Three Siblings Indigo

Three Siblings Indigo
Tragedi Yang Hampir Menimpa Dania


__ADS_3

Mia menatap Satria keringat dingin mulai bercucuran ia tak bisa berkata, apa yang harus diucapkan. "Kem-kem-kemaren ke-ke-ke rumah 'kan?" ucap Mia dengan nada yang terbata-bata seolah dirinya takut dengan tentara takut jika tentara sudah marah tatapannya sangat sangar.


"Santai aja kali...gua kagak bakal nerkam lu," kata Satria dengan enjoy sambil terkekeh.


"Iy-iya bang," balas Mia dengan cengiran kuda.


"Yaudah sampai, salim dulu." Satria memberikan tangannya lalu membelai gemas kepala Mia yang mengenakan hijab, saat Satria mau melajukan mobilnya dirinya malah melihat Mia tengah di hadang oleh segerombolan geng.


Salah satunya ada Louis, mata Satria memerah urat-uratnya terkepal. "Hans Russell!" gumamnya dengan marah.


Satria turun dari mobil dan menatap Louis dengan marah ia mendekat dan mengatakan satu kalimatnya, "Hans Russell!" tekan Satria.


Teman-teman geng bule menatap aneh Satria sedangkan Louis hanya diam terpaku dan keringat dingin bagaimana mungkin bisa Satria tahu asal-usul dirinya, "jangan ganggu Mia dia adek gua."


Satria beralibi agar semuanya tidak menatap dirinya curiga, Mia langsung masuk lalu Satria dan Louis saling menatap dengan tatapan tajam.


Sungguh sepertinya Jason Van Buthjer dan Hans Russell ada sebuah masa lalu yang belum terselesaikan, masa lalu yang seharusnya tak dibawa di masa sekarang.


Satria langsung memasuki mobilnya dan menyetir ke arah rumahnya untuk mandi dan berganti pakaian, nanti siang jam 10 dia harus pergi dinas lagi untuk melatih tentara dan rapat dengan Mayor Jendral Hussen Siregar.


************************


Satria mengendarai mobilnya memasuki pekarangan rumah, badannya sangat remuk seolah sudah dihempaskan dari langit ke tanah.


Memasuki rumahnya setelah memasukan mobilnya ke dalam garasi dirinya mandi dengan air hangat, dan kepalanya dengan shower.


Kepalanya sangat sakit dengan guyuran air hangat kepalanya terasa nyaman, saat memejamkan matanya untuk rileks dan melupakan semua masalahnya.


Tiba-tiba penerawangan tentang seseorang masuk, dirinya melihat Dania yang sedang diperiksa tiba-tiba ada seorang Perawat yang mengambil darahnya dengan menggunakan jarum suntik tapi di penerawangan Satria dilihatnya adalah sebuah kekuatan.


Setelah Perawat itu keluar dari ruang rawat inap Dania. Perawat itu berjalan ke arah ruangan yakni gudang lalu berubah menjadi hantu Belanda.


Annamarie, benar sekali wanita itu abadi karena bersekutu dengan iblis dan bisa menyerupai siapa saja. Mirip seperti kuyang kalo versi nusantara, tapi ini tata cara ilmu hitam dari barat.


Konon katanya jika menghisap darah akan abadi, apalagi jika darahnya dari gadis spesial seperti Dania sekaligus memiliki altar. "Ik tak akan perlu darah lagi selama sebulan," ucapnya dengan senang lalu meminum darahnya selayaknya meminum sirup.


Lalu dirinya tersadar seketika dan melihat sekelilingnya, Satria langsung berdiri tatkala saat tersadar jika air di dalam bak sudah menjadi warna merah seperti darah.


Satria segera memeriksa seluruh anggota tubuhnya memastikan jika tak ada yang terluka, ternyata benar tak ada luka satu pun di tubuhnya tapi kenapa airnya bisa berubah menjadi darah.

__ADS_1


Tak mau ambil pusing dirinya langsung membuang airnya itu, dan segera ke kamar untuk memakai baju dan mengistirahatkan dirinya sebentar.


Saat tertidur tak lama dirinya tersadar jika pembantu baru yang bernama Bibi Gayatri membangunkannya, usianya sudah cukup berumur dan sudah memiliki dua orang anak satu tahun lebih tua dari Dania.


"Aden bangun udah jam setengah sepuluh ayo bersiap," katanya.


Satria langsung membuka matanya hanya sempat mencuci wajahnya lalu segera memakai seragam dinasnya dan menuju ke mobil untuk kembali dinas.


Diperjalanan Satria memberikan pesan singkat kepada Amir entah dibaca atau tidak dirinya tak peduli, yang ia pedulikan adalah bagaimana caranya agar cepat sampai ke tempat dinasnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dokter Amir segera ke ruangan Dania yang sedang tidak di jaga, karena Nathan mempercayakan Dania kepada Amir yang sudah dianggap seperti putranya.


Sebenarnya hubungan Amir dan Nathan sudah terjalin sejak dirinya mulai masuk tentara setelah mengambil menjadi lulusan dokter, "Dania!" ujar Amir masuk ke ruangan VIP itu.


