
"Hai Amanda... !!!" Sapa Rasya tiba-tiba sambil menepuk punggung Amanda yang berhasil mengagetkan kami berdua. Kebetulan tempat duduk kami membelakangi Rasya.
"Ih apaan si Sya bikin kaget aja deh, nggak tau apa ada orang lagi makan. Kalau kesedak gimana?" Kesal Amanda.
" Hehe sorry...sorry... Lagian dari tadi aku panggil kamu tapi nggak denger-denger. Jadi ya udah akhirnya aku samperin deh kesini." Balas Rasya sambil duduk diantara aku dan Amanda.
Kantin di sekolah kami memang sengaja dipisah antara kantin cowok dan kantin cewek.
Sebenarnya aku kurang nyaman kalau ada cowok yang duduk di sebelahku, tapi nggak enak mau pindah dikira aku pilih-pilih teman lagi. Namun Arsya seperti paham dengan apa yang aku rasakan, tiba-tiba dia berdiri kemudian pindah ke tempat duduk lain di depan Amanda.
"Katanya kemarin mau inbox, udah di tungguin sampe malem, eh nggak ada inbox yang nyantol tuh.". Tanya Amanda kepada Arsya sambil fokus memakan sarapannya. Karena tadi kami berangkat kesiangan akhirnya Amanda nggak sempat sarapan. Jadi dia ajak aku buat nemenin dia sarapan dikantin sekolah.
" Aku kelupaan Man, karena kemarin si Danang sama si Anton main kerumah ngajak main PS terus mereka nginep di rumahku. Eh jadi kelupaan mau inbox kamu." Jawab Rasya sambil meringis.
"Emang mau cerita apaan si kaya penting banget." Tanya Amanda kembali sambil sesekali melihat kearah Rasya dan kemudian memasukkan nasi serta telur dadar kedalam mulutnya.
"Ehmmm... Penting banget! ini tentang masa depanku. Tapi nanti siang aja deh, aku main ke kelasmu sekalian mau ketemu Anton." Ucap Rasya kembali.
Aku dan Amanda kembali melihat ke arah Rasya sambil mengernyitkan dahi. Karena penasaran apa yang di maksud dengan masa depan dia? terus juga apa hubungan Amanda dengan semua itu?
Namun Amanda cuma menjawab, "Oh ya udah ku tunggu nanti dikelas."
Walaupun aku yakin sebenarnya Amanda juga bingung apa yang dimaksud sama Ras?ya? Dan apa hubungannya dengan dirinya? Namun sepertinya Amanda tidak ambil pusing soal Rasya jadi aku juga nggak mau kepo soal masalah mereka.
Jam istirahatpun tiba, Rasya datang ke kelas Amanda. Pada saat itu Amanda sedang bercengkrama dengan teman temannya.
" Amanda Cantik.............!!!" Teriak Arsya.
Sudah jelas dia sedang berada dikelas lain, tapi karena teman Arsya banyak yang ada dikelas Amanda, jadi sudah Ras?ya anggap seperti kelas sendiri.
"Apaan si bro, baru dateng udah teriak-teriak aja." Tegur Anton.
__ADS_1
"Iya ni suara kaya toa aja dibanggain." Timpal yang lain sambil tertawa.
Tapi si empunya suara hanya tersenyum tipis dan tetap berjalan ke arah Amanda dengan tidak merasa bersalah.
"Hes aku mau ngomong sama kamu, nglanjutin yang kemarin dan yang tadi pagi." Ucap Rasya sambil duduk di samping Amanda dengan serius."
"Oh iya, emang mau ngomongin apa si?" Jawab Amanda sambil menatap Rasya dengan serius pula.
"Ehm...ehm... Gimana ya ngomongnya, aku bingung." Gumam Rasya.
"Ya tinggal ngomong aja kali, ngapain bingung. Kaya bukan Rasya yang biasanya aja." Ucap Amanda kembali.
"Aku malu terus takut kamu ketawain juga." Jawab Rasya dengan malu.
"Emang apa yg mau aku ketawain, kamu sendiri belum cerita dan aku juga belum tau permasalahannya. Apalagi tadi pagi kamu bahas masalah masa depan. Itu justru buat aku jadi penasaran tau." Tambah Amanda yang semakin penasaran.
