Tiga Tahun Penantian

Tiga Tahun Penantian
Bab 21


__ADS_3

Sonya menengadahkan kepalanya, menghirup udara di sebuah kota yang ia rindukan selama ini. Ya, Sonya saat ini baru saja tiba di stasiun Purwokerto. Sonya melangkahkan kakinya pelan, menapaki kotak demi kotak lantai stasiun tersebut.


"Kita bertemu lagi Purwokerto" gumam Sonya kecil dengan sedikit terkekeh pelan.


Dengan tatapan kosong, Sonya tanpa sadar telah berada di taman yang menyimpan banyak kenangan. Dulu, Sonya sering menghabiskan waktu bersama Arya di sini. Setiap sudut taman ini menampilkan satu per satu potongan memori pada ingatan Sonya. Bibir Sonya tersenyum, tapi tatapan matanya kosong. Seperti hatinya.


Tanpa sengaja Sonya menoleh ke kanan, hingga terlihat olehnya sebuah gedung yang menjadi saksi kehancurannya. Sebuah gedung yang sangat Sonya benci dan membuatnya harus kehilangan jati dirinya.


Flasback on


"Brengs*k kamu Ar. Kenapa kamu tega melakukan ini. Kamu mengambil kesempatan disaat aku tidak sadarkan diri" Sonya terus menangis mengutuk kekasihnya.


"Maafkan aku. Aku melakukan ini supaya kamu tidak meninggalkan aku. Banyak yang menyukaimu, dan aku tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Aku takut kamu berpaling Nya. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk mempertahankan kamu" ujar Arya membela dirinya.


"Apa selama ini rasa cintaku kurang ke kamu Ar? Apa harus dengan cara menjijikan seperti ini?"


"Maafkan aku Sonya, aku mencintaimu"


"Cinta itu menjaga Ar, bukan merusak"

__ADS_1


Sonya berusaha bangkit dan keluar dari ruangan terkutuk tersebut. Ia menahan nyeri pada pangkal pahanya. Yang ada dalam fikirannya saat ini adalah menjauh dari Arya sejauh-jauhnya.


Beberapa bulan kemudian, hubungan mereka terlihat renggang. Sonya selalu menghindar ketika Arya mencoba berinteraksi dengannya. Arya yang menyadari perubahan tersebut tentu tidak akan menyerah.


"Kamu harus ingat Sonya. Aku lah laki-laki yang seharusnya menikahimu, karena aku yang mengambil mahkotamu. Sejauh apa pun kamu menghindar, seharusnya kamu sadar jika tempat kembalimu tetaplah aku"


Sonya menegang ketika mendengar Arya berbisik tepat di depan telinganya. Tanpa Sonya sadari, hati Sonya setuju dengan apa yang Arya katakan. Memang seharusnya laki-laki tersebut yang menikahi Sonya kelak. Mungkin tidak akan ada yang mau menerimanya jika mengetahui bahwa Sonya sudahlah tidak utuh, pikir Sonya.


Flashback off


Sonya melangkah ke kedai penjual jus buah. Ia sangat merindukan jus buah alpukat dari kedai ini, tentu saja bersama kenangannya.


"Kecil" jawab Sonya ramah.


Sonya teringat, dulu saat bersama Arya dia lebih sering membeli dalam ukuran cup kecil. Bukan karena Arya tidak mampu membelikan yang cup besar. Tetapi Sonya yang paham bahwa keuangan Arya yang belum stabil, dan juga satu kalimat yang menjadi alasan terkuat Sonya.


'Simpan saja uangnya untuk membeli cincin lamaran '


Sonya tersenyum ketika mengingat betapa romantisnya dia dan Arya dulu. Kalimat tersebut selalu Sonya lontarkan ketika Arya akan mengeluarkan uang lebih untuknya.

__ADS_1


"Ini kak jusnya"


Sonya kembali sadar dari lamunannya ketika jus pesanannya sudah siap. Sonya langsung menerimanya dan segera pergi menuju taman kembali.


Sonya terduduk manis dengan menggenggam jus alpukat yang baru sedikit ia minum. Banyak yang berubah dari kota ini semenjak ia pergi ke Solo. Termasuk status hubungannya dengan Arya.


Perlahan Sonya mengeluarkan buku catatan kecil dari dalam tasnya. Buku ini ia beli 3 tahun yang lalu dan berisi tentang diary hubungannya dengan Arya. Sebuah pena sudah menari indah di atas kertas tersebut. Tanpa sadar air mata Sonya menetes kembali membasahi buku tersebut.


03 Januari 2023


Tepat pada tanggal ini, terpenuhi sudah janjiku untuk menunggu. Selesai sudah penantianku yang pernah kau janjikan kepadaku. Ya, aku kembali ke kota ini. Kota dimana aku bertemu denganmu, kota dimana aku menemukan cinta sepertimu.


Seharusnya sebentar lagi cincin emas tersemat manis di jariku bukan? Kau memintaku untuk menunggu selama tiga tahun, dan kau bilang kau akan menjadikanku ratu dalam hidupmu.


Tentunya kamu tahu bukan? Penantianku selama ini berakhir sia-sia. Aku kalah dari seorang wanita yang baru saja kau kenali. Aku kalah dari seorang gadis yang lebih cantik dariku.


Dulu kamu yang takut ditinggalkan bukan? Dulu kamu takut aku akan berpaling darimu bukan? Lihatlah sekarang. Justru aku di sini yang layaknya seonggok sampah yang kau campakkan. Terlihat lucu ya?


Tuhan, aku terlalu malu untuk mengakui dosaku kepada-Mu. Aku terlalu hina ketika mengingat sekotor apa diriku saat ini. Jika aku dapat memilih antara pernikahan dan kematian, jodohkanlah aku dengan kematian. Aku tidak akan sanggup untuk melihat raut wajah kecewa dari orang yang aku cintai. Ah aku lupa. Bagaimana bisa ada laki-laki yang mau mencintai dan menerima aku. Seorang wanita, tanpa sebuah mahkota.

__ADS_1


Sonya.


__ADS_2