
Sejak saat itu Sonya benar-benar memutus semua komunikasi dengan Myra atau pun Arya. Yang ada dihati Sonya saat ini benar-benar kebencian kepada pasangan tersebut. Bahkan Sonya sudah tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan lagi oleh mereka.
Sonya berusaha menjaga nama baik Arya pada keluarganya bahkan keluarga Arya sendiri. Sonya rela mengalah untuk Myra karena Myra tengah mengandung, sedangkan Sonya juga pernah dirusak oleh Arya. Semua keluarga tidak ada yang tahu tentang itu karena Sonya merahasiakannya. Lalu apa yang sekarang Sonya dapatkan? Ibarat kata sudah terjatuh, tertimpa tangga pula.
"Bisa-bisanya aku pernah jatuh cinta kepada orang seperti itu. Dasar tidak punya otak" umpat Sonya tertahan.
Ingin sekali Sonya datang menghampiri kedua pasangan tersebut. Bahkan ingin sekali ia menampar mulut yang mengucap tapi tidak berfikir terlebih dahulu.
"Huft" Sonya membuang nafasnya kasar dan menengadahkan kepalanya menatap langit.
Tiba-tiba Sonya menangis lagi ketika ia mengingat apa saja yang telah ia korbankan untuk laki-laki brengsek itu. Ia sudah relakan semua, tapi ternyata ia justru kehilangan semuanya. Sonya memang sudah lupa, sudah move on. Tetapi setiap mengingat hal tersebut, air mata tetap jatuh kembali.
"Jika aku dapat memutar waktu, aku bahkan tidak ingin mencintaimu. Haha lucu sekali ya, bahkan dulu kamu yang memohon-mohon mengejarku. Tapi sekarang kamu pula yang membuangku seperti sampah" gumam Sonya pelan masih menatap langit.
Tiba-tiba suara langkah kaki mulai terdengar. Sepertinya ada yang menyusulnya ke rooftop. Sonya memang masih di kantor saat ini, hanya saja ia butuh ketenangan untuk meluapkan emosinya.
"Mbak" panggil Anwar pelan.
"Apa?" jawab Sonya tanpa membalikkan badannya.
__ADS_1
"Itu dicari Pak Deny" ujar Anwar sopan.
"Ya"
Setelah menjawab tersebut, Sonya langsung beranjak pergi ke ruangan kerjanya. Ia harus berusaha seprofesional mungkin. Sebelum masuk ke ruangan Deny, Sonya membasuh wajahnya terlebih dahulu agar tidak terlihat sembab.
***
Sonya mengetuk pelan pintu ruangan managernya.
"Permisi Pak" sapa Sonya pelan.
"Saya minta kamu kerjakan ini, usahakan lusa sudah selesai" ujar Deny sambil meletakan berkas itu di hadapan Sonya.
"Saya tahu apa yang kamu rasakan akhir-akhir ini. Bahkan mata sembabmu itu sangat terlihat. Saya harap kamu tetap profesional seperti ini"
Sonya terkejut mendengar perkataan Deny. Padahal ia sudah berusaha untuk telihat biasa saja, tetapi ternyata itu masih bisa terlihat oleh Deny.
"Ba-baik Pak" jawab Sonya pelan sambil undur diri dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Setelah keluar dari ruangan tersebut Sonya langsung bergegas menuju ruang kerjanya. Ia membolak-balikkan berkas yang diberikan Deny. Sedikit demi sedikit Sonya mulai mengerjakannya.
"Mbak, ini mengerjakannya seperti apa?" tanya Anwar sambil menyodorkan pekerjaannya.
Anwar memang masih training di perusahaan ini, dan Sonya lah yang bertugas untuk mengajarinya. Sonya dengan telaten menjelaskan satu per satu kepada Anwar. Tiba-tiba ingatannya sepintas seperti melihat sosok Arya yang sedang ada di hadapannya.
Sonya menatap Anwar beberapa detik. Yang ada di matanya saat ini adalah Arya. Karena hal seperti ini juga pernah Sonya alami dengan Arya.
"Mbak"
"Eh, maaf"
Sonya terlihat gugup saat kesadarannya telah kembali. Sonya bahkan merutuki kebodohannya saat ini.
'Bodoh sekali kamu Sonya' umpat Sonya dalam hati.
"Sudah caranya seperti itu, kamu bisa kembali ke meja kamu" ujar Sonya tanpa menatap Anwar karena terlanjur malu.
Anwar hanya tersenyum dan melangkah ke mejanya sendiri. Sedangkan Sonya masih merutuki dirinya. Bukan karena ia menatap Anwar beberapa saat, tapi mengapa otaknya masih mengingat Arya. Bahkan hanya kejadian kecil saja bisa membuatnya mengingat kembali.
__ADS_1
Ternyata benar, kenangan dapat menyelinap diantara tempat, kejadian, dan aroma parfum. Sonya berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran tersebut dan mulai mencari kefokusannya kembali.