Tiga Tahun Penantian

Tiga Tahun Penantian
Bab 11


__ADS_3

Sonya membuang nafasnya kasar, pikirannya menerawang jauh sembari menatap langit-langit kantor.


"Kerja tuh fokus bukan ngelamun seperti ini" tegur seorang supervisior di kantor Sonya


Sonya berjingkat kaget mendengar teguran tersebut. Ia yang tadi sedang melamun kini kesadarannya telah kembali. Sonya merutuki kebodohannya karena memikirkan hal tersebut disaat jam kerja seperti ini.


"Kamu tuh digaji buat kerja yang benar. Apa kinerjamu selalu seperti ini hah? Mau kamu makan gaji buta?" tanya supervisior tersebut.


"Ma-maaf Kak, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi" jawab Sonya menunduk.


"Sekali lagi saya lihat kamu melamun lagi saat jam kerja, saya laporkan kamu ke manager"


Vera yang melihat Sonya tengah ditegur oleh seorang supervisior tersebut tidak berani mendekat. Vera takut akan menambah masalah jika ia mendekat sekarang.


Setelah supervisior tersebut pergi, Vera langsung mendekati Sonya.


"Nya, kamu kenapa sih kok sampai ditegur supervisior gitu?" tanya Vera khawatir.


"Tidak apa-apa Ver. Ayo lanjutkan kerja. Aku tidak mau dimarahi lagi" ajak Sonya kembali ke meja kerjanya.


Selama bekerja Sonya berusaha memfokuskan fikirannya. Sonya tidak ingin supervisior tadi memberi tahu Deni kalau ia tadi tidak fokus bekerja, malahan melamun. Cukup masalah tentang hubungannya dengan Arya saja yang membuat Deni kecewa dengan Sonya.


Ting!


Sebuah pesan masuk ke ponsel Sonya, namun kali ini Sonya abaikan. Toh jika penting pasti pengirim tersebut akan menelepon ponsel Sonya.


Ting!


"Berisik banget sih" gerutu Sonya sambil menyimpan ponselnya ke laci meja kerjanya.


Fikiran Sonya saat ini hanya terfokus dengan pekerjaannya. Ia sedikit tertampar ketika seorang supervisior menegurnya tadi. Yang ada dalam fikirannya saat ini hanya bagaimana ia bekerja dengan semaksimal mungkin.


"Sonya, udah masuk jam istirahat nih. Kantin yuk!" ajak Vera menghampiri meja Sonya.


Sonya melirik ke arah jam yang ada di mejanya. Karena terlalu fokus bekerja, ia lupa kalau ini sudah masuk jam istirahat.

__ADS_1


"Yuk" sahut Sonya sambil menutup pekerjaannya.


Mereka berjalan beriringan dan memilih tempat duduk agak belakang. Sonya kembali memesan mie ayam kesukaannya, agar ia bisa bernostalgia ketika bersama Arya. Sedangkan Myra lebih memilih memesan semangkuk bakso mercon.


"Sonya, kemarin aku sempat mengirim pesan kepada Myra" ucap Vera menggantung.


"Lalu?"


"Aku hanya menanyakan tentang hubungannya dengan Arya itu sebatas apa. Dan dia mengelak, katanya mereka hanya teman"


Sonya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi perkataan Vera.


"Tapi apa kamu tahu, tidak lama kemudian Arya mengirim pesan kepadaku"


Sonya langsung menatap Vera heran. Bukankah beberapa hari ini Arya susah sekali dihubungi? Bahkan pesan darinya saja sudah 2 hari ini belum Arya baca. Tapi Vera mengatakan bahwa Arya mengirim pesan kepadanya. Apa maksudnya ini?


"Arya bilang katanya jangan mengirim pesan kepada Myra lagi. Katanya kemarin Myra bercerita kepada Arya dan dia merasa risih dengan pesan yang aku kirim mengenai hubungan mereka. Arya mengatakan bahwa aku membuat Myra tertekan" ujar Vera menjelaskan.


