Tiga Tahun Penantian

Tiga Tahun Penantian
Bab 13


__ADS_3

Setelah mengirim pesan beberapa waktu lalu, Arya benar-benar pergi dari kehidupan Sonya. Tak pernah ada lagi pesan atau pun telepon seperti dahulu. Bahkan sosial media Arya maupun Myra saat ini benar-benar memperlihatkan kemesraan antara keduanya.


"Semudah itu ternyata" gumam Sonya dengan tersenyum miris.


Meskipun terasa menyakitkan, entah kenapa Sonya masih betah untuk terus mengintip akun sosial media milik Arya dan Myra.


Drrtt


Sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Sonya.


"Nenek?" tanya Sonya heran.


Tidak biasanya neneknya telepon, apa lagi waktu selesai tarawih seperti ini. Tanpa menunggu lama Sonya langsung menekan tombol hijau pada ponselnya.


"Hallo Assalamu'alaikum Nek" sapa Sonya lembut.


"Wa'alaikumsalam Sonya. Bagaimana puasanya Nak?" tanya Nenek pelan.


"Alhamdulillah lancar, Nenek bagaimana?"


"Alhamdulillah lancar juga. Jika lambungmu tidak kuat jangan dipaksa ya Sonya"


Sonya sedikit tersenyum dengan perhatian neneknya tersebut. Nenek adalah sosok ibu bagi Sonya. Bahkan Sonya paling tidak sanggup jika melihat neneknya bersedih.


"Iya Nek" jawab Sonya patuh.


"Lebaran kamu pulang kan? Dijemput Arya kan seperti biasa?"


Deg!


Sonya membisu mendengar pertanyaan dari neneknya. Ia merasa belum siap untuk menceritakan tentang berakhirnya hubungan mereka. Karena Sonya tahu, betapa bahagianya sang nenek ketika Arya mengatakan akan melamar Sonya setelah lebaran ini.

__ADS_1


"Sonya, kenapa kamu diam? Apakah hubunganmu dengan Arya tidak baik-baik saja?"


Pertanyaan tersebut semakin membuat Sonya kehabisan kata-kata. Tanpa Sonya sadari, ia mulai terisak karena bingung akan menjawab apa.


"Sonya, kenapa menangis Nak? Jadi benar apa yang Nenek katakan?" tanya nenek dengan suara yang terdengar bergetar.


"Iya Nek, Sonya sudah tidak bersama Arya" jawab Sonya sambil terisak.


Terdengar suara nenek juga seperti menangis. Hal itu membuat Sonya semakin merasa sesak. Bahkan mental Sonya kembali terguncang ketika mengingat apa saja yang telah ia lakukan dengan Arya.


"Ya Allah Nak, apa yang sudah kamu lakukan hingga Arya meninggalkan kamu? Kamu itu sudah cukup umur untuk menikah. Kenapa hubunganmu berakhir seperti ini. Padahal lebaran sebentar lagi dan Arya bilang akan melamarmu bukan?"


Sonya tidak bisa lagi menahan tangisnya. Sonya tahu, neneknya memang sudah menganggap Arya seperti anaknya sendiri. Jadi saat hubungan Sonya dengan Arya berakhir, Sonya lah yang disalahkan. Neneknya sudah begitu percaya dengan Arya, begitu pun Sonya. Tapi justru apa yang Arya lakukan?


"Arya memiliki wanita lain Nek" adu Sonya sambil terisak.


Mereka akhirnya menangis bersama di tempat yang berbeda. Kekecewaan yang mereka rasakan begitu mendalam. Bahkan Sonya sedikit bimbang untuk pulang atau tidak. Pastinya ia akan sangat malu kepada keluarga besarnya. Karena kabar lamaran tersebut sudah mulai tersebar dan sudah dalam persiapan.


