
"Assalamualaikum..." Ucapku sambil menuju meja guru untuk menyerahkan form keterlambatan dari guru piket.
"Waalaikumsalam..." Jawab teman satu kelas serempak.
"Kenapa terlambat La?" Tanya Bu Ria selaku pangampu mapel matematika yang sedang mengisi jam pertama di kelasku. Untungnya beliau baik.
"Maaf Bu tadi ban sepeda saya kempes. Jadi harus di pompa dulu."
Aduh maafin aku ya Bu udah bohong. Lagian bohong buat kebaikan. Janji Sekali ini saja lah udah cukup. Hehe ucapku dalam hati.
"Ya sudah langsung duduk saja, besok lagi jangan diulangi ya."
"Baik Bu..." Kemudia berjalan menuju tempat dudukku.
"Tumben banget si La kamu terlambat?" Bisik Kiki.
"Tadi aku nungguin Amanda. Eh ternyata dianya bangun kesiangan. Padahal aku nunggu dah lama. Hampir aja ku tinggal karena udah kesiangan." Jawabku berbisik.
"Kenapa nggak ditinggal saja. Daripada kamu jadi terlambat gini."
"Baru aku mau jalankan sepeda, Eh dianya manggil aku dan keluar dari gang perumahannya."
"Oh gitu... Ya sudah lanjutkan nanti ceritanya."
"Oke...oke..."
Dua jam mapel matematika akhirnya selesai juga. Udah capek, ngos-ngosan, masih ditambah pusing buat mikir lagi. Untung bukan karena lagi ulangan.
"Eh tadi ada yang nyariin kamu La."
Ucap Kiki membuat aku langsung menghentikan aktifitasku.
"Siapa? cowok apa cewek?"
"Cowok."
"Hemm paling Rasya. Iyakan?"
"Iyaps betul sekali. Tapi bukan hanya Rasya ada satu lagi."
"Hah ada satu lagi??!!" Jawabku pura-pura terkejut. Aku tau paling yang nyariin juga Randi. Tapi pura pura aja nggak tau. senyumku dalam hati.
"Iya, kayaknya senior kelas 12 deh?"
"Hah senior kelas 12?!" Justru sekarang aku baru terkejut."
"Iya, beneran. Kamu terkenal banget tau."
"Siapa si? Jadi penasaran. Apa kamu mengenalnya?"
"Nggak kenal juga. Tapi kayaknya dia pengagum kamu juga deh. Coba nanti kita lihat saat istirahat. Paling juga lewat depan kelas kita."
"Aku sudah nggak sabar ingin tau siapa yang nyariin aku. Senior kelas 12? Aduh siapa ya? Nggak sabar ini untuk segera jam istirahat ."
Ucapku dalam hati.
****-----****
Setelah beberapa jam otak ini terkuras akhirnya jam istirahat berbunyi.
Aku masih fokus menyalin materi di buku yang dipinjamkan oleh Kiki.
"Clara... tuh dicariin ayank..." Panggil Kiki dengan keras.
"Ih apaan si Ki, kapan aku punya ayank?" Kesalku karena sembarang menyebut ayank untukku.
__ADS_1
"Ih nggak percaya lagi. Makanya keluar, tu dah ditungguin."
"Emang siapa si? Ganggu orang lagi nulis saja".
"Iya makanya keluar dulu." Kemudian tanganku ditarik oleh Kiki.
"Nanti dulu Mel, sabar Napa. Aku masukkan buku ke laci dulu."
"Makanya ayo cepetan."
"Cieee Carla belum juga setahun disekolah disini, fans nya udah banyak juga." Sambung Siti.
"Iya nih bagi satu dong La buat kami." Tambah yang lainnya.
"Bagi palamu peang. Fans apaan si, ada-ada aja deh kalian. Kenal juga nggak, gimana bisa aku bagi ke kalian." Hadehh sambil menepuk jidat.
Saat aku keluar dan melihat kearah yang ditunjuk Kiki, ternyata yang mencari aku Randi. Nggak jadi marah deh kalau Randi yang nyari aku." Tawaku dalam hati.
"Gimana masih nggak mau La?" Canda Kiki sambil menyenggol bahuku.
"Apaan si Ki." Ucapku sambil tersipu malu.
"Tadi cuek banget kak, kaya nggak butuh.
Giliran tau orangnya cengengesan dia nya."
"Biasa itu mah. Makasih ya Ki. Maaf sudah ngrepotin."
"Buat kawan nggak ada yang repotin kak. Yang penting jangan lupa siomay nya ya kak."
Ucap Amel dengan bangganya seakan akan habis memenangkan sebuah misi.
"Beres itu mah."
"Eh maaf...maaf Ki nggak sengaja."
"Lagian kamu malah minta siomay. Aku kan jadi malu." Bisikku.
"Itu namanya sengaja bestiku...Hehe... Iya deh nanti aku mintanya sama kamu aja. oke?" Bisik Amel sambil cengengesan.
"Dasar, ya sudah sana kalau gitu." Usirku.
