
Mia masih setia di samping Dania, tadi tanpa sengaja Mia bertemu Satria saat sedang mengendarai motor pulang dinas.
Mia keluar karena sedang membeli pulpen dan obat nyamuk di warung yang letaknya sebrang jalan raya samping toko karpet sang ayahnya, Mia di rumah sakit menangis di depan ruang ICCU saat tubuh sahabatnya di baringkan di atas brankar di masukan ke ICCU.
Di depan ruangan Mia menangis karena ketakutan dan rasa khawatir, ia mengabari ayahnya dulu agar tak takut lewat ponsel jika sahabatnya sedang mengalami kecelakaan dan tanpa sengaja bertemu di jalan oleh kakak sahabatnya.
"Assalamualaikum Baba," kata Mia di sebrang telepon menghubungi ayahnya.
"Wallaikumsallam kenapa Mia?" tanya Babanya.
"Hiks_hiks." Mia hanya menangis, Babanya sangat khawatir mendapati putrinya menangis pilu seperti itu.
"Mia kamu dimana sekarang?" jeda "jangan buat baba panik," ujarnya.
"Mia di rumah sakit baba, temen Mia ngalamin kecelakaan namanya Dania." Mia menuturkan katanya dengan isak tangis pilu.
"Inalilahi, baik kronologi gimana?" tanya Tuan Arafet.
Mia awalnya ingin membeli obat nyamuk di depan warung samping toko ayahnya yang menyebrang jalan raya, tanpa sengaja ia ingin tertabrak motor Satria yang pulang dari dinas.
"Loh Bang Satria!" ucapnya.
Satria yang ingin marah malah tidak jadi melihat sahabat adiknya. "Mia! ngapain malam-malam untung gak ke tabrak," makinya. Terlihat dari wajah Satria amat panik dan tak karuan.
"Abang lagi buru-buru, Dania dalam bahaya." Mia menatap Satria yang masih dengan seragam dinasnya, pulang tugas langsung dapat telepon dari Amir.
"Gua ikut lu Bang," ucap Mia yang juga ikut panik.
"Gak usah."
"Bang asal tahu aja Dania udah banyak berjasa, tolong jangan tolak!" pinta Mia yang akhirnya di setujui oleh Satria.
Mereka berboncengan menaiki motor mengarah ke sekolah, "lah ini 'kan sekolah? ngapain ke sekolah malam-malam?" tanya Mia.
"Nanti aja deh ceritanya panjang kalo ceritanya, mending lu ikut gua ke gudang. Kalo lu takut gua apa-apain nih buktinya ada mobil Dokter Amir," kelas Satria yang mengerti jika teman adiknya juga ketakutan.
Mia memejamkan matanya lalu membukanya saat Dokter keluar dari ruang ICCU, Mia menutup panggilan melihat ayahnya sudah memberikannya izin dengan memotret keadaan rumah sakit.
__ADS_1
"Keadaan pasien sangat kritis, Pasien juga kekurangan banyak darah sayang sekali stok darah di rumah sakit sudah habis. Apa diantara kalian ada saudara pasien yang bersedia mendonorkan darahnya?" jelas Dokter.
"Saya kakak pasien Dok, saya bersedia mendonorkan darah saya." Satria mengajukan diri, "kalo begitu mari ke ruangan biar di cek golongan darahnya sama atau tidak."
Golongan darah Satria O karena perwira ada cek darah, karena Dania belum pernah cek darah atau mendonorkan darahnya jadi mereka tidak tahu golongan darah Dania apa.
"Maaf golongan darah anda tidak cocok, golongan darah pasien A+." Satria langsung membulat itu artinya ayahnya memiliki golongan darah A+, Satria langsung menelepon ayahnya yang ada di rumah.
Satria menelepon ayahnya yang sedang di kamar Rendy, tapi Nathan menolak karena Rendy lebih penting di bandingkan Dania.
"Papa!! tega banget! meskipun kita anak altar tapi kita udah banyak berkorban buat keluarga Rejaya," marah Satria di sebrang telepon membuat Amir dan Mia bingung melihat tingkah Satria.
Nathan akhirnya mau dengan syarat siapa nanti yang akan menjaga Rendy, "aku pah! aku yang pulang dan jaga Rendy!" tawar Satria.
"Kamu pulang dulu," perintah Nathan.
Satria harus pulang untuk menjaga Rendy karena keadaan bocah itu, lalu biar nanti Nathan ke rumah sakit dengan menggunakan mobil.
Mia nampak frustasi ia tak tahu harus bagaimana dalam kondisi seperti ini, dirinya tak mau kehilangan sahabatnya yang sudah menemaninya di saat satu sekolah membuangnya karena dirinya anak hasil di luar pernikahan.