***


Semenjak hari itu ternyata kesehatan nenek Sonya memburuk, bahkan sempat dilarikan ke rumah sakit. Hal itu membuat mental Sonya semakin terpuruk dan membuat Sonya merasa sangat bersalah kepada neneknya.


"Udah Nya, nenek kamu pasti baik-baik saja. Kita juga belum bisa pulang saat ini" ucap Vera menenangkan Sonya.


"Aku belum bisa membahagiakan Nenek" jawab Sonya samar.


"Nenek hanya memintaku untuk segera menikah. Agar dia tenang sudah ada yang menjagaku disaat nenek sudah mulai tua. Tapi apa yang aku berikan? Justru aku membuat nenek semakin terpuruk dengan kesehatannya" lanjut Sonya menatap Vera nanar.


Vera tahu ini bukan salah Sonya. Takdir yang tidak bisa membuat Sonya bersatu dengan Arya. Takdir yang menunjukan bahwa ada hal yang jauh lebih indah di depan sana.


"Eh ini Pak Bayu telepon kamu" ujar Vera melihat ponsel Sonya bergetar.

__ADS_1


Sonya sebenarnya sedikit malas untuk berkomunikasi dengan siapa pun. Ia hanya ingin menenangkan dirinya. Kini Vera sadar, sisi lain dari Sonya saat ini tengah muncul. Sonya yang lumayan terkenal ramah dan ekstrovert, justru saat ini ia melihatkan sisi introvertnya.


"Hallo Pak" sapa Sonya ketika menerima panggilan tersebut.


"Hallo Sonya, bagaimana kabarmu?"


"Kabar saya baik. Ada apa ya Pak?" tanya Sonya tanpa basa-basi.


"Saya hanya ingin menyampaikan satu hal. Ini terdengar berat untukmu, tapi mungkin setelah ini kamu akan berhenti mengharapkan Arya"


Sonya tidak menjawab perkataan Bayu, tapi ia mendengar dengan seksama apa yang Bayu sampaikan.


"Arya dan Myra akan segera menikah. Dan saat ini Myra tengah mengandung usia 6 bulan. Saya harap kamu tidak mengharapkan Arya lagi, dan kembali fokus dengan pekerjaanmu" ujar Bayu sedikit tidak enak hati.


"Ha-hamil Pak?" tanya Sonya tidak percaya.


"Ya, Myra hamil anak Arya. Bahkan Myra sempat mengancam Arya jika Arya tidak mau tanggung jawab maka dia akan merawat anak itu sendirian dan mengatakannya kepada keluarga. Mungkin itu yang membuat Arya meninggalkan kamu"


"Sudahlah, lebih baik kamu kembali fokus pada karirmu. Saya hanya ingin mengatakan itu. Terima kasih atas waktunya"


Sonya tak mampu menjawab apa pun, ia hanya tercengang mendengar sebuah kenyataan yang sudah ia perkirakan sejak dulu. Setelah panggilan tersebut berakhir, Sonya langsung masuk ke kamarnya.


"Dulu aku tidak terima ketika Vera mengumpatimu bajingan. Tapi sekarang aku percaya bahwa kamu lebih dari seorang bajingan"


Sonya mengambil foto Arya dari dalam dompetnya, menatapnya tajam dan sedikit meremasnya.


"Dulu aku selalu bertanya apa salahku hingga kamu tega meninggalkan aku. Dan sekarang aku tahu. Aku salah. Ya, aku sangat salah telah mencintai laki-laki tak tahu diri sepertimu Arya" teriak Sonya sambil merobek-robek foto tersebut.


Semua rasa cinta, rasa sedih, rasa tak ingin kehilangan yang selama ini ia rasakan justru kini menguap entah kemana. Rasa cinta yang begitu besar hingga ia mengorbankan hal yang paling berharga dalam hidupnya, kini menjadi rasa benci yang begitu dalam.


'Aku tidak pernah menyesal pernah mengenalmu, justru aku menyesal pernah mencintaimu' ujar Sonya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2