
"La... La...Carla..." Panggilnya dengan nada khawatir.
Aku masih belum sanggup membuka mataku, karena kepalaku terlalu pusing. Tapi aku masih sanggup mendengar suara orang-orang disekitarku.
"Carla kenapa Ran?" Tanya salah satu kawanku yang juga pengurus OSIS.
"Nggak tau, pas aku lagi mau nyamperin dia, eh dianya keburu jatuh nggak sadarkan diri." Ucap Randi menjelaskan kepada temanku.
"Yaa ampun bajunya sampai basah gini. Apa mungkin dia lagi sakit ya?"
"Ya mungkin, memang ku lihat beberapa hari ini dia pucet banget. Sepertinya lagi kurang fit deh."
"Sudah dikasih minyak angin belum Ran?"
"Belum lah, masa cowok ngasih minyak angin di badan cewek. Apa kata orang nanti? Nanti malah dikira aku cabul." Ucap Randi sambil tertawa.
"Eh iya ya. Kok aku nggak kepikiran ya. Ya sudah coba carikan roti sama teh panas deh Ran, takutnya dia belum sarapan." Pinta temanku.
"Oke bentar, aku ke kantin dulu ya."
"Iya cepet jangan lama-lama."
Aku mulai mencoba membuka mataku. Kulihat temanku masih setia menemaniku dan mengoleskan minyak angin di perutku. Badan terasa lemas dan kepala terasa berat.
Aku mencoba bangun tapi badan ini masih belum kuat untuk menopang.
"Eh sudah bangun, udah dibuat istirahat dulu La..."
"Maafin aku sudah merepotkanmu."
"Iya santai aja kali. Yang penting kamu sehat dulu aja."
"Makasih ya sudah bawa aku kesini."
"Bilang makasihnya jangan sama aku dong. Tapi sama Randi yang tadi sudah bawa kamu kesini." Ucapnya sambil tersenyum.
Dari luar ada yang mengetok pintu, saat di buka ternyata Rasya. Ku lihat wajahnya yang sangat khawatir dan sedih saat melihat kondisiku.
"La, gimana kondisimu? Sudah baikan?" Tanya Rasya dengan nada khawatir.
"Ya baik kok." Jawabku dengan pelan dan senyum.
"Syukurlah, apa kamu sakit?"
"Nggak, cuma kecapean aja dan mungkin karena tadi pagi juga lupa sarapan."
"Ya sudah. Ehm apa ada yang kamu butuhkan? Atau kamu mau makan apa? Biar aku belikan ya?" Tawarnya.
"Nggak Us..." Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Randi masuk membawakan nampan berisi beberapa makanan dan satu gelas teh hangat.
"Ini La di makan du..." Ucapnya menggantung karena kaget melihat Rasya yang sedang jenguk aku juga.
"Eh Sya kamu di sini juga?" Mungkin dia bingung kenapa Rasya ada disini.
__ADS_1
"Iya" Singkatnya setelah itu langsung keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sangat terlihat bahwa dia tidak menyukai keberadaan Randi disini. Tapi masa bodo, lagian aku nggak ada hubungan apapun sama Rasya.
Kami bertiga hanya diam dan melihat kepergian Rasya. Kami terhanyut dalam pikiran masing-masing, hingga kawanku menetralkan susasana kembali.
"Randi lama banget si... Kasian Carla dari tadi nungguin." Aku paham sebenarnya temenku hanya ingin mencairkan suasana agar tidak canggung semenjak kepergian Rasya.
"E-eh iya aku lupa, ayo Ra diminum dulu teh hangatnya habis itu jangan lupa di makan rotinya." Tawarnya sambil tersenyum hangat kepadaku.
Aku hanya menuruti apa yang dimintanya.
"Makasih ya Ran, sudah bantuin aku hari ini."
"Iya sama-sama, ayo dilanjut makannya biar ada tenaga lagi." Aku suka dengan sikapnya yang lembut dan nggak bar bar serta perhatian.
"Ish, Emang ya kalau orang lagi jatuh cinta, serasa dunia milik berdua. Apa kalian lupa ada siapa disini?" Ucap temanku.
"Siapa yang lagi jatuh cinta?" Ucapku pura- pura nggak tau maksud temanku.
"Ya kalian berdua lah, siapa lagi?!"
"Kata siapa?" Jawab aku dan Randi serempak.
"Tu kan jawab aja bisa serempak gitu."
Kami berdua hanya bisa tersenyum malu. Aku memalingkan wajahku dan Randi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
***
"Alhamdulillah sudah baikan kok. Oh iya kamu tau dari mana aku ada disini?" Tanyaku.
"Dari temen-temen. Tadi mereka lagi pada nggosipin kamu. Katanya kamu pingsan terus Randi gendong kamu sampai ke UKS.