"Jadi gini Man, ehm aku... aku... aku suka sama sahabat kamu!" Tegas Rasya.
Amanda langsung membelalakkan matanya dan menutup mulut saking kagetnya. Ya gimana nggak kaget Rasya kan bertemu dengan Carla baru berapa hari, apalagi mereka juga belum saling kenal.
Rasya menganggukkan kepalanya pertanda mengiyakan bahwa yang di dengar oleh Amanda tidak salah.
"Bantu aku deketin dia ya Man... Kamu kan sahabat sejati ku." Kata Rasya kembali.
Namun Amanda hanya mencebikkan bibirnya tanpa menjawab apa yang diucapkan oleh Rasya.
" Please Man aku mohon bantu aku ya Man untuk dapetin Carla. Kamu kan sahabatnya, pasti kamu tau kan kalau dia pasti belum punya pacar?" Pinta Rasya kepada Amanda sambil memohon.
" Ehm gimana ya Sya, aku tau gimana Carla. Dia bukan tipikal cewek yang mudah didekati. Namun kalau dia sudah suka dan nyaman sama seseorang, pasti akan dia perjuangkan dan pertahankan. Dia juga nggak banyak omong Sya, jadi agak susah buat dekati dia." Jawab Amanda karena bingung harus menjawab apa.
"Makanya Man, karena aku tau kamu sahabatnya, jadi aku minta tolong sama kamu buat bantu deketin aku sama Carla." Mohon Rasya sambil mengatupkan tangannya didepan dada.
__ADS_1
"Ya sudah deh, nanti aku coba dulu. Tapi kalau gagal jangan salahkan aku ya?" Ancam Amanda kepada Rasya jika di kemudian hari dia gagal untuk mendekatkan Rasya dengan Carla sahabatnya.
"Beres lah kalau itu. Yang penting kan usaha dulu." Kata Rasya sambil tersenyum mengembang.
"Ya udah sana balik ke kelas, ganggu waktu istirahat aku aja kamu. Ku kira masalah masa depan apaan, eh nggak taunya masalah cinta." Ucap Amanda sambil menepuk jidatnya.
"Oke makasih ya Man, aku mau ketemu Anton dulu sekalian balik ke kelas. Nanti kalau sempat aku inbox kamu." Rasya tersenyum sambil berjalan ke arah Anton.
" Memang susah ditebak anak itu, dari dulu banyak cewek yang dekati dia tapi malah pada ditolak. Giliran ketemu 1 cewek yang buat dia tertarik eh langsung kepincut. Cowok kadang juga lebih ribet ya dari cewek." Batin Amanda sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah jam pelajaran selesai seperti biasa Amanda selalu nyamperin aku duluan untuk pulang bersama.
Saat perjalanan pulang Amanda sempat bertanya kepadaku,
"La, boleh tanya masalah pribadi nggak?"
Tanyanya ragu.
"Boleh dong buat sahabatku, emang mau tanya apa?"
"Maaf ya La jangan tersinggung, ehm...apa kamu punya cowok yang tidak aku ketahui?" Amanda bertanya kepadaku.
Aku tiba tiba berhenti dan tertawa sambil memegangi perut.
"Kenapa kamu tertawa La?" Selidik Amanda karena bingung.
"Kamu tu lucu Man, apa si yang pernah aku sembunyikan dari kamu? hemm...?" Jawabku sambil mengangkat daguku dan di arahkan ke Amanda.
"Iya juga si La, selama ini kita berdua selalu bercerita dan berbagi apapun yang kita alami."
Hehe ucap Amanda sambil tersenyum malu.
__ADS_1
"Nah itu tau, kenapa harus kamu tanyakan lagi. Kita kan best friend forever." Lanjutku sambil mengayuh sepeda dan kembali melanjutkan perjalanan pulang.
Walaupun sejujurnya memang benar ada yang ku tutupi dari Amanda. Tapi untuk saat ini cukup aku yang tau saja. Suatu saat jika waktunya sudah tepat akan aku ceritakan semua yang sekarang aku rasakan terhadap Ananda. Namun untuk saat ini mungkin waktunya belum tepat.