
Sudah beberapa hari kami mengikuti kegiatan MOS ( Masa Orientasi Sekolah). Para siswa banyak di kenalkan hal hal baru, mulai dari Pengenalan Lingkungan Sekolah, Profil Sekolah, Guru-guru dari semua Mapel, Staf/ Karyawan TU, dan masih banyak yang lainnya.
Kami juga dikenalkan beberapa organisasi yang ada disekolah seperti: OSIS, PRAMUKA, ROHIS, dan lainnya. Jadi pada saat nanti siswa berminat untuk masuk di suatu organisasi mereka sudah tahu organisasi apa yang cocok untuk mereka.
Ini adalah hari terakhir kami mengikuti MOS. Kegiatan yang sangat menguras tenaga, pikiran dan yang paling sedih adalah menguras kantong. Apalagi dengan kondisi ekonomi orang tuaku yang kurang baik, mau minta untuk kegiatan sekolah saja kadang sungkan. Walaupun orang tuaku sendiri sudah bilang kalau butuh apa-apa untuk kebutuhan sekolah tinggal bilang saja, tapi terkadang sebagai anak aku tetap merasa tidak enak karena banyak merepotkan kedua orangtuaku.
Tapi ya tak apalah memang mungkin ini adalah salah satu bagian dari pengorbanan sebelum kita melakukan perjuangan yang sebenarnya setelah terjun dalam masyarakat. Jadi nantinya kita sudah siap untuk menghadapinya.
Dan sebagai pengingat kita pula perjuangan orang tua untuk kita. Agar nantinya kita akan lebih bisa menghargai.
Aku punya banyak teman baru dari berbagai kecamatan yang berbeda. Karena kebetulan letak sekolahku berada ditengah kota kecamatan.
Banyak hal hal baru pula yang aku dapatkan. Namun bedanya kalau dulu waktu di SMP, teman-temanku kebanyakan dari keluarga menengah ke atas. Karena memang dulu sekolahku adalah salah satu sekolah favorite di kabupaten tempat aku tinggal.
Beda dengan sekarang, kebanyakan dari mereka adalah keluarga ekonomi menengah ke bawah. Jadi tidak ada rasa sungkan bahkan minder jika akan bergaul dengan mereka.
Bel pulang sekolah berbunyi pertanda kelas hari ini sudah berakhir. Setelah guru keluar aku merapikan buku dan peralatan sekolahku untuk segera dimasukkan ke dalam tas. Dari luar pintu Amanda memanggilku,
“ La... Carla... Ayo pulang bareng."
“ Ayo...!” Jawabku sambil berlari kecil menghampiri Amanda.
“ Kamu beberapa hari ini pulang sore terus ya La?” Amanda mengawali pembicaraan sambil berjalan menuju arah parkiran sepeda.
“ Iya ni Man, badanku kaya mau remuk dikerjain habis-habisan sama para senior." Jawabku dengan Lemas.
“Yang penting sudah dilalui kan? Dulu aku juga kaya kamu." Ucap Amanda sambil merangkul lenganku.
__ADS_1
“ Iya si, tapi setelah ini kalau ada kesempatan untuk bisa masuk jadi pengurus OSIS, aku bakal daftar dan ganti ngerjain adik kelasku nantinya.” Kataku sambil tersenyum jahat.
“ Idih ada yang mau balas dendam nie ye...” Sindir Amanda.
“ Ya bisa dikatakan seperti itu” Jawabku sambil tersenyum tipis.
“ Ngapain jadi Pengurus OSIS emang kamu berminat duduk di Kursi Dewan nantinya? Nggak pusing kepalamu mikiran banyak masalah? Hemm...” Tanya Amanda kepadaku.
“ Ya nggak mau lah, ngurus masalah sendiri saja pusing apalagi ngurus masalah orang banyak. Nggak kebayang deh bagaimana nanti hidupku.” Jawabku sambil pura pura menangis.
“Lah terus ngapain kamu mau masuk kepengurusan OSIS coba? Saranku ya mending sekarang fokus aja sama cita-citamu. Kamu sendiri pernah cerita ke aku bagaimana harapan orang tuamu terhadap dirimu." Amanda sedikit menyadarkanku.
“Ya tapi bisa buat pengalaman aja kan, dan lebih dikenal juga.” Candaku sambil tertawa.
