
Namaku Carla Amora Zahra, anak ke 2 dari 3 bersaudara. Aku baru lulus sekolah menengah pertama (SMP) dan baru masuk ke sekolah menengah atas ( SMA). Aku dari keluarga yang sederhana. Namun aku punya cita-cita tinggi yang harus ku perjuangkan.
Setiap hari aku harus bangun lebih pagi, karena perjalanan menuju sekolah memakan waktu kurang lebih 45 menit. Jadi aku harus mengayuh sepeda untuk bisa berangkat ke sekolah bahkan kalau ban sepeda lagi bocor aku harus rela jalan kaki agar aku bisa sampai ke sekolah.
Tetapi aku tetap bersyukur walaupun kondisi ekonomi keluargaku sedang kurang baik, orang tuaku tetap memperjuangkan pendidikan anak-anaknya, terkadang aku sedih melihat perjuangan orang tuaku bekerja keras banting tulang dari pagi sampai sore demi anaknya agar bisa mendapatkan pendidikan serta kehidupan yang layak.
Pernah di suatu waktu kami sedang mengobrol sambil makan malam bersama,
Aku mengawali perbincangan, "Bu, bagaimana jika Carla tidak usah melanjutkan sekolah saja? Carla merantau saja ke Jakarta, agar Carla tidak perlu merepotkan Bapak dan Ibu lagi untuk menanggung biaya sekolah Carla selama 3 tahun."
Ibu diam dan lanjut menatapku namun setelah itu berkata, "Pikiranmu pendek banget Carla. Nggak usah mikir terlalu jauh, tugas kamu sekarang adalah belajar lebih rajin lagi, biar kamu bisa menjadi orang yang sukses dan bisa membahagiakan kami sebagai orang tuamu. Menyekolahkan kalian adalah tugas kami sebagai orang tua."
"Iya Carla paham Bu, tapi Carla nggak mau melihat Ibu sama Bapak susah terus karena harus kerja keras banting tulang untuk biaya sekolah Carla." Aku kembali menimpali.
Kemudian Bapak menyambung pembicaraan kami.
"La, sudahlah dengarkan apa yang Ibumu bilang, kami hanya ingin yang terbaik untuk pendidikan anak- anak kami. Kami tidak mau menyesal nantinya karena telah salah mengambil keputusan. Kami hanya ingin mimpi kami terwujud untuk memiliki anak-anak yang bisa mendapatkan pendidikan layak tidak seperti kami yang hanya lulusan sekolah dasar (SD) saja. Ibarat mau daftar kerja pabrikan saja susah karena terhalang ijasah." Kata bapak sambil menahan kesedihan.
"Benar itu kata bapakmu, dulu kami bisa menulis dan membaca saja sudah bersyukur, boro - boro bisa sekolah sampai ke jenjang yang lebih tinggi, sudah tamat SD saja apresiasi luar biasa bagi kami. Karena pada saat itu ekonominya lebih sulit dari sekarang. Dan apalagi dulu saudara banyak jadi harus berbagi dengan saudara yang lain. Terkadang untuk bisa makan saja sudah sangat bersyukur. Jadi tidak terbesit untuk bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Paling setelah lulus SD bantu orang tua di ladang, setelah itu ujung-ujungnya nikah." Jawab ibu.
"Lagian seumur kamu mau kerja apa La di Jakarta? Kerja itu capek La. Ada saatnya nanti kamu gantian kerja untuk nyenengin Bapak sama Ibu." Ujar Bapak menambahkan.
Aku terdiam dan berfikir ternyata kondisi orang tuaku lebih memprihatinkan dari pada kondisiku saat ini, walaupun perekonomian keluargaku sedang kurang baik tapi kami masih bisa sekolah dan tidak sampai kekurangan.
Aktivitas pagiku setelah bangun tidur dan sholat subuh, aku membantu ibuku mengemas kue basah untuk dijual di pasar, setelah semuanya beres aku mandi dan bersiap - siap untuk berangkat ke sekolah, begitu setiap hari.
Aku pamit dengan kedua orang tuaku. Setelah itu, aku keluar rumah sambil membawa sepeda tuaku dan berangkat ke sekolah.
__ADS_1
Aku berhenti didepan masjid yang ada di kampungku menunggu sahabatku untuk berangkat bersama. Ya, aku punya sahabat dari SD, kebetulan sekarang kami satu sekolah. Dia adalah sahabat terbaikku dan dia bernama Amanda Rachmawati.
"Hai La, maaf aku telat habis nungguin adikku dulu karena ibuku tadi masih mandi." Sapa Hestia berhenti di samping sepedaku.
"Iya nggak papa kok, lagian aku juga baru datang." Jawabku.
