
Sonya selalu menahan kewarasannya sendiri. Dia berusaha mengenyahkan pikiran-pikirannya yang masih tersimpan dengan kuat memorinya bersama Arya.
"Bisa-bisanya aku masih memikirkan tentang dia" gumam Sonya dalam hati.
Move on memang bukan perkara yang mudah. Bibir Sonya memang sudah mengatakan ikhlas. Ah sebenarnya bukan ikhlas, tetapi memaksa mengikhlaskan hingga lama-lama terbiasa tanpa kehadirannya.
"Hidup itu melangkah ke depan Sonya. Yang sudah berlalu biarkan saja. Jangan pernah menengok kembali apa lagi menyesalinya" gumam Sonya menyemangati dirinya sendiri.
Sonya membuang nafasnya kasar, mencoba kembali fokus pada pekerjaannya. Setidaknya ia harus mengejar karirnya kembali yang dahulu sempat terkubur demi sosok Arya. Cinta memang terlihat beda tipis dengan bodoh.
Saat ini sudah menunjukan pukul tiga sore, sebentar lagi saatnya jam pulang kerja. Sonya dan rekan-rekannya mulai perlahan membereskan mejanya masing-masing.
"Mbak" panggil Anwar menepuk pundak Sonya.
"Astaga, bikin kaget aja sih" sahut Sonya sedikit kesal karena merasa terkejut.
"Hehe, Mbaknya aja yang kagetan" balas Anwar membela diri.
"Apaan?"
"Nanti pulang bareng yuk, sekalian aku traktir makan mie ayam"
Mie Ayam. Sebuah makanan favorit Sonya dan Arya ketika mereka pacaran dahulu. Kemana pun mereka pergi, yang mereka cari tetaplah satu makanan tersebut.
__ADS_1
"Maaf saya pulang sendiri" tolak Sonya halus.
"Ayo lah Mbak, ini sebagai tanda terima kasih aku ke Mbak karena sudah mengajarkan aku dengan telaten. Aku sudah lepas training Mbak" ujar Anwar sedikit memaksa.
Sonya yang memang orangnya tidak tegaan dan lebih merasa sungkan, akhirnya dengan terpaksa menerima ajakan tersebut. Anwar merasa begitu senang karena Sonya mau menerima ajakannya. Padahal tadi Anwar sudah menyiapkan hatinya jika Sonya akan menolaknya mentah-mentah. Dan ternyata ia bisa meluluhkan hati Sonya dengan tatapan melasnya.
***
Mereka berdua akhirnya pulang bersama menggunakan motor Anwar. Keduanya sempat menjadi pusat perhatian rekan-rekannya karena akhir-akhir ini Sonya begitu terlihat dingin dengan laki-laki. Namun sekarang justru terlihat berboncengan dengan anak baru.
Anwar menepikan motornya ketika melihat kedai mie ayam yang terlihat sedikit ramai. Jiwa introvert Sonya seketika muncul ketika melihat ramainya pembeli pada kedai mie ayam tersebut. Sebenarnya dia ingin pulang saja saat ini, namun ia merasa tidak enak pada Anwar.
"Ayok Mbak" ujar Anwar sambil menggandeng tangan Sonya.
"Ma-maaf Mbak, tadi aku hanya ingin mengajak Mbak yang masih melamun" jawab Anwar sedikit menyesal.
"Jangan diulangi" ketus Sonya langsung melangkah masuk meninggalkan Anwar yang masih mematung.
Anwar kini sudah duduk di hadapan Sonya. Ia jadi merasa tidak enak karena sudah lancang memegang tangan Sonya tadi.
"Maaf yah Mbak" ujar Anwar pelan.
Sonya hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. Tatapannya sudah sedikit bersahabat, tidak setajam tadi setelah kejadian tersebut. Tiba-tiba suasana diantara mereka menjadi hening. Anwar yang masih sungkan untuk membuka topik pembicaraan, dan Sonya yang memang malas mengobrol saat ini.
__ADS_1
Pesanan mereka datang membuat kecanggungan diantara mereka mulai memudar. Mereka makan dengan diam. Hanya suara berisik dari pengunjung yang lain meramaikan kedai tersebut.
"Mbak" Anwar mencoba membuka suaranya.
"Ya?" sahut Sonya sambil menatap Anwar.
"Kenapa Mbak dingin banget sih sama laki-laki. Pasti ada hati yang Mbak jaga ya?"
Sonya menatap Anwar dalam. Ia belum membuka suaranya. Sebenarnya apa yang laki-laki itu inginkan?
"Kenapa kamu kepo sekali dengan kehidupan saya?"
Anwar terdiam. Ia juga tidak tahu mengapa ia begitu penasaran dengan Sonya. Padahal selisih umur mereka, Sonya dua tahun lebih tua darinya.
"Aku juga tidak tahu" sahut Anwar sambil tertawa kecil.
"Perlu kamu tahu, saya pernah begitu percaya dengan laki-laki. Bahkan saya pernah menjaga komitmen itu hingga dua tahun lebih. Tapi apa yang saya dapatkan? Penghianatan" jelas Sonya dalam.
Anwar mencoba mendengarkan dengan seksama tentang apa yang Sonya katakan. Sekarang ia tahu apa alasan Sonya begitu dingin padanya. Mungkin mau menjawabnya saja karena ia juniornya.
"Dan jika kamu hadir di sini, penasaran dengan saya mending kamu hentikan rasa penasaran itu. Saya tidak ingin menyakiti orang lain. Dan saya hanya ingin sendiri" lanjut Sonya penuh penekanan dalam setiap kata yang ia ucapkan.
Sonya seperti mengerti jika Anwar ingin mendekatinya. Maka sebelum semuanya terlalu jauh, Sonya sudah memperingatinya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ayo pulang" ujar Sonya sambil berdiri meninggalkan Anwar yang masih sibuk sendiri dengan pemikirannya.