
Flashback on
"Hai kak, perkenalkan nama aku Myra" ujar seorang perempuan sambil menyodorkan tangannya kepada Sonya.
"Eh, hai. Anak baru ya? Perkenalkan namaku Sonya. Wah kamu cantik banget" tanya Sonya ramah.
Sonya memang memiliki karakter ramah dan friendly kepada semua orang. Apa lagi dengan anak baru secantik Myra.
"Iya kak, aku baru masuk 2 hari ini" jawab Myra tak kalah ramah.
"Oh iya, kamu berada di divisi mana? Nama managermu siapa?" tanya Sonya mengakrabkan diri.
"Saya divisi pemasaran juga kak, manager saya Pak Bayu"
Sonya hanya membulatkan bibirnya mendengar jawaban dari Myra. Di mata Sonya, Myra adalah sosok gadis yang ramah, ceria, dan sepertinya rendah hati.
"Kalau kakak divisi apa?" Myra mencoba bertanya kepada Sonya.
"Marketing juga, tapi manager saya Pak Deni. Kita cuma berbeda manager saja" jawab Sonya sambil tersenyum lembut.
Myra membalas senyum Sonya lalu berpamitan untuk masuk ruangannya terlebih dahulu. Sonya pun hanya mengangguk sebagai jawaban.
'Cantik' satu kata itu terus terulang di hati Sonya saat melihat Myra.
Flashback off
__ADS_1
"Baiklah Sonya, saya hanya ingin menanyakan itu. Maaf sudah menganggu waktunya" ujar Bayu menarik kesadaran Sonya.
"Iya Pak, tidak apa-apa" jawab Sonya lesu.
Ponsel di tangan Sonya langsung meluruh jatuh saat sambungan telepon sudah dimatikan. Air matanya berlomba-lomba membasahi pipinya.
"Ya ampun Sonya! Kamu kenapa malam-malam nangis di sini?" tanya Vera panik.
Vera adalah teman baik Sonya yang ikut dipindahkan ke kantor cabang Solo oleh managernya.
Sonya hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Vera. Vera yang melihat Sonya seperti itu pun terheran. Karena Sonya dikenal sebagai gadis yang ceria, tawanya tak pernah lepas dari wajahnya.
"Hey, kamu kenapa?" tanya Vera lebih pelan.
"Arya Ver" jawab Sonya akhirnya.
"Arya kenapa? Bicara yang jelas Sonya" ujar Vera masih kebingungan.
"Arya selingkuh sama Myra"
Setelah mengatakan hal tersebut, justru tangis Sonya semakin deras. Air matanya seakan-akan tidak mau berhenti sejenak. Sedangkan Vera yang mendengar hal itu hanya bisa tertegun tidak percaya.
"Jangan bercanda Sonya. Arya nggak mungkin melakukan itu. Bukannya dia sangat bucin sama kamu? Kamu jangan menelan mentah-mentah berita yang kamu dapatkan" ujar Vera menasihati Sonya.
Sonya hanya terdiam mendengarkan sahabatnya memberi masukan kepadanya. Benar apa yang dikatakan oleh Vera. Sonya tidak boleh menerima berita secara mentah-mentah sebelum mencari kebenarannya.
__ADS_1
"Lebih baik sekarang kamu hubungi Arya. Tanya pelan-pelan kepadanya. Jangan sampai kamu salah paham dengan Arya, dan membuat hubungan kalian retak" lanjut Vera.
Sonya mendongakkan kepalanya. Entah kenapa ia tidak berfikir untuk menghubungi Arya meminta penjelasan.
Sonya menghapus air matanya secara kasar. Ia langsung mengambil ponselnya dan mencari nomor ponsel Arya. Tanpa buang-buang waktu, Sonya langsung menekan tombol telepon pada nomor ponsel Arya.
"Hallo Arya" sapa Sonya masih dengan suara serak.
"Sonya kamu kenapa? Kok suaramu serak?" tanya Arya terdengar khawatir.
"Ah nggak apa-apa. Kamu sudah pulang?" tanya Sonya basa-basi.
"Kamu kenapa si Nya? Nggak biasanya kamu bersikap seperti ini. Coba bilang sayangku lagi ingin apa" ujar Arya manis.
"Tadi Pak Bayu telepon aku" ucap Sonya pelan.
Deg
Arya terdiam tanpa menjawab perkataan Sonya. Arya sepertinya tahu arah jalan pembicaraan Sonya kemana.
"Sayang, apa pun yang kamu dengar tolong percayalah padaku. Terjadi kesalah pahaman di sini" ujar Arya tanpa pikir panjang.
Sonya mengernyitkan dahinya bingung. Bagaimana bisa Arya tahu arah pembicaraan Sonya? Padahal sebelumnya mereka tidak pernah membahas ini.
"Kamu selingkuh?" tanya Sonya to the point.
__ADS_1