Akhirnya kita berangkat bersama naik sepeda. Di sepanjang perjalanan kami mengobrol banyak hal dan sambil bercanda.
Sesampainya di sekolah kami parkir ditempat parkir khusus sepeda. Sebagian siswa di sekolahku menggunakan sepeda dan sebagian lagi ada yang menggunakan jasa transportasi. Tetapi banyak juga dari mereka yang membawa sepeda motor sendiri.
Ya hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah. Dan hari pertama bagi kami siswa baru melaksanakan MOS (Masa Orientasi Siswa). Banyak peraturan yang harus kami patuhi, dari menggunakan kaos kaki bola dengan dua warna, yaitu warna merah dan biru. Merah untuk kaki kanan dan biru untuk kaki kiri. Kemudian rambut di kepang serta di ikat menggunakan tali rafia, warna merah dan juga biru. Terus yang bikin kesel tu kita harus membawa makanan yang namanya aneh. Kita di kasih clue agar kita kreatif bisa menemukan makanan tersebut. Pokoknya aneh aneh deh permintaan para senior.
Setelah seharian melakukan kegiatan bersama para senior, jam istirahat pun tiba.
"Ra kamu nanti cari buah upacara sama keju berputar bareng aku ya?" Ajak Kiki teman sebangkuku.
"Tapi kira-kira buah upacara apa ya? Dan keju berputar juga apa?" Sahut Siti teman sebangku Trisya.
"Iya nih senior emang nyebelin deh, masa kita hanya disuruh nyari tapi nggak di kasih ciri - cirinya gimana, iya nggak?" Kiki berbicara sambil menahan kesal.
"Iya bener banget tu, senior emang maunya menang sendiri. Menindas adik kelas dan memanfaatkan momen banget tau nggak, lama lama sebel deh. Baru masuk sekolah aja ribetnya kaya gini." Huuffftt... Tambah Siti yang juga ikut kesal.
"Mungkin mereka balas dendam sama kita. Karena dulu juga pasti mengalami hal yang sama." Tambah Dian.
Ahirnya akupun ikut menjawab, "Sudahlah kita cari bareng aja biar lebih mudah. Tapi kalau menurut kalian buah upacara itu apa ya? Setahuku upacara identik dengan buah jeruk deh? Kalian Pernah nonton Upin Ipin kan? Pada saat hari besar China, orang orang China naruh jeruk di depan rumah untuk persembahan. Coba menurut kalian masuk akal nggak?"
"Iya juga si, aku juga pernah nonton." Dian setuju dengan pendapatku.
__ADS_1
Berbeda dengan Kiki. "Kayaknya bukan jeruk deh. Sepertinya itu hanya plesetan saja, untuk mengecoh kita. Menurut pendapatku, upacara itu kan sama halnya dengan apel. Seperti apelnya pak tentara, ada apel pagi, apel siang, apel malam, iya kan? mungkin yang dimaksud buah upacara disini adalah buah apel. Iya nggak?"
"Eh iya juga ya, benar kata Kiki sepertinya memang benar buah upacara yang dimaksud disini adalah buah Apel." Aku setuju dengan pendapat Amel.
"Terus kalo keju berputar apa dong?" Tanya Dian yang masih kebingungan.
Tiba-tiba Siti menyahut. "Kayaknya kalau barang yang satu ini aku tau deh. Karena aku dan adikku sering sekali beli barang ini."
"Apa... apa... Ayo kasih tahu dong." Seru Kiki.
" Dikantin juga banyak." Ucap Siti sambil tersenyum karena sukses membuat kami penasaran.
" Udahlah Siti tinggal jawab aja apa susahnya si. Jangan buat kami tambah penasaran dong." Jawabku yang udah mulai kesal.
Siti tertawa senang karena melihat kami yang cemberut menunggu jawabannya.
" Kalian tau Snack Rieches roll?" Siti bertanya dengan memandang kami bertiga.
Kami saling pandang dan mulai berfikir, namun tiba tiba Dian tersenyum senang karena sepertinya dia juga sudah menemukan jawabannya.
" AHA ya kamu benar Siti. Aku sekarang sudah mengerti, jadi yang dimaksud keju berputar adalah Snack Rieches roll itu kan? Dikantin itu mah banyak." Tambah Dian.
Siti tersenyum dan mengangguk membenarkan jawaban Dian.
"Owalah, itu toh. Itu mah juga banyak di kantin." Ucapku dan Kiki bersamaan.
"Oke fix jadi kita sudah menemukan dua nama barang tadi ya. Untuk buah upacara yaitu buah Apel dan keju berputar adalah Snack Rieches roll. Setelah pulang sekolah kita beli bareng-bareng aja biar besok sudah tenang." Tambahku.
__ADS_1
"Oke", jawab mereka serempak.