“Menurutku lebih baik sekarang dikenal karena prestasi saja, nanti keteter lo pelajarannya kalau ikut organisasi. Makanya Aku nggak minat ikut organisasi, ngeliat temen sekelas ku yang sering izin dan sering ketinggalan pelajaran aja udah buat aku ikut merasakan mimpi buruk membayangkan jika itu terjadi padaku. Bagaimana dengan nilai nilaiku, secara aku selalu peringkat pertama.” Ucap Amanda sambil menyombongkan diri.
“Ya coba nanti gimana. Lagian ini juga baru selesai MOS, jalan masih panjang. Udah yok pulang, Laper ni...” Sambung ku sambil meringis.
Setelah sampai di tempat parkir ternyata Rasya sudah menunggu Amanda di dekat sepeda tempat kami parkir.
“Hai Manda, kok lama si keluarnya sudah kutunggu dari tadi lo...” Sapa Arsya.
“Lah lagian siapa yang nyuruh kamu nungguin aku. Kamu juga nggak bilang kalau mau nunggu aku di parkiran kan?” Ucap Amanda kesal sambil membuka gembok kunci yang terpasang di roda sepeda kami.
“Hehe... Iya juga si. Oke... Oke ini salahku. Jangan ngambek gitu dong." Ucap Rasya.
“Siapa yang ngambek, lagian siapa yang nggak sebel coba, tadi dikelas ulangan fisika mendadak padahal semalam aku cuma belajar sedikit, jalan jauh dari kelas ke parkiran, eh sekarang nggak ada angin Nggak ada hujan baru dateng diomelin. Mending kalau sudah janjian, janjian aja belum." Omel Amanda yang masih memasang wajah kesalnya.
__ADS_1
Aku hanya bisa diam dan tersenyum melihat sahabatku berselisih dengan teman cowoknya.
Eh tunggu apa dia pacarnya Amanda? Tapi kok Amanda nggak pernah cerita sama aku? Biasanya apapun itu dia selalu cerita sama aku. Batinku penasaran.
Tapi mungkin Rasya salah satu fansnya Amanda. Siapa coba yang nggak suka sama Amanda sudah cantik, pintar, body nya bagus pula. Aku saja kadang minder jalan sama Amanda. Karena kadar kecantikanku jauh sama dia.
Rasya kembali meminta maaf sama Amanda.
”Iya iya maafin aku deh, nggak bakal diulangi lagi. Ya... Ya... Maafin aku ya...” Sambil menampakkan pupy eyes nya agar terlihat imut dan segera dimaafkan.
“Ya udah deh aku maafin. Eh tunggu tapi tumben banget nie kamu nungguin aku, nggak biasanya kaya gini. Jangan jangan ada maunya ni...” selidik Amanda curiga dengan Rasya yang tidak seperti biasanya.
“Ehm...Aaa...Ehmm.. Tiba-tiba Rasya gugup. Sebenarnya aku mau ngomong sesuatu sama kamu, tapi nggak enak ada teman kamu.” Ucap Arsya sambil salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Sepenting apa si? Lagian dia juga sahabatku. Pasti aman lah kalau sama dia." Jawab Amanda.
Aku yang merasa menjadi pengganggu disitu, langsung berpamitan untuk menunggu di luar agar Amanda dan Rasya bisa ngobrol dengan leluasa.
“Ya sudah Man, aku tunggu di luar aja ya. Biar kalian bisa ngobrol dengan nyaman.” Kataku.
“Eh nggak usah La kamu disini saja.” Cegah Amanda sambil memegang tanganku merasa nggak enak dengan diriku.
“Nggak usah! Nanti biar aku inbox Amanda saja. Kalian juga mau pulang kan? Aku duluan ya... By Manda...“ Pamit Rasya sambil berlari dan salah tingkah.
Aku merasa tidak enak karena sudah mengganggu mereka berdua, kemudian aku meminta maaf terhadap Amanda. “Maaf ya Man, karena aku Rasya jadi gagal mau ngomong sesuatu sama kamu...” Sesalku.
“Ih apaan si kamu La, dia tu memang biasa datang ke aku kalau ada maunya aja. Dan tadi juga dia bilang bakal inbox aku kan? Udah santai aja ngapa. Yuk pulang katanya udah laper?" Ajak Amanda sambil nenangin aku.
__ADS_1
“Sebenarnya aku juga penasaran si, kok tumben Rasya nungguin aku. Sebenarnya apa yang mau dia bicarakan?” Batin Amanda.