
Pusaran ilusi gaib dengan suara jam berdentang terdengar keras, di dalam pusaran itu Dokter Amir berusaha mendapatkan Dania anak atasannya.
"Menner kembalikan Dania," ujar Amir yang bisa memasuki lorong waktu dengan telepati.
Mereka saling mengejar satu sama lain, Hanson memegang Dania yang berwujud gadis Belanda. Amir terus mengejar sekuat tenaga meskipun energinya nanti terkuras, sampai The Black Robe atau si jubah hitam datang.
Si Jubah hitam adalah penyeimbang waktu dan bertugas di lorong waktu menyesuaikan antara masa depan, masa kini, dan masa lalu.
Tetapi masa depan tak bisa di masuki dengan mudah hanya dukun dan peramal yang bisa masuk dengan membuat perjanjian iblis, si jubah hitam berhasil membuat Hanson berhenti dengan memberikan tembok tak terlihat di hadapan Hanson.
"BERHENTI!!" teriak si jubah hitam sambil membawa pedang di punggungnya, "berani sekali kalian bersikap seperti ini di daerah tugasku!!" lanjutnya.
"The Black Robe," ujar Hanson yang mulai panik.
Amir mengerutkan keningnya tanda keheranan, sebenarnya siapa mahkluk ini energinya sangat kuat sekali dan hampir membuatnya pingsan.
"Apa yang kalian rebutkan?! gadis ini?" tanyanya dengan bernada emosi.
"Gadis ini adalah putriku, jadi wajar aku mau membawa putriku!" ucap Hanson.
"Tidak Dania adalah bangsa manusia, putri dari Mayor jenderal Nathan!" tegas Amir.
"Tapi istri atasan je menikahi ik dan jiwa anak ik bersemayam di tubuh Dania." Mendengar itu, membuat Amir kaget jadi selama ini secara tak langsung istri atasannya membuat kesalahan yang amat fatal.
"Kembalikan Dania!!" tegas Amir.
"Victoria anak ik!!" balas Hanson tak kalah tinggi.
"CUKUP!!" lerai Si Jubah Hitam.
Di tangan si jubah hitam seperti sihir mengeluarkan apel, lalu di belah dengan kedua tangannya.
Satu sisi belahan Apel di tangan kanan berwarna putih berlian, sedangkan satu sisi berwarna biru water.
"Apa maksudnya itu?" tanya Amir.
"Pertanyaan yang bagus," kata The black robe.
__ADS_1
"Biru artinya dunia gaib dan putih artinya dunia manusia," jelasnya.
"Lalu?" tanya Amir, "langsung ke intinya jangan berbelit!" lanjut Amir.
"Cih dasar tidak sabar," ejek Hanson dengan senyum sinis.
"Gadis ini memiliki Altar dan___kamu tak berhak mengusik jiwa Victoria putri Hanson, sebaiknya kamu kembali ke alam kamu urus raga Dania."
"Dan bagaimana Dania bisa hidup jika jiwanya bersama Hanson?" tanyanya.
"Jiwanya akan kembali saat waktu terbangun dia tak akan mati," jelasnya.
"Jika kamu mau aku akan menawarkan tawaran padamu__tanpa meminta syarat apapun." Si Jubah hitam menghilangkan kedua belahan apel di tangannya, lalu mulai menarik Hanson mendekat karena posisinya sudah mau keluar gerbang.
"Aku akan mengikrarkan tubuh kamu dengan tubuh Dania, kalian akan menikah secara raga tapi aku tak bisa jamin kalian menikah dengan arwah."
Mendengar tawaran itu Amir langsung setuju pasalnya Amir sudah memiliki perasaan saat pertama kali melihat Dania, Ya benar kata petuah dan pepatah cinta pertama memang sulit di lupakan.
The Black Robe langsung menarik tubuh Amir dan Dania seolah mereka terhubung satu sama lain, mereka berusaha mengalami kecocokan juga penyesuaian.
Amir merasa hal aneh yang masuk ke tubuhnya, "kamu sudah terhubung dengan Dania. Apa yang Dania rasakan kamu juga rasakan dan jika Dania dalam bahaya kamu akan mendapatkan penglihatan, begitu juga sebaliknya yang akan Dania rasakan."
"Sekarang kamu kembali ke alam manusia, biarkan Hanson membawa jiwa Victoria ke alam gaib kolonial."
Amir langsung mengangguk ia pergi berbalik arah dan Hanson melanjutkan melewati gerbang waktu, Amir tersadar dari telepatinya.
