
Kali ini logika Sonya kalah, ia lebih memilih mengikuti apa kata hatinya. Dengan bujukkan Vera dan kalimat manis dari Arya, Sonya akhirnya memberikan kesempatan lagi kepada Arya.
"Sayang, tolong kamu tetap percaya kepadaku" ucap Arya melalui sambungan telepon.
"Aku lelah" jawab Sonya jujur.
Sonya lelah dengan semua teror yang diberikan oleh Myra, bukan dengan hubungannya dengan Arya. Mentalnya dihajar habis-habisan belakangan ini. Bahkan badan Sonya menjadi kurus tidak terurus hanya karena memikirkan satu masalah.
"Jangan pernah kamu hubungi Myra lagi. Kalau perlu kamu blokir semuanya" perintah Arya sedikit tegas.
"Tanpa kamu suruh sudah aku lakukan sejak dulu. Tapi dia selalu menghubungiku dengan akun baru" jawab Sonya lemah, ingin mengadukan semua apa yang telah terjadi selama ini.
"Apakah kamu pernah chek in bersamanya?" tanya Sonya tiba-tiba mengingat tentang mimpinya.
"Tentu saja tidak. Kenapa kamu bertanya aneh seperti ini" suara Arya terdengar sedikit panik, tapi Sonya langsung menepis pikiran buruk itu.
"Aku bermimpi kamu menikah dengannya, dan memiliki anak perempuan"
__ADS_1
"Itu hanya bunga tidur. Tolong cukup percaya padaku. Tolong cukup dengarkan aku. Jangan pernah kamu percaya dengan semua yang Myra ucapkan. Dia bukan perempuan baik-baik" beber Arya menjelekkan Myra.
Sonya terdiam mendengar perkataan Arya, entah kenapa perasaannya menolak untuk mempercayainya. Karena sudah beberapa kali Sonya bermimpi tentang Arya, dan banyak yang menjadi kenyataan. Apakah kali ini mimpi itu akan menjadi nyata?
"Apakah kamu mencintainya? Kamu ingin menikah dengannya? Kalau iya, kita akhiri saja semuanya" ucap Sonya tiba-tiba.
"Aku tidak pernah mencintainya. Najis. Dengar itu" jawab Arya tegas.
"Baiklah, hubungan kita sudah 2 tahun lebih. Aku tunggu janjimu"
"Sayang, aku ada tugas dari manager. Aku matikan dulu ya teleponnya" pamit Arya tanpa menjawab perkataan Sonya sebelumnya.
Baru saja Sonya akan menjawab, sambungan telepon tersebut telah mati sepihak. Sonya hanya menghembuskan nafasnya kasar. Dibuat percaya oleh perkataan Arya, tapi juga dibuat ragu oleh perlakuannya.
Setelah berbaikan dengan Arya, hari-hari Sonya menjadi sedikit semangat. Apakah teror dari Myra sudah berakhir? Tentu saja tidak. Bahkan saat ini ada yang mengaku sebagai kakak Myra.
Sonya memijit pelipisnya pelan, terasa begitu pusing karena semuanya ternyata belum berakhir.
__ADS_1
"Kenapa lagi sih Nya?" tanya Vera khawatir melihat Sonya terlihat lesu kembali hari ini.
"Nih baca sendiri aja deh" jawab Sonya sambil menyodorkan ponselnya.
Vera langsung menscroll pesan dari orang yang mengaku sebagai kakaknya Myra. Banyak kalimat-kalimat kasar dan umpatan tertulis di sana. Bahkan Sonya dikatakan wanita yang tidak memiliki empati.
"Arya harus bertanggung jawab kepada Myra. Meskipun anak yang dikandung Myra sudah keguguran, tetapi Arya tetap harus bertanggung jawab. Kamu sesama perempuan harusnya kamu tahu rasanya menjadi Myra. Dasar perempuan tidak punya empati"
Vera menegang membaca beberapa kalimat tersebut. Ia masih tidak percaya dan kembali membacanya, menyadarkan dirinya bahwa itu nyata.
Sedangkan Sonya terlihat merenung. Matanya mulai berkaca-kaca kembali, bahkan sudah menetes membasahi pipinya.
Sonya bergegas ke kamar meninggalkan Vera yang masih tercengang membaca kalimat demi kalimat dalam ponsel Sonya. Vera terlihat bingung dan tidak tahu mana yang harus ia percayai.
Tapi setahu Sonya, Myra adalah anak pertama. Lalu siapa orang mengaku kakak Myra? Dan dari gaya penulisannya, ini mirip dengan gaya tulisan dalam pesan Myra. Apakah ini satu orang yang sama? Kepala Sonya seakan mau pecah memikirkan semua ini.
"Apakah aku tidak memiliki rasa empati? Lalu kalimat apa yang pantas untuk ditujukan pada Myra? Bukan hanya dia yang dirugikan, aku pun sama" jerit Sonya dalam hati.
__ADS_1