Tiga Hati Untuk Carla

Tiga Hati Untuk Carla
episode 17


__ADS_3

Rara


Aku terbangun dikala adzan subuh berkumandang. Walaupun sudah terbiasa bangun pagi, tapi entah kenapa badanku hari ini masih belum terlalu fit. Rasanya enggan mau bangun dari tempat tidur. Apalagi dengan kondisi kepala yang terasa berat.


Tapi mau bagaimana lagi, sholat sudah menjadi kewajiban bagi umat muslim. Jadi kalau tidak sedang berhalangan tetap harus dijalani, walaupun kondisimu sedang kurang sehat.


Ada sedikit rasa malas pada saat melangkah ke kamar mandi untuk ambil air wudhu. Selain karena kepala terasa pening, udara pagi ini terasa dingin menusuk sampai ke tulang.


"Masih sakit La? " Sapa ibu dikala aku baru selesai wudhu.


"Astaghfirullah Ibu ngagetin aja deh..." Ucapku berbalik dengan posisi tangan kanan memegang dada dan tangan kiri memegang lutut karena terkejut dengan kedatangan ibu tanpa suara.


"Halah gitu aja kaget. Langkah kaki ibu aja keras kok masa kamu nggak denger... "


"Beneran deh Bu Carla nggak denger ." Aku masih mengelak karena memang aku nggak dengar ibu mendekat ke arahku.


"Paling kamunya yang lagi ngelamun."


"Nggak kok Bu, Ibu aja yang nongol tiba-tiba, kok malah ganti nyalahin Carla."


"Pagi-pagi kok udah kaya pasar." Ucap bapak


keluar dari kamar Putra.


"Loh Bapak kok keluar dari kamar Putra?" Tanyaku heran.


"Iya Bapak semalam tidur dikamar Putra." Jawab bapak sambil berjalan menuju kamar mandi.


"Oh gitu." Jawabku berbalik dan berlalu menuju ruang sholat.


Waktu terbaik untuk membenahi hati adalah pada saat kita bersujud kepada yang maha kuasa. Kita bebas berkeluh kesah, bebas mengeluarkan unek-unek kita, bebas curhat apapun yang sedang kita rasakan dan setelah itu plong, hati tenang, pikiran jernih dan lebih tepatnya kita tidak khawatir masalah kita akan diceritakan ke yang lainnya. Intinya rahasia kita akan terjamin 100 %.


Selepas sholat aku sempatkan waktu untuk istirahat kembali, karena aku merasa kepala ini terasa berat dan berdenyut.


"Ibu... Carla minta tolong dibuatkan teh jahe ya, kepala Carla masih pusing Bu."


"Iya nanti Ibu buatkan. Sekarang kamu istirahat saja."

__ADS_1


"Baik Bu, terimakasih ya Bu dan maafkan Carla karena sudah merepotkan Ibu.


"Iya sama-sama Carla." Sambil tersenyum hangat kepadaku.


"Oh iya Bu nanti kalau Carla jam 6 belum bangun minta tolong dibangunkan ya Bu, takutnya Rara kesiangan."


"Iya La, emang kamu mau kemana sepagi ini?"


"Carla mau berangkat ke sekolah lah Bu, mau kemana lagi? Ibu aneh deh..." Ucapku heran.


"Sekolah??? Bukannya hari ini tanggal merah ya? Kok kamu nggak libur?" Tanya Ibu yang lebih heran.


"Eh apa iya Bu? Kok Carla nggak tau? Coba nanti aku liat kalender."


Inilah keluargaku, walaupun terkadang kami terkesan keras tetapi sebenarnya keluarga kami termasuk keluarga yang hangat dan peduli dengan anggota keluarga yang lain.


***


Cuaca hari ini terasa sangat panas, ditambah dengan suara para ibu-ibu yang duduk di teras depan rumah. Rumah kami di pedesaan, jadi masih sering di jumpai orang-orang yang berkumpul, bercengkrama di teras depan tetangganya. Sampai terkadang yang punya rumah saja tidak ada, mereka tetap berkumpul diteras rumah tersebut. Mungkin karena mereka sudah menganggap teras rumah tersebut adalah basecamp ternyaman mereka.


Padahal kita juga tidak tau apa yang mereka bicarakan serta diskusikan. Entah ngobrolin sesama tetangga, pamer harta, pamer pendidikan anak, dan lain lain.


