
"Carla... Carla..." Panggil Amanda didepan rumahku.
"Eh kamu Man, ada apa ni tumben bisa keluar rumah, biasanya disuruh jaga adik?"
"Iya ini kan hari libur, kebetulan ortu juga lagi dirumah, makanya aku kesini. Oh iya kamu lagi sibuk nggak?" Tanya Amanda kepadaku.
"Nggak si, kebetulan sudah selesai bantu ibu dan baru selesai juga ngerjain PR. Memangnya ada apa Man?"
"Bisa temenin aku ke tempat photocopy depan sekolah nggak? Aku besok di suruh ngumpulin tugas makalah ni, tapi belum aku print." Pinta Amanda.
"Oke bentar ya, aku izin dulu sama ibu." Ucapku sambil masuk kedalam rumah untuk berganti baju dan pamit kepada ibu.
"Oke La ku tunggu di bawah pohon rambutan ya." Seru Amanda.
" Ya Man..." Jawabku sambil berteriak.
Setelah berganti pakaian, aku masuk ke dapur untuk pamit kepada ibuku.
"Bu, Carla pamit mau ke photocopyan depan sekolah nemenin Amanda mau print tugas." Pamitku kepada ibu.
"Hati hati lo ya dijalan, kalau nyebrang juga liat kanan kiri, terus kalau sudah selesai langsung pulang." Perintah ibu
"Siap Bu!!!" Jawabku tegas.
Ibu mengantarku sampai didepan rumah. Kemudian Amanda juga izin kepada ibuku, karena mengajakku untuk menemaninya mengerjakan tugas sekolah.
Kami sampai di tempat photocopyan depan sekolah, walaupun hari minggu tetapi tetap buka karena melayani anak sekolah yang mengerjakan tugas dan melayani masyarakat umum juga.
Karena Amanda membawa motor sendiri, jadi perjalanan yang kami tempuh dari rumah sampai tempat lebih cepat dari hari biasanya kalau kita membawa sepeda.
Pada saat aku dan Amanda duduk mengantri di depan tempat photocopyan, dari dalam sekolah ada segerombol cowok berjalan menuju pintu gerbang depan sekolah. Setelah kuamati ternyata mereka adalah seniorku kelas 11 dan kelas 12. Mereka adalah para pengurus OSIS.
Aku pura-pura tidak melihat mereka, dan kebetulan Amanda juga tidak melihat mereka. Karena dia sedang fokus dengan gadgetnya.
Aku melirik sebentar ke arah mereka, sepertinya mereka mau mencari makan. Namun pandanganku tertuju pada satu sosok yang selama ini aku kagumi secara diam. Tetapi aku belum mengenalnya karena setauku dia bukan salah satu pengurus OSIS. Hanya saja aku pernah sekali bertemu dengannya secara tidak sengaja di depan masjid pada saat kami akan sholat Dzuhur. Dia duduk di sebelahku pada saat melepas sepatu, kami hanya saling lempar senyum tanpa berkata apa-apa.
Tiba tiba Amanda menyenggol bahuku sambil bertanya,
"Eh liat apaan si?"
__ADS_1
Sambil mengikuti arah pandanganku. Beruntung rombongan tadi sudah masuk kedalam rumah makan, jadi Amanda tidak sempat melihatnya."
"Ehmmm nggak kok, nggak liatin apa-apa." Jawabku sambil salah tingkah.
"Oh ya sudah, aku masuk dulu ya..." Ucap Amanda.
"Iya, aku nunggu disini saja ya." Sambungku.
"Oke!" Jawab Amanda sambil berjalan masuk kedalam.
Aku hanya menganggukan kepala pertanda setuju.
Setelah selesai dengan tugas, Amanda ganti mentraktir aku dengan membeli pentol dan es cendol karena hari ini aku sudah bersedia menemaninya.
Dia adalah sahabat terbaikku karena selalu tau apa yang aku mau.
Sampai rumah aku langsung mandi, karena cuaca di luar sedang panas. setelah mandi aku melakukan kewajibanku untuk Sholat Ashar.
Setelah aku selesai dengan kegiatanku, Ibu mendekatiku dan bertanya,
" La emang kamu sudah punya pacar?"
"Tapi kok tadi ada cowok yang kesini ngantar ini, katanya nitip buat Carla. Terus dia siapa dong?" Tanya Ibuku kembali sambil menyerahkan paperbag kecil yang dibawakan cowok tadi untukku.
Aku menerima paperbag dari tangan Ibu dan langsung membuka paperbag tersebut karena penasaran.
