
Setelah beberapa bulan menjalani kegiatan belajar mengajar, tiba akhirnya semua siswa dihadapkan pada ujian tengah semester yang akan dilaksakan Selama 10 hari.
Banyak hal yang harus kami persiapkan. Mulai dari belajar materi yang sudah diajarkan, mengumpulkan tugas tugas yang sempat lupa belum dikumpulkan, dan banyak lagi lah pokoknya.
Tugas para pengurus OSIS 1 hari sebelum ujian yaitu menempelkan nomor ujian di setiap pojok meja.
Karena aku adalah salah satu petugas yang ikut menempelkan nomor ujian, jadi aku juga bisa mencari dimana kelas dan mejaku saat ujian dengan menggunakan nomor ujianku.
Setelah aku cek satu persatu, alangkah syok nya aku saat tahu kelas mana yang akan satu ruang dengan kelasku.
"Hah...!!! Kelasku satu kelas sama kelas Rasya?" Ucapku sambil melotot.
"Berarti apa ada kemungkinan juga aku bisa satu ruangan dengan cowok itu??" Gumamku dalam hati dengan rasa penasaran.
"Ehm... Jadi semakin penasaran deh, kira kira siapa ya yang duduk di sebelahku?"
"Tapi aku yakin kalau itu pasti bukan Rasya. Karena setauku nama depan Rasya adalah Adrian Rasya, jadi pasti masuk dalam urutan absensi awal. Nah yang jadi pertanyaan, cowok itu nama depannya siapa? Mungkin nggak ya untuk satu kelas sama aku?? Yaa Tuhan walaupun nggak sebangku paling tidak aku minta bisa satu ruangan sama dia." Ucapku dalam hati.
***
Hari Ujianpun dimulai, kelas kami dan kelas senior serta pengawaspun sudah masuk ke dalam ruangan. Bangku yang lain sudah terisi, tinggal sebelahku yang belum terisi. Aku semakin deg degan, kira kira siapa yang akan duduk di sebelahku?
Setelah berdoa pengawas memberikan lembar soal dan lembar ujian kepada kami. Saat aku sedang fokus mengisi lembar jawaban yang tersedia, tiba-tiba ada yang duduk di sebelahku. Aku belum sempat melihat siapa dia. karena aku masih fokus dengan kegiatanku.
Setelah selesai mengisi data diri dan akan memulai membaca soal, aku menyempatkan diri untuk melihat siapa yang duduk di sebelahku.
"Hah...!!! di...di...dia..." Aku sempat menutup mulutku agar tidak bersuara.
Yaa Tuhan engkau mengabulkan doaku kali ini, bukan hanya satu kelas tapi satu bangku.
Ya dia adalah cowok yang selama ini aku kagumi.
Tapi sebagai perempuan aku nggak mau ya memperlihatkan apa yang sedang aku rasakan. jadi perempuan juga harus jaim ( jaga image).
Nanti sananya jadi GeEr lagi.
__ADS_1
Dalam hati aku berbunga bunga, dan energi positifku tiba-tiba muncul begitu saja tanpa diminta.
Materi yang semalam aku pelajari secara kebetulan banyak yang keluar dalam ujian.
Hah...bahagianya aku hari ini. Hari ini adalah hari keberuntunganku. Aku sesekali tersenyum di sela sela ujian.
Ujian pertama telah usai. Aku keluar ruangan untuk memakan bekal makan siangku yang tadi di bawakan Ibu.
Walaupun aku dikasih uang saku sama orang tua. Tapi aku selalu berusaha untuk tetap berhemat. Aku lebih suka membawa bekal sendiri. Selain lebih hemat tapi juga lebih sehat.
Selama istirahat waktu banyak ku gunakan untuk membaca beberapa materi yang sudah diajarkan.
Bel berbunyi menandakan ujian ke dua akan dilaksanakan. Kami masih menunggu pengawas, karena kunci ruangan kami masih dibawa pengawas. Jadi setelah ujian selesai semua ruangan ujian akan dikunci, bertujuan untuk menghindari siswa yang akan menaruh atau menyimpan contekan di dalam kelas.
