Tiga Hati Untuk Carla

Tiga Hati Untuk Carla
episode 20


__ADS_3

Saat aku dan Kiki sedang di depan pintu melihat keberadaan Jonan, pada saat itu juga Jonan melihat kearah kami. Mungkin dia merasa sedang diperhatikan seseorang.


Aku langsung salah tingkah saat Jonan balik memperhatikanku. Dia tersenyum dan langsung berjalan menghampiriku.


Aku bingung harus berbuat apa, saat Jonan sudah Deket sama aku, aku hanya tersenyum kikuk.


"Tuhan apa yang harus aku lakukan? Aku udah ketahuan kalau sedang memperhatikan dia." Ucapku dalam hati.


Keringat mengucur deras di tubuhku, karena hawa panas yang tiba-tiba menjalar. Selain itu juga karena malu, deg-degan dan ditambah cuaca panas yang sangat sangatlah mendukung membuat keringat di dahi juga ikut mengucur.


Bak adegan sinetron, Jonan langsung mengarahkan tangannya untuk menyeka keringat yang ada didahiku.


Aku terasa terhipnotis olehnya, kenapa aku juga diam saja saat dia memegang dahiku.


Namun aku langsung tersadar dan menepis tangan Jonan kemudian minta maaf.


"Maaf karena sudah lancang." Jonan mengawali pembicaraan.


"I-iya nggak papa." Ucapku sambil menunduk.


Aku malu... iya aku malu banget karena banyak pasang mata yang memperhatikan kami. Apa yang mereka pikirkan tentangku? Dalam sehari aku sudah didatangi 3 cowok. Ampun tuhan...


"Kenapa nunduk? Nggak mau lihat wajah aku?" Aku tau kalau dia lagi goda aku, biar mukaku tambah kaya kepiting rebus.


Aku langsung memandang wajahnya malu malu.


"Kamu masih sama kaya dulu. Menggemaskan." Mungkin karena saking gemasnya dia sampsi mencubit hidungku.


"Kak Jonan ih... Jangan gitu dong, sakit tau." Aku sambil memasang muka ngambek.


"Iya...iya maafin kakak. Gimana kabar kamu?"


"Baik kak, Kakak sendiri?"

__ADS_1


"Aku baik juga. Lama kita nggak ketemu. Aku tau kamu sekolah disini juga dari Ana."


Jadi Ana adalah saudaranya Jonan yang jadi sahabat aku dan Amanda saat SMP. Tapi sayangnya kami beda sekolah saat SMA.


"Oh gitu ya kak..." Aku masih kikuk karena lama juga nggak ketemu dia.


Awas kamu ya Ana, kenapa nggak bilang bilang aku dulu kalau udah kasih tau ke Jonan. Nanti selepas pulang sekolah, aku akan mampir kerumahnya. Ucapku dalam hati.


Setelah ngobrol panjang lebar dengan Jonan, akhirnya bel jam masuk kelas berbunyi.


Kak Jonan pamit ke aku untuk masuk ke kelasnya dan memberikan secarik kertas berisi nomor teleponnya.


Saat kak Jonan salaman sama aku, tanpa ku sadari Randi melihat dari depan ruang musik. Dia hanya tersenyum dan aku balas juga senyumnya. Saat aku berbalik ke arah kanan tidak sengaja aku juga melihat Rasya sedang memperhatikan kami. Tapi karena aku juga melihatnya dia langsung buang pandangannya ke arah lain.


Sekarang kenapa aku merasa bersalah sama mereka? Kan aku nggak ada hubungan apa apa juga sama mereka.


Halah bodo amat... yang penting sekarang sekolahku. Mikirin perasaan orang lain nggak bakal ada habisnya.


Pulang sekolah ku hampiri Amanda dikelasnya.


"Amanda...!" Panggilku dengan nada sedikit keras.


"Hai... kenapa ke kelasku?"


"Aku hari ini ada rapat OSIS, dan setelah rapat aku ada rencana untuk ke rumah Ana."


"Oke... berarti aku pulang sendiri ni?"


"Iya. Nggak papa ya pulang sendiri dulu?" Rayuku.


"Iya iya nggak papa. Udah biasa juga. Oh iya mau ada urusan apa ke rumah Ana?"


"Aku mau protes ke dia, Kenapa dia kasih tau ke Jonan kalau aku sekolah disini?" Ucapku menggebu gebu.

__ADS_1


"Jonan? Ehm Jonan senior kelas 12 IPS kah?" Amanda sambil mengingatnya.


"Iya betul. Sekarang kamu tau kan?"


"Iya aku tau orangnya... Emang urusannya apa sama kamu?"


"Yaa ampun Amanda! Kamu udah pikun atau gimana si? Buat apa selama ini aku cerita panjang lebar sama kamu kalau ternyata nggak kamu ingat!!!!!" Kesalku.


"I- iiya maaf. Namanya orang lupa gimana lagi?"


"Huft..." Aku menghembuskan nafas kasar dan kembali menceritakan kisahku dulu dengan Jonan.


"Oh gitu... Eh tunggu berarti sekarang saingan Rasya bertambah dong Rasya?"


Langsung kujitak kepala Amanda.


"Kamu ni ada-ada aja, malah mikirin itu, Aku aja nggak kepikiran kesitu sama sekali."


"Hehe ya maaf La, kalau dipikir kisah cintamu menarik juga ya La. Kayaknya kalau di buat novel bagus juga?"


Aku semakin menepuk jidatku sendiri karena tambah pusing dengan pemikiran Amanda.


"Manda...!!! Gimana ini kalau dia nagih janjiku dulu untuk jawab mau jadi pacarnya atau nggak? Aku harus jawab apa?" Tanyaku gusar.


"Ehm gimana ya? Nanti aku bantu carikan jawaban deh. Lebih baik kamu kerumah Ana jangan hari ini. Nanti kamu pulangnya jadi kesorean. Lebih baik hari minggu bareng aku. Nanti aku temenin deh."


"Beneran mau nemenin?" Tanyaku memastikan.


"Beneran lah, apa si yang nggak buat bestiku. Lagian kesehatanmu masih belum pulih betul. Lebih baik banyakin istirahat. Nggak usah mikir kaya gituan dulu deh." Amanda menasehatiku.


"Iya juga si... Ya sudah kalau gitu ku temani jalan sampai kearah parkiran.


"Oke deh kalau gitu. Let's go..."

__ADS_1


__ADS_2