Three Siblings Indigo

Three Siblings Indigo
Mia memiliki Khodam berupa maung


__ADS_3

Pagi ini Mia berjalan terburu-buru memakai seragam putih-biru dengan dasi biru menghampiri Louis yang wajahnya sudah berbintik-bintik merah dan mengelupas, “eh Louis gua mau ngomong ama lu!!” kata Mia dengan nada yang ketus sambil menarik tangan Louis.


“Eh mau ngapain lu!!” cegah teman Louis.


“Tenang aja gua mau ngomong sebentar gua pastiin gak bakal lecet,” ujar Mia sambil menarik tangan Louis.


“Mau ngomong apa lu!” ucap Louis yang setengah menolak.


“SOAL DANIA.” Mendengar penuturan Mia Louis langsung berdiri malah menarik Mia keluar kelas menuju tempat sepi.


Louis dan Mia saling berdebat satu sama lain mengenai Dania. Mia selalu mendesak Louis untuk mengaku tapi Louis selalu mengelak seolah tak bersalah, “ngaku lo! Lo ‘kan yang nyantet Dania biar demen ama lo!!” interogasi Mia sambil menunjuk.


“Kagak!!” elak Louis.


“Oke, kalo lu gak mau ngaku lu bakal di hantuin rasa bersalah seumur hidup lu karena lu tahu karma itu pasti ada termasuk gua orang muslim!” maki Mia sambil menunjuk wajah Louis.


“Dasar lo anak haram gak jelas hidup lo!” maki Louis.


Mia langsung pergi sedangkan Louis wajahnya semakin tak karuan karena sikap buruknya kulit Louis semakin terkelupas, Mia ke kelas dengan uraian air mata. Teman-teman Louis tersenyum mungkin saja ketuanya telah melakukan sesuatu kepada Mia pikir mereka.


“Mia lo kenapa?” tanya Niken teman Mia dan Dania.


Mia hanya menggelengkan kepala lalu menyuruh Niken duduk, saat Mia mau buka suara Louis masuk sembari menggaruk-garuk area tubuhnya dengan kulit mengelupas, semua orang menjadi terkejut termasuk geng bule yang melihat Louis demikian.


Mia semakin menyembunyikan tangisnya, lalu teman-teman Louis mengajaknya untuk izin kepada wali kelas tentang keadaan Louis. Mia masih sempat menangis lalu gadis berdarah setengah Yaman itu mengajak Niken ke rumah Dania abis pulang sekolah.


Mia berjanji akan memberitahu semuanya saat sampai di rumah Dania kepada Niken, hidung Mia masih merah dan matanya sembab. Hari ini emosi Mia terbalaskan dengan melabrak Louis karena berani menyantet sahabatnya.


Mia tak bisa berbuat banyak hanya menangis karena takut ia akan mengalami nasib yang sama seperti Dania tapi ia hanya bisa berlindung kepada Allah SWT, tak lama geng bule masuk kelas dengan tatapan mengancam ke arah Mia tapi gadis itu seolah tak peduli.

__ADS_1


Jam istirahat mulai bel berdengung dengan keras lalu para geng bule mulai melabrak Mia, Niken dengan sekuat tenaga melindungi Mia tapi gadis berwajah setengah Yaman itu hanya tanpa ekspresi.


“Berani banget lo maki bos kita punya nyawa berapa lo!!” maki Billy.


Mia masih tak bergeming ia diam dan tak mau bicara, Niken di usir oleh geng bule. “Diem lo cupu!!” ucap Hardi sambil tertawa.


Tak lama Mia melotot matanya seperti berubah semuanya langsung mundur, “lo jangan main-main kita gak takut!!” tantang Billy.


Mia tertawa mengerikan seolah ia tak bisa mengendalikan diri, lalu ia berkata pergi jangan ganggu. Lalu Mia mematikan dan menghidupkan lampu, juga menutup pintu dengan keras.


Tangan Mia mencengkram selayaknya kekuatan ia melempar salah satu geng pembully dari jarak jauh sampai terkena paku, mereka tak bisa keluar seolah sudah masuk perangkap sampai seorang guru yang paham ilmu kebatinan dan juga memiliki kemampuan Indigo mengehentikan Mia yang semakin beringas.


Guru itu berhasil membuka pintu kelas dengan mudahnya ia melihat para biang kerok sudah tak sadarkan diri, Pak Guru membacakan ayat suci sampai tubuh Mia berhasil di rantai lalu mulai bicara.


