Three Siblings Indigo

Three Siblings Indigo
Kemalangan Yang Menimpa Satria Saat Bertugas


__ADS_3

Dania dan Amir saling bertatapan hingga Nathan datang setelah dirinya dinas, "ehm!" Nathan mengakhiri sesi tatap-tatapan mereka.


"Amir saya berterimakasih karena sudah menyelamatkan hidup putri saya," kata Nathan sambil menepuk pundaknya.


"Siap Komandan sudah tugas saya," balas Amir.


Dania menatap ayahnya dengan heran sebenarnya ada bukankah ayahnya akan kemari nanti sore tapi kenapa sekarang, Amir pergi lalu Dania hanya menunduk.


"Papa gak dines?" tanya Dania.


Nathan hanya tersenyum sambil membelai kepala putrinya, lalu dirinya duduk di samping dekat dengan putrinya. "Papa sudah tahu kejadian itu, papa minta maaf karena belum bisa menjaga kamu." Nathan memeluk putrinya.


Dania berfikir apakah ayahnya ini salah makan atau dirasuki sesuatu, rupanya Nathan saat sedang bekerja untuk beberapa keperluan anak buah yang ingin laporan dirinya mendapatkan penglihatan tentang putrinya yang tengah diincar oleh wanita pemuja iblis.


Nathan juga tak menyangka selama ini dirinya tak menyadari jika anak perempuan sangat berarti bagi hidupnya terlepas dari apa Dania menjadi manusia, tapi tetap saja dalam tubuh manusia ini mengalir juga darahnya.


"Papa mau janji ama kamu," ucapnya dengan tersenyum yang masih memakai seragam dinas dengan penuh lencana.


"Janji apa?" tanya Dania sambil mengerutkan keningnya.


"Kalo kamu akan selalu di bawah pengawasan papa sampai kamu menikah," ujarnya.


Hal itu membuat Dania menggelengkan kepala, "udahlah pah aku baik kok. Nanti juga aku sekolah SMA nya disini aja juga gak apa," katanya.


"Perintah papa gak bisa di tolak kamu harus ke Bandung! dan sekolah SMA disana agar kamu selalu bersama Papa!" ujarnya dengan tegas.


"Terus Rendy gimana? 'kan dia masih sekolah juga?" ujar Dania yang menghawatirkan adiknya.


"Dia akan tinggal sama nenek kamu," jawab Nathan.


Dimaksud ayahnya adalah ibu dari mendiang istrinya karena tugasnya di bandung sampai lima tahun karena hal itu dirinya ingin mengajak putrinya, dan selanjutnya soal kuliah putrinya akan dikembalikan lagi ke Depok.


************************************


Satria tengah rapat dengan pimpinan yakni Mayor Jendral Hussen Siregar, "jadi untuk selanjutnya kita akan latihan darat untuk berenang saya akan menggunakan air kotor untuk melatih para prajurit baru." Satria hanya diam sambil memainkan pulpen di tangannya.


Dirinya banyak pikiran terutama masalah adiknya yakni Dania, rupanya gadis itu memang di takdirkan tertimpa kemalangan setiap saat.


Saat tengah melamun Mayor Jendral menggebrak meja, "Letnan Satu Satria ama kamu mengerti apa yang saya jelaskan?" tanya sang Jendral.


"Siap Jendral, Emmm...Emmm latihan tentang prajurit baru," jawab Satria yang gelagapan.

__ADS_1


"Lalu apa lagi?!" tanyanya lagi dengan nada tegas dan keras.


"Siap Jenderal latihan darat dan renang," jawabnya lagi.


"Mohon perhatikan Letnan Satria karena kita akan ada pembagian tugas khususnya daerah konflik seperti papua dan poso," jelasnya dengan nada tegas.


"Siap salah Jendral," ujarnya lagi.


Mayor Jendral melanjutkan penjelasannya soal pelatihan tentara baru, Satria malah meruntuki kebodohannya sendiri karena tak bisa fokus.


'Aduh gua kenapa sih? fokus! fokus!' batin Satria sambil meruntuki otaknya yang sepertinya banyak beban pikiran, terutama keselamatan Dania dan Rendy.


Setelah menjelaskan semuanya. "APA KALIAN SIAP?!" tegasnya, "Siap laksanakan Jendral!" ujar semua anak buah.


Satria tengah melatih renang di kolam renang kesatuannya, dirinya juga ikut renang. Meskipun dingin karena habis huja  tapi tak dihiraukan para abdi negara tersebut, mereka semua harus siap tenaga dan mental untuk melindungi negaranya.


Satria yang sedang latihan tanpa sengaja kaki kirinya terkena keramik di kolam renang membuatnya tak hiraukan, tapi lambat laut di biarkan tubuhnya tumbang.


Semua orang langsung membawa tubuhnya ke tenda pertolongan pertama, Mayor Jendral yang melihat keadaan Satria langsung menelepon Dokter Amir.


Karena dilihatnya luka Satria di bagian betis sangat dalam dan perlu satu jahitan Karena ada keramik kecil yang menancap, tak bisa dibayangkan betapa perihnya kakinya itu.


"Sersan Mayor Putu Arya Wisnu, tetap latih anak-anak baru. Saya mau ke ruangan saya untuk menelepon memakai telepon kantor karena kita masih di jam tugas," perintahnya.


"Letnan Satu Satria sebentar saya telepon Dokter Amir dulu," ujarnya lalu pergi ke ruangan yang jaraknya hanya 25 langkah dari tenda pertolongan pertama.


"Si-si-siap Jendral," ujarnya dengan nada yang kesakitan saat di dudukan di kursi.


