
Hari ini cuaca sangat panas, padahal sudah menjelang sore. Tetapi matahari masih enggan untuk kembali ke peraduannya. Setelah seharian otak ini panas buat mikir saat ujian tadi, sekarang badanku juga ikutan panas karena peluh yang membanjiri tubuhku setelah ku kayuh sepeda selama 45 menit dari sekolah sampai rumah. Apalagi dengan kondisi jalan yang naik turun. Menjadikan energiku hari ini banyak terkuras.
Setelah sampai depan rumah, ku sempatkan untuk menyimpan sepedaku terlebih dahulu di tempat biasa. Aku tidak langsung masuk ke rumah, tetapi aku duduk di teras depan rumahku sambil melepas sepatu dan menikmati pemandangan hamparan sawah serta kolam. Angin semilir menghampiriku mengurangi rasa lelah yang tadi aku rasakan.
Setelah rasa lelah hilang, aku masuk kedalam rumah. Kebetulan orang tuaku sedang pergi bekerja di ladang. Jadi aku langsung masuk saja tanpa permisi. Karena walaupun sedang dirumah sendiri aku selalu permisi terlebih dahulu jika ada orang lain di dalam rumah. Agar terkesan lebih sopan.
Baru saja aku masuk kedalam kamar dan rebahan di kasur, suara adikku sudah memekakkan telinga.
Entah darimana dia datangnya, perasaan tadi dirumah nggak ada orang.
"Eh Putra, bisa diem nggak si! Telingaku sakit tau denger suaramu yang fals. Suara jelek aja dibanggain." Aku berjalan kembali ke kamar sambil menggerutu.
Bukannya dikurangi volumenya, nah ini malah semakin keras.
Oh anak ini memang harus dikasih pelajaran. Kesalku sambil berjalan kembali ke kamar mandi tempat adikku sedang mengadakan konser bar barnya.
Ku ambil tali kemudian ku ikat pada handel pintu. Tali kutarik dan ku ikat ke jendela yang ada di sebelah kamar mandi dan ku kembalikan lagi terus ku ikat lagi di handel pintu. Terus sampai beberapa kali sampai pintu susah untuk di buka dari dalam.
"Rasain Lo emang enak aku kerjain. Salah sendiri tau lagi capek dan kepala pusing malah bikin onar. Duh kepala jadi tambah nyut nyutan kan?" Ucapku sambil memegang kepalaku yang sakit kemudian tertawa puas karena bisa ngerjain adikku. Tinggal ditunggu aja hasil akhirnya gimana.
Ku dengar dia masih bersenandung ria, tapi sepertinya mandinya sudah selesai deh. Coba kita tunggu reaksinya... satu...dua...tig..."
belum sampai aku selesai dengan hitunganku, putra sudah memanggilku.
"Mba... Mba Carla... Tolong bukain pintunya. Awas kamu ya Mba, ban sepedamu bakal aku tancapin paku biar besok pagi kamu ke sekolah jalan kaki." Teriak Putra sambil mengancamku.
"Nggak mau, salah sendiri sudah sore bikin onar. Nggak tau orang lagi capek apa!"
__ADS_1
"Ya mana aku tau kalau mba sudah pulang. Kan pas aku mandi emang nggak ada orang dirumah."
"Iya tapi nggak gitu juga kali. Mau ada orang atau nggak kita nggak boleh teriak nggak jelas. Tetangga juga bakal terganggu. Kita hidup bertetangga jadi harus saling menghormati!" Ucapku lagi.
"Iya iya bawel... Ayo sekarang bukain pintunya!"
"Nggak mau! Buka aja sendiri !" Tolakku
"Mba cepetan bukain, udah dingin ni mba."
"Mba... Please mba, Mbaku yang paling cantik, paling baik, dan paling super duper luar biasa. Aku minta tolong bukain pintunya. Aku janji deh nggak bakal teriak-teriak lagi!"
"Janji??" Tanyaku dulu.
"Iya mba, repot banget si tinggal bukain aja!" Sewot Putra.
Ibu sama Bapak sudah pulang dan masuk lewat pintu sebelah kamar mandi.
