidup!!" maki Nathan, membuat sang ibu menamparnya.


"Meski awalnya Dania putri dari pasangan hantu mendiang istrimu, tapi darahnya sama denganmu dan dia tetap darah daging kita, Dania dan Satria tetap anakmu!!" balas sang ibu.


"Terserah aku mau pulang!!" ujar Nathan.

__ADS_1


"Sekali kamu pulang!! jangan anggap aku ibumu lagi!!!" kata Ibunya seolah menyumpahi anaknya.


Mendengar itu semua Nathan jadi tak pergi karena mendengar sumpah serapah ibunya, Dania menatap langit-langit kamar mulutnya bergumam.


"Papa Hanson....tolong ke sini...," lirih Dania dengan air mata.


""Ik ben hier schat, waarom belde je me?" tanya Hanson yang ada di sebelahnya secara tiba-tiba.


"Papa," kata Dania lalu memeluk Hanson.


"Bawa aku bersamamu," pinta Dania.


Hanson mengangguk lalu mengulurkan tangannya dengan sigap Hanson membawa gadis itu bersamanya, menuju Batavia ia akan menjadikan Victoria putrinya.


Dania kembali memejamkan matanya, bibirnya pucat dan wajahnya pucat. Tak lama Dokter Amir masuk untuk menjenguk Dania, "maaf komandan mencampuri urusan kalian tapi saya kesini mau membawa buah."


"Masuk saja," ucap Nathan dengan ketus.


Dokter Amir datang di saat yang tidak tepat karena mereka sedang berdebat antara ibu dan anak, Dokter Amir memasuki ruangan ia amat kaget wajah Dania seperti mayat hidup.


"Hantu Belanda itu!!" ujarnya.


Dokter Amir tak mungkin meminta bantuan Nathan karena ia yakin Nathan sedang tak ingin di ganggu saat ini, tapi kali ini ia harus menolong Dania gadis yang sudah di ikrar 'kan olehnya.


Leluhur mereka yang seorang Patih sudah mengikrarkan mereka untuk bersama, padahal pada awalnya Amir hanya menganggap Dania seperti adik perempuannya tapi Amir harus bicara apa soal ikrar ini kepada komandannya yakni Nathan.


Amir takut jika Nathan tidak suka bahkan menentangnya, karena ambisi keluarga Rejaya yang ingin putri mereka tak ingin menikahi anak buah tapi ingin menikah dengan yang lebih tinggi.


Lupakan soal ini yang terpenting Nathan harus bicara pada Hanson agar Dania di kembalikan, karena Amir tahu Dania sedang putus asa.


Amir bisa mengerti jika di posisi Dania, Jadi Nathan segera berbaring di lantai di bawah kasur Dania. Melakukan hal yang tak terduga, pertama Amir ingin memberikan pelajaran untuk Nyai Sundari dan Juminten, baru berbicara dengan Hanson soal Dania.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2