Setengah jam berlalu, Nathan baru datang melihat bagaimana keadaan putrinya. "Dimana anak saya?" tanya Nathan.
"Diruang ICCU Om," jawab Dania yang wajahnya pucat bercampur heran.
"Dimana yang bersedia mendonorkan darahnya?" tanya Dokter, "saya ayahnya Dokter." Nathan bicara.
"Mari ke masuk ke ruang ICCU, karena tubuh pasien sudah kejang-kejang karena kekurangan darah."
Nathan memakai baju sterilnya dengan masker masuk ke ruang ICCU, Mia mengangkat alisnya heran melihat Nathan yang sepertinya tak peduli dengan Dania.
"Kenapa sama Om Nathan? kenapa seolah gak peduli sama Dania?" batin Mia yang keheranan, apa mungkin Dania bukan anak kandung om Nathan tapi itu semua segera di tepis oleh Mia.
Mia hanya harus fokus kepada Dania, kenapa Dania bisa ada di gudang sekolah dan terluka, ada apa sebenarnya apa ini ulah Louis.
Mia masih menebak-nebak, aku mulai mencurigai ada sesuatu.
Amir menyentuh pundak Mia membuat gadis berusia 14 tahun itu menoleh ke Amir, "saya mengerti apa yang kamu pikirkan Mia."
__ADS_1
Sontak pernyataan Dokter Amir membuat Mia heran bukan main, bagaimana mungkin bisa Amir mengetahui isi hatinya.
"Kamu heran 'kan bagaimana Dania bisa ada di gudang sekolah?" tanyanya, Mia hanya mengangguk karena tak sanggup lagi.
"Dania mendapatkan telepon dari kamu," jelasnya.
Mia langsung membulatkan matanya menatap Amir tetapi masih dengan air mata di pipinya, " bagaimana mungkin Bang. Secara HP aku aja lagi di charge," aku Mia kepada Amir.
"Saya udah tahu yang sebenarnya terjadi, itu semua juga bukan salah kamu. Sosok yang kemarin membawa Rendy yang melakukan itu," tutur Amir sambil melipat kedua tangannya di depan.
"Bang Amir sebenarnya kenapa sosok itu sangat dendam sama sahabat saya?" tanya Mia heran, Amir hanya duduk di sebelah Mia matanya menatap ke depan menghela nafas berat.
"Masa lalu ibunya dan masa lalu nenek buyutnya yang membuatnya harus membayar ini," ucapnya.
"Bi-bi-bisa di jelasin, Bang. Biar saya selalu melindungi Dania," ujarnya.
Amir menjelaskan semuanya dari masa muda ibunya Dania dan semuanya termasuk Puspita yang mencintai seorang tentara Jepang pada masa itu, tanpa Dania dan Amir cerita dengan menyentuh tangan Dania saat itu membuat Amir mengetahui segalanya.
"Bang Amir, aku akan selalu melindungi Dania."
Amir menoleh ke samping ke Mia, "kamu gak perlu ngelakuin itu Dania sedang menjalani hukumannya karena ini emang udah takdirnya." Amir menjelaskan kepada Mia.
"Sekarang kamu hanya fokus ke hidup kamu, kamu akan menemukan ke bahagian bukan dengan kami tapi sesama Arab."
Amir seolah mengetahui apa yang akan terjadi ia juga tahu jika ayahnya Mia tengah berencana menjodohkannya dengan sesama Arab tanpa sepengetahuan Mia, gadis itu hanya bisa menggelengkan kepalanya tanda tak mengerti.
Hidup sahabatnya penuh dengan teka-teki yang sulit terpecahkan, seolah ada sesuatu rahasia yang harus di bongkar.
"Kamu akan di lindungi karena melalui keturunan ibu kamu, kamu memiliki maung yang akan senantiasa melindungi kamu."
Amir menjelaskan kepada Mia jika ia memiliki Kodam pendamping berupa maung, ia amat mengerti jika dalam keadaan terdesak maung akan menyatu dalam tubuh Mia dan akan menghancurkan siapa yang berusaha menyakiti Mia.
Mia mulai mudah di masuki saat berteman dengan Dania, karena dalam diri Dania memiliki Cakra yang sudah mekar di usianya terbilang muda yakni 13 tahun.
Dania juga harus mengambil tanggung jawab menjaga Rendy sesuai pesan mendiang ibunya dulu, "kalian saudara harus saling menjaga satu sama lain dan bahu-membahu saling membantu." itu pesan terakhir ibunya Dania, Nyonya keluar Rejaya.
#Bersambung
__ADS_1