"Ini loh Bu si Putra, lagi mandi aja masih sempet-sempetnya konser, udah gitu suaranya keras sama fals banget lagi. Nggak mikir orang lain terganggu." Sewotku sambil melepas tali yang tadi aku ikat ke pintu dan jendela.
"Iya tapi kan aku nggak tau kalau ada orang dirumah." Putra masih membela diri nggak mau kalah. Dan setelah dia keluar kamar mandi, seakan nggak merasa bersalah tetap lanjutkan bernyanyi.
"Tu kan Bu, dibilangi tetep aja kaya gitu." Omelku sambil menghentakkan kaki berjalan kembali kekamar lagi.
Ibuku hanya bisa mengusap dada melihat kelakuanku dan Putra.
"Kakak adik tiap hari kok bertengkar. Ada saja yang di jadikan masalah. Apa nggak bisa si akur sehari saja?" Ucap Bapak masuk kemudian duduk di kursi dapur.
__ADS_1
"Halah Pak...Pak... Nanti juga bakal akur. Kita maklumi saja saat ini mereka masih sama sama labil. Kalau sudah dewasa juga bakal akur dengan sendirinya." Jawab Ibu yang juga sedang membuatkan kopi untuk Bapak.
"Iya si Bu tapi kadang Bapak juga malu sama tetangga. Rumah ini ramenya kalau Carla sama Putra dirumah. Kalau rame ngaji sama sholawat nggak masalah, nah ini rame karena bertengkar." Keluh Bapak lagi.
"Makanya pak, ini tugas berat untuk kita berdua. Bagaimana membuat anak-anak kita biar bisa akur sampai gede." Tambah ibu sambil menghembuskan nafas kasar dan menyerahkan kopi untuk Bapak.
"Iya kita jangan sampai gagal mendidik mereka bertiga bu, harus dibekali ilmu agama. Agar mereka bisa paham menjalani hidup yang benar sesuai syariat."
"Iya pak cukup kita yang merasakan kurangnya mendapatkan pendidikan dan ilmu agama karena keterbatasan ekonomi dan kurangnya ilmu agama yang dimiliki orang tua kita dulu.
Jangan sampai anak-anak kita merasakan juga seperti apa yang kita rasakan."
"Iya Bu" Sambil menyesap kopi buatan ibu.
***
Ujian semester akhirnya selesai. Para siswa sudah bebas dari mapel semester ini. Sekarang saatnya mereka bersantai sebelum liburan semester.
Acara class meeting kali ini, panitia mengadakan berbagai permainan dan perlombaan yang diikuti semua kelas.
Dari permainan bola voly, sepak bola, sepak takraw, tarik tambang, dan masih banyak permainan serta perlombaan yang lainnya.
Tujuan diadakan classmeeting yaitu untuk menjalin keakraban antar siswa, baik kelas X, XI, dan kelas XII. Kemudian juga melatih solidaritas serta sportifitas siswa. Selain itu bisa juga untuk menyalurkan bakat dan minat yang dimiliki oleh para siswa. Dan yang terakhir sebagai ajang hiburan serta wadah untuk menyalurkan kegembiraan setelah Siswa melakukan ujian semester.
Panitia yang ditunjuk oleh kesiswaan adalah OSIS. Jadi semua pengurus OSIS terlibat dalam acara classmeeting hari ini. Termasuk aku yang hari ini ditugaskan untuk mengawal perlombaan voly.
Aku mengawal perlombaan kelas X dan kelas XII. Aku duduk di pojok lapangan untuk mencatat setiap skor nilai yang masuk.
__ADS_1
Hari ini cuaca sangat panas, Keringat sampai bercucuran di tubuhku. Tiba-tiba kepalaku pusing dan pandanganku gelap.
Aku nggak tau apa yang terjadi. Hanya saja aku mendengar suara yang sangat aku kenal di dekatku. Suara yang selalu aku rindukan. Suara yang selalu membuat hatiku bergetar. Ya, Suara itu adalah suara Randi. Terdengar suaranya panik seperti kebingungan. Aku berusaha untuk membuka mata. Tapi mata ini terasa berat dan badan terasa sangat lemas.