Tubuhnya berkeringat padahal ruang rawat inap ber-AC, ia segera beranjak dari kursi di samping brankar yang di tiduri Dania untuk ke sofa yang terletak tak jauh dari brankar.
Amir berfikir apa benar ia sudah di ikrarkan oleh Dania Anindita Rejaya? atau ini hanya akal-akalan mahkluk gaib saja untuk mengacaukan akalnya, tapi tetap saja Amir ingin memliki Dania.
Meskipun ia tak bisa egois, Amir berfikir dua kali apa dia pantas untuk menjadi pendamping hidup Dania. Pasalnya ia hanya seorang anak juragan sawah yang tak memiliki apapun.
...****************...
Dania di bawa ke roda waktu menjadi Victoria, "Juffrow monggo di minum dulu." Seorang wanita pribumi paruh baya dengan sanggul Cepol memberikan segelas air, "apa yang terjadi?" tanyanya.
"Juffrow sakit demam," sahut Yu Darmi kepada Victoria.
__ADS_1
"Sebentar. Juffrouw 'kan bahasa Belanda?" batin Dania lalu gadis itu segera beranjak dari kasur menuju cermin, "Juffrow mau kemana?? anda masih sakit."
Yu Darmi heran dengan kelakuan Victoria, sesaat melihat wajahnya di cermin. Dania tersenyum sambil memegang wajahnya lalu tertawa bahagia, "gila gua kaya aktris bisa jadi aktris!!! blasteran bule!!" ujarnya.
Yu Darmi yang seorang bendide di keluarga Van Buthjer langsung beranjak untuk menemui majikannya, karena melihat tingkah Victoria yang seperti orang tak waras.
"Anjay gua bisa jadi aktris muka gua bule, hahhahaa." Victoria tak sadar jika Hanson ada di belakangnya melihat semua yang terjadi, "Victoria wat ben je aan het doen?? je bent zo'n krankzinnig persoon!!!" maki Hanson kepada putrinya.
(Victoria apa yang kamu lakukan?? kamu adalah orang yang sangat gila!)
"Darmi panggil Dokter Anna untuk membuat Anak ik tenang!" perintah Hanson dengan panik saat melihat Victoria seperti ini.
Dokter Anna yakni sepupu Hanson datang lalu mengeluarkan suntikan dari tasnya, "Hanson, help me om dit in het lichaam van uw dochter te injecteren," pinta Anna kepada sepupunya.
( Hanson bantu aku untuk menyuntik ini pada putrimu.)
Hanson hanya mengangguk lalu berusaha memegang tubuh Victoria dengan tangannya, di bantu dengan para bendide untuk menyuntikan obat penenang dengan dosis rendah.
Hanson memegang tangannya tapi Victoria berontak, "papa ik tidak gila." Dania bicara kepada ayahnya lalu memeluk ayahnya, saat posisi Victoria memeluk Hanson kesempatan itulah yang di gunakan Anna untuk menyuntikan obatnya.
Setelah di suntikan Victoria menjadi tenang dan diam seperti patung, Hanson membopong tubuh putrinya lalu di baringkan di atas kasur.
Hanson menunggu istrinya yakni Nadia pulang, karena sudah lama ia menunggu istrinya dari toko roti Madame Anne belum juga kunjung pulang.
"Gelukkig heb ik mijn vrienden niet, als ik daar was, zou ik me kunnen schamen omdat ik een gekke dochter heb."
(Untung saya tidak ada teman yang kesini, kalau mereka ke rumah saya bisa malu karena punya anak perempuan yang gila)
Hanson bicara dalam mulutnya, Victoria masih diam menatap langit-langit kamar menunggu Nadia yakni ibunya kembali.
Hanson tetap setia menunggu di sebelah Dania, ia menggenggam tangan kiri Dania. "Mijn dochter!! Je leeft in ellende met die man!!” ucapnya kepada putrinya yang masih menatap langit-langit kamar, yang dimaksud adalah Nathan.
(Anak perempuanku!! Kamu hidup dalam kesengsaraan dengan pria itu!!”)
Ucapan Satria kakaknya terus terbayang di pikiran dan berdengung di telinganya, "disini lu sebagai Victoria karena kita lahir dari kesalahan mama."
"Maafin gua Dania, gua baru cerita sekarang Ama lu." Ucapan-ucapan itu selalu terngiang-ngiang di telinga Dania, karena ia sama sekali tak tahu menahu soal apa yang dilakukan ibunya dulu.
__ADS_1
#Bersambung