Tiga Hati Untuk Carla

Tiga Hati Untuk Carla
episode 13


__ADS_3

Sepulang sekolah aku menyempatkan keruangan Amanda terlebih dahulu untuk menemuinya dan menyerahkan bingkisan yang kak Rahman titipkan ke aku.


"Amanda kamu udah selesai ujiannya?" Tanyaku.


"Ya Alhamdulillah sudah, gimana dengan ujianmu? lancar kan?"


"Lancar dong, kan aku udah belajar." Gayaku dengan percaya diri.


"Gitu dong, bagus deh kalau gitu." Amanda menimpali.


"Iya lah, temen siapa dulu? malu dong temen seorang Amanda anak terpintar di sekolah ini kok nggak bisa nyelesaikan ujian dengan mudah." Haha Ucapku sambil tertawa.


"Idih sombong banget, Halah aku juga nggak pinter-pinter amat. Oh iya jadi mau nerusin curhatan yang tadi pagi nggak? Tapi aku kan pulangnya nggak bawa sepeda?


"Terus kamu pulangnya naik apa?" Tanyaku.


"Naik motor sama Ayah Ra. Ayah jam segini juga sudah otw pulang. Tadi sudah ngabari kok." Jawabnya.


" Oh gitu, ya udah aku juga nggak mau curhat. Jadi gini Hes,kebetulan tadi aku ketemu siswa yang nggak aku kenal, aku juga nggak tau dia kelas berapa dan namanya siapa, tapi dia nitipin ini sama aku, katanya buat kamu." Sambil menyerahkan bingkisan ke Amanda.


"Apa ini Ra?" Tanya Amanda.


"Nggak tau, aku cuma dititipin aja kok."


"Kamu nggak tanya namanya siapa La?"


"Sudah, aku dah nanyakan kok, tapi dia pesen katanya bilang saja ini dari pengagum rahasiamu. Gitu doang."


Amanda tersenyum malu sekaligus penasaran kala mendengar kata pengagum rahasia.


"Kamu masih ingat ciri-ciri orangnya nggak?"


"Ehm... aku ingetnya cuma postur tubuhnya tinggi sama face nya hitam manis. Cuma itu aja. Lagian dia kayaknya juga seniorku, mana aku kenal Manda". Jawabku panjang lebar


Kemudian Amanda hanya diam dan mungkin sambil berfikir kira-kira siapa pengagum rahasianya.


Akupun hanya bisa tersenyum. "Maafin aku ya Man, bukan aku nggak mau kasih tau, tapi kak Rahman nggak ijinkan aku buat kasih tau kamu kalau bingkisan tersebut dari Kak Rahman." Ucapku dalam hati.


"Ya sudah La, yuk kedepan bareng, kamu juga mau ke parkiran sepeda kan?" Ajak Amanda.


"Iya, aku mau langsung pulang saja, sepertinya aku lagi kurang enak badan deh."


"Pasti kamu kecapekan ya, kamu akhir-akhir ini kan banyak sekali kegiatan."

__ADS_1


"Sepertinya gitu deh, kayaknya kurang istirahat juga." Jawabku.


Aku melihat di depan ruang OSIS ada kak Rahman bersama Randi sedang duduk bersama dan memandangi kami berdua yang sedang berjalan menuju parkiran.


Kemudian ku kerlingkan mata kiriku serta kuberikan tanda jempol menandakan bahwa pesan yang kak Rahman minta sudah ku sampaikan.


Kak Rahman kembali senyum dan mengacungkan jempol kepadaku.


Sepertinya Randi bingung, karena dia melihatku dan kak Rahman secara bergantian. Mau bertanya mungkin juga sungkan.


Di parkiran sepeda, aku melihat Rasya sedang duduk disebelah sepedaku. Dia langsung berdiri pada saat melihatku berjalan bersama Amanda.


"La aku kedepan dulu ya, takutnya Ayah sudah nungguin aku." Amanda pamit kepadaku.


"Iya, hati hati ya Manda."


"Sipp, makasih. Oh iya selesaikan masalah kalian segera dengan baik-baik." Bisik Amanda di telingaku.


"Iya Manda cantik, santai aja." Ucapku lagi.


"Ya sudah aku duluan ya..."


"Eh Rasya, aku duluan ya sudah ditunggu Ayah." Amanda juga pamit kepada Rasya.


" Oke, nanti aku sampaikan."


Aku berjalan menuju sepedaku, dan membuka gembok nya. Setelah aku selesai menyimpan kunci dan bergegas akan pergi, Rasya langsung memegang sepedaku depanku.


"Carla , boleh minta waktu untuk bicara sebentar saja?" Tanyanya pelan.


"Mau bicara apa lagi?" Jawabku.


"La, gimana dengan pertanyaanku kemarin? Kamu belum jawab kan?"


"Pertanyaan yang mana?" Aku pura pura lupa.


"Ehmm waktu didepan kelasmu, saat aku tanya apa kamu mau jadi pacarku?" Tanyanya dengan hati-hati kepadaku.


"Oh itu." Jawabku singkat. Kelihatan santai tapi nyatanya hatiku deg-degan nggak karuan. Hanya saja aku berusaha untuk tidak terlihat bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.


"Kok cuma " oh " saja si jawabnya?" Tanyanya lagi.


"Terus aku suruh jawab apa?" Kesalku.

__ADS_1


"Ya jawab diterima atau nggak?" Agak sedikit maksa.


"Maaf kak Rasya, bukannya aku mau menolak permintaanmu. Tapi saat ini aku hanya ingin fokus pada sekolahku dan organisasiku. Jadi aku nggak mau pikiranku terpecah hanya gara-gara pacaran." Jawabku tegas.


Walaupun ada rasa kasihan terhadap Rasya, tapi hati ini tidak bisa dipaksakan untuk menerima seseorang yang tidak ku cintai.


"Tapi aku sayang sama kamu Carla, aku serius sama kamu. Dari awal aku ketemu sama kamu, aku langsung suka sama kamu. Padahal selama ini banyak cewek yang deketin aku. Tapi aku nggak tertarik sama sekali. Tetapi pada saat pertama ketemu kamu, ada rasa berbeda yang belum pernah aku rasakan sebelumnya." Jelasnya kepadaku dengan menggebu-gebu.


"Ya tapi sayang itu nggak perlu memiliki kan kak? Kita bisa jadi temen. Kakak kan juga temen Amanda, kakak juga bisa kan berteman sama aku." Jawabku santai.


" Tapi La, aku pengin kamu jadi milikku" Ucapnya lagi seperti belum puas dengan jawabanku.


" Kak, maafin Carla. Bukan aku nggak menghargai perjuangan kakak untuk mendapatkan aku. Tapi saat ini hati aku belum bisa terbuka untuk laki-laki, siapapu itu kak. Jadi tolong hormati keputusan Carla kak..." Ucapku geram.


Beruntung suasana parkiran sudah sepi jadi tidak ada yang akan melihat dan mendengar.


"Apa sudah ada orang yang mengisi hatimu La?"


Aku diam, tidak menjawab tuduhan Rasya kepadaku. Memang benar adanya apa yg Ra bilang. Ada seseorang yang sudah mengisi hatiku.


"Jawab La, kenapa kamu diam? Oh jangan jangan benar firasatku. Kalau sebenarnya sudah ada seseorang yang mengisi hatimu. Dan orang tersebut adalah Randi teman sekelas ku. Iya kan La? Ucap Rasya dengan nada sedikit keras.


" Memangnya kenapa kalau ada orang yang mengisi hatiku, apa ada urusannya denganmu? Mau Randi kek, mau siapa aja kek, terserah aku kan? Aku yang punya hati dan aku yang memutuskan mau kulabuhkan dimana hati ini. Yang terpenting aku nyaman dan bahagia." Jawabku kesal dan tidak mau kalah suara darinya.


"Jadi kamu nggak nyaman dan bahagia jika sama aku La?"


Suaranya pelan, seperti sudah putus asa.


"Kak, aku sudah jelasin baik-baik sama kakak.


Untuk saat ini aku nggak mau pacaran dulu. Tolong hormati keputusanku." Jawabku tegas.


Rasya diam, mungkin dia bingung harus berkata apalagi untuk meyakinkanku.


"Ya sudah, kalau nggak ada yang dibicarakan lagi, aku pamit mau pulang."


"Aku temenin kamu pulang ya, wajahmu pucat. Aku takut ada apa-apa sama kamu di jalan."


"Terima kasih kak atas tawarannya. Aku nggak perlu diantar. Aku masih sanggup untuk pulang sendiri. Oh iya satu lagi, aku yakin kakak bisa menemukan cewek yang lebih baik dari aku." Ucapku lagi sambil menuntun sepedaku keluar dari parkiran.


"Tapi La...?" Belum selesai dia berbicara namun sudah ku potong terlebih dahulu.


"Terima kasih tawarannya kak, aku pulang dulu. Kakak pulangnya hati-hati." Pesanku sambil keluar mengayuh sepedaku berjalan untuk pulang.

__ADS_1


Aku melihat Rasya masih berdiri mematung ditempat kami tadi. Aku yakin dia sedih karena penolakan ku. Tapi mau bagaimana lagi, namanya hati tidak bisa dipaksakan. Aku cuma nggak mau suatu saat dia merasakan sakit hati karena sikapku terhadapnya.


__ADS_2