*********************************


Di rumah sakit TNI dokter Amir yang tengah mencatat beberapa resep obat untuk pasien, saat tengah mencatat tiba-tiba mendapatkan panggilan telepon dari Mayor Jendral Hussen Siregar, "kok tumben Mayor Jendral nelepon saya jam segini? apa ada masalah?" tanyanya dalam hati.


Satria mengangkat panggilan itu, "Hallo Pak Hussen ada apa?" ucapnya sambil memegang tumpukan kertas untuk menulis resep obat apa saja yang nanti di berikan untuk pasien ruang rawat inap lantai satu.


"Kamu bisa kesini tempat latihan Nanggala," pintanya.


"Ada apa memangnya, Pak?" tanyanya dengan informal karena bukan jam tugas mereka memanggil seperti orang tua mereka sendiri.


"Ada insiden yang menimpa Letnan Satu Satria," jelasnya di sebrang telepon mendengar nama satria di sebut tanpa sengaja Amir langsung menjatuhkan tumpukan kertas ke lantai dan juga ponselnya.


"Hallo! Hallo!" ujar sang Jendral di sebrang panggilan.

__ADS_1


"Siap Jendral saya akan kesana," ujar Amir sambil mengapit ponselnya dengan bahu dan tangannya sibuk merapikan tumpukan kertas.


Setelah mendengar itu Dokter amir langsung melepas jas dokternya dan menyerahkan kertas obatnya kepada perawat, "nanti berikan obat kepada pasien siang jam 1 dan sesuai data!" perintah Amir buru-buru.


"Bodo amat deh nanti gua ganti bajunya di mobil aja," gerutunya lalu segera menuju parkiran.


Sebenarnya Amir mengambil pekerjaan sebagai dokter di rumah sakit tentara atas rekomendasi Mayor Jendral Nathan Aditya Rejaya, mengambil waktu luang untuk mengabadikan diri di rumah sakit tentara.


Meski pekerjaannya hanya mendata pasien dan mendata penyakit apa saja pada pasien, Dokter Amir juga cukup pengalaman untuk ahli bedah. Sebenarnya waktu tugasnya nanti malam jam 7 bertepan dengan waktu atasanya Mayor Jendral Nathan.


Tapi sebagai Dokter tentara dirinya harus siap jika ada tentara atau perwira yang terluka dalam menjalankan tugas, mendengar Satria terluka yang sudah dianggap seperti saudaranya sendiri membuat Amir panik bukan main.


Setelah Amir menganti seragam dengan seragam tentara dirinya hanya memakai sepatu bukan untuk tugas, "nanti aja gantinya di tempat latihan."


Amir yang menyetir ke tempat tugasnya tiba-tiba harus berhenti mendadak karena ia mendapatkan penglihatan soal Rendy yang jatuh dari tangga, "yaudah yang penting sekarang Satria dulu."


Sesampainya di tempat dinas, dirinya bertemu dengan Sersan Mayor Putu Arya Wisnu. "Sersan dimana Letnan Satria?" tanya Amir.


"Siap Letnan ada di ruangan pertolongan pertama," jawabnya.


"Terimakasih," ujarnya singkat lalu buru-buru jalan.


Dan tidak sengaja menabrak Mayor Jendral Hussen Siregar, "Letnan Amir mari saya tunjukan ruangannya.' Mereka berjalan beriringan dengan buru-buru.


Saat membuka ruangan, "mari masuk Letnan sedang---" belum sempat menyelesaikan kalimatnya mereka langsung terkejut dan panik.


"ASTAGFIRULLAH!" ujar mereka dengan serempak saat melihat sosok mahkluk yang menjilati darah Satria di lantai dengan tubuh kurus seperti tulang terbungkus kulit dan rambut panjang kusut.


"Kamu siapa?!" ucap Mayor Jendral.


Tak lama sosok itu berubah jadi Annamarie, Mayor Jendral membulatkan mata tapi untuk Amir hanya diam dengan rasa kesal seolah akan memusnahkan mahkluk itu.


"Pergi ke alammu, lupakan dunia pergilah dengan damai." Amir maju dan bicara tapi AnnaMarie hanya tertawa dan menatap keduanya.


Saat ingin menyerang Amir lebih dulu menyerang bagian perutnya dan mengunci tubuh mahkluk itu dengan bacaan doa lalu mengurungnya di dalam cincin milik Mayor Jendral. "Saya tahu anda pasti ingin tahu tapi sekarang yang terpenting Satria dulu," ujar Amir mendekati Satria dengan panik.


Wajahnya Satria sudah pucat karena kekurangan dan banyak darah dan mulutnya hanya meringis kesakitan seolah menahan sakit luar biasa, dokter Amir memakai sarung tangan dulu lalu menyuntikan obat bius dosis pas agar dengan mudah mencabut keramik yang menancap.


Amir mengambil piset untuk mencabut pecahan keramik yang menancap di dalam daging bagian luar Satria, ada tiga pecahan keramik yang menancap lalu Amir mengambil benang jahit untuk menjahit kaki Satria.


Setelah selesai dirinya memperban bagian betis yang sudah di jahit, "ayo ke ruangan saya kita akan introgasi jin ini! jika Mayor Jendral Nathan tak mau melindungi Dania dan Satria maka kita yang harus bertindak!" tekan Jendral Hussen.

__ADS_1


Dua orang itu berjalan menuju ruangannya yang berjarak 25 langkah, Amir berjalan sambil melepas sarung tangan yang dikenakannya juga masker yang dikenakan untuk menuju ruangan tugas Mayor Jendral Hussen Siregar.


#BERSAMBUNG


__ADS_2