
Sonya mengerjapkan matanya pelan. Seluruh tubuhnya terasa pegal karena sudah satu jam lebih ia pingsan dengan posisi meringkuk dan masih menggunakan mukenah. Sonya memang tinggal sendirian sejak Vera memutuskan untuk resign dari perusahaan. Jadi wajar ketika Sonya pingsan, tidak ada satu orang pun yang tahu.
"Aaw" jerit Sonya ketika mencoba bangun namun tubuhnya masih terasa lemas.
Kondisi kehidupan Sonya benar-benar menyedihkan saat ini. Bahkan beberapa kali terlintas olehnya untuk mengakhiri hidupnya saja.
Tok! Tok! Tok!
Sonya menoleh ke arah pintu utama ketika mendengar suara ketukan pintu. Malas sekali sebenarnya dia untuk bangun, tapi ketukan pintu itu masih terus terdengar.
"Iya sebentar" teriak Sonya berharap orang tersebut sabar menunggu.
"Siapa sih malam-malam seperti ini bertamu? Biasanya juga sepi-sepi aja" gerutu Sonya pelan.
Sonya membuka pintu dan ia langsung melihat punggung seorang laki-laki masih mengenakan sarung dan kaos polos berwarna putih.
"Maaf, siapa ya?" tanya Sonya merasa heran.
Laki-laki tersebut pun membalikkan badannya ketika mendengar suara Sonya. Ia pun menampilkan senyum manisnya, tatapan matanya pun tersirat malu-malu dan segera menunduk.
"Mas Mustofa? Ada apa?" tanya Sonya sedikit terkejut dengan kehadiran Mustofa saat ini.
"Eh ini Mbak Sonya, saya hanya ingin mengantarkan nasi padang untuk kamu" jawab Mustofa ramah.
"Aduh Mas, repot-repot sampai mengantarkan ke sini. Ada acara apa nih?"
__ADS_1
"Tidak ada Mbak, hanya ingin saja. Sekalian ingin tahu kabarmu"
Sonya hanya tersenyum menanggapi perkataan Mustofa. Sonya tidak ingin perkataan halus Mustofa ia masukkan ke dalam hati. Sudah cukup hancur sudah semuanya saat ini.
"Terima kasih Mas, tapi maaf lain kali tidak usah mengirim makanan seperti ini. Mas Mustofa kan jadi repot sendiri" ujar Sonya sambil menerima makanan tersebut.
"Tidak merepotkan sama sekali kok Mbak Sonya" jawab Mustofa sambil tersenyum manis malu-malu.
"Ya sudah saya langsung pamit yah Mbak, jangan lupa dimakan. Jaga kesehatanmu ya Mbak. Assalamu'alaikum" pamit Mustofa pelan.
"Wa'alaikumsalam Mas"
Sonya masih berdiri di depan pintu hingga punggung Mustofa sudah tak terlihat. Ia bergegas masuk dan mengunci pintunya kembali.
'Andai dulu aku lebih memilihmu Mas' ujar Sonya dalam hati.
****
Mentari terasa berada di atas kepala Sonya. Cuaca hari ini begitu panas. Bahkan Sonya berkali-kali mengeluh kepanasan meski sudah berhadapan dengan kipas angin.
Ting!
Ting!
Sonya menoleh ke arah ponselnya. Sesekali ia mengintip notifikasi untuk melihat siapa yang mengirim pesan kepadanya.
__ADS_1
"Myra?" tanya Sonya merasa bingung dan malas untuk membuka pesannya.
Ting!
Lagi-lagi notifikasi itu menarik perhatiannya, dan dengan pengirim yang sama. Sonya membuang nafasnya kasar, mempersiapkan diri untuk membaca pesan dari Myra.
"Mbak, apa kabar? Sebelumnya aku mau minta maaf karena pernah bertengkar sama Mbak. Mbak mungkin juga sudah tahu alasan aku kenapa melakukan itu sama Mbak. Aku tidak tahu harus bagaimana jika saja Mbak tidak mengalah melepas Arya untukku. Sekali lagi aku minta maaf Mbak"
"Mbak, bulan September aku akan melahirkan. Aku ingin sekali bertemu denganmu dan meminta maaf secara langsung Mbak. Aku takut Mbak, aku takut tidak kuat saat melahirkan nanti. Karena melahirkan taruhannya nyawa bukan?"
"Bisakah nanti Mbak pulang ke Purwokerto dan menemaniku melahirkan Mbak? Aku ingin sekali bertemu denganmu"
Sonya semakin membuang nafasnya kasar. Hatinya sedikit tersentuh saat Myra mengirim pesan ingin meminta maaf, bahkan Myra sangat takut untuk melahirkan nantinya. Bahkan jika Myra mengatakan dari awal bahwa Myra mengandung anak Arya, Sonya akan langsung melepas Arya tanpa harus membuat mental Sonya hancur terlebih dahulu.
Setidaknya Myra ada itikad baik untuk minta maaf, pikirnya.
"Sudah saya maafkan, anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita" balas Sonya pada akhirnya.
Sonya menerawang pikirannya jauh. Dahulu ia bermimpi memiliki keluarga bersama Arya. Mengandung dan membesarkan anak mereka bersama. Namun ternyata kenyataan itu milik Myra, bukan Sonya.
Ting!
"Aku tahu pasti berat jadi Mbak. Aku juga tahu Mbak pernah dirusak oleh Arya, tapi Mbak justru melepaskan Arya untuk aku. Sekali lagi aku minta maaf yah Mbak"
Sonya memilih diam tanpa membalas pesan tersebut. Mungkin jika keadaan Myra belum hamil, Sonya akan mempertahankan Arya apa pun yang terjadi. Tapi kenyataannya Sonya bahkan sebenarnya sudah kalah sebelum ia mempertahankan Arya lebih dulu.
__ADS_1
'Jika saja waktu bisa diputar, aku tidak ingin mencintamu sebodoh ini'