
Sepulang sekolah aku langsung mampir ke ruang OSIS untuk ambil form pendaftaran. Entah kenapa, kali ini aku nggak dengerin nasehat sahabat serta teman temanku.
Padahal sebelumnya mereka sudah kasih masukan ke aku. Aku juga bingung kenapa aku kaya gini. Aku tu seperti yakin ngejar sesuatu yang pasti akan aku dapatkan, tapi aku sendiri belum tau yang ku kejar itu apa.
Ya walaupun sebenarnya Amanda juga nggak masalah aku ikut masuk jadi pengurus OSIS, karena semua keputusan ada di aku dan aku yang jalanin. Tapi dia tetap sahabatku, jadi aku akan berbicara dengannya.
Tapi dia pernah berpesan, Jangan sampai karena aku sibuk jadi pengurus akhirnya aku lupa sama kewajiban aku jadi seorang anak dan pelajar.
Terus yang paling utama juga, Amanda nggak mau kalau aku terlalu sibuk dengan organisasiku, kemudian aku melupakan dirinya.
Amanda hari ini berangkat dengan ayahnya. Karena kebetulan ayahnya ada acara di kabupaten, dan melewati sekolah kami, jadi Amanda sekalian di antar oleh ayahnya.
Amanda sudah kasih tau aku dari semalam, jadi paginya saat berangkat aku nggak perlu nunggu Amanda lagi.
Sampai di sekolah, aku tidak langsung masuk ke kelas. Melainkan mampir dulu ke ruang OSIS untuk menyerahkan form pendaftaran calon pengurus OSIS periode ini.
" Assalamualaikum..." Aku mengucap salam sambil mengetok pintu yang sudah terbuka karena di dalam sudah ada beberapa seniorku.
" Wa'alaikumussalam..." Jawab mereka serempak.
" Eh ada Clara, gimana ada yang bisa saya bantu?" Kebetulan di dalam ruangan ada kak Ilham. Dia menyapaku dan menyuruhku untuk masuk.
Pada saat aku masuk, aku menoleh ke arah samping kiriku, aku kaget dan langsung berhenti sejenak sebelum melanjutkan langkah ku kembali ke arah kak Ilham sambil mengatur detak jantungku.
Kenapa di saat kaya gini aku justru gugup? Kenapa harus ada dia di sana, seseorang yang sangat aku kagumi. Namun dia hanya menoleh sebentar dan tersenyum kepadaku, Kemudian menunduk kembali untuk memainkan gadgetnya.
" I-ni kak form nya. Aku nitip ya...! Makasih! Kemudian aku langsung lari keluar tanpa pamit kepada para seniorku di sana karena gugup.
" Kenapa dia? Aneh banget. Kaya lihat hantu aja." Ucap kak ilham pelan dan masih menatapku dengan bingung.
Kak Destriana yang dari tadi melihat interaksi kami dan mendengar ucapan kak Ilham pun langsung menimpali,
"Ya secara lah dia langsung kabur. Dia lihat hantu beneran ada di depan dia." Sambil menahan tertawa.
"Ah yang bener mbak Des? masa masih pagi gini sudah ada hantu? Aku tiba-tiba kok jadi merinding ya?" Sambil memegang tengkuk dan lengannya.
Semua yang ada di ruangan langsung tertawa karena Ilham tidak tau yang dimaksud oleh Destriana adalah dirinya.
Sampai di kelas aku langsung duduk sambil memegang dada dan menutup mata untuk mengatur nafasku kembali.
"Kenapa La? kok keringatan gitu terus ngos ngosan lagi, kaya habis dikejar hantu aja." Tanya Kiki heran karena masih pagi tapi aku sudah seperti orang yang mengikuti lomba lari maraton 10 putaran.
__ADS_1
"Nggak papa kok Ki. Tadi takut terlambat aja karena jamnya sudah mepet. Jadi aku langsung lari dari parkiran."
"Ku kira habis liat hantu jadi langsung lari maraton agar cepat sampai sini." Goda Kiki.
"Ih apaan si kamu mel, mana ada pagi-pagi lihat hantu?" Tambahku lagi.
"Ya ada lah, kalau hantunya wujud manusia ganteng yang lagi kamu sukai atau lagi kamu hindari. Goda Kiki lagi sambil tertawa.
"Nggak lucu tau!" Tegasku.
Walaupun apa yang di bilang Kiki memang benar adanya. Kalau aku bertemu dengan seseorang yang aku kagumi bahkan aku sukai. Batinku sambil tersenyum sendiri dengan pertemuan yang sangat menyenangkan buatku pagi ini.
Setelah pulang sekolah aku dan teman temanku yang ikut mendaftar menjadi calon pengurus OSIS diminta untuk berkumpul dan melakukan serangkaian test.
