
"Aku marah karena kamu nggak jujur sama aku dari awal La!"
"Maafin aku Amanda, awalnya aku cuma kagum aja sama dia. Jadi buat apa aku ceritain sama kamu." Pikirku.
"Iya tapi karena kamu nggak cerita sama aku, kamu jadi salah paham kan sama aku?"
Aku diam dan hanya tersenyum menanggapinya. Memang benar adanya yang Amanda katakan.
"Maafin aku ya..." Sesalku.
Aku hanya bisa meminta maaf pada Amanda karena sudah salah paham.
"Lagian, kamu masih anggap aku sahabat nggak si La? Apa kamu sudah menemukan sahabat baru?" Cecar Amanda.
"Nggak kok, sahabat ku cuma kamu aja. Aku nggak pernah curhat ke siapapun selain kamu." Jawabku meyakinkan Amanda.
"Makanya besok-besok kalau ada masalah apapun cerita sama aku. Jangan dipendem sendiri." Terang Amanda lagi.
"Iya Amanda, aku akan selalu cerita dan minta pendapatmu dulu deh kalau ada apa-apa".
"Nah gitu dong... Oh iya La, terus Rasya mau kamu apakan?"
"Lah apa urusanku sama Rasya. aku aja masih Gedeg sama dia." Kesalku kalau sudah membahas Rasya.
"Tapi Rasya sama Randi satu kelas loh La?" Apa kamu nggak takut kalau bakal terjadi perang dunia ke 3? Tanya Amanda sambil mengingatkanku.
"Ya mau gimana lagi Manda, soalnya aku kan nggak suka sama Rasya. Apalagi sikapnya yang bar-bar kadang bikin aku malu.'' Jelasku.
"Ya kamu tinggal ngomong jujur aja sama Rasya La, bilang aja kalau kamu nggak bisa nerima cintanya. Kamu pengin fokus belajar sama berorganisasi gitu aja, beres kan?"
"Iya Manda kamu bener, aku harus tegas sama Rasya, biar dia nggak berharap terus sama aku."
"Tapi kamu juga harus pikirkan perasaannya La, misal suatu saat nanti kamu bisa jadian sama Randi gimana? apalagi mereka berdua satu kelas. Jangan sampai mereka berdua bermusuhan hanya karena kamu."
"Hah... Aku jadi bingung Manda?" Ucapku sambil membuang nafas kasar.
"Eh sudah bel tu, ujian mau di mulai. Kita lanjut nanti setelah ujian selesai ya biar tenang."
"Oke, aku ke ruangan ku dulu ya Manda, bye Amanda... Semoga ujian nya lancar."
"Aamiin... Oke Ra, kamu juga ya. Bye juga..."
Aku dan Amanda akhirnya berpisah untuk pergi ke ruangan masing-masing.
***
Ujian hari inipun dimulai, aku mulai mengerjakan soal demi soal. Aku terlalu fokus dengan lembar soal sampai pada saat Randi bisiki sesuatu kepadaku, aku tidak mendengarnya.
"La, nanti pas istirahat keruang OSIS bareng aku ya?" Bisiknya.
Aku masih belum mendengarnya.
"La... Carla... Gimana mau nggak?" Bisiknya lagi.
__ADS_1
Akupun masih fokus dengan lembar soal ku.
Aku masih belum mendengar juga bisikan dari Randi.
Sampai akhirnya Randi menyenggol lenganku.
Karena terlalu fokus akupun sewot dengannya.
"Apaan si! Ganggu aja." Ucapku dengan nada agak keras.
Semua yang di ruang kelas menatapku termasuk para pengawas. Randi langsung salah tingkah.
"Ada apa Carla?" Tanya salah satu pengawasku.
"Hehe... Nggak ada apa-apa Bu. Mohon maaf semua sudah ganggu." Ucapku sambil menahan malu.
Dan si biang onar malah hanya bisa senyam senyum melihat sikapku dan merasa tidak bersalah.
Emang dasar Randi, bikin aku malu!
Tapi kenapa saat Randi bikin aku malu justru aku nggak marah ya? Batinku penasaran.
"Ya sudah kerjakan lagi. Jangan ribut, karena waktu terus berjalan." Ucap salah satu pengawas lagi.
Waktu berjalan begitu cepat, akhirnya aku bisa menyelesaikan dalam waktu 70 menit dari soal 30 pilihan ganda dan 5 essay.
"Akhirnya selesai juga." Gumamku pelan sambil meregangkan otot leher yang kaku karena dari tadi terlalu fokus.
