
"Kamu selingkuh?" tanya Sonya to the point.
Arya semakin membeku mendengar pertanyaan Sonya. Pikirannya menjadi kalut, apa lagi Sonya termasuk perempuan yang mudah curiga.
"Siapa yang selingkuh sih sayang? Kamu pasti dengar berita yang tidak-tidak ya tentang aku. Barusan kan aku sudah bilang, tolong tetap percaya sama aku" ujar Arya dengan tenang.
"Aku kurang apa sampai kamu selingkuh? Apa yang sudah aku korbankan itu kurang?"
"Sayang, trus me please! Ini hanya salah paham. Tolong cukup percaya denganku. Jangan dengarkan berita-berita burung tentangku" ujar Arya mulai terpancing.
Sonya yang mendengar jawaban Arya tersenyum miring. Ternyata apa yang dia dengar dari Bayu itu benar adanya.
"Mari akhiri saja hubungan ini jika benar kamu selingkuh. Aku tidak apa" ujar Sonya pelan tapi pasti.
"Sayang kamu bilang apa sih. Jangan ambil keputusan seperti ini. Harusnya kamu support aku, agar aku cepat meluruskan kesalah pahaman ini. Aku mohon tenangkan dirimu terlebih dahulu. Aku.."
"Kita akhiri saja" ucap Sonya menyela ucapan Arya.
"Jika hubungan kita berakhir saat ini, aku akan keluar dari perusahaan" ujar Arya tegas.
Tentu saja hal itu akan ditolak keras oleh Sonya. Arya tahu bahwa Sonya sudah merelakan karirnya demi Arya. Dan posisi Arya saat ini lebih tinggi dibandingkan posisi Sonya di perusahaan. Ternyata benar, sepintar apapun kita jika sudah mengenal cinta akan membuat kita menjadi bodoh.
"Kamu jangan bercanda Arya. Kamu sudah berada di posisi sekarang itu bukanlah hal mudah. Dan tentunya kamu tahu, aku sudah merelakan karirku demi kamu" ucap Sonya penuh penekanan.
__ADS_1
Tanpa Sonya ketahui, di sana Arya tengah tersenyum puas mendengar perkataan Sonya. Setidaknya Arya belum kehilangan wanita yang sangat ia cintai.
"Sayang, sudah malam. Kamu istirahatlah, dan satu lagi. Aku tidak suka kamu menyebut namaku seperti itu" ujar Arya merajuk.
"Iya maaf, ya sudah aku tutup teleponnya" jawab Sonya lalu mematikan sambungan telepon tersebut.
Vanya menengadahkan kepalanya, matanya yang terlihat sembab kini terpejam. Sonya berpasrah kepada Tuhan, meminta jalan yang terbaik untuk kisah percintaannya.
****
Sonya seperti biasa berangkat ke kantor. Ia tetap profesional meskipun hatinya belum tenang saat ini.
Ting!
Ting!
Myra Oktriani meminta pertemenan.
Myra Oktriani mulai mengikuti Anda.
Sonya semakin bingung setelah melihat kedua notif tersebut.
"Tiba-tiba kepo sama akun aku seperti itu?" monolog Sonya pelan.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa Nya?" tanya Vera yang tidak sengaja mendengar perkataan Sonya.
"Nih lihat!"
Sonya menyodorkan ponselnya pada Vera. Vera langsung melihat apa yang dimaksud Sonya, dan itu juga membuatnya mengernyitkan dahi.
"Tapi tentang mereka, apakah itu benar?"
"Semalam Arya bilang hanya salah paham. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya" jawab Sonya dengan tatapan kosong.
"Coba tetap berfikir positif ya. Siapa tahu Arya berkata jujur kan. Apa lagi dia sangat bucin sama kamu selama ini" ujar Vera menyemangati Sonya.
Sonya hanya mengangguk lemah, hatinya semakin ragu dengan Arya. Ia selalu meyakinkan hatinya untuk tetap percaya pada kekasihnya.
***
"Kantin yuk" ajak Vera.
"Nanti saja lah, aku belum lapar" tolak Sonya halus.
"Lapar apanya. Bahkan kamu belum makan dari semalam. Sudah ayok, Arya tidak suka kalau pacarnya kurus" Vera menarik tangan Sonya menuju kantin yang ada di kantor tersebut.
Sonya hanya bisa pasrah kalau sahabatnya sudah seperti ini. Kini semangkok mie ayam sudah terhidang di depannya. Sayang kan kalau tidak dimakan?
__ADS_1
Sonya mulai memakan mie ayam di depannya sambil scroll sosial media.
"Uhuukk" Sonya tersedak ketika melihat sebuah foto di beranda facebooknya.