Tiga Tahun Penantian

Tiga Tahun Penantian
Bab 20


__ADS_3

Sonya menghembuskan nafasnya pelan. Saat ini ia tengah melakukan panggilan video dengan Vera. Sebenarnya ia begitu malas untuk sekedar telepon apa lagi panggilan video. Tapi karena Vera memaksanya, akhirnya Sonya mau.


"Mau sampai kapan si kamu seperti itu Nya?" tanya Vera penuh khawatir.


"Aku hanya tidak ingin menyakiti mereka"


Sonya memang baru saja menceritakan tentang kemarin saat ia pulang bersama Anwar. Sonya juga menambahkan saat beberapa waktu lalu Mustofa mendatangi tempat tinggalnya saat ini.


"Cobalah buka hatimu lagi. Ayo move on" ujar Vera menyemangati Sonya


"Aku sudah move on Ver. Hanya saja aku masih belum mampu membukanya kembali" jawab Sonya dengan sedikit senyum yang dipaksakan.


Vera dapat melihat dari sorot mata Sonya jika begitu besar luka yang Sonya dapatkan dari sosok Arya. Ternyata patah hati mampu membuat sosok Sonya yang ceria, friendly, periang, kini menjadi sosok yang cuek dan dingin.


"Siapa tahu diantara mereka adalah jodohmu"


"Mereka terlalu baik untukku"


"Lalu apa kamu mau berjodoh dengan laki-laki brengs*k seperti itu Sonya?"

__ADS_1


"Bahkan sebrengs*knya laki-laki, ia menginginkan wanita yang baik untuk menjadi pendamping hidupnya"


Vera memilih diam. Percuma jika adu argumentasi dengan orang yang memiliki trust issue. Ingin sekali Vera memeluk Sonya saat ini, sekedar menguatkan hati sahabatnya tersebut.


"Pasti ada laki-laki yang akan tulus mencintaimu"


"Di belahan bumi sebelah mana? Sini biar aku shareloc" ujar Sonya sedikit melucu.


Sonya benci situasi seperti ini. Situasi dimana dia harus meneteskan air mata ketika mengingatnya. Bukan mengingat kenangan bersama Arya, bukan. Tapi mengingat ia sudah kehilangan sesuatu yang takkan pernah mampu ia ambil kembali. Bagaimana pun caranya.


"Sudahlah lupakan. Aku benci melihat matamu yang berkaca-kaca seperti itu" ucap Vera tegas.


Sonya hanya terkekeh mendengar perkataan Vera. Memang dari dulu hanya Vera yang benar-benar melihat terpuruknya Sonya ketika dicampakkan begitu saja. Dan kini Vera jauh, jadi mau tidak mau Sonya bertahan sendiri untuk menjaga hatinya.


"Lalu kau menangisi apa heh?"


"Aku hanya menangisi kebodohan pada diriku sendiri"


Sonya terkekeh jika mengingat betapa bodohnya dia. Vera yang melihat hal itu justru iba. Karena Vera tahu, Sonya hanya sedang menutupi lukanya dengan tertawa.

__ADS_1


"Ya kau memang sangat bodoh" seloroh Vera berusaha membuat Sonya benar-benar tertawa.


Sonya kini tersenyum, memandangi wajah tulus sahabatnya. Mungkin jika tanpa dia dulu menemaninya, ia sudah frustasi dan bunuh diri sebagai pelarian.


"Hey kau tahu, Oppa ku akan pergi wamil" ujar Vera mengganti topik.


"Ah siapa? Seokjin?"


Vera sengaja saat ini tengah membahas idol Korea kesukaannya. Padahal dari dulu Sonya membenci hal itu, tapi entah kenapa sekarang justru Sonya mulai mau menerima sahabatnya yang gila Korea itu.


"Hu'um. Sering-seringlah kamu lihat konten tentang mereka. Mereka itu sangat lucu" sahut Vera dengan semangat.


"Ah aku tidak ada waktu untuk melihat seperti itu Vera. Dan kau pun tahu aku tidak menyukainya" jawab Sonya tegas.


"Kamu tidak tahu saja betapa indahnya move on jalur Oppa Korea" sahut Vera julid.


"Ah sudahlah. Lanjutkan saja menghalumu. Aku mau tidur"


Belum sempat Vera menjawab, panggilan tersebut sudah diputuskan oleh Sonya.

__ADS_1


Sonya kembali melihat ke sekeliling kamarnya. Ternyata masih banyak barang-barang yang penuh dengan kenangannya bersama Arya. Satu per satu barang itu ia kemas ke dalam kardus, dan akan membuangnya esok hari.


"Ganteng juga tidak, kaya juga tidak, royal juga tidak sama sekali. Bisa-bisanya dia menyakiti seenak udelnya. Bahkan mengumpat bahwa aku matre? Oh astaga kenapa aku pernah sebodoh itu mencintainya" gumam Sonya kesal ketika mengingat semua pesan Myra tempo hari.


__ADS_2