
"Lebih baik menjadi singa sehari dari pada menjadi domba seumur hidup".
Tiara berniat berkultivasi karena dia sudah lama tidak melatih dirinya dia berjalan keluar kamar menuju taman yang sangat indah,ditengahnya terdapat sebuah danau yang sangat tenang Tiara duduk disebuah batu dia mulai mendudukan dirinya ke posisi lotus menutup matanya dan mulai berkonsentrasi menyerap energi yang ada disekitarnya dibutuhkan fokus yang cukup tinggi dengan memusatkan energi untuk memasuki tubuhnya tiara berbisik di pikirannya "wenhua tolong bantu aku mentranfer ilmu ilmu yang ada dikitab unsur spiritual ".
Wenhua mengganguk Dan mulai mentranfer ilmu itu ke tiara.
Tiara mulai menyerap ilmu ilmu itu cara menyerapnya pun sangat menyakitkan tiara merasa pembuluh darahnya ingin putus tubuhnya terasa dibakar beberapa bagian tubuhnya mengeluarkan darah karena menyerap ilmu ilmu ini dia terbatuk darah
Tapi dia tidak berhenti untuk terus menyerap ilmu itu sekalipun dia hampir gagal tadi tapi itu tidak mematahkan semangatnya untuk terus menyerap ilmu itu.
Hingga beberapa jam kemudian akhirnya dia berhasil menembus dua tingkat, pondasi akhir.
Tiara mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya dan berdiri dia menatap sekeliling sedari tadi dia merasakan ada yang sedang memperhatikanya tapi nihil dia tidak menemukan orang itu sama sekali memilih memberi penghalang dan melanjutkan. Melatih dirinya tiara kini berlatih pedang, busur, belati dan lainnya hntuk meningkatkan ilmu berpedang, bela diri, dan kutivasinya.
Hingga tengah malam dia terus berlatih, jam tangan ditangannya menunjukan jam tiga malam sudah waktunya tidur lagi pula dia sudah lelah.
Tiara kembali kekamarnya disana dia melihat keempat laki laki tampan tengah tertidur lelap wajah mereka yang tenang membuat siapa saja mengangap mereka manis tiara menuju kasurnya dan langsung menjatuhkan dirinya dikasur beberapa menit kemudian dia terlelap dalam tidurnya.
Paginya dia membuka matanya rasa kantuk masih menyelimutinya dia mengucek kedua matanya dan menguap lebar dia menatap keempat laki laki dan alangkah kagetnya saat melihat keempat laki laki tampan itu hanya dililit kain tipis dipinggang mereka dan dada bidang mereka terekspor dengan indah nya didepan tiara, tiara dapat melihat jelas keempat roti sobek didepanya entah anugrah atau karma atas perbuatanya sama ini tapi jika ini karma bukan kah ini terlalu indah untuk disebut karma.
Tiara termenung menatap mereka diam hingga tao ci memecah kehening.
__ADS_1
"Apa kau sudah puas menatap tubuh sexy kami".
Melihat tatapan mengoda tao ci bukannya membuat tiara senang atau malu malah membuat tiara kesal dan jengkel dia memukul kepala tao ci hingga membuat nya cemberut karena pukulan itu hal itu membuat mereka semua tertawa senang.
Mereka kembali ke akademi disana mereka melihat seorang gadis yang memukul pelayannya dengan cambuk tiara menahan cambuk itu dia menariknya kedepan hingga cambuk itu terlepas dari pemilik nya.
"Berani sekali kamu mencampuri urusanku kau tahu siapa ayahku".
Tiara menatap datar gadis itu dan memutar bola matanya bosan. Dengan cepat tiara menjawab.
"Tidak".
"Kau dasar gadis jelek wajahmu yang jelek pantas disandingkan dengan orang lemah.".
"Aku bukan cermin".
Seketika tangan gadis itu terkepal kuat dia menatap marah ke arah tiara tatapan matanya terlihat berapi api dia mengeluarkan aura membunuhnya yang pekat tapi tidak sepekat tiara. Dia mengacungkan belati keleher pelayannya tubuh pelayanya gemetaran pelayan itu terlihat mau menangis.
"Berani sekali kau mengatai aku jelek dan juga aku akan membunuh pelayan rendahan ini jika kau tidak memohon nyawa pelayan ini akan dalam bahaya".
Tiara tersenyum senang tapi gadis itu tahu bahwa akan ada hal tidak baik yang akan terjadi dia merasa was was
__ADS_1
"Aku tidak berniat mengatai mu jelek tapi kau sendiri yang mengaku dan juga jika kau ingin membunuh pelayan mu itu silakan saja toh kamu yang berniat menghilangkan nyawa seseorang bukan aku".
Skatmat hal itu membuat gadis itu terdiam membisu dia menatap tiara dengan pandangan marah dengan cepat dia menyerang tiara melayangkan tinjunya kearah tiara tapi tiara menghindar dan menyelengkat kaki gadis itu hingga jatuh kedepan dengan posisi sujud terlihat dari sisi samping bahwa gadis itu terlihat bersujud didepan tiara.
"Ah... Kamu boleh bangun tidak perlu bersujud sudah sewajarnya kita saling membantu".
Tiara tersenyum licik melihat banyak orang yang melihat harga diri gadis di depannya terinjak injak.
"Beraninya kamu.... selama ini kamu selalu menurut saat tengah dibuli tapi sekarang kamu jadi sangat berani".
"Terima kasih atas pujianya tiara yang kalian kenal dulu sudah tidak ada yang ada tiara yang sekarang dan juga aku tidak mau menjadi domba seperti mu selamanya lebih baik aku menjadi singa sehari dari pada harus menjadi domba seumur hidup sepertimu".
"Apa maksudmu hah... ".
"Tidak ada aku hanya bermaksud memberitahu mu bahwa semua orang pasti dapat berubah yang lemah menjadi kuat, yang kuat menjadi lemah, yang dulu berada dibawah sekarang menjadi di atas begitu pun sebaliknya jadi jangan harap kau terus berada diatas karena suatu saat kau pasti berada di bawah".
Tiara pergi dengan santai tanpa memperdulikan tatapan orang orang disekitar nya seolah mereka tidak ada.
Tolong dukung aku terus dengan cara klik like, vote, komen dan favorite dukungan kalian sangat berarti untuk novel ini terima kasih readers ku juga jaga kesehatan sama sama kita melawan covid 19 #dirumah aja
__ADS_1
Dan yang berpuasa semoga dapat berpuasa sampai full dan masih semangat menjalani hari hari #dirumah aja