Dania yang tengah mengerjakan materi dari gurunya secara online terkejut melihat kedatangan Amir. "Loh Bang Amir? ada apa?" tanya Dania melihat Amir masuk ke samping brankar dan tubuhnya di tutup kain seolah-olah seperti tas.


Amir memiliki ide agar mevrouw Annamarie masuk ke dalam perangkap, "ssssttt. Ada mangsa nanti kalo ada perawat kesini jangan kasih tahu ya?" pintanya.


"Loh kenapa emangnya?" tanya Dania sambil mengerutkan keningnya dengan penuh tanda tanya.


Benar saja lima menit berselang seorang perawat berperawakan tinggi dengan kulit putih dan mata yang hitam, datang membawa nampan berisi suntikan dan beberapa alat untuk tes darah.


"Dania Anindita Rejaya?" tanya perawat itu sambil melihat lembaran di kertas, "iya benar ini saya sus." Dania menjawab dengan ramah, tak ada yang aneh dengan hal ini sampai disini.


"Bisa saya ambil sample darah anda untuk tes darah?" ucapnya.


Dania hanya mengangguk dengan tersenyum, saat Dania ingin memberikan tangannya tiba-tiba Amir keluar dari samping membuat perawat tersebut tergejolak kaget.


"Kamu siapa?" tanya Amir.


Dania memiringkan kepalanya sambil mengerutkan kening tanda heran dengan tingkah Dokter Lettu Amir, "saya tanya sekali lagi kamu siapa?!" nada bicara Dokter Amir mulai tinggi.


Perawat itu hanya tertawa mengerikan sambil menjatuhkan nampan yang di bawanya, lalu matanya berubah jadi merah.


"Benerkan! selama saya bekerja disini sebagai Dokter saya belum pernah melihat kamu!" akunya sambil menatap perawat mengerikan ini.


Matanya merah lalu mengatakan satu hal, "putrinya Nadia adalah milikku akan aku nikahkan dia dengan putraku Hans Russell! agar aku bisa terus mengambil darahnya!" tekannya suaranya mulai mengerikan.

__ADS_1


Dania yang masih sakit tak bisa berbuat banyak karena energi mahkluk ini sangat kuat, sebenarnya siapa dia dan apa maunya.


"GUA GAK SUDI NIKAH AMA PLAYBOY KAYA LOUIS!" ucapnya dengan nada yang tinggi.


"Kalo begitu___kamu harus rasakan ini!" saat perawat itu ingin menyakiti Dania dengan jarum suntik\, beruntung Dokter Amir menahannya dengan kedua tangannya.


"Manusia bodoh!" makinya kepada Amir.


"SAYA TAK AKAN BIARKAN CALON ISTRI SAYA MASUK KE JURANG PETAKA!" sumpah Amir membuat Dania membulatkan matanya menatap Amir, apa maksud perkataan Amir barusan.


Tak ingin Dokter Amir kesakitan Dania langsung menyerang bagian perut perawat itu sambil terpental ke dinding, baru tersadar bagian punggung tangannya terluka dan mengucur darah.


Rupanya selang infusnya terlepas membuat darahnya keluar banyak, Annamarie menatap Dania dengan minat seolah Dania makanan paling lezat di dunia.


Darahnya Dania sampai mengucur ke selimut dan lantai seketika wajahnya Dania pucat karena kehilangan banyak darah, "darah gadis terpilih yang memiliki altar." seketika perawat itu menunjukan wujud aslinya.


Seorang wanita Belanda dengan memakai gaun warna merah darah, dan rambutnya pirang bergelombang sebahu kepalanya dihiasi topi seperti jaring-jaring.


"Astagfirullah!" ucap Amir dan Dania serempak, saat melihat wujud aslinya dengan mengeluarkan taring.


Lalu pergi menghilang, Amir memeluk Dania untuk menghilangkan perasaan syok, "Dania tenang." gadis berusia 15 tahun itu hatinya berdetak, saat dirinya mendapat pelukan dari Dokter Amir.


Wajahnya bersemu merah, entah karena perasaan syok dan takut atau karena hatinya berdegup kencang.


"Yaudah sebentar saya pencet tombol ini dulu untuk memanggil perawat, selama infus kamu belum terpasang dan sprei kamu belum di ganti saya akan disini."


Dania yang masih syok melihat kejadian tadi hanya mengangguk saja karena wajahnya sudah sangat ketakutan, baru pertama kali selama hidupnya dirinya melihat sosok seperti tadi bisa menyerupai manusia.


Perawat datang dan menganti sprei, Amir membopong tubuh Dania dan mendudukkannya di sofa Dania hanya diam sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Amir.


Setelah selesai menganti spreinya Dania kembali di bopong oleh Amir untuk dibaringkan, lalu kedua perawat melepas jarum infus di tangan kanan Dania dan menggantinya di tangan kiri.


Amir akan menganti jas dokternya karena ada noda darah di bagian bawahnya, "baik sudah kami ganti." Perawat itu bertanya apa yang sebenarnya terjadi tapi Amir hanya menjawab jika Dania tak sengaja menyenggol sesuatu.


Meski kurang masuk logika tapi dua Perawat itu hanya tersenyum dan percaya, Amir akan pergi sebelum itu dia mengacak-acak rambut Dania.


Dania yang ketakutan menahan tangan kiri Amir dengan tangan kananya, keduanya saling menatap begitu lama.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2