"Hah Masa?" Aku pura-pura kaget dan nggak tau kalau Randi gendong aku.
"Iya ya lah, masa ya iya dong." Sambil mengatur nafasnya.
"Kesininya tadi kamu lari?" Tanyaku lagi.
"Iya lah, aku takut kamu kenapa napa. Makanya aku langsung lari kesini buat mastiin kondisimu.
"Aku nggak apa apa kok, mungkin kecapean dan kurang istirahat aja."
Amanda memberi saran kepadaku.
"Ya sudah lebih baik untuk beberapa hari kamu izin nggak usah berangkat dulu aja deh, lagian juga udah nggak ada pelajaran toh?"
"Iya nggak bisa gitu dong Man, aku kan panitia untuk acara beberapa hari kedepan. Nanti juga pasti sudah enakan kok."
"Nggak bisa La, Nanti aku bantu izinkan ke ketos nya deh biar kamu bisa istirahat dulu di rumah. Apalagi kegiatan class meeting itu menguras banget tenaga loh La?" omel Amanda sambil berceramah panjang lebar.
"Ya sudah lah, kalau bestyku udah maju, aku nggak berani ngomong apa-apa lagi deh, sendiko dawuh aja."
__ADS_1
Dan kita yang disitu semua tertawa karena nggak bisa membantah lagi kemauan Amanda.
Temanku yang tadi nungguin aku sejak tadi, sudah kuminta untuk kembali lagi menjalankan tugasnya.
Amanda dan Randi masih setia menjagaku.
Awalnya kami saling diam, mungkin karena nggak mau ganggu istirahatku, Namun sejurus kemudian Amanda bertanya kepadaku.
"Oh iya La nanti kamu pulangnya gimana? Aku nggak tega loh misal kamu pulang naik sepeda sendiri."
"Gampang lah nanti pasti bisa. Insyaallah aku masih kuat kok kalau pulang naik sepeda." Jawabku.
"Yang bener Ra? Apa gini aja, sepedanya biar aku yang bawa. Terus kamu naik becak aja?" Amanda memberi saran.
"Terus nanti kalau Ayahmu nyariin gimana?"
"Gampang lah masalah Ayah, tinggal di chat aja." Ucapnya lagi.
"Oke kalau gitu."
"Ehm... misalkan Carla nanti pulangnya ku antar aja gimana?" Tiba tiba Randi menawarkan diri,
"Nggak usah Ran, aku nggak enak sama kamu.
Kita kan beda arah pulang." Tolakku merasa sungkan.
"Nggak papa kok, nanti kamu pulang lebih awal aja, biar nanti Amanda bantu izinkan ke ketua OSIS."
"Tapi aku juga nggak enak lah, kan yang lain juga belum pada pulang. Masa aku pulang duluan." Tolakku tetap pada pendirianku.
"Udahlah La, benar kata Randi lebih baik kamu pulang dulu aja. Masalah izin nanti biar aku yang ngomong."
"Tapi Man...?" Aku masih berusaha untuk menolak, karena aku juga nggak enak sama teman yang lain, dikira sakitku cuma alesan aja.
"Aku izin keluar dulu ya." Pamit Randi kepadaku dan Amanda.
"Oke" Jawab kami berdua serempak.
"Dasar kamu La, emang keras kepala. Sekali kali kamu pentingin lah tubuh kamu, nanti kalau kamu udah sehat, mau aktifitas apa saja lebih enak kan?" Amanda tetap membujukku agar mau pulang.
"Iya sudah lah. Tapi beneran aku nitip sepedaku ya? Terus jangan lupa juga tolong sampaikan izinku ke ketos ya."
"Iya Randi juga lagi nemuin kak Setya buat izinin kamu pulang dulu.''
"Kok Randi Hes, bukan kamu aja?" Pura-pura ngambek. Padahal senengnya minta ampun deh karena diperhatiin.
"Halah pura-pura ngambek. Padahal hatimu sebenarnya seneng kan? Jangan lupa aku sahabatmu La... Raut wajah mu itu bisa ku tebak." Sambil berbicara sewot padaku.
"Apaan si Manda, kamu kok gitu. Kamu marah ya?"
"Ngapain marah, aku tu cuma pengin kamu jujur aja sama perasaanmu. Nggak usah ditutup-tutupi lagi kalau sama aku.''
"Iya deh, maaf kalo gitu."
__ADS_1
"Nah gitu dong, kalau kamu seneng aku juga seneng kok. Jadi nggak usah nyembunyiin apapun dari aku. Oke?"
"Oke siap bestyku." Jawabku kemudian kami berdua tersenyum sambil menunggu Randi datang.