Setelah aku buka, ternyata isinya cokelat dan sebuah surat. Kemudian aku melihat ibu dan kembali melihat isi dari paperbag yang dipegang secara bergantian.
"Isinya apa La?" Tanya ibu penasaran.
"Ehm i-ini Bu." Sambil menyerahkan kembali paperbag ke Ibu dan terlebih dahulu ambil suratnya. Kemudian duduk sambil memakan pentol yang tadi di belikan Amanda.
"Cokelat?" Tatap ibu kepadaku karena merasa aneh dengan anak jaman sekarang.
"Ya ampun dasar anak kecil sok romantis. Jajan saja masih minta orang tuanya, eh ini berani ngasih cokelat ke anak gadisnya orang." Omel ibu karena kurang begitu suka cowok yang buang buang uang hanya untuk menyenangkan hati cewek dengan membelikan barang yang disukainya.
Tiba-tiba adikku datang dari dalam kamar dan langsung merebut paperbag yang ada ditangan ibu.
"Bu, buat Putra saja ya! kalau Mbak Carla nggak mau." Seru Putra.
__ADS_1
"Iish ijin dulu sama mbakmu jangan asal ambil barang milik orang lain walaupun dia mbakmu." Ibu menasehati adikku yang super agresif ini. Tiap hari kerjaannya cuma main game saja. Nggak pernah mau membantu pekerjaan rumah.
" Sudah biarin Bu, di kasihkan Putra saja. Biar dimakan bareng teman temannya." Ucapku sambil berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar.
"Mbak Carla beneran nggak mau? ini ada 3 loh cokelatnya?"
" Nggak mau, udah buat kamu semua aja." Teriakku dari dalam kamar.
" Ya sudah kalau gitu. Makasih ya mbak!!!"
Walaupun kami 3 bersaudara tapi sifat kami berbeda. Kakakku sangat pendiam tapi kadang ngeselin karena kalau habis masak atau makan mesti nggak langsung dibersihkan. Tetapi walau kaya gitu, dia tetap saja perhatian dengan adik adiknya. Sedangkan adikku ya kaya gitu, kerjaannya bawa temen ke rumah buat main game di dalam kamar, keluar kalau sudah laper atau kalau ada perlunya saja.
Tapi walaupun dia seperti itu, dia tetap sayang kepada keluarganya. Kalau bepergian tetap Sederhana dan nggak pernah mengikuti tren anak seusianya.
Setelah masuk kamar aku langsung merebahkan badan di kasur, kemudian membuka surat yang tadi ku ambil dari dalam paper bag.
Setelah kubuka suratnya dan ku baca pengirimnya, aku langsung membulatkan mata dan menutup mulutku karena kaget. Ternyata tadi yang memberi aku cokelat adalah Rasya teman Amanda? Aku masih belum percaya, akhirnya aku memberanikan diri untuk inbox ke Amanda.
"Man, lagi sibuk nggak?" Sambil menunggu jawaban Amanda, aku merapikan surat yang tadi dan menyimpan di laci meja belajarku.
Sekitar 15 menit kemudian Amanda baru menjawab pesan dariku.
"Maaf La baru balas pesanmu, karena tadi adikku rewel jadi habis ku ajak mainan di samping rumah, terus handphone ku sedang di charge di dalam kamar." Amanda menjelaskan.
" Oh iya nggak apa apa Man, sebenarnya aku mau cerita sesuatu ke kamu."
" Cerita apa La? tumben banget lewat inbox. Kenapa tadi pas ketemu nggak cerita?"
" Tapi kamu jangan marah ya? iya karena tadi pas pulang baru tau."
" Apaan si Ra, kok kamu bikin aku penasaran, apa ada hubungannya sama aku?"
"Sebelumnya aku minta maaf ya Ra, tolong kamu jangan marah ya sama aku. Jadi tadi pas pulang habis nemenin kamu itu ternyata Rasya habis dari rumahku ... (Aku ceritakan semua yang tadi kualami kepada Amanda, aku berharap dia tidak salam paham)."
"Oh gitu... Ya sudah besok kita berangkat lebih pagi ya, terus nanti kamu bawa saja suratnya."
Jawab Amanda tanpa membahas nya kembali.
" Baiklah" Jawabku lemas karena takut Amanda marah. Apalagi kan Rasya juga dekat dengan Amanda. Dan terus kenapa Amanda juga jawabnya kaya gitu. Biasanya kan dia antusias mendengarkan kalau aku cerita.
__ADS_1
Apa jangan jangan dia marah? Ahh pusing kepalaku!! aku nggak mau semua ini jadi salah paham dan membuat persahabatan ku sama Amanda hancur gara gara cowok.