"Lah ngusir. Tadi nggak mau." Ejek Kiki.
Aku hampir nyubit lagi. Tapi Kiki lebih gesit dan langsung lari menuju ke dalam kelas.
Kami duduk di bangku depan kelas dan masih saling diam.
Tidak lama kemudian Randi mengawali pembicaraan.
"Sudah sembuh La sakitnya?"
"Alhamdulillah sudah mendingan kak."
"Ehm ini aku cuma mau nyerahin ini." Sambil menyodorkan paperbag ke arahku.
"Apa ini kak?"
"Kemarin karena keasyikan ngobrol kakak lupa mau nyerahin itu ke kamu. Ehm... itu ada cake dan susu. Kebetulan Ibuku kemarin pulang dari luar kota dan membawakan oleh-oleh banyak.
"Oh gitu. Tapi nggak usah repot-repot kak."
"Nggak repot kok La. Itu juga Ibuku yang bawain. Karena tau aku mau jenguk kamu. Jadi sama ibu dibawain itu."
"Yaa ampun kak makasih banget ya. Minta tolong sampaikan salam dan terima kasihku buat ibu kakak."
__ADS_1
"Siap jangan lupa dimakan cakenya dan diminum juga susunya. Oh iya, Ya sudah kalau gitu aku ke Ruang Musik dulu. Soalnya sudah ditunggu kawan-kawan."
"Baiklah kak. sekali lagi makasih ya."
"Iya, ya sudah duluan ya La ..."
"Iya kak." Kemudian aku langsung masuk kedalam kelas dengan senyum yang mengembang dibibirku.
"Ehm... Ehm...Ehm... Senengnya yang diperhatikan sama ayank." Canda teman temanku.
"Dikasih apa La?" Tanya Kiki penasaran.
"Rahasia... Ini khusus buat aku."
"Kaya gitu aja main rahasia-rahasiaan."
Sindir Kiki dengan kesal.
"Jangan dibuka sekarang. Nanti juga kalian tau." Bukan karena pelit. Tapi lebih tepatnya karena berharga.
"Eh La mana siomayku? Kan udah aku bantu jadi perantaranya."
"Ya elah gitu doang sama temen sendiri perhitungan. Ni sekalian aku dibelikan ya. Aku masih mager ni. Kakiku masih capek karena ngontel tadi pagi." Ucapku sambil menyerahkan uang 10 ribu ke Kiki.
"Sesekali sambil olahraga kan nggak papa La." Sambung Siti.
"Sesekali gimana, Ini namanya bukan sesekali tapi tiap hari."
Emang kenyataan kan kalau aku ngontel tiap hari bareng Amanda. Tapi anehnya kok nggak kurus-kurus badan kami berdua. Ya bukan maksudnya yang gemuk banget tapi lebih tepatnya badan kami berdua lebih berisi.
"Emang dari tempatmu nggak ada angkutan umum ya La?"
"Iya sekarang nggak ada, dulu katanya ada. Tapi karena kebanyakan orang sudah punya kendaraan sendiri, jadi angkutan sepi, sudah jarang peminatnya. Palingan Ada minibus kalau pagi khusus buat anak sekolah. Tapi itupun penuh banget. Lagian kalau aku naik bis juga tetep bingung pulangnya kan?
"Iya juga si. Kalau naik sepeda kan tenang ya.
Tapi kenapa nggak naik sepeda motor saja?" tanya Siti kembali.
"Belum dibolehkan Ti"
Saat kami sedang asyik ngobrol, si Kiki langsung masuk kelas dan bikin heboh lagi.
"Carla... Carla... Itu senior yang tadi nyariin kamu. Dia tadi lewat sini dan nengok kedalam kelas kita. sekarang dia duduk didekat lapangan tu."
"Yang mana si?" Aku sambil celingukan.
"Itu tu yang anaknya putih, rambutnya sedikit ikal, dan bajunya dimasukkan sebelah."
"Aku fokus melihat sambil mencocokkan yang dimaksud Kiki... Dan... Ternyata dia adalah Jonan yang dulu pernah nembak aku pas aku masih SMP kelas IX.
Saat aku masih syok Kiki bertanya,
"Kamu Kenal La? "
"Aku bingung jawab apa, dan aku masih diam dan bengong."
"Eh ditanya malah bengong." Ucap Kiki sambil menepuk pundak ku.
"Heh... Iya iya... Tau aja si. Dia saudara temenku."
"Oh aku kira mantanmu."
"Ih ngaco... Aku nggak punya mantan tau."
Ya Jonan adalah sepupu dari teman dekatku. Dulu dia pernah menyatakan cinta ke aku. Tetapi karena pada saat itu aku mau menghadapi ujian nasional jadi aku belum jawab. Karena ingin Fokus dengan sekolahku. Jangan sampai mengecewakan orang Tua yang sudah berjuang banting tulang untuk sekolahku. Apakah dia mau menagih janjiku dulu? Hahh aku pusing... Bagaimana ini?
__ADS_1