"Cepet banget si, tungguin aku ya." Timpal Randi.
Padahal dalam hati aku lagi berbunga bunga. Tapi pura-pura jaim lah.
"Tadi kan aku sudah bilang sama kamu, kita ke ruang OSIS bareng."
"Kapan kamu bilang sama aku? perasaan kamu nggak bilang apa apa sama aku."
"Makanya neng minum Air Q mineral dulu biar fokus. Jadi kalau ada orang ngomong denger."
"Emang kamu ngomong kapan sama aku?"
"Tadi pas aku senggol kamu terus kamu teriak. Lagian aku bisikin kamu sudah berapa kali. Tapi anehnya kamu nggak denger sama sekali."
"Aduh sorry kak, aku beneran nggak denger pas kamu bisikin aku." Sambil menangkupkan kedua tanganku.
"Ya sudah aku maafin, tapi tungguin aku ya, aku tinggal dikit kok." Tambahnya lagi.
"Oke kak, tapi jangan lama lama."
"Baiklah."
Aku keluar ruangan bersama Randi. Kami berjalan bersama menuju ruang OSIS.
Pada saat kami berjalan bersama tidak sengaja kami berpapasan dengan Rasya yang berada di sebelah ruangan kami.
__ADS_1
Tatapan Rasya sangat sulit diartikan saat menatap Randi.
Padahal Randi sudah menyapa Rasya terlebih dahulu. Dan Rasya tidak membalas sapaan Randi. Mungkin dia cemburu melihat kedekatan ku dengan Randi. Padahal aku sama Randi tidak ada hubungan apa apa. Namun berharap suatu saat ada hubungan diantara kami.
"Kenapa tu si Rasya, kok tatapannya sinis kaya gitu?" Tanya Randi pelan
Aku cuma mengangkat bahu pura-pura nggak tau.
Saat aku baru duduk dan mau membaca buku, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku.
"Carla... Carla..." Aku kemudian menoleh ke sumber suara.
Ternyata yang memanggilku adalah kakak seniorku kelas 12. Namanya kak Rahman
"Eh iya ada apa kak?"
"Duduk sini deh, ada yang pengin aku bicarakan sama kamu."
Terlihat Randi melirikku saat aku berjalan dan duduk di sebelah kak Rahman.
"Ada apa kak?" Tanyaku.
"Ehm kamu sahabat Amanda kan?" Tanya kak Rahman pelan sambil berbisik.
Nah kan Amanda lagi. Untung aku nggak ada rasa sama kak Rahman. Kalau ada rasa bisa-bisa aku salah paham lagi nih. Ucapku dalam hati.
"Iya kak, ada apa ya kak?"
"Aku mau nitip ini buat Amanda." Sambil menyerahkan sesuatu ke tanganku yang aku sendiri nggak tau itu apa.
"Apa ini kak?"
"Rahasia dong, nitip ya... Bilang saja dari penggemar rahasianya. Jangan bilang kalau hadiah ini dari aku. Oke! Ucap kak Rahman sambil mengerlingkan salah satu matanya.
"Kenapa nggak dikasihkan sendiri saja kak? Kalo dikasih sendiri, yang dikasih jadi lebih seneng." Ucapku lagi.
"Aku belum siap kalo Amanda tau aku mengaguminya."
"Terus nanti kalau aku ditanya dari siapa, kelas berapa, ketemu dimana, dll aku jawab apa kak?" Tanyaku lagi.
"Ya kamu bilang saja, katanya dari penggemar rahasiamu. Aku nggak kenal sama dia. Tadi kebetulan ketemu di parkiran."
"Ehmm tapi isinya bukan barang yang aneh -aneh kan kak?" Ucapku memperjelas.
"Ya bukan lah. Pokoknya spesial deh buat dia." Jawabnya dengan semangat.
"Ya sudah nanti aku sampaikan pas pulang sekolah."
" Makasih ya Carla cantik."
"Iya kak, sama-sama. Untung aku nggak ada rasa sama kakak. Jadi nggak perlu salting. Ya sudah aku duduk di sana lagi ya?"
"Bisa aja kamu. Ya sudah silahkan. Tapi janji jangan cerita ke siapapun ya. Dan Amanda juga jangan sampai tau kalau itu aku yang kasih."
__ADS_1
"Beres kak. Jadi pengagum rahasia nggak enak loh kak, hanya bisa mengagumi tanpa memiliki." Candaku sambil melirik ke arah Randi yang juga sedang melihat kami.
Kak Rahman hanya tersenyum malu.