Ada beberapa test yang kami lalui, ada test tertulis berisi pengetahuan umum, test wawancara, dan test Baris berbaris.
Kami menyelesaikan beberapa test dalam satu hari saja. Test selesai pukul 5 sore. Kami diminta untuk pulang terlebih dahulu dan selanjutnya untuk pengumuman diterima atau tidaknya kami akan diberitahu lagi 2 hari setelah test dilaksanakan.
Pada saat aku keluar gerbang aku bertemu Rasya. Tapi aku cuek tanpa menyapa dan langsung pergi mengayuh sepedaku untuk pulang.
Karena waktu sudah sangat sore, Aku takut orang tuaku panik mencari ku. Tadi pagi aku hanya pamit untuk pulang sore saja karena ada kegiatan sekolah.
Hari ini aku sangat letih, sampai rumah sudah hampir Maghrib. Sepeda kutaruh di tempat biasa kemudian aku melepas sepatu dan langsung masuk kerumah sambil mengucap salam.
"Assalamualaikum..." Sapaku
"Wa'alaikumussalam... Kok sampai sore banget La?" Tanya Bapak.
"Iya pak ada kegiatan di sekolah dan baru selesai."
"Ya sudah sana langsung mandi, nggak bagus juga sebenarnya kalau kita mandi terlalu sore apalagi melewati maghrib. Tapi karena kamu mau sholat dan seharian aktifitas jadi paling tidak badan dibersihkan." Jelas Bapak kembali.
"Iya pak, Carla selalu ingat nasehat Bapak."
"Tapi jangan pake air dingin ya, tadi Bapak sudah rebus air untuk mandi kamu Ra." ucap bapak menambahi.
" Siap pak! makasih ya pak." ucapku semangat , sambil berjalan ke belakang untuk mandi.
Setelah selesai mandi, aku langsung ke belakang berniat untuk sholat Maghrib. Tetapi pas melewati meja makan, aku tergiur dengan aroma masakan Ibuku yang menggugah selera. Apalagi sejak siang tadi aku belum kemasukan nasi sama sekali karena sibuk menjalani test.
Aku mau ambil piring, namun tanganku tiba-tiba di tampol sama Ibu.
__ADS_1
"Sholat Maghrib dulu neng, terus baru makan. Nanti waktunya keburu habis loh. Kalau sudah sholat kan tenang mau ngapain aja. Sekalian nunggu bapak dan adikmu pulang dari mushola."
" Hehe... iya Bu. Maaf soalnya sudah laper pake banget." Ucapku sambil meringis lalu berdiri dan melangkah ke arah tempat wudhu untuk melaksanakan sholat Maghrib.
Selesai sholat Maghrib, sudah menjadi tradisi kami untuk selalu makan bersama keluarga, agar bisa mempererat komunikasi antar keluarga.
"Mbak, aku nanti boleh pinjam handphone mu ya?" Ucap adikku masih dengan mulut yang terisi makannya.
"Putra...! Di telan dulu, baru ngomong. Biar nggak kesedak." Ibu menasehati adikku.
"Bukan masalah kesedaknya saja Bu, tapi melainkan Adab makan yang benar." Lanjut Bapak.
Adikku hanya cengengesan.
"Emang mau buat apa?" Tanyaku masih fokus dengan makananku karena dari tadi sudah sangat lapar.
"Ehm... Pulsaku habis kak. Aku mau kirim pesan ke temenku."
"Oh..." Jawabku singkat.
"Terus gimana boleh nggak?" Adikku sambil menunggu jawabanku.
"Boleh saja..."
Adikku kegirangan. Padahal aku belum menyelesaikan ucapanku.
"Boleh saja kamu pinjam handphone ku,
tapi syaratnya kamu beliin aku pulsa karena pulsaku juga habis." Lanjutku dengan menahan senyum.
Adikku yang lagi senang tiba tiba duduk kembali dan melototiku sambil berkata,
"Apa...???!!! Apa kakak berniat mengerjaiku?" Kemudian dia menyilangkan tangannya di depan dada dengan kesal.
"Siapa yang mengerjai kamu, tadi kan aku belum selesai ngomong, tapi kamu sudah kegirangan." Jawabku santai.
Sebenarnya aku ada pulsa si. Tapi sorry ya aku nggak mau pinjemin ke adikku. Bisa bisa pulsaku langsung habis sama dia.
Demi bisa beli pulsa Aku harus menyisihkan uang jajanku tiap hari agar tidak menambah beban orang tua.
Bapak dan Ibuku hanya bisa tersenyum melihat kami berdua bertengkar.
__ADS_1