Namun terlepas dari semua itu, kita ambil sisi positifnya saja yaitu nilai gotong royong dan kepeduliannya antar tetangga sangat tinggi. Beda dengan di kota, untuk menyapa tetangga saja Sekarang cukup menggunakan media sosial. Contoh saja membuat grup komplek, grup PKK, grup ibu-ibu sosialita, dan lainnya.


Untuk bisa bertemu serta bertatap muka cukup sebulan sekali, itupun karena acara Dawis, PKK atau kegiatan komplek lainnya.


***


Hestia


"Hari libur gini enaknya ngapain ya? Masa mau main di rumah terus sama adik. Lagian kan aku juga pengin main sama temen." Gerutuku sambil berfikir.


"Bu, Aku ijin mau main ya. Bosen di rumah terus."


"Mau main kemana? Lagian adikmu juga nggak ada yang jaga kan?"


"Iya kan adik sudah dari tadi pagi sama aku, gantian sama Ibu dan Ayah ya... Oh iya sekalian aku juga mau antar sepeda Carla Bu, karena kemarin Carla sakit, terus pada saat pulang dia diantar teman dan sepedanya aku yang bawa. Kebetulan kemarin aku kan nggak bawa sepeda." Jelasku panjang lebar sebelum ibu tanya kaya panjangnya kereta.

__ADS_1


"Rara sakit apa Manda? kok kamu nggak cerita Ibu."


"Nggak tau sakit apa Bu, kemarin di sekolah dia pingsan. Makanya aku mau jenguk Carla sekalian ngantar sepedanya Bu." Jawabku dengan semangat 45 biar diijinkan main.


"Halah bilang aja mau main, alesan ijin mau jenguk Carla."


Wah aku merasa kok Ibu punya mata batin dan bisa baca pikiranku. Ucapku dalam hati.


"Hehe Ibu tau aja..." Ucapku sambil tersipu malu karena ketahuan sama Ibu.


"Iyalah, kalau kamu bukan anak Ibu baru Ibu hebat bisa nebak apa yang sedang kamu pikirkan. Nah Ibu kan Ibu kandung kamu ya pasti tau lah apa aja yang kamu mau dan juga apa yang ada dipikanmu."


"Ya sudah Ibu ijinkan. Tapi jangan sore-sore ya pulangnya. Walaupun libur tetap harus belajar."


"Asiappp Ibu. Pasti akan aku turuti permintaanmu."


Kemudian aku berjalan mendekat dan bersalaman dengan Ibu. Tak lupa aku juga pamit sama adikku.


"Mau kemana Man?" Sapa Ayahku yang sedang ngobrol dengan tamunya di teras rumah sebelah kolam ikan.


"Mau ke rumah Carla yah, Manda ijin ya yah." Berjalan mendekat dan bersalaman dengan Ayah.


"Iya hati-hati ya."


"Siap Ayah, Ya sudah Amanda pamit ya yah. Assalamualaikum..."


"Iya, Waalaikumsalam."


Jarak rumahku ke rumah Carla tidaklah jauh, karena kami masih satu desa hanya saja kami beda RT dan RW.


Desa kami termasuk salah satu desa yang makmur. Karena di desa kami tersedia Sumber Daya Alam yang melimpah. Sawah yang luas, Tanah yang subur, dan Kolam Ikan yang terdapat di setiap halaman rumah warganya.


Masyarakat memanfaatkan adanya saluran irigasi untuk bertani dan mengembangkan perikanan. Maka dari itu, desa kami termasuk salah satu desa penghasil benih ikan terbaik serta penghasil produk pertanian terbaik juga untuk disalurkan ke beberapa pasar disekitar desa dan kecamatan.


Walau banyak orang yang tidak tahu letak desa kami, karena desa kami termasuk desa kecil serta dikelilingi 4 desa yang luas, namun secara perekonomian desa kami termasuk dalam kategori desa yang makmur. Selain itu pemuda desa kami setelah lulus sekolah banyak yang berhasil serta sukses dalam beberapa bidang.


Iya karena warga desa kami termasuk melek tekhnologi dan pendidikan. Mereka lebih mengutamakan pendidikan anak-anak mereka daripada untuk foya-foya.

__ADS_1


Intinya warga sudah lebih memiliki wawasan luas dan tidak mau menjadi desa yang tertinggal.


__ADS_2