Akhirnya pengawas datang. Kamipun masuk ruangan. Setelah duduk dan berdoa, pengawas akan membagi soal dan lembar jawab.
Pada saat pengawas sedang bagi soal dan lembar jawaban, tiba tiba cowok di sebelahku memberi permen ke aku sebagai tanda perkenalan. Dia memperkenalkan dirinya kepadaku.
" Randi Widya Pratama" ya nama itu yang selalu ingin ku tahu selama ini.
Setelah saling kenalan kamipun saling salah tingkah, karena mungkin ini sama sama yang pertama bagi kami.
Amanda hari ini masih ada kegiatan dengan teman temannya. Jadi dia memintaku untuk pulang lebih dulu.
Pada saat aku sedang duduk dengan temanku, Randi datang dan duduk di sebelahku.
"Kok belum pulang, lagi nunggu siapa?" Tanyanya kepadaku.
"Sebentar lagi, masih pengin ngobrol dulu sama temen temen.
"Oh ku kira lagi nungguin aku." Aku menatap dia sebentar dan kemudian aku memalingkan wajahku ke arah lain. Dia berhasil membuat wajahku seperti udang rebus.
"Aku bercanda kok." Senyumnya kepadaku.
"Nggak bercanda juga nggak papa. Justru moment ini yang sudah lama aku tunggu." batinku sambil senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?"
"Eh...eh...nggak apa apa kok." Jawabku tersenyum kikuk.
"Oh ya sudah. Oh iya kamu temen Amanda ya?"
"Iya" Jawabku singkat
"Satu kampung atau teman waktu SMP?"
"Dua duanya" Dan saat itu aku masih jaim.
" Oh " Jawabnya singkat.
Sepanjang kami mengobrol, ada kenyamanan yang aku rasakan. Hanya saja dia lebih banyak menanyakan dan menceritakan banyak hal tentang Amanda kepadaku.
"Kenapa dengan Amanda? kenapa dia menanyakan banyak hal tentang Amanda? dan dia juga banyak tau tentang Amanda. Apakah dia menyukai Amanda? Dan kemudian mendekatiku karena tau aku sahabat Amanda? Seperti yang dilakukan Rasya untuk bisa mendekatiku?" Banyak pertanyaan yang berkecamuk dipikiranku. Aku jadi menebak-nebak dengan situasi yang sedang ku alami.
Daripada aku banyak pertanyaan yang jelas jelas aku nggak akan bisa jawab, lebih baik besok aku coba tanyakan ke Amanda saja. Biar aku nggak terus terusan dibuat penasaran, sebenarnya ada hubungan apa antara Amanda dan juga Randi?
Walaupun di depan Randi aku bisa tersenyum, tapi tidak dengan hatiku. Ada desiran aneh yang membuat hatiku terasa sakit dan pelupuk mataku mulai berembun. Apa aku bukan hanya sekedar kagum saja sama Randi? tapi justru Cinta sama dia?
"Kok malah melamun si?" Sambil melambaikan tangannya di depanku
"Emm... Apa tadi?" Jawabku
"Nggak papa, tadi aku cuma tanya kenapa kamu melamun?"
"Oh, iya tadi aku lagi mikir tentang jawabanku. Keinget aja kalau tadi kayaknya ada soal yang jawabannya ketuker sama nomor lain." Dustaku.
Nggak mungkin kan aku jujur, kalau aku cemburu karena dia dari tadi menanyakan dan menceritakan tentang Amanda kepadaku.
Apa sebenarnya Amanda ada hubungan dengan Randi dan dia menutupinya dari aku?
Eh tunggu kenapa aku jadi cemburu dan berburuk sangka sama sahabatku sendiri? aku kan belum tau gimana kebenarannya. Bisa saja kalau dia sama Amanda dari awal memang teman dekat. Ingat La, jangan suudzon dulu sebelum tau apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Kamu sudah lebih lama mengenal Amanda, tapi kenapa kamu masih berfikir buruk tentangnya?
Aku pamit pulang terlebih dahulu. Aku nggak mau perasaan ini terus berlanjut. Lebih baik aku kehilangan seseorang yang aku kagumi, daripada kehilangan sahabat yang sudah menemaniku dari kecil.