“Maneh teu kedah hariwang, incu maneh anjeunna moal cilaka, serahkeun tanggung jawab ka kuring sareng sakola.” (Kamu tidak perlu khawatir, cucumu tidak akan terluka, serahkan tanggung jawab kepada saya dan sekolah.)


Mia lalu berteriak seolah mengaum dengan keras lalu tubuhnya terkapar pingsan, semua anak-anak bersorak sambil bertepuk tangan seolah mendukung Mia karena si pembuat resah sudah di buat payah.


“Gua dimana Niken?” tanya Mia yang masih linglung.


“Lu tadi---” belum sempat Niken menyelesaikan kalimatnya Pak Guru dan Bu Sinta masuk ruang UKS menyuruh Niken keluar ada hal yang harus di bicarakan.


Pintu UKS di tutup lalu Pak Anton bicara kepada Mia, “kamu kemarin abis rumah Dania ya?” tanya Pak Guru.


Mia hanya mengangguk karena ia sudah sangat pusing dan tak mampu menyeimbangkan cara bicara, “kamu tahu apa yang terjadi sama Louis?” tanya Pak Guru.


Mia hanya menggelengkan kepala ia hanya tak mau memperpanjang permasalahan, “jujur saja sama Bapak dan Ibu?” tanyanya.


“Dania anak Indigo tapi saya gak bisa seimbang dulu pak soal tanya-tanya kepala saya masih sakit kaya di timpa batu.” Mia bicara sambil mengadu kesakitan tangannya memegang kepalanya.

__ADS_1


“Kamu tahu siapa yang tadi ngerasukin kamu?” tanya Pak Guru.


Mia menunduk hanya bisa menggelengkan kepala tanda menjawab gurunya, “itu khodam leluhur kamu dari garis ibu. Ibu kamu orang Sunda ‘kan??” tanya Pak Guru.


Mendengar itu Mia menatap Pak Guru sambil membulatkan matanya. “Gak usah heran kaya gitu Bapak tahu kamu kaget,” ujar Pak Guru sambil tersenyum.


“Bapak tahu kamu takut setelah apa yang terjadi! Kamu gak perlu khawatir kemarin maung melindungi kamu. Bapak memang tak tahu yang terjadi kemarin antara kamu dan Nadia karena Bapak bukan Tuhan satu hal yang harus kamu tahu maung selalu melindungi kamu sebagai cucunya,” lanjutnya.


**************************************************


Dania hari ini tidak masuk sekolah karena demam mungkin karena kejadian kemarin yang membuatnya demam semua energi terkuras demi menghalau santet yang di kirim Louis, hari ini Rendy menggigil wajahnya pucat seperti terkena Hipotermia.


Rendy masih bisa di tangani oleh Dokter Amir dengan memberikan penanganan pertama, Rendy tubuhnya masih menggigil karena kemarin ia di ambil oleh Nyai Sundari sesosok Jin kiriman Louis.


Rendy di ambil tanpa busana atau bajunya di tinggal hanya tubuhnya saja yang di ambil karena Rendy memiliki darah yang manis atau hangat yang paling di sukai mahkluk sejenis lelembut.


Dania menoleh ke samping ia tersenyum saat melihat sosok hantu pria Belanda yang menatapnya dengan senyuman, lalu sesosok hantu itu memutarkan lehernya untuk memberikan sedikit kekuatan kepada Dania.


“Je bent hier Victoria, mijn dochter.” Pria Belanda itu menempelkan tangannya di kening Dania. (Kamu disini Victoria, putriku.)


“Beweeg niet veel, voel papa's koude handen.” Hanson bicara seolah ia akan melindungi putrinya. (Jangan banyak bergerak rasakan tangan papa yang dingin ini.)


“Jaa, Papa.” Dania bisa berbahasa Belanda ia mempelajarinya saat menjadi Victoria.


Dania hanya memejamkan matanya ia merasakan tangan Hanson yang dingin tak lama ia terlelap, ia di tarik masuk ke belantara membawa obor dari kejauhan ia melihat seseorang yang menari meliuk juga ada rombongan keraton jaman dulu.


Dania berusaha berlari saat para pengawal keraton itu mengubah wujudnya menjadi manusia setengah buaya, mengejar Dania yang ketakutan. “Tolong!!!” teriak Dania dengan ketakutan karena ia tak tahu harus berbuat apa.


“Ya allah tolong Hamba,” batin Dania sambil berlari tak tentu arah masuk belantara hutan yang lebat.

__ADS_1


#BERSAMBUNG


__ADS_2