Nafsu makan Sonya hilang seketika mendengar perkataan Vera. Mengapa seakan-akan Arya justru membela Myra.


"Apakah Arya mengatakan yang lain?" tanya Sonya pelan.


"Tidak. Dia hanya memintaku untuk berhenti mengirim pesan pada Myra"


Tanpa Vera sadari, perkataannya barusan mampu membuat hati Sonya kembali merasakan sakit. Arya meminta Vera untuk berhenti mengirim pesan kepada Myra dengan alasan Myra merasa tertekan dengan pesan tersebut. Lalu, mengapa Arya tidak meminta Myra berhenti meneror Sonya yang jelas-jelas itu membuat mental Sonya begitu down.


"Hey kamu kenapa? Malah melamun" tegur Vera yang melihat Sonya tidak bereaksi apa pun.


Sonya hanya tersenyum dan menggeleng pelan meyakinkan Vera bahwa ia baik-baik saja.


"Oh iya, besok kan sudah mulai puasa. Bagaimana kalau kita belanja kebutuhan untuk kita sahur?" usul Sonya mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya ampun aku baru ingat kalau besok sudah mulai puasa. Baiklah nanti sore kita belanja" jawab Vera antusias.


***

__ADS_1


Mereka pulang membawa 2 kantong belanjaan untuk kebutuhan sahur mereka beberapa hari.


"Ciyee yang sebentar lagi dilamar sama ayang" ledek Vera mengingat setelah lebaran nanti kabarnya Sonya akan lamaran dengan Arya.


"Apaan sih Ver. Puasa aja belum mulai udah mikir habis lebaran mulu" elak Sonya malu-malu.


Sebuah senyuman terlukis di wajah Sonya. Hatinya pun rasanya tak sabar menanti setelah lebaran nanti. Bahkan rasa bahagia itu mulai ia rasakan malam ini. Tapi tiba-tiba ia murung mengingat satu hal yang mengganggu pikirannya.


"Tapi kenapa Arya masih belum bisa dihubungi ya?"


"Mungkin ini bagian dari rencananya Nya. Siapa tahu biar romantis seperti youtuber-youtuber gitu. Dikerjain dulu, baru deh dilamar" jawab Vera yakin.


Sonya pun sedikit setuju dengan perkataan Vera. Siapa tahu Arya hanya sedang menjahilinya. Seperti beberapa waktu lalu juga ia sempat menghilang, tapi kembali lagi kepadanya.


"Yaudah yok siap-siap. Sebentar lagi kita tarawih loh" tegur Vera melihat waktu sudah melewati maghrib.


***


Sepulang tarawih, mereka hanya bercengkrama sebentar lalu memutuskan untuk istirahat lebih awal agar besok ketika sahur mereka tidak terlambat bangun.


Sonya lebih dahulu terlelap ke alam mimpi, sedangkan Vera masih asik berbalas pesan dengan kekasihnya.


"Sonya, semoga apa yang kamu harapkan selama ini berjalan dengan baik ya. Terima kasih sudah menjadi sahabat sekaligus sosok kakak untukku" gumam Vera pelan melihat wajah teduh Sonya yang sedang tertidur.


Sekitar pukul 11 malam, Sonya terbangun dari tidurnya. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa gelisah dan tidak nyaman. Perlahan tangannya mencari ponsel yang ada di dekatnya.


2 pesan masuk sejak 1 jam yang lalu. Mata Sonya berbinar ketika mengetahui pengirim pesan tersebut adalah Arya.


"Sayang, maaf jika aku sering menghilang akhir-akhir ini. Mari kita akhiri hubungan kita"


"Maaf jika aku membuatmu lelah"


Deg!


Detak jantung Sonya serasa berhenti membaca pesan tersebut. Ia menampar pipinya pelan, berharap bahwa ini hanyalah mimpi buruk. Tapi hatinya semakin sakit saat mengetahui semua ini adalah kenyataan.

__ADS_1


"Apa salahku" gumam Sonya kecil di tengah